Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 124 (Gadis Manja)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini....


...Happy reading...


***


Dia...


Sederhana, tapi mampu membuatku nyaman dengan sempurna.


~Delisha~


****


Delisha melambaikan tangannya dengan senyuman yang amat ceria ketika Zayyen mengantarkannya pulang. Namun, setelah Zayyen hilang dari pandangannya senyuman Delisha langsung memudar, hilang dan berubah menjadi sendu. Langkah Delisha gontai saat memasuki rumahnya.


"Dek!" panggil Danish dengan lembut.


Delisha yang sedang melamun akhirnya tersentak saat mendengar suara kakaknya memanggilnya, padahal suara Danish sangat rendah dan terkesan lembut.


"Kakak ih! ngagetin Adek aja!" ucap Delisha dengan cemberut.


Danish terkekeh mengusap kepala adiknya dengan penuh sayang. Ia memperhatikan wajah adiknya dengan serius.


"Kenapa?" tanya Danish dengan khawatir saat melihat adiknya tidak baik-baik saja.


"Capek! Gendong sampai kamar papi!" rengek Delisha yang membuat Danish terkekeh.


Danish langsung berjongkok di hadapan adiknya. "Ayo naik!" ucap Danish.


Delisha sangat semangat naik ke punggung kakaknya. "Adek berat gak, Kak?" tanya Delisha saat sudah berada di gendongan Danish.


"Enggak! Ringan kayak kapas! Makan banyak gak pernah jadi daging sih!" sahut Danish yang membuat Delisha kesal.


"Jadi daging kok! Nih lihat pipi Delisha udah gendut," ujar Delisha gak mau kalah.


"Pipi doang yang gendut bukan badan kamu, Dek!"


Delisha tak menyahut lagi, ia mengalungkan tangannya di leher Danish dan menyandarkan kepalanya di bahu Danish.


"Kak Danish udah punya pacar belum?" tanya Delisha tiba-tiba.


"Tumben tanya itu?" sahut Danish.


"Jawab aja, Kak!" rengek Delisha dengan manja.


"Belum, Sayang! Kakak belum kepikiran untuk punya pacar! Yang penting kamu bahagia dulu," jawab Danish dengan lembut.


"So sweet!" ucap Delisha mencium pipi Danish.


Danish tersenyum mendapatkan ciuman sayang dari adik yang selalu ia jaga. Danish sangat posesif dengan Delisha, ia tidak akan membiarkan Delisha tersakiti atau pun bersedih. Sebisa mungkin Danish, Daniel, dan Dareel membuat adiknya bahagia.


"Adek bahagia sama kak Zayyen?" tanya Danish.

__ADS_1


"Bahagia banget! Kak Zayyen sederhana tapi Delisha mampu nyaman dengan sempurna saat bersama kak Zayyen. Kak Zayyen udah buat Delisha bahagia," sahut Delisha dengan berbinar saat menceritakan bagaimana Zayyen di hadapan kakak sulungnya.


"Baguslah. Kalau dia buat adek menangis Kakak gak akan segan menghajar dia!" ujar Danish berapi-api.


Danish serius dengan ucapannya. Sekali saja Zayyen menyakiti adiknya maka tidak akan ada ampun untuk lelaki itu walau Zayyen masih saudara dengan pakde dan bukde-nya. Danish tak akan peduli, siapa yang berani menyakiti kesayangannya maka tamatlah riwayat mereka. Itu juga yang menjadi alasan Danish, Daniel, dan Dareel belum memiliki pacar sampai sekarang walau banyak yang mendekati mereka.


"Papi, Mami buka pintunya!" teriak Delisha dengan mata yang sudah memberat akibat mengantuk.


"Gak tidur sama Kakak aja?" tanya Danish kepada adiknya.


"Mau sama Papi, Mami! Delisha kangen banget! Kemarin Papi, Mami pergi berduaan aja!" rengek Delisha yang membuat Danish menggelengkan kepalanya atas kemanjaan adiknya.


Akbar membuka pintu kamarnya.


"Papi!" teriak Delisha dengan bahagia.


Delisha langsung turun dari gendongan Danish dan menubruk tubuh Akbar yang sudah renta.


"Anak Papi!" sahut Akbar mencium puncak kepala Delisha dengan sayang.


"Danish ke kamar dulu deh! Ada proyek yang harus Danish kerjakan sekarang," ucap Danish. Walaupun masih muda Danish sudah menuruni kepintaran papinya menjadi arsitek muda. Semua anak Akbar dan Fiona sangat pintar menggambar, darah seni Akbar mengalir di ke-empat anaknya. Namun, Dareel lebih memilih menjadi pilot seperti pakdenya.


"Istirahat yang banyak, Kak! Papi gak mau kamu sakit!" ujar Akbar dengan tegas.


"Iya, Pi! Ini selingan aja kok karena Danish bosan!" ujar Danish.


"Ya sudah Papi gak mau melihat rancangan kamu jelek ya!" ujar Akbar diselingi candaan.


