Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 91 (Sebuah Fakta Tentang Fiona)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya. ...


...Happy reading...


****


Pagi harinya Fiona terus merangkul lengan suaminya dengan mengerjabkan kedua matanya, sejak Akbar mengurung diri di kamar mandi bahkan sampai keluar kamar mandi Akbar terus diam sejak pagi yang membuat Fiona mengerucutkan bibirnya. Sepertinya Akbar masih marah dengan pembalutnya semalam.


"Mas Akbar masih marah ya sama pembalut Fio?" tanya Fiona dengan menatap wajah Akbar.


Akbar melihat Fiona sekilas lalu mencibir dengan pelan. Istrinya tidak tahu jika kepala atas dan bawahnya terasa pusing sejak semalam, dosa apa yang Akbar lakukan hingga gagal unboxing istrinya? Haruskah Akbar puasa kembali? Sungguh sial Akbar kali ini.


Akbar bingung. Kenapa istrinya terlalu polos? Fiona tinggal di luar negeri dengan kehidupan yang sangat bebas tapi kenapa Fiona seperti tidak mengetahui hal apapun tentang hubungan orang dewasa terlebih hubungan suami istri? Sejak semalam Akbar merenung sambil menatap wajah polos Fiona yang sudah tertidur. Apakah ada sesuatu yang terjadi pada istrinya dulu? Haruskah Akbar bertanya dengan Fathan? Tapi rasanya sangat tidak enak jika harus bertanya seperti itu kepada Fathan.


"Saya gak marah. Tapi setelah selesai haid kamu harus saya unboxing. Paham?" ucap Akbar pada istrinya.


Fiona tampak diam berpikir. Lalu ia tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Mas, itu bunda, ayah, mama, papa, kak Fathan, mbak Tri, dan Cika!" tunjuk Fiona dengan menyebutkan semua anggota keluarganya.


"Kita ke sana ya Mas!" pinta Fiona yang langsung diangguki oleh Akbar.


Akbar menggenggam tangan Fiona dengan erat menuju keluarga besar Fiona sedangkan keluarga Akbar sudah kembali sejak semalam.


"Selamat pagi!" sapa Fiona dengan ceria.


"Selamat pagi pengantin baru!" sahut semua keluarga Fiona dengan bahagia melihat kecerian Fiona.


Akbar hanya bisa tersenyum melihat kecerian Fiona. Ia juga menyapa keluarga Fiona dengan ramah, Akbar menarik kursi dengan pelan agar Fiona segera duduk. Setelah Fiona nyaman dengan duduknya barulah Akbar duduk di sebelah istrinya.


"Mau sarapan apa?" tanya Akbar dengan lembut.


"Telur gulung!" jawab Fiona dengan cepat.


"Pagi ini jangan makan telur gulung dulu! Nanti siang ya!" ucap Akbar dengan lembut namun tidak terbantahkan.


Fiona tampak mencibir tetapi ia menuruti perkataan suaminya. "Terserah Mas saja lah!" ucap Fiona dengan cemberut.


Fiona bertopang dagu menunggu suaminya memesankan sarapan untuknya membuat bunda Marisa dan ayah Bram hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat bagaimana Fiona sangat manja dengan Akbar.

__ADS_1


Bunda Marisa mengelus rambut Fiona dengan lembut. "Baru menikah kemarin kok udah cemberut aja?" tanya Bunda Marisa dengan pelan.


"Mas Akbar pelit! Masa Fio gak boleh makan telur gulung! padahal kan harga per tusuk cuma seribu rupiah!" ujar Fiona.


Akbar yang mendengarnya hanya bisa menghela napasnya dengan perlahan. "Setelah sarapan kamu mau telur gulung saya belikan dengan gerobaknya sekalian!" ucap Akbar dengan pasrah yang membuat Fiona berbinar.


"Beneran? Janji?" ucap Fiona dengan bahagia.


Akbar menganggukkan kepalanya dengan mantap. "Apapun mau kamu saya akan berikan!" ucap Akbar dengan tulus.


"Makasih Mas suami!" ucap Fiona dengan bahagia.


