
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
***
Tiara mengetuk pintu kamar anak sulungnya dengan pelan. Rumah ini menjadi sepi ketika Zayden dan Zevana sudah tidak tinggal lagi bersama dengan mereka, terkadang Zayyen juga tidak pulang ke rumah, lelaki itu lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah sakit milik Fathan dan rencananya juga Zayyen akan membangun rumah sakitnya sendiri, tahap pembangunan rumah sakit miliknya masih 30% dan Zayyen yakin rumah sakit miliknya ini akan selesai dalam setahun.
"Zayyen ini Mama!" ujar Tiara dengan pelan.
"Iya Ma masuk saja gak dikunci," ujay Zayyen dengan lembut.
Ceklek...
Tiara membuka pintu kamar anaknya dengan perlahan, ia tersenyum saat melihat Zayyen sedang duduk dengan membaca buku kedokterannya.
Zayyen menutup buku yang ia baca dan menatap mamanya dengan tersenyum. "Sini Ma duduk di sebelah Zayyen," ujar Zayyen dengan menepuk sofa kosong di sebelahnya agar sang mama duduk.
Tiara duduk di sebelah anaknya, ia tersenyum saat Zayyen memeluknya dari samping. "Tumben sudah pulang apa tidak banyak pasien hari ini?" tanya