
...Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
****
Mama Yesha melihat keadaan Tiara dengan perasaan yang tak menentu, ia menelan ludahnya dengan kasar saat melihat fisik Tiara tak lagi sempurna seperti dulu, ia bergidik ngeri saat melihat tangan Tiara sudah diamputasi.
"Seram banget mukanya!" ucap Mama Yesha dengan merinding.
"Lebih seram orang berwajah dua!" ucap Zidan dengan tajam.
Zidan terburu-buru masuk ke ruangan Tiara saat ia mendapatkan laporan jika mama Yesha datang berkunjung. Ia takut mama Yesha melakukan sesuatu yang bisa membahayakan Tiara. Dan Zidan merasa tidak terima saat mama Yesha menghina wanita yang ia cintai, padahal wanita paruh paya itu dulunya sangat dekat dengan Tiara. Ternyata benar orang yang dekat dengan Tiara hanya memanfaatkan Tiara saja, mereka sama sekali tidak tulus. Zidan kembali di landa perasaan bersalah kala dulu ia tidak bisa melindungi Tiara.
Mama Yesha terkejut melihat Zidan tiba-tiba sudah ada di dekatnya. "Ngapain kamu di sini, Zidan? Bukannya kamu harus bekerja?" tanya Mama Yesha mencoba biasa saja dengan tatapan tajam Zidan kepadanya.
"Saya emang sedang bekerja. Anda tidak perlu mengingatkan saya Tante, Tante lupa jika Tante sudah tidak berhak lagi mengatur para karyawan di sini? Anda itu sudah jatuh miskin," ucap Zidan dengan tajam.
Mama Yesha tampak geram. Ia ingin menampar Zidan karena berani menghinanya. Tetapi tangannya di tahan oleh seseorang dari belakang.
"Berani tangan kotor Mama menampar Zidan makan Fathan gak akan segan mengamputasi tangan Mama!" ucap Fathan menahan emosinya.
Mama Yesha terlihat takut dan langsung melemaskan tangannya. "F-fathan, dia sudah menghina mama miskin! Jadi, Zidan pantas mendapatkan tamparan dari Mama!" ucap Mama Yesha dengan terbata.
__ADS_1
"Menghina? Emang Mama sudah jatuh miskin, kan? Mama ada uang karena Mama menjual Fiona dengan Akbar! Kalau Mama punya hati nurani Mama gak akan tega melakukan itu terhadap anak kandung Mama sendiri! Pantas saja Fiona lebih senang tinggal bersama om Bram dan tante Marisa dari pada bersama mama karena Fiona sama sekali tidak mendapatkan kasih sayang dari mama dan papa. Jangan lupakan uang tabungan Fiona yang mama kuras habis! Mama tahu? Fiona sejak dulu menabung karena ingin mempunyai toko pakaian sendiri, tetapi impian Fiona lenyap karena mama! Seharusnya Mama sadar diri saat menginjakkan kaki di rumah sakit ini, ini rumah sakit sudah menjadi lelaki yang membeli Fiona dan Mama tidak pantas berada di sini!" ucap Fathan dengan geram.
Entah bagaimana caranya lagi Fathan membuat mamanya sadar jika uang bukan segalanya walau di dunia ini segalanya butuh uang tetapi kerukunan keluarga yang paling penting. Peran orang tua dalam kehidupan anaknya sangat penting tetapi tidak dengan orang tuanya yang tidak mempunyai nalar dan malah memeras anak kandungnya sendiri demi kepentingan pribadi dan kebutuhan pribadi yang harus terpenuhi. Sebenarnya Fathan kasihan dengan papanya saat ini, papanya harus di rawat jalan karena mamanya tak mau biaya rumah sakit semakin membengkak padahal uang dari Akbar sangat cukup untuk pengobatan papanya, bisa saja Fathan membiayai pengobatan papanya tetapi Fathan tidak mau mamanya semakin melunjak dan tidak tahu diri.
"D-dari mana kamu tahu?" tanya Mama Yesha dengan tergagap.
Fathan menyeringai menatap tajam mamanya. "Semua gerak-gerik Mama, Fathan tahu. Ma, sebagai anak Fathan hanya ingin Mama sadar jika uang gak lebih penting dari keluarga. Fathan tolong Mama sadar, kasihan Fiona. Kalau Fathan tidak masalah karena Fathan adalah lelaki dan sudah mempunyai keluarga tetapi kalau Fiona, dia anak perempuan Mama satu-satunya yang membutuhkan kasih sayang dan ingin bermanja dengan Mama. Kasihan papa, Fiona, Ma. Fathan minta tolong Mama renungan ucapan Fathan," ucap Fathan dengan nada memohon.
Mama Yesha terdiam. Benarkah selama ini ia terlalu mementingkan dirinya sendiri? Kenapa ia terlihat sangat jahat di mata kedua anaknya? Hatinya berdenyut sakit saat mendengar ucapan Fathan, bukan sakit hati tetapi ia sedang merenung perbuatannya selama ini. Di mulai Fathan yang sangat mandiri sejak kecil, Fiona yang lebih dekat dengan bi Sumi, Fiona yang lebih memilih tinggal bersama adiknya hingga saat kedua anaknya dewasa ia sama sekali tidak menanyakan bagaimana perasaan anaknya.
