
...Jangan lupa ramaikan partai ini ya! ...
...Happy reading...
***
Pagi harinya Delisha bangun dengan badan yang sudah segar kembali. Ia terkekeh pelan saat melihat kedua kucing kesayangannya tidur di sampingnya.
"Duh gemesin banget anak Mami!" gumam Delisha dengan gemas mengelus kedua kucing kesayangannya dengan bergantian.
Delisha ingat sesuatu. Ya, ia mengingat Ikbal yang menemaninya semalam. Apakah benar lelaki itu begadang menemaninya semalam?
Delisha mencari ponselnya dan ia menemukan ponselnya berada di dekatnya, delisha mengambilnya ponselnya, ternyata baterainya yang semalam penuh kini tinggal 15 persen saja. Delisha tersenyum saat panggilan video mereka masih tersambung, ia mengamati Ikbal yang tertidur dengan menatap ke arah ponsel.
"Ganteng!" gumam Delisha dengan terkekeh. Duh bisa-bisanya ia memuji manusia kulkas 10 pintu yang masih tertidur bahkan wajah pria itu memenuhi layar ponselnya.
Tak mau menganggu tidur Ikbal yang mungkin saja lelaki itu baru saja tertidur karena dirinya, Delisha berpamitan pada Ikbal dengan suara yang pelan.
"Makasih sudah menemani Delisha semalam, Kak. Delisha sayang kakak seperti Delisha sayang ketiga kakak kembar Delisha," gumam Delisha dengan tulus.
Setelah berkata seperti itu Delisha langsung mematikan sambungan videonya, ia juga turun dari kasur dengan perlahan karena tak mau membuat kedua kucingnya terbangun juga, setelah itu Delisha men-charger ponselnya terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi setelah itu berangkat sekolah seperti biasanya karena dirinya sebentar lagi akan naik ke kelas tiga SMA.
***
Delisha turun dari kamarnya dengan wajah yang amat ceria membuat kedua orang tuanya heran, apalagi ketiga kakaknya.
"Ngapa, Cil? Ceria amat pagi ini," ujar Dareel kepada adiknya.
"Ceria itu berarti adek bahagia," ujar Delisha memutar-mutar tubuhnya di hadapan keluarganya.
"Papi, i miss you!" ucap Delisha dengan memeluk Akbar dengan erat karena dua hari ini Akbar dan Fiona menginap di rumah Alan dan Ulan.
Kakak tertuanya itu sudah sakit-sakitan dan Akbar harus menemani kakaknya. Akbar tak ingin terjadi sesuatu dengan Alan.
"miss you too, Sayang!" sahut Akbar mengecup kening Delisha dengan lembut.
"Maaf ya beberapa hari ini papi dan mami tinggal terus. Kesehatan pakde Alan sedang menurun," gumam Akbar dengan lembut.
"iya, Papi. Pakde Alan gimana? Udah sehat, kan?" tanya Delisha dengan khawatir.
Delisha sangat dekat dengan keluarga papinya. Walaupun usia sepupunya jauh di atas dirinya tetapi Delisha sangat nyaman kumpul di keluarga papinya. Keluarga besar yang harmonis dan sangat penyayang. Delisha juga dekat dengan keluarga maminya tetapi entah mengapa ketika kumpul ia kurang nyaman karena Cika yang dekat dengan Zayyen padahal sudah ada Zayden.
Wajah Akbar menjadi sendu, Fiona mengelus punggung suaminya untuk memberikan kekuatan.
"Pakde Alan masih ada di ruang ICU, Sayang. Penyakit jantungnya kambuh," gumam Akbar yang membuat Delisha terdiam secara tiba-tiba.
"Papi!" gumam Delisha dengan lirih.
"Iya, Sayang!"
__ADS_1
"Kasihan pakde Alan. Apa nanti Delisha bakal tidur di ruang ICU juga, Pi?" tanya Delisha dengan serak.
Diam..
Mendadak ruang makan kali ini menjadi sunyi karena pertanyaan Delisha yang tak mereka duga. Kebetulan atau tidak penyakit Delisha sama dengan Alan, lelaki tua itu bahkan lebih parah dari Delisha saat ini. Bahkan Ulan terus menangis menemani suaminya yang belum sadarkan diri hingga sekarang.
"Cil, sarapan yok! Kakak udah lapar nih! Masa cerita mulu dari tadi!" ujar Daniel mengelus perutnya dengan memelas.
Delisha mencibikkan bibirnya. "Dasar perut karet!" ujar Delisha dengan ketus.
"yang perut karet itu kamu, Dek! Makan telur gulung gak ada bosan-bosannya," ujar Daniel tak mau kalah.
"Ya karena Delisha suka, Kak!" ucap Delisha dengan memeletkan lidahnya.
"Kita sarapan dulu ya!" ujar Fiona dengan lembut.
"Siap, Mami!"
Akhirnya mereka makan dengan tenang tetapi tidak dengan Akbar dan Fiona yang masih memikirkan ucapan Delisha tadi. Mereka sudah mencari pendonor jantung untuk Delisha, tetapi belum menemukan hasil sampai sekarang. Mencari pendonor jantung tidaklah muda bagi mereka walau uang mereka banyak tetapi mereka tidak mungkin membayar orang yang masih hidup demi menukarkan nyawa mereka untuk kelangsungan hidup Delisha. Keduanya masih mempunyai hati nurani, dan sekali ada yang meninggal jantung mereka tidak cocok dengan Delisha. Akbar dan Fiona hampir frustasi bahkan kesehatan Akbar juga menurun karena banyaknya pikiran yang bersarang di otak tuanya. Mereka takut akan kehilangan Delisha.
***
Tin... Tin...
