Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 159 (Hari Kelulusan Cika)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part iniya....


...Happy reading...


****


Cika tampak sangat cantik di hari bahagianya kali ini. dengan kebaya berwarna toska yang melekat di tubuh indahnya membuat semua orang kagum. Bahkan saat di saat nama Cika terpanggil pun semua orang masih mengagumi kecantikan Cika yang membuat jiwa iblis Zayden seakan ingin bangkit seketika tetapi tidak mungkin ia menampakkan sisi lain dalam dirinya di acara penting sang tunangan.


Semua keluarga tampak hadir di acara penting Cika termasuk Delisha dan Zayyen, keduanya tampak hadir dengan baju senada. Hanya Dareel yang tidak bisa datang karena ia tidak bisa libur dari sekolah penerbangannya.


Delisha tampak bertepuk tangan bahagia karena merasa bangga dengan kakak sepupunya walau di dalam hatinya merasa kecewa dengan Cika tetapi Delisha dengan pandai menyembunyikan rasa kecewanya dibalik senyuman manisnya. Banyak juga yang mengagumimu kecantikan Delisha di gedung di mana wisuda Cika diadakan tetapi Delisha bersikap cuek karena ada Zayyen di sampingnya.


Tentu Fathan, Tri, Nevan, Nessa, dan Nayla sangat bangga dengan Cika. Akhirnya anak pertama dari Fathan tersebut sudah menyandang gelar sarjana di usia muda walau banyak drama yang terjadi semasa Cika kuliah. Begitu juga dengan kedua sahabat Cika, Devi dan Feli tampak bangga dengan Cika walaupun keduanya belum lulus tetapi mereka ikut bahagia di acara kelulusan Cika pagi ini.


Tepuk tangan meriah saat acara berlangsung dengan sangat menggembirakan. Cika juga memeluk orang tuanya serta ketiga adiknya dengan senyum yang tak pernah pudar di bibirnya, bergantian memeluk tante dan omnya sekaligus calon mertuanya nanti, begitu seterusnya hingga berakhir dengan memeluk Zayden yang sudah membawa buket besar berisi uang untuk Cika.


"Cantik banget calon istriku!" bisik Zayden dengan pelan di telinga Cika.


"Tapi aku gak suka banyak pasang mata yang mengagumimu hari ini, Sayang! Hukuman apa yang pantas untuk mereka hmm?" ujar Zayden dengan tenang yang membuat Cika menjadi gusar.


"Hari ini adalah hari bahagiaku, Ay! Please jangan merusaknya ya!" ujar Cika dengan gusar.


Zayden tersenyum, ia mengelus pipi Cika dengan lembut. "Baiklah, berhubung hari ini aku baik. Aku tidak akan membuat perhitungan ke mereka, Sayang. Tapi sebagai gantinya setelah ini kita ke apartemen sebelum mengadakan acara kelulusan kamu di rumah. Bagaimana, Sayangku?" gumam Zayden dengan tenang dan berbisik agar orang-orang tak mendengar percakapan mereka.


Cika menghela napasnya dengan perlahan, tak mau membuat sang tunangan marah akhirnya Cika menganggu setuju yang membuat Zayden bahagia.


"Calon istri yang sangat baik. Dan sebentar lagi akan menjadi istri dari Zayden!" ujar Zayden dengan tersenyum.


Cika ikut tersenyum tipis tak nyaman tetapi ia tak mau semua orang curiga dengan apa yang terjadi pada dirinya dan juga Zayden. Hubungan mereka tak sehat dan itu hanya diketahui oleh kedua orang tua Zayden belum lama ini dan juga Zayyen, kembaran Zayden yang sudah mengetahui kepribadian ganda Zayden sejak lama tetapi Zayyen memilih diam agar perang saudara antara mereka tidak terjadi karena Zayyen masih ingin keluarganya utuh walau sebenarnya dirinya juga tersiksa karena harus memendam perasaannya seorang diri.

__ADS_1


Diam-diam Zayyen memperhatikan interaksi Cika dan juga Zayden. Tangannya menggenggam tangan Delisha dengan sangat erat yang membuat gadis itu meringis kesakitan.


"Kak, tangan Delisha sakit!" gumam Delisha dengan meringis.


Zayyen terkejut dan ia melepaskan tangan Delisha. "Maaf! Aku takut kamu dilirik oleh pria lain di dalam gedung ini," bisik Zayyen berbohong.


Delisha tersenyum. "Gak ada yang berani melirik Delisha di sini jika Kakak ada di samping Delisha. Bahkan Papi gak berani marah karena Delisha bersama Kakak, kan?" ujar Delisha dengan tersenyum.


Ya, memang benar apa yang diucapkan Delisha tetapi entah mengapa Zayyen malah merasa gusar dengan keterdiaman orang tua serta kakak-kakak Delisha. Masih ingat ketika mereka menghajar dirinya dengan brutal. Dan sekarang mengapa mereka hanya diam saja? Zayyen merasa terancam dengan sikap tenang mereka. Ada apa sebenarnya? Apakah ada yang mereka semua rencanakan?