"A-apa? C-coba ulangi sekali lagi?" ucap Akbar dengan terbata. Jantungnya tidak baik-baik saja,karena Fiona.


"Mas suami!" ucap Fiona dengan keras yang membuat keluarga Fiona tertawa melihat wajah Akbar yang tak biasa.


"Baru dipanggil begitu aja salting!" ejek Fathan yang membuat Akbar mendengus sebal.


Akbar memilih menyuapi Fiona dengan lembut dari pada mendengarkan ejekan dari keluarga Fiona untuknya.


"Fio, ikut bunda sebentar yuk!" ucap Bunda Marisa dengan lembut.


"Kemana, Bun?" tanya Fiona penasaran.


"Temani Bunda ke kamar mandi sebentar. Biar suamimu mengobrol dengan ayah dan yang lainnya," ucap Bunda Marisa.


Fiona menatap Akbar. "Boleh?" tanya Fiona kepada Akbar.


"Boleh, Sayang!" ucap Akbar dengan tersenyum.


"Suami Fio udah kasih izin, Bun. Ayo Fio temani!" ucap Fiona dengan tersenyum. Sederhana tapi membuat Akbar gemas.


Akbar melihat kepergian Fiona dengan mata yang tak berkedip hingga suatu ayah Bram menginterupsi yang membuat Akbar melihat ke ayah Bram.


"Akbar, saya ingin mengatakan sesuatu dan ini sangat penting tentang Fiona," ucap Ayah Bram dengan serius.


Akbar menautkan kedua alisnya. Ayah Bram terlihat sangat serius dan itu yang membuat Akbar semakin penasaran.

__ADS_1


"Ada apa dengan Fio?" tanya Akbar tak sabaran.


Ayah Bram terlihat menghela napasnya dengan pelan. "Seperti yang kamu lihat dan nilai Fiona tidak seperti gadis dewasa yang lainnya," ucap Ayah Bram dengan pelan.


"M-maksudnya?" tanya Akbar semakin merasa jantungnya berdetak dengan keras.


"Pikiran Fiona terbejak pada pikiran anak kecil. Sejak kecil Fiona lebih dekat dengan bi Sumi, ia ingin dekat dengan mama dan papanya tetapi hal itu tidak ia dapatkan, pola asuh yang seharusnya terus dilakukan oleh orang tuanya tidak Fiona dapatkan sama sekali. Fiona selalu kesepian hingga bi Sumi melihat gelagat yang mencurigakan dari tumbuh kembang Fiona, semua masih terlihat normal saat Fiona rutin ke dokter anak hingga puncaknya saat Fiona pindah ke Belanda, saat masuk SMA di Belanda Fiona banyak digemari oleh teman lelaki sebayanya, Fiona banyak mempunyai teman tetapi karena pikiran Fiona yang polos banyak lelaki yang hanya memanfaatkan Fiona. Fiona mempunyai pacar orang Belanda saat itu, dia sangat senang sekali saat menceritakan pacarnya pada saya dan istri saya, bahkan semua terlihat normal, pacar Fiona juga terlihat baik. Tapi saat kelulusan tiba pacar dan teman Fiona menyekap Fiona di gedung sekolah, ada 11 orang lelaki yang ingin memperkosa Fiona termasuk pacar Fiona..."


Ayah Bram terlihat menghela napasnya dengan perlahan, mama Yesha yang baru tahu masalah itu sudah menangis tanpa suara. Sejahat itukah dirinya? Hingga tumbuh kembang Fiona yang mengalami masalah ia tidak tahu? Sedangkan Akbar terlihat diam, pria itu ingin mendengar sampai selesai.


