
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
...Note : Di sini nama Cika yang awalnya Cika Lestari author ubah menjadi Cantika Anastasya Samudra....
***
Sebulan kemudian...
Akhirnya hari yang di tunggu-tunggu bagi Zayden dan Cika sudah tiba. Pernikahan yang keduanya sangat impikan akhirnya terlaksana juga, dengan balutan kebaya berwarna putih dan senada dengan jas pengantin yang dipakai oleh Zayden.
Pernikahan yang terlaksana di gedung besar dengan dihias begitu cantik membuat Zayden dan Cika bak raja dan ratu sehari.
Acara akad nikah keduanya sudah dimulai. Zidan dan Tiara benar-benar sibuk bulan ini karena sebelum pernikahan Zayden dan Cika terlaksana, mereka juga mengadakan resepsi pernikahan Zevana dan Haidar yang dulu belum diadakan sama sekali, akhirnya mereka bisa tersenyum bahagia saat Zevana dan Raiden kembali kepada Haidar.
Bahkan saat pesta pernikahan itu diadakan senyum Raiden lah yang paling terpancar. Jangan tanyakan Indra bagaimana, lelaki itu sudah merasa di rugikan dan meminta kembalian uang yang cukup besar.
Zidan tak menyangka jika orang yang menolong anaknya ternyata memiliki sifat seperti itu. Dan Zidan tak masalah jika harus membayar ganti rugi pendidikan dan kehidupan anaknya serta cucunya, lebih baik Zidan membayarnya dari pada anaknya harus hidup dengan pria pengungkit seperti Indra. Tetapi semua itu sudah dibayar oleh Haidar, suami dari Zevana itu tidak mengizinkan papa mertuanya mengeluarkan uang hanya untuk memberikannya pada Indra menurut Haidar ini adalah tanggungjawab dirinya karena Zevana adalah istrinya. Dan Zidan tidak bisa melakukan apa-apa ketika Haidar sudah berkata seperti itu, uang itu tidak diberikan secara cuma-cuma oleh Haidar, lelaki itu tidak bodoh. Tentu dengan perjanjian di atas kertas yang tidak boleh di langgar oleh Indra. Jika Indra berani mengusik istri dan anaknya maka pidana akan menanti dirinya. Haidar tidak main-main dengan ancamannya, walaupun Indra baik tapi kebaikan pria itu mempunyai maksud yang membuat sang istri tidak nyaman.
Semua orang sudah berkumpul untuk menyaksikan akad nikah Zayden dan Cika. Yang paling terharu di sini tentu saja Zayden dan Cika. Dan yang kedua adalah kedua orang tua mereka karena bisa menyaksikan pernikahan Zayden dan Cika yang sudah mereka sangat nantikan.
Zayden menjabat tangan Fathan dengan sangat tegas.
"Saya Nikahkan dan kawinkan anak saya Cantika Anastasya Samudra binti Fathan Samudra untuk menjadi istrimu dengan mahar satu set berlian dan 25 persen saham perusahaan di bayar tunai," ucap Fathan dengan tegas.
"Saya terima nikahnya Cantika Anastasya Samudra dengan mahar tersebut, tunaiii..."
"SAH..."
"SAH..."
__ADS_1
teriakan sah menggema begitu keras yang membuat Zayden dan Cika tampak sangat lega. Kini keduanya sudah menjadi suami istri. Zayden menatap Cika dengan pandangan yang sangat dalam, ia masih tidak menyangka jika sekarang ia adalah suami Cika.
Keduanya bertukar cincin dengan perasaan yang sangat bahagia. Cika mencium tangan Zayden setelah mereka bertukar cincin dengan Zayden yang mengecup kening Cika dengan penuh haru dan tanpa sadar Zayden menjatuhkan air mata bahagia.
Do'a dipanjatkan untuk mendoakan kebahagiaan keduanya. Bahkan Tiara dan Tri sampai menangis karena kedua anak mereka akhirnya bersatu dengan persoalan yang sangat panjang akhirnya mereka dipersatukan dalam ikatan pernikahan yang suci. Akhirnya kebahagiaan menyapa keluarga mereka.
Delisha dan Ikbal tersenyum bahagia saat melihat kakak sepupu mereka akhirnya bersama.
"Kak Nad-Nad bahagia gak kak Cika menikah?" tanya Delisha dengan menatap Nadine yang berada di pangkuan suaminya.
"Bahagia dong. Nad juga mau menikah kalau sudah dewasa dengan pangeran," ujar Nadine yang membuat Delisha tertawa.
"Emang ada pangeran di zaman Kak Nad-Nad?" tanya Delisha dengan terkekeh.
"Ada dong. Kata kakak Om ada pangeran tampan nanti yang akan menikah dengan Nad," ujar Nadine dengan polosnya yang sangat mempercayai ucapan calon kakak iparnya tersebut. Siapa lagi kalau bukan Andra.