"Mama boleh keluar. Setelah Mama merenung dan sadar akan perbuatan Mama, Mama boleh menemui Fathan," ucap Fathan pada Akhirnya.
Mama Yesha keluar dari ruangan ICU tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya, batin dan pikirannya sedang berperang menyalahkan dirinya sendiri. Hingga ia sadar semua yang ia lakukan sudah melukai hati kedua anaknya. Tetapi mama Yesha tidak punya keberanian untuk kembali menemui Fathan, ia terus melangkah keluar dari rumah sakit dengan perasaan bersalah.
Setelah kepergiaan Mama Yesha. Zidan berterima kasih kepada Fathan.
Pikiran Zidan tidak bisa berpikir dengan jernih, ia tidak bisa meninggalkan Tiara begitu saja. Saat Zidan ingin ikut mencari Barra pikirannya hanya tertuju pada Tiara yang membuat lelaki itu tidak fokus dan dengan prihatin ayah Felix menyuruh anaknya untuk menjaga Tiara dan semua urusan tentang Barra lelaki paruh paya itu yang urus sampai tuntas.
"Alhamdulillah...Gue belum bisa tenang kalau lelaki bajingan itu belum ke tangkap," ucap Zidan berkaca-kaca, sungguh akhir-akhir ini Zidan menjadi lelaki yang sangat cengeng, alasannya semua orang pasti tahu yaitu Tiara, wanita yang masih menjadi putri tidur di sana.
"Istrinya gak tahu kalau Barra melakukan tindakan kriminal. Wanita itu menangis histeris saat Barra di bawa paksa kembali ke Jakarta. Lo tenang, semua pasti akan berjalan dengan lancar apalagi bukti Barra yang melakukan sabotase mobil Tiara hingga kecelakaan itu sudah terekam CCTV. Barra akan di hukum seberat-beratnya," ucap Fathan dengan tegas.
"Gue sedikit lega. Gue merasa gak berguna untuk Tiara saat ini, rasanya tubuh gue lemas saat berjauhan dari Tiara. Gue takut ketika gue pergi dari rumah sakit Tiara malah pergi ninggalin gue untuk selama-lamanya, belum lagi Zayyen, anak gue lebih dingin dan sangat pendiam dari pada sebelumnya. Dokter Ando bilang, kalau Zayyen sedang diselimuti rasa bersalah kepada Tiara. gue harus kuat demi Tiara dan kedua anak gue. T-tapi gue gak tahu orang tua Tiara ada di mana, padahal gue ingin mereka bertemu dengan Tiara mungkin dengan melihat keadaan Tiara mereka sadar. Gue udah ke rumah mereka dan rumah itu kosong kata pembantunya kedua majikannya sedang melakukan perjalanan bisnis seperti biasa, ponsel mereka gak bisa dihubungi sama sekali," ucap Zidan dengan resah.
__ADS_1
"Mungkin mereka memang sedang tidak berada di Indonesia," ucap Fathan.
"Mungkin!" balas Zidan.
Zidan mendekat ke arah Tiara. "Hai putri tidur! Gimana perasaan kamu hari hmm? Mas harap lebih tenang dari hari kemarin ya. Enak banget ya tidurnya sampai gak bangun-bangun. Ini sudah seminggu loh Sayang, kamu gak pengin buka mata?" tanya Zidan berbisik ke telinga Tiara dengan suara gemetar.
Fathan hanya diam mengamati Zidan yang sedang mengajak Tiara berbicara.
Hingga dering ponsel Tiara membuat Zidan sedikit menjauh. Sudah seminggu ini ponsel Tiara ia matikan dan baru kali ini ia hidupkan kembali, Zidan mengeryit saat melihat nomor ponsel yang tak ia kenal, tanpa pikir panjang Zidan mengangkat telepon tersebut.
"Halo Nona, anda kemana saja? Kami harus melakukan apa lagi kepada kedua orang tua anda dan nona Sabrina? Ketiganya sudah tidak berdaya saat kami siksa."
Zidan mematung mencerna kata-kata orang di seberang sana.
"Saya suami Tiara. Kirimkan alamat di mana istri saya menyekap mertua saya!" ucap Zidan dengan tegas.
Tak ada jawaban dari seberang sana hingga beberapa menit. Fathan juga merasa penasaran hingga ia mendekat ke arah Zidan dan bertanya tanpa suara.
"Di gedung kosong dekat sungai X."
Ponsel tersebut dimatikan oleh orang suruhan Tiara.
"Ada apa?" tanya Fathan saat Zidan terlihat lemas.
__ADS_1
"T-ternyata Tiara yang menculik kedua orang tuanya sendiri," gumam Zidan dengan pelan dan tentu saja membuat Fathan syok tidak percaya.
"Kita harus segera ke sana!"