
...📌 Tinggal sebentar lagi kita menuju 5 tahun kemudian. Masih ada yang menantikan novel ini? Kalian bosan gak sih dengan cerita ini?...
...📌Jangan lupa sebelum baca like dan beri hadiah dulu supaya author semangat. Jangan lupa komentarnya juga. Aku sudah sering double up loh ini wkwk....
...Happy reading...
***
Fahmi dan Diana tidak bisa melakukan apa-apa saat anaknya di bawa oleh polisi dengan khasus KDRT yang Haidar lakukan pada Zevana. Awalnya mereka tidak percaya namun setelah mendengar ucapan Haidar secara langsung barulah mereka syok dan tidak bisa berbuat apa-apa saat Zidan begitu murka dengan anaknya.
Biarlah Haidar menerima hukumannya walaupun mereka ingin Haidar tidak di penjara tetapi bagaimanapun tindakan anaknya tetap salah, Haidar sudah merusak mental dan fisik menantunya. Walaupun Fahmi dan Diana kecewa dengan Zevana tetapi keduanya tidak membenarkan tindak KDRT yang di lakukan Haidar kepada Zevana.
Zidan, Zayyen, dan Zayden menatap Haidar dengan tajam. Sejak tadi ketika Haidar masuk ke dalam sel lelaki itu hanya menduduk tak mau menatap kedua orang tuanya serta mertua dan kedua sahabatnya.
"Kamu pantas berada di sini!" ujar Zidan dengan tajam.
"Karena kamu dua wanita kesayangan saya menderita! Setelah kepergian Zevana kamu tahu istri saya drop sampai harus di rawat di rumah sakit dan sampai sekarang Zevana belum ditemukan," ujar Zidan dengan dingin.
"Kalau membunuh tidak di larang saya sudah membunuh kamu sejak tadi. Walaupun saya melupakan adik saya tetapi mendengar kamu memperlakukan adik saya sekeji itu maka saya tidak akan terima. Tempat ini pantas untukmu!" ujar Zayden dengan tajam.
"Ayo kita pulang!" ujar Zidan dengan dingin.
"Mas Zidan maafkan kelakuan anak saya! Kami akan berusaha mencari Zevana sampai ketemu!" ujar Fahmi sebelum Zidan dan kedua anaknya melangkah pergi.
"Saya tidak akan memaafkan Haidar sebelum Zevana ketemu, Mas!" ujar Zidan dengan tajam.
Fahmi menghela napasnya dengan berat saat Zidan, Zayyen, dan Zayden pergi begitu saja meninggalkan mereka. Mendapatkan hukuman 5 tahun penjara rasanya tidak sebanding dengan apa yang Zevana rasakan selama ini.
"Haidar!" panggil Diana dengan lirih.
"Papa sama Mama pulang saja Haidar tidak ingin bertemu siapa-siapa!" ujar Haidar dengan pelan.
"Papa pasti akan membebaskan kamu dari sini," ujar Fahmi dengan tegas.
Haidar hanya diam saja. "Pulang Pa, Ma!" usir Haidar dengan datar.
Diana menatap anak semata wayangnya dengan air mata yang mengalir, hatinya sesak saat melihat anaknya memakai pakaian tahanan seperti ini. Fahmi membawa istrinya pulang tetapi pandangan Diana tak lepas dari Haidar yang terlihat begitu menyesal bahkan sejak tadi Haidar terus menunduk.
"Setelah kepergianmu kenapa aku mulai merindukanmu?"
***
"Pa, Mama, Pa..." teriak Zayyen saat merasakan tubuh mamanya sangat panas.
"Papa!" panggil Zayyen dengan panik.
"Ma, bangun! Mama!" panggil Zayyen dengan menyentuh lengan mamanya.
"Ma!" panggil Zayden dengan pelan.
Tiara tak kunjung bangun yang membuat kedua anaknya panik. Zidan yang baru saja dari dapur langsung berlari setelah mendengar teriakan kedua anaknya.
"Ay, bangun! Ya Allah... panas banget!" ujar Zidan dengan panik padahal istrinya baru saja pulang dari rumah sakit dalam keadaan yang sudah baik.
"Kita bawa Mama ke rumah sakit lagi, Pa!" ujar Zayyen dengan pelan.
