Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 110 (Amukan Akbar)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya....


...Happy reading...


****


Akbar dan orang suruhannya berhasil menemukan Fiona dari CCTV taman yang memperlihatkan jika Fiona di bawa seseorang dalam keadaan pingsan karena di bius.


Akbar mengepalkan tangannya saat bagaimana Fiona di bawa paksa masuk ke dalam mobil.


"Lacak plat mobil yang membawa istri saya!" ucap Akbar dengan dingin dengan mata yang terus mengawasi mobil yang membawa Fiona dari CCTV taman yang ia dapat. Akbar tersenyum licik saat mengenal salah satu mobil yang ikut di belakang mobil yang membawa istri Kesayangannya.


"Baik, Pak!" jawab orang suruhan Akbar dengan serius.


"Mati kamu Aurel!" gumam Akbar dengan aura yang sangat mengeringkan.


Akbar tahu ia lalai dalam menjaga keselamatan istrinya. Sebab istrinya tidak seperti wanita di luar sana, Fiona-nya berbeda, dia istimewa dan kali ini Akbar pastikan penanganan untuk menjaga Fiona akan lebih di perketat tak peduli jika nanti Akbar di katakan berlebihan yang terpenting demi keselamatan wanita yang ia cintai dari wanita licik seperti Aurel.


"Apa yang kami harus lakukan kepada wanita ini, Pak? Sepertinya dia sangat ingin melukai ibu," tanya salah satu orang suruhan Akbar.


"Biarkan dia merasa bahagia dulu. Target kita harus cepat menyelamatkan istri saya! Jangan sampai terhambat!" ujar Akbar dengan dingin. Tetapi hatinya sudah memendam rasa amarah dan amukan untuk Aurel nantinya, setelah ia menyelamatkan Fiona maka Akbar akan membuat perhitungan kepada Aurel yang telah berani menyuruh orang menculik istrinya.


"Baik, Pak! Mobil yang membawa ibu Fiona menuju ke villa kosong," ucap orang suruhan Akbar dengan sangat teliti.


Shittt...


Akbar mengumpat dengan tangan mengepal sangat terlihat jelas jika Akbar sedang menahan ledakan amarah yang mungkin nanti akan membahayakan seorang Aurel yang berani melukai istri kesayangannya. Tak ada lagi rasa simpati atau sayang sebagai sahabat di diri Akbar untuk Aurel yang ada hanya sebuah rasa kesal dan amarah yang akan siap seperti bom waktu yang akan meledak. Tinggal menunggu kehancuran seorang Aurel dalam waktu dekat.


"Kita ke sana sekarang! Saya takut istri saya akan di lukai oleh orang suruhan wanita jahat itu," ucap Akbar dengan tegas dan terkesan sangat dingin. Tak ada yang tahu jika di hati Akbar sangat mengkhawatirkan seorang Fiona dan ketiga calon anak mereka. Setelah ini Akbar tidak akan memberikan ampun kepada Aurel, wanita itu telah membangkitkan sisi iblis di diri Akbar.


****


Sedangkan Aurel tersenyum sinis dan penuh kemenangan saat Fiona sudah berada di tangannya.


Dengan wajah berbinar Aurel menghisap rokok yang berada di tangannya dan menghembuskan asapnya dari dalam mulutnya dengan perlahan.


"Setelah ini Akbar akan menjadi milikku kembali, Fiona. Sayang sekali Akbar memilih wanita yang mempunyai penyakit mental sejak kecil. Kamu sama sekali tidak cocok menjadi istri dari seorang Akbar," ujar Aurel dengan penuh kemenangan saat melihat foto Fiona yang tak sadarkan diri.