Danish pergi ke kamarnya. Sedangkan kedua kembarannya sudah ada di kamar sejak tadi.


"Pergi ke mana aja sama Zayyen kok pulangnya malam?" tanya Akbar kepada anaknya.


"Gak ada ke mana-mana, Pi! Delisha cuma ajak kak Zayyen makan telur gulung," sahut Delisha yang membuat Akbar tertawa pelan takut menganggu tidur istrinya.


"Kamu sama seperti Mami kamu gak bisa lepas dari telur gulung," gumam Akbar dengan bahagia.


Delisha mengangguk setuju dengan perkataan papinya. "Delisha malam ini tidur sama Papi, mami ya!" rengek Delisha dengan manja.


"Dek..."


"Delisha gak apa-apa, Pi!" rengek Delisha yang tahu kekhawatiran papinya.


"Minum vitaminnya kalau gak Adek gak boleh tidur sama papi, mami!" ujar Akbar dengan tegas.


"Bosen!" rengek Delisha.


"Mau lihat Papi marah?"


"Gak mau! Iya Adek minum vitaminnya," ujar Delisha dengan cemberut.


Delisha melepaskan tas-nya, ia membuka tas-nya dan mengambil apa yang Akbar maksud. "Nih Adek minum, Pi!" ujar Delisha dengan pasrah.


Akbar tersenyum. "Ya udah masuk tapi jangan ganggu istri Papi ya!"

__ADS_1


"Istri Papi itu mami Delisha ya!" ucap Delisha tak terima.


Delisha merangkak naik ke atas kasur. Ia melihat maminya uang sudah terlelap.


Cup...


Cup...


"Good night, Mami!" gumam Delisha mencium kening Fiona dengan sayang.


Delisha merebahkan tubuhnya di tengah-tengah kedua orang tuanya. Ia memeluk perut Akbar dengan erat.


"Pi!" panggil Delisha dengan pelan.


Akbar yang ingin memejamkan matanya langsung menatap anaknya. "Kenapa, Sayang?" tanya Akbar dengan pelan.


"Papi yang sehat ya! Delisha gak mau kehilangan Papi!" gumam Delisha dengan pelan.


"Papi akan sehat kalau Delisha sehat! Ingat pesan Papi waktu itu, kan?" tanya Akbar dengan pelan.


"Ingat! Kalau Delisha mau melihat Papi sehat dan bahagia Delisha harus sehat juga! Gak boleh buat Papi, Mami, kak Danish, kak Daniel, kak Dareel sedih!" gumam Delisha mengulang perkataan papinya dulu.


Fiona yang mendengar perkataan anaknya langsung mengeluarkan air matanya. Ia mengusapnya dengan cepat agar Delisha dan Akbar tidak menyadari jika dirinya sudah bangun.


"Pintar anak Papi! Ayo tidur! Adek gak boleh tidur malam-malam!" ucap Akbar memeluk anaknya dengan erat. Menepuk punggung Delisha dengan pelan hingga Delisha terlelap dalam pelukannya.


Dirasa anaknya sudah tidur Fiona berbalik menjadi menghadap ke arah suaminya.


"Pi..."


"Sttt..Gak boleh nangis oke!" ujar Akbar mengusap pipi istrinya dengan lembut.


"M-mami gak tega, Pi!" ujar Fiona dengan serak.


"Jangan pernah memperlihatkan kesedihan kamu di depan Delisha, Sayang. Kamu tahu kan bagaimana Delisha berpura-pura untuk terus ceria dengan kelakuan konyolnya yang membuat semua orang kesal? Ini menyangkut nyawa anak kita, berpura-puralah baik-baik saja, Sayang!" gumam Akbar dengan pelan.


Fiona mengangguk. Ia memeluk anaknya. "Pi, tangan Delisha memar!" ucap Fiona dengan panik.


"Astaga. Papi baru tahu, Sayang! Kukunya juga membiru, Mi!" panik Akbar.


"Ke rumah sakit sekarang, Pi! Ayo bawa Delisha sekarang!" ujar Fiona menangis.


"Kamu tenang, Mi! Kita panggil dokter ke rumah ya! Delisha paling benci dirawat di rumah sakit! Nanti dia bisa ngamuk," ucap Akbar dengan jantung yang berdetak sangat kuat.


"T-tapi, Pi!"


"Percaya sama Papi anak kita akan baik-baik saja!" ujar Akbar menenangkan Fiona.


"Papi panggil Danish, Daniel, Dareel dulu! Jangan nangis nanti Delisha bangun!" gumam Akbar dengan pelan.


Fiona mengangguk, ia memegang tangan Delisha dengan pelan. "Putri kecil Mami!" gumam Fiona mencium kuku-kuku Delisha dengan lembut seakan mengurangi sakit pada anaknya.


Fiona menatap Delisha dengan sendu. "Sehat ya, Sayang!"

__ADS_1


__ADS_2