Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 112 (Kepulangan Tiara)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya....


...Happy reading...


****


Hari ini Tiara sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit karena keadaannya yang sudah membaik. Zayyen dan Zayden juga ikut menyambut kepulangan mama mereka dengan rasa bahagia walau ekspresi mereka yang berbeda.


"Selamat datang di rumah baru kita, Mama!" teriak Zayden yang paling antusias karena Zayyen lebih pendiam tetapi dalam hatinya ia sangat bahagia melihat mamanya akhirnya pulang ke rumah.


Tiara tersenyum bahagia saat kedua anaknya menyambut kepulangannya dengan bahagia. Zidan yang berada di sampingnya juga tersenyum karena walaupun kedua anak kembarnya sering berantem tetapi jika untuk mamanya mereka akan terlihat akur walau hanya sebentar saja.


"Makasih anak-anak, Mama!" ucap Tiara dengan terharu.


"Sama-sama, Mama!" ucap keduanya dengan tersenyum walau senyuman Zayyen tak selebar senyuman Zayden.


"Sekarang kalian main dulu ya. Papa mau bawa mama istirahat di kamar," ujar Zidan kepada kedua anaknya.


"Iya, Pa!" jawab Zayden dan langsung meninggalkan kembaran dan kedua orang tuanya setelah mencium pipi mamanya.


Sedangkan Zayyen hanya diam di tempat yang membuat Zidan dan Tiara heran. "Zayyen kenapa? Gak betah tinggal bersama Mama dan papa? Zayyen boleh kok tinggal bersama papa Barra dan mama rose," ucap Tiara dengan lembut.


Zayyen menatap Tiara dengan dalam. "Zayyen mau di sini aja, Ma. Jangan usir Zayyen ya, Ma! Zayyen janji gak nakal lagi," ujar Zayyen dengan sendu.


"Zayyen, Mama gak usir Zayyen. Mama cuma takut Zayyen gak suka tinggal di sini. Zayyen boleh tinggal bersama kedua orang angkat Zayyen dengan syarat bagi waktu antara tinggal bersama dengan mereka dan juga tinggal bersama dengan mama, papa. Mama dan papa gak akan maksa Zayyen lagi," ujar Tiara dengan pelan.


"Zayyen mau di sini dulu. Boleh kan, Ma, Pa?" tanya Zayyen kepada kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Sangat boleh, Sayang. Mama sangat bahagia jika kamu mau di sini seterusnya," ujar Tiara dengan tersenyum mengelus rambut Zayyen dengan lembut.


"Kalau kamu gak mau tinggal di sini setiap hari Papa dan mama gampang sekarang. Tinggal buat anak lagi," canda Zidan yang buat Zayyen cemberut.


"Papa sama Mama beneran mau buat anak lagi? Jangan Laki-laki ya, Pa! Perempuan aja! Zayyen setuju kalau perempuan," ujar Zayyen yang membuat Tiara terbengong.


"Zayyen ke kamar dulu. Pokoknya adik Zayyen harus perempuan gak boleh cowok!" teriak Zayyen berlari ke kamarnya.


Zidan tersenyum menatap ke arah istrinya. "Anak pertama kita udah kasih izin, Ay! Kita tinggal buat adonannya aja. Benar kata Zayyen kali ini harus jadi anak cewek," ujar Zidan dengan mengedipkan matanya.


"Masss!" teriak Tiara saat Zidan menggendongnya tanpa aba-abaaba-aba ke kamar mereka.


Rumah ini adalah rumah yang memang sejak dulu sudah Zidan beli untuk tinggal bersama dengan Tiara. Dan baru kali ini bisa ia realisasikan karena Tiara memang sudah menjadi istrinya.


Tiara menatap sekeliling kamar barunya dengan Zidan dengan mata berbinar karena kamar ini sudah di hias sangat cantik oleh Zidan.


"Seperti kamar pengantin baru saja," kekeh Tiara.


"Beberapa bulan yang lalu Mas menikahi aku kalau Mas lupa," ujar Tiara dengan tersenyum kecil.


"Tetap saja kita masih pengantin baru," bisik Zidan di telinga Tiara dengan mesra.