Aurel memang tak menikah lagi setelah bercerai dengan Akbar. Ia pikir Akbar akan mengejarnya kembali dan meminta ia untuk rujuk namun sampai sekarang Akbar tidak memintanya walau pertemanan mereka masih baik. Aurel lebih memilih hidup bebas tidak terikat dengan pria mana pun tetapi setiap harinya ia bisa tidur dengan banyak pria tanpa terikat dengan sebuah pernikahan dan apa yang mereka lakukan atas dasar suka sama suka dan tidak ada dasar keterpaksaan sama sekali. Rahim Aurel sudah tidak bisa hamil lagi karena usianya yang sudah tua.


****


Akbar sudah sampai di villa di mana Fiona di sekap. Jantungnya seperti berdetak tak karuan karena untuk menuju villa ini Akbar memakan waktu yang lumayan lama. Lelaki itu takut terlambat menyelamatkan Fiona.


Akbar sudah bersama dengan anggota polisi yang akan menangkap penculik Fiona. Semua sudah dipersiapkan dengan matang termasuk untuk menjemput kesengsaraan Aurel.


Brakk...


"FIONAAA!" teriak Akbar dengan keras saat melihat istrinya hampir saja di perkosa dengan keadaan yang sudah tertindih dan tidak menggunakan baju lagi.


Bukkk...

__ADS_1


Akbar berlari dan menarik lelaki yang sudah menindih tubuh istrinya dan melemparkannya ke tembok hingga lelaki itu terbatuk dan mengeluarkan darah segar. Jangan remehkan Akbar karena sejak remaja ia sudah mempelajari taekwondo hingga mendapatkan gelar sabuk hitam.


Akbar naik pitam tak peduli ada polisi yang sedang bersamanya, ia menghajar lelaki yang sudah berani melecehkan istrinya.


Bukk...


Bukkk...


Bukk...


"Brengsek kalian!" teriak Akbar dengan mengamuk. Rasanya ia belum puas menghajar lelaki yang sudah tidak berdaya dengan wajah yang penuh memar.


Akbar kembali sadar, ia berdiri mendekat ke arah istrinya yang tampak pucat dengan wajah yang ketakutan. Sedangkan ke-enam lelaki yang telah melecehkan Fiona sudah di ringkus oleh polisi. Polisi tersebut tidak berani dengan Akbar yang mempunyai kekuasaan besar.


"S-sayang, ini Mas!" ujar Akbar dengan wajah gemetar.


"J-jangan mendekat!" ucap Fiona dengan sang takut.


Akbar melihat ke arah lelaki yang menculik Fiona. "Kalian benar-benar bajing*n! Habis kalian di tangan saya!" ujar dengan penuh amarah.


"Maaf, Pak. Ini sudah menjadi tanggungjawab kami. Biar kami yang memproses mereka," ujar polisi tersebut memberanikan diri.


"Lepaskan kami! Kami hanya di suruh seseorang!" ujar penculik Fiona dengan berusaha melepaskan diri.


"SAMPAI MATI PUN SAYA TIDAK AKAN MELEPASKAN KALIAN!" teriak Akbar dengan murka.


"Bawa mereka!"


Akbar membelalakkan matanya saat ia baru sadar jika darah mengalir dari sela-sela paha istrinya.


"J-jangan sentuh Fio!" ucap Fiona dengan lirih saat Akbar menggendongnya dengan wajah pucat.


"Ya Tuhan selamatkan istri dan ketiga anakku!" gumam Akbar dengan khawatir saat melihat Fiona lemas dan mulai memejamkan mata.


"Sayang buka mata kamu!" ucap Akbar dengan panik.


"Sayang!"


"Mami!!"


Akbar bertambah panik saat Fiona sama sekali tak meresponnya. Wajah istrinya semakin pucat pasih.


****


"Mas tumben malam-malam ke sini? Kamu pasti kangen aku, kan? Kamu pasti mau meminta maaf, kan?" tanya Aurel dengan tersenyum saat Akbar tiba-tiba sudah berada di rumahnya.


Ekspresi Akbar sama sekali tidak terterbak yang membuat Aurel semakin leluasa untuk menjadikan Akbar miliknya kembali.