"Fiona ketakutan, sangat ketakutan sekali! 11 orang lelaki sudah memegang tubuhnya, Fiona sangat jijik dan berteriak dengan kencang meminta pertolongan tetapi tidak ada satu pun yang datang. Saat 11 lelaki itu ingin memperkosa Fiona secara bergilir saya yang saat itu merasa hati saya tidak enak dan terus kepikiran soal Fiona berinisiatif menjemput Fiona. Saya tidak mendapatkan Fiona dimana pun hingga ada teman perempuan Fiona yang memberitahu saya jika Fiona di sekap. Perempuan itu meminta maaf karena tak berani menolong Fiona karena gadis itu adalah korban bully di sekolahnya. Saat saya menemukan Fiona, pakaian Fiona sudah acak-acakan bahkan 11 lelaki di sana sudah bertelanjang. Fiona ketakutan, tubuhnya gemetar dengan hebat. 11 orang lelaki itu berhasil kabur saat saya mencoba memukul mereka. Saya ingin memeluk Fiona tetapi Fiona berteriak histeris, sejak saat itu dan sebulan lamanya dokter mengatakan jika Fiona mengalami depresi berat bahkan beberapa kali mencoba bunuh diri. Dia meresa tubuhnya sudah sangat kotor, hingga dokter memberikan pilihan untuk melakukan terapi pada Fiona agar trauma yang ia alami hilang. Dan akibat itu pikiran Fiona kembali terjebak pada pikiran anak kecil atau bisa dikatakan mengalami keterbelakangan mental," ucap Ayah Bram dengan sendu.


"K-keterbelakangan mental?" ucap Akbar dengan terbata.


Ayah Bram mengangguk. "Penyakit itu sudah diketahui sejak kecil saat Bi Sumi mengamati tumbuh kembang Fiona yang berbeda dari teman se-usianya. Tetapi dengan kesabaran Bi Sumi yang selalu rutin mengajak Fiona ke dokter bahkan rela uang gajinya habis untuk membayar pengobatan Fiona karena kedua orang tuanya sama sekali tidak peduli dengan perkembangan anaknya lambat laun Fiona sudah kembali terlihat seperti gadis normal. Dan akibat pelecehan yang terjadi pada Fiona, ia kembali seperti anak kecil yang memiliki keterbelakangan mental. Saat ini Fiona sudah lupa dengan kejadian itu tetapi sewaktu-waktu dia bisa mengingat semuanya. Jadi, saya meminta tolong dengan sangat kepada kamu Akbar, tolong jaga Fiona dengan baik. Apakah kamu masih mencintai Fiona saat setelah tahu semuanya tentang Fiona?" tanya Ayah Bram dengan pelan.


"Mengapa kalian tidak mengatakannya dari awal?" tanya Akbar dengan tajam. Akbar mereka hatinya ditusuk ribuan jarum saat mengetahui fakta tentang Fiona, hatinya sakit sekali.


"Karena saat itu kami belum percaya dengan kamu!" ucap Fathan dengan tegas.


"Apapun keadaan Fiona saya akan menerimanya dengan tulus!" ucap Akbar dengan tegas. Fiona bisa menerima kekurangannya mengapa ia tidak?


"Hiks...saya mama yang bodoh!" ucap Mama Yesha dengan menepuk dadanya yang terasa sesak.


"Semuanya sudah terjadi untuk apa disesali? Sekarang yang kakak bisa lakukan hanya mensupport Fiona itu saja gak ada yang lain!" ujar Ayah Bram dengan dingin.


"Mas suami!" teriak Fiona dari jauh dan berlari memeluk Akbar bahkan duduk di pangkuan Akbar dengan tersenyum.


Akbar menatap wajah Fiona yang sangat cantik natural. Akbar masih tidak menyangka jika Fiona mengalami hal yang sangat keji, ia mengusap pipi Fiona dengan pelan.


"Kenapa hmm?" tanya Akbar dengan serak menahan tangisnya.


"Sekarang Fiona ngerti unboxing itu apa! Bunda yang ngajarin Fio, kata bunda tadi Fio harus bisa melayani Mas suami dengan baik. Fio janji setelah datang bulan Mas suami boleh unboxing Fio sampai anak kita jadi," ucap Fiona dengan berbinar.


Kali ini Akbar tidak merasa kesal. Lelaki itu bahkan terlihat mau menangis, dengan mengusap sudut matanya dengan cepat Akbar tertawa pelan.


"Saya gak akan melepaskan kamu saat waktu itu tiba Fio!"

__ADS_1


__ADS_2