***


Nessa berjalan sendiri untuk mencari udara sejuk setelah potret keluarga yang mereka lakukan. Nessa yang tak suka keributan ingin segera menepi dengan membawa pop ice yang ia beli, sedangkan saudara kembar dan adiknya masih bergabung di sana tetapi Nevan juga sama dengan dirinya yang tak suka keramaian bedanya Nevan adalah lelaki cuek sedangkan dirinya tidak, Nessa bisa menempatkan dirinya dengan baik sesuai teman yang sedang bersamanya asal tidak membawa pengaruh buruk kepadanya.


Nessa duduk di sebuah kursi taman yang berada di dalam kampus. Dirinya dan Nevan juga berkuliah di sini tetapi mereka berbeda jurusan dengan kakak sulung mereka karena baik dirinya dan Nevan memilih menjadi mahasiswa kedokteran mengikuti jejak papa mereka.


Nessa menyeruput minuman pop ice rasa taro yang ia beli dengan perasaan tenang sambil dirinya memainkan ponsel.


"Hiks..bunda pop ice!" ujar anak kecil tersebut yang semakin dekat di telinga Nessa.


Nessa mengeryitkan dahinya saat ia merasa ada yang menarik bajunya. Perlahan Nessa mulai melihat ke arah sampingnya dan Nessa sedikit terkejut saat melihat anak perempuan seusia 3-4 tahun berada di sampingnya.


"Adek ngapain di sini? Papa dan mama kamu kemana?" tanya Nessa dengan lembut karena ia pencinta anak kecil apalagi melihat anak kecil seimut ini, Nessa jadi gemas ingin mencubit pipi anak kecil itu.


"Mau minta pop ice, Bun! Sedikit aja Ayuna mau cicipi rasanya. Nanti ketahuan Ayah," bisik anak kecil itu dengan wajah yang memelas yang membuat Nessa terkekeh.


"Kakak takut kena marah ayah kamu dong kalau kasih kamu ini," ujar Nessa dengan terkekeh.


"Gak bakal marah karena bunda cantik. Boleh ya, Bun!" rengek Ayuna yang membuat Nessa gemas dan menjawil pipi anak itu.

__ADS_1


"Kok bunda sih? Panggil aja Kakak! Kakak bukan bunda kamu loh!" ujar Nessa yang membuat Ayuna terdiam.


"Ayuna gak punya bunda. Ayuna pikir boleh manggil Kakak dengan sebutan bunda!" ujar Ayuna dengan sedih.


Nessa yang merasa bersalah menjadi semakin serba salah tak mungkin kan anak kecil yang baru saja ia kenal sudah memanggilnya dengan sebutan bunda dan dirinya mengizinkannya begitu saja? Rasanya mustahil untuk hal itu karena usianya juga masih sangat muda.


"Ini pop ice-nya!" ujar Nessa dengan cepat.


"Ayuna!" panggil suara bariton yang membuat anak kecil bernama Ayuna menutup mulutnya agar pop ice yang berada di dalam mulutnya tidak ketahuan oleh sang ayah.


"Astaga, Nak. Ayah cariin kamu dari tadi dan ternyata kamu di sini. Jangan bikin ayah panik!" ujar Andra dengan lega.


"Kamu sembunyikan apa di dalam mulut kamu hmm?" ujar Andra yang curiga dengan tingkah anaknya yang sangat pandai.


Ayuna menggelengkan kepalanya. Andra melihat ke arah gadis yang berada di hadapannya.


"Jangan marah sama bunda, Ayah! Ayuna cuma minum pop ice sedikit," ujar Ayuna dengan jujur karena anak itu takut sang ayah marah kepada Nessa.


"Dia mirip sekali dengan Cika," ujar Andra di dalam hati, hampir saja pria itu terpanah dengan kecantikan Nessa yang mirip dengan Cika.


"Kamu kasih anak saya pop ice?" tanya Andra dengan datar.


"Iya, dia yang minta! Tapi sedikit karena ini gak baik buat kesehatan anak," ujar Nessa dengan tenang.


"Kakak pergi dulu ya, Una!" ujar Nessa dengan tersenyum karena ia sudah dicari oleh kembarannya. Ponselnya sudah berisik akibat notif dari Nevan.


"Yahhh, bundanya pergi! Ayah sih wajahnya serem!" ujar Ayuna tidak terima.


"Kok ayah yang disalahin? Seharusnya saat ini Ayah sedang marah sama Ayuna karena bandel minum pop ice di saat baru aja sembuh dari pilek," ujar Andra dengan berkacak pinggang.

__ADS_1


"Pokoknya Ayah yang salah! Ayuna mau ketemu kakak cantik itu lagi!" ujar Ayuna ngambek.


Mengapa Andra yang menjadi disalahkan oleh anaknya? Tapi tunggu Andra seperti mengenal sosok gadis cantik tadi. Ia seperti pernah melihat Nessa entah di mana, dan ya Andra baru ingat, ia bertemu Nessa di saat sidang skripsi Cika. Sepertinya gadis tadi adalah adik dari Cika karena wajah mereka mirip.


__ADS_2