Zidan membawa Tiara untuk duduk di pinggir kasur. Tatapan Zidan untuk Tiara benar-benar sangat dalam, Tiara tahu arti tatapan itu karena 6 tahun lalu di saat Zidan menyentuhnya untuk pertama kalinya tatapan Zidan sama seperti sekarang.


"Boleh?" tanya Zidan dengan pelan.


Tiara mengangguk dengan mantap. "Lepaskan dulu tangan aku, Mas. Nanti rusak," ujar Tiara dengan tersenyum.

__ADS_1


"Tangan ini gak boleh rusak karena Mas sudah mahal membelinya khusus untuk Tiara," gumam Tiara dengan tersenyum menatap ke arah tangan palsunya.


Zidan tersenyum. Ia mulai melepaskan tangan Tiara dengan perlahan dan meletakkannya di tempat yang sangat aman dan setelah itu ia kembali menghampiri istrinya yang ternyata sejak tadi juga menatapnya dengan dalam.


Grepp..


Zidan memeluk Tiara hingga keduanya berbaring di kasur yang sudah di hias sangat cantik dengan bunga mawar. Dengan perlahan Zidan menindih tubuh Tiara dan bertopang pada tangannya agar beban tubuhnya tak Tiara rasakan.


"Kangen banget sama kamu, Ay. Akhirnya kita bisa berdua seperti ini," bisik Zidan dengan mengelus pipi Tiara dengan perlahan.


"Emang setiap hari kita gak berdua?" tanya Tiara dengan jahil.


"Beda, Ay. Itu di rumah sakit gak sebebas di kamar ini," sahut Zidan dengan terkekeh.


"Mas berani meminta karena kamu sepenuhnya udah sehat," ujar Zidan dengan lembut.


Tiara terkekeh. Lalu ia menganggukkan kepalanya dengan pelan. "Lakukanlah Mas. Sekarang aku sah sudah menjadi milik Mas sepenuhnya," ucap Tiara dengan mengelus rahang Zidan dengan lembut.


Bak mendapatkan angin segar Zidan mulai menc*mbu istrinya dengan lembut dan mesra. Ini pertama kalinya mereka berhubungan kembali setelah dulu mereka pernah melakukannya atas dasar n*fsu. Namun, sekarang keduanya melakukan karena atas dasar cinta dan kewajiban sebagai suami istri.


Tiara melenguh saat Zidan mulai mengusai tubuhnya bahkan wanita itu sudah tidak sadar jika tubuhnya sudah polos, tak ada sehelai benang pun yang menempel di tubuh Tiara. Begitu pun dengan Zidan yang sudah melepaskan pakaiannya dan berakhir berserakan di lantai.


Keduanya sudah terbuai dengan apa yang mereka lakukan. Tiara melenguh saat benda milik Zidan menerobos miliknya setelah sekian lama mereka tak bertemu. Urat-urat tubuh Zidan menegang karena ini baru pertama kalinya ia mendapatkan kenikmatan bersama dengan orang yang ia cintai lagi.


Keduanya sudah bermandikan peluh bersama saat Zidan bergerak dengan lembut ketika menyatu dengan Tiara. Suara erangan keduanya terdengar begitu sangat bergairah, bahkan sudah beberapa kali Tiara mendapatkan pelepasannya hingga tubuh Zidan menegang dengan sempurna bersamaan dengan cairan hangatnya yang memenuhi rahim Tiara.


Zidan ambruk di tubuh Tiara dengan napas yang tersengal-sengal. Sungguh rasanya sangat luar biasa, bahkan Zidan tak hentinya tersenyum bahagia saat bisa memiliki Tiara seutuhnya kembali.

__ADS_1


"Terima kasih, Sayang!" gumam Zidan dengan lembut.


Tiara hanya mengangguk dan memejamkan matanya. Ternyata melayani Zidan sangat melelahkan walaupun dirinya sangat suka dengan sentuhan-sentuhan Zidan di tubuhnya. Kali ini Tiara tak takut lagi Zidan meninggalkan dirinya karena ia yakin Zidan akan terus bersamanya hingga akhir hayat mereka.


__ADS_2