Zidan mengangguk dan tiba-tiba saja Tiara membuka matanya. "Aku gak mau di bawa ke rumah sakit. Lebih baik aku di rumah saja walaupun harus mati," gumam Tiara yang membuat jantung ketiga pria yang sangat ia sayangi itu seakan berhenti berdetak.
__ADS_1
"Sayang, kamu harus di bawa ke rumah sakit. Kamu drop hampir seminggu dan Mas berhasil membuat Haidar mendekam di penjara," ujar Zidan yang membuat Tiara meneteskan air matanya.
"Aku mau di rumah saja menunggu Zevana pulang!" ujar Tiara yang membuat Zidan menghela napasnya.
"Oke Mas rawat di rumah ya!" ujar Zidan mengalah.
"Zayyen, Zayden tolong bantu Papa ambilkan semua peralatan dokter Papa yang ada di ruang kerja," ujar Zidan yang di angguki oleh keduanya.
"Panas banget, Sayang!" gumam Zidan dengan sendu.
"Makan sedikit ya!" ucap Zidan membujuk istrinya tetapi Tiara hanya menggeleng pelan.
"Aku mau Zevana!" gumam Tiara yang membuat mata Zidan berkaca-kaca.
"Zevana pasti pulang. Dia gak suka lihat kamu sakit begini," ujar Zidan dengan pelan.
"Aku mau Zeva... Uwekk...uwekk..."
"Astaghfirullah, Sayang!" Zidan terkejut saat Tiara muntah-muntah di hadapannya hingga selimut yang di kenakan istrinya terkena muntahan Tiara.
Zidan langsung menyingkirkan selimut itu. Zidan dengan cepat mengambil kantong kresek yang ada di dalam laci dan langsung memberikannya kepada Tiara. Zidan menatap Tiara dengan kasihan karena istrinya itu terus muntah-muntah hingga wajahnya pucat.
"Di rawat di rumah sakit saja ya, Sayang! Keadaan kamu semakin parah ini," ujar Zidan dengan panik.
"Gak mau!" ujar Tiara dengan lirih dengan tubuh yang sangat lemas.
Zidan menghela napasnya dengan pelan. "Ya sudah tapi ganti baju dulu ya. Baju kamu kotor," ujar Zidan dengan perhatian.
"Pa, Ini... Loh Mama kenapa?" tanya Zayyen dengan panik.
Tak ada rasa jijik di wajah ketiga pria itu. Merawat wanita yang sangat mereka cintai adalah sebuah kewajiban.
"Aku bisa jalan sendiri, Mas. Nanti baju kamu kotor," ujar Tiara dengan lirih.
"Kali ini jangan bantah ucapan Mas, Sayang!" ujar Zidan dengan tegas menggendong istrinya masuk ke dalam ruang ganti. Dapat Zidan rasakan panas tubuh istrinya yang mengenai kulitnya.
Dengan sangat telaten Zidan menggantikan pakaian istrinya. "Mas kalau aku meninggal dan Zevana belum ketemu. Aku mau kamu katakan ke anak kita kalau aku sama sekali tidak membenci dirinya," ujar Tiara dengan lirih.
"Sayang, kamu ngomong apa sih?" ujar Zidan tak suka.
"Aku selalu merepotkan kamu ya, Mas?! Seharusnya kamu masih bekerja di rumah sakit. Tapi karena aku sakit kamu rela meninggalkan tugasmu," gumam Tiara dengan lirih.
"Itu sudah tugasku menjadi suamimu, Sayang. Mas gak suka kamu ngomong seperti itu lagi," ujar Zidan dengan lirih.
"Hiks...Tapi aku takut tidak bisa melihat Zevana lagi, Mas. Sebelum itu terjadi maka aku berpesan kepadamu, Mas!" ujar Tiara dengan lirih.
Zidan membawa istrinya ke dalam pelukannya. "Saat sakit kenapa di dalam pikiran kamu selalu kematian? Mas tidak suka itu, Sayang!" ujar Zidan dengan serak.
"Mas aku mau istirahat!" gumam Tiara dengan lirih.
Zidan mengangguk, ia menggendong istrinya dengan perlahan. Seprei tempat tidur mereka sudah di ganti, alat-alat medis untuk sang istri juga sudah tertata rapih di sana.