"Kan Nad cantik jadi harus menikah dengan pangeran!" ujar Nadine yang membuat Delisha dan Ikbal saling pandang.
"Ajaran Nayla pasti!" sahut Ikbal yang di angguki oleh Delisha.
Tak jauh dari mereka Zayyen melihat kemesraan keduanya dengan dada yang terasa sesak. Ternyata ikhlas itu bohong, walaupun Zayyen sudah mencoba mengikhlaskan Delisha tetapi tetap saja dadanya terasa sesak.
Semua orang memberikan selamat untuk Cika. Resepi pernikahan mereka akan diadakan pada malam hari dan keduanya diberikan waktu untuk istirahat sebelum resepsi dimulai pada malam harinya. Tetapi keduanya masih ingin bercengkrama dengan kerabat yang lainnya.
****
Malam harinya Zayden dan Cika sudah duduk di pelaminan bak raja dan ratu dalam semalam, tentu saja aura yang dikeluarkan oleh keduanya tidak main-main, wajah mereka menyiratkan kebahagiaan yang sangat mendalam. Zayden tak melepaskan genggaman tangannya ketika tidak ada tamu yang datang menghampiri keduanya, ketika ada Zayden dengan terpaksa melepaskan tangannya.
"Capek gak, Ay?" tanya Zayden menatap istrinya yang entah mengapa membuat Zayden pangling.
Cika jarang sekali make up dan setelah di make up seperti ini membuat Zayden terpukau.
__ADS_1
"Enggak, Ay! Kebahagiaan malam ini lebih besar dari rasa capek yang aku rasakan. Penantian yang sangat panjang akhirnya berakhir dengan bahagia. Ini bukan akhir sih masih ada kehidupan setelah pernikahan dan aku berharap kita masih berjalan beriringan walau banyak cobaan yang datang nanti di kehidupan rumah tangga kita," ujar Cika yang membuat Zayden terharu karena tersentuh dengan ucapan istrinya.
Zayden tersenyum mencium kening istrinya tampak para keluarga mereka melihat dari kursi khusus keluarga dengan kebahagiaan yang terpancar.
"Akhirnya Zayden bisa juga menikah dengan Cika," ujar Fiona dengan tersenyum.
"Iya alhamdulillah. Mereka sudah lama berpacaran bahkan sejak TK Zayden sudah mengatakan Cika adalah miliknya. Aneh memang tapi itulah Zayden yang mampu membuktikan ucapannya," ujar Tiara dengan bangga.
"Zayyen!" panggil Fiona yang membuat Zayyen tersedak karena walau bagaimanapun Zayyen adalah mantan dari Delisha dan sekarang maminya Delisha memanggil dirinya dengan pelan.
"I-iya, Tante!" sahut Zayyen dengan terbata entah mengapa jantungnya berdetak dua kali lebih cepat saat Fiona menatap dirinya.
"Kapan kamu menikah? Jangan menyalahkan diri kamu tentang yang sudah terjadi, kehidupan kamu dan Delisha memang tidak ditakdirkan bersama tapi Tante harap kamu juga bisa bahagia seperti Delisha," ujar Fiona dengan tulus. Tak ada dendam sedikitpun di hati Fiona untuk Zayyen, dulu ia kecewa tetapi lambat laun semua sudah seperti biasa.
Tiara menatap anak sulungnya menantikan jawaban Zayyen yang sangat ia harapkan akan bahagia seperti kedua anaknya yang lain. Tiara tidak ingin Zayyen di hantui dengan perasaan bersalahnya kepada Delisha terus menerus.
"InsyaAllah secepatnya Tante. Do'akan Zayyen segera menemukan pengganti Delisha," ujar Zayyen yang membuat Delisha tersedak.
"Uhukk...uhukk..."
"Sayang kamu tidak apa-apa?" tanya Ikbal dengan cemas.
Ikbal memberikan minum untuk istrinya tetapi Zayyen dengan refleks memberikan minuman juga yang membuat Ikbal menatap tajam kke arah Zayyen.
"Delisha istri gue kalau lo lupa!" ujar Ikbal dengan cemburu.
"Sorry gue hanya refleks!" ujar Zayyen dengan santai tetapi hatinya tidak karuan melihat ke arah Delisha yang sepertinya tidak nyaman dengan ucapannya.
"Sudah jangan bahas masalalu fokus saja ke masa depan kalian. Zayyen saya tidak mempersalahkan jika kamu masih mencintai Delisha tapi ingat Delisha sudah menjadi istri Ikbal dan kamu harus bisa menghilangkan perasaan itu," ujar Akbar dengan tegas.
"Ya akan saya coba, Om!" jawab Zayyen dengan tegas.
__ADS_1
"Maaf Om saya bohong karena sampai kapanpun saya hanya mencintai Delisha. Jika menikah pun hati saya tidak akan sepenuhnya menjadi milik istri saya," gumam Zayyen di dalam hati.