Delisha berlari pelan saat mendengar klakson mobil di depan rumahnya, ia sangat hafal dengan suara mobil tersebut. Dan benar saja Zayyen keluar dari mobil itu dengan gaya yang sangat cool.
Delisha langsung memeluk Zayyen dengan erat. Semua keluarga Delisha juga ikut berjalan ke depan karena Danish, Daniel, dan Dareel juga mau berangkat kuliah. Mereka pikir Delisha akan bersama dengan salah satu dari mereka tetapi mereka salah ternyata Zayyen sudah menjemput adik kesayangan mereka.
"Pagi Om, Tante," sapa Zayyen dengan ramah dan bersalaman dengan Akbar dan Fiona.
"Pagi, Zayyen! Mau jemput Delisha?" tanya Akbar dengan ramah.
"Iya, Om!" ujar Zayyen dengan tersenyum tipis terkesan kikuk di depan orang tua Delisha.
"Hari ini saya titip Delisha ya karena saya dan istri akan kembali menjenguk kakak saya di rumah sakit," ujar Akbar.
"I-iya, Om!" ucap Zayyen dengan kikuk.
"Kalau begitu kami berangkat, Om!" ujar Zayyen.
"Papi, Mami, Kakak-kakak tampan Delisha, Delisha berangkat sama kak Zayyen ya!" pamit Delisha dengan tersenyum.
"Iya, Sayang. Hati-hati ya!"
"Iya, Pi, Mi! Dadah.. Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumussalam!"
Delisha dan Zayyen memasuki mobil setelah keduanya berpamitan.
__ADS_1
"Kak susah! Pasangin seatbelt Delisha!" pintar Delisha dengan manja.
Zayyen berdecak, tetapi tetap memasangkan seatbelt Delisha. Hati Zayyen masih dongkol karena whatsapp Delisha berada di panggilan lain, tetapi rasa gengsi untuk bertanya membuat Zayyen diam sejak tadi.
"Kakak sariawan?" tanya Delisha dengan dengan pelan saat melihat keterdiaman Zayyen.
"Hmmm..."
"Beneran sariawan?" tanya Delisha dengan, cemas.
"Pinjam ponsel lo!" ujar Zayyen mengadahkan tangan di depan Delisha saat mobilnya sudah berjalan menjauhi rumah Delisha.
"Untuk apa, Kak?" tanya Delisha dengan heran karena gak biasanya Zayyen seperti ini.
Delisha mengambil ponselnya yang berada di dalam tas dan masih ia charger dengan powerbank miliknya.
"Gak jadi!" ujar Zayyen dengan gengsi.
"Tadi katanya mau pinjam ponsel Delisha. Ambil aja, Kak! Di dalamnya juga foto Kakak semua," ujar Delisha dengan jujur.
"Nih kalau gak percaya!" ucap Delisha memberitahukan galeri ponselnya.
Bibir Zayyen berkedut saat melihat hampir semua foto dirinya di galeri Delisha.
"Apa yang lo lakukan Zayyen? Kenapa seakan-akan lo cemburu dengan Delisha hanya karena whatsapp-nya berada di panggilan lain? Lo dongkol sejak tadi karena itu? Ini bukan lo banget, Zayyen!" gumam Zayyen di dalam hati.
"Kakak kenapa sih? Aneh banget sejak tadi. Apa Kakak kesal sama Delisha karena Delisha telepon berulang kali semalam? Delisha ganggu tidur Kak Zayyen ya?" tanya Delisha dengan sendu.
"B-bukan. Gue ngantuk semalam dan udah tidur makanya gue gak dengar lo telepon!" ujar Zayyen dengan tercekat.
"Dan bodohnya gue telepon lo balik tapi whatsapp lo berada di panggilan lain. Gue jadi overthinking karena itu. Tahu gak lo?!"
Dan soalnya ucapan Zayyen itu hanya bisa Zayyen ucapkan di dalam hati. Zayyen gengsi bertanya dengan Delisha, Zayyen takut Delisha jadi kegeeran karena pertanyaannya dan Zayyen tak mau semua itu terjadi.
***
Ikbal bangun dari tidurnya, ia mengecek ponselnya terlebih dahulu ternyata ponselnya sudah kehabisan daya. Senyum Ikbal terbit saat semalaman ia menjaga Delisha, memandang wajah gadis itu dengan puas. Akbar segera bangun dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah 20 menit Ikbal selesai mandi dan berganti pakaian. Ia keluar dari kamar dengan tersenyum tipis. Namun, senyuman Ikbal langsung lenyap ketika melihat papanya sedang bersama dengan wanita yang menghancurkan rumah tangga papa dan mamanya.
"Ikbal!" Panggil Tomi dengan tegas.
"Ikbal berangkat!"
"Ikbal tunggu!"
Ikbal sudah terlanjur kecewa dengan papanya. Bagaimana tidak kecewa setelah hidup bahagia, Ikbal merasa hidupnya yang paling sempurna tetapi dunianya hancur saat mengetahui papanya memiliki anak dari wanita lain. Bahkan mamanya yang dulu sangat bergantung dengan papanya sekarang menjadi gila kerja bahkan jarang menemuinya. Ikbal memaklumi mamanya, mungkin mamanya butuh kesibukan untuk melupakan sakit hatinya setelah dikhianati begitu saja oleh papanya bahkan bertahun-tahun lamanya papanya sudah berkhianat, anak papanya juga hanya beda dua tahun dari Ikbal. Dunia ini sungguh kejam untuk Ikbal dan mamanya.
Tomi mengusap wajahnya dengan kasar. Bagaimana lagi ia meminta maaf dengan anaknya jika sifat Ikbal saja tidak tersentuh sekarang. Sedangkan wanita yang bersama dengan Tomi hanya bisa diam tak berkutik.
__ADS_1