Zidan merebahkan Tiara dengan perlahan di kasur. Ia melepaskan tangan palsu istrinya dengan perlahan agar istrinya nyaman. Dan Zidan mulai memasang infus di tangan kiri Tiara. Zidan tidak mau istrinya sampai dehidrasi setelah cairannya terbuang banyak.
Zayyen jadi bimbang pergi ke Inggris setelah melihat kondisi mamanya yang seperti ini, padahal dua minggu lagi ia sudah harus terbang ke sana untuk melanjutkan pendidikannya. Dan sekarang Zayyen jadi ragu apakah ia harus pergi atau tidak?
"Kak, jangan karena Mama sakit kamu tidak jadi pergi ke Inggris. Pergi saja Kak! Mama tidak apa-apa mungkin adik kamu ada di sana dan kalian bertemu dengan tidak sengaja," ujar Tiara dengan lirih seakan tahu kalau anak sulungnya sedang bimbang.
__ADS_1
"Ma..."
"Mama gak apa-apa. Mama akan sehat demi anak-anak Mama!"
"T-tapi..."
"Sudah gak apa-apa! Mama tidak mau menjadi penghalang cita-cita kamu," ujar Tiara dengan tersenyum.
Saat ini Zayyen dan Zayden menemani sang mama bahkan Zayden sampai mengabaikan panggilan Cika yang membuat gadis itu uring-uringan sendiri.
****
Malam hatinya setelah semua istirahat setelah Tiara benar-benar bisa memejamkan matanya.
"Ma, tolong bilang sama Papa keluarkan kak Haidar dari penjara. Hiks... Aku gak mau dia di penjara, Ma. Tolong Ma! Zeva tersiksa di sini kalau kak Haidar belum di bebaskan, Ma!"
"Tapi dia sudah kasar sama kamu, Sayang!"
"Aku mohon, Ma! Bebaskan kak Haidar! Zevana baik-baik saja di sini tapi Zevana sedih kalau harus melihat kak Haidar di penjara. Bebaskan dia, Ma! Zevana gak mau kembali kalau kak Haidar belum di bebaskan!"
"Mama akan bebaskan Haidar kalau kamu pulang, Sayang!"
"Ma, Zeva pamit ya! Ingat pesan Zeva bebaskan kak Haidar. Bagaimanapun dia adalah papa anak yang di kandung Zevana sekarang."
"Zeva kamu mau kemana, Nak?"
Tiara sangat takut ketika melihat sang anak pergi menjauhinya. Tiara ingin mengejar Zevana tetapi kakinya tidak bisa di gerakkan sama sekali.
"ZEVANA!" teriak Tiara dengan keras yang membuat Zidan langsung terbangun dari tidurnya karena Zidan baru saja tertidur.
"Sayang kenapa?" tanya Zidan memeluk Tiara saat melihat istrinya terisak dan memanggil nama anaknya dengan kencang.
"Hiks...Zeva pergi meninggalkan aku Mas. Dia bilang kalau kita gak membebaskan Haidar, Zevana gak mau pulang. Bebaskan Haidar, Mas. Biarkan dia bebas asal Zeva anak kita kembali hiks.."
"Sayang itu hanya bunga tidur!" ujar Zidan dengan tenang.
"Gak, Mas. Ini seperti nyata. Bebaskan Haidar, Mas! Aku mau anakku hiks..."
"Sssttt... Kamu yakin?"
Tiara mengangguk dengan mantap. "Aku mau Zeva hiks..."
"Ya sudah Mas akan bebaskan Haidar kalau itu yang buat kamu tenang," ujar Zidan walau hatinya merasa enggan.
"Tidur lagi ya!"
"Enggak! Aku sudah tidak bisa tidur!"
"Jadi, sekarang maunya apa hmm?"
"Zeva!" jawab Tiara yang membuat dada Zidan sesak.
"InsyaAllah kita pasti menemukan Zevana, Sayang!"
Zidan bangun dengan perlahan untuk mengganti infus istrinya yang ternyata sudah habis. Semalaman ia tidak tidur untuk menemani istrinya.
"Sampai kapan kamu seperti ini, Sayang? Bahkan orang suruhanku belum bisa menemukan Zevana," gumam Zidan dengan sendu.
__ADS_1