Akbar mendekat ke arah Aurel. Aurel melotot dengan napas tercekat saat secara tiba-tiba Akbar mencekiknya dan mendorongnya ke tembok.


"Mati saja kamu Aurel! Kamu sama sekali tidak berguna hidup di dunia ini!" ujar Akbar menyeringai bak iblis pencabut nyawa.

__ADS_1


"M-mas, lepaskan!" ucap Aurel berusaha mengeluarkan suara saat pasokan napasnya semakin menipis. Wajah Aurel memerah menahan sakit pada lehernya yang semakin di cekik oleh Akbar.


"Berani menyentuh istri saya itu artinya kamu sudah bosan hidup Aurel!" ujar Akbar semakin menekan Aurel ke tembok.


"Uhuk...uhuk..."


"A-ampun Mas!"


"Hiks...a-aku tidak tahu apa yang kamu maksud, Mas! Pasti Fiona mencuci otak Mas untuk membenciku!" ujar Aurel yang semakin membuat Akbar marah.


"WANITA TIDAK TAHU DIRI MENYESAL AKU MENIKAHIMU!" teriak Akbar semakin mencekik Aurel hingga Aurel tidak bisa bersuara dengan tangan yang berusaha melepaskan tangan Akbar di lehernya.


Akbar tak peduli jika Aurel adalah seorang wanita. Kemarahannya semakin menjadi saat membayangkan wajah pucat istrinya tadi yang belum sadarkan diri dan mengingat bagaimana darah mengalir di paha istrinya yang mengakibatkan Fiona belum sadarkan diri sampai sekarang.


Akbar mendorong Aurel dengan kuat hingga wanita itu terjatuh di lantai. Bekas cekikan tangan Akbar sangat terlihat jelas si leher Aurel.


"Masih berani menyangkal. Kamu lupa jika saya bisa melacak keberadaan istri saya. Dan kamu terlihat di sana Aurel. Kali ini saya tidak akan melepaskan kamu. Sebelum kamu membusuk di penjara saya akan memberikan hadiah yang sangat luar biasa," yuar Akbar dengan menyeringai.


Aurel beringsut menjauhi Akbar saat lelaki itu melepaskan tali pinggangnya dengan wajah yang amat menyeramkan.


Cetar...


Cetar....


"Arghh...."


"Ini balasan karena kamu telah menyuruh orang untuk menculik Fiona hingga istri saya nyaris di lecehkan," ucap Akbar.


Cetar...


"Ini balasan karena kamu telah membuat anak-anak saya terluka," ujar Akbar dengan tajam.


"A-amp..."


Cetar...


"INI BALASAN KARENA KAMU TELAH MEMBUAT ISTRI SAYA TERLUKA HINGGA TAK SADARKAN DIRI SAMPAI SEKARANG!" teriak Akbar dengan murka.


"A-ampun, M-mas. A-aku m-mengaku s-salah! A-aku c-cemburu d-dengan F-fiona. M-maafkan a-aku," ucap Aurel dengan terbata, ia memegang kaki Akbar hingga bersujud di kaki Akbar agar mau memaafkannya.


Tak ada lagi maaf untuk Aurel. Akbar benar-benar membenci Aurel sekarang.


"DIAN" teriak Akbar pada anak buahnya.


"Iya, Pak!"


"BAWA WANITA LICIK INI KE PENJARA! PASTIKAN DIA MENDERITA DI SANA!"


"Baik, Pak!"


" M-MAS AKBAR AMPUN!" teriak Aurel memberontak saat Akbar menatapnya dengan penuh kebencian. Aurel lupa siapa Akbar. Kebencian dan rasa cemburunya membuat Aurel lupa atas keselamatannya sendiri. Jika dulu dirinya yang selalu di lindungi maka sekarang dialah orang yang disiksa karena kesalahannya sendiri oleh Akbar. Menyesal? Sudah tiada guna bagi Aurel.

__ADS_1


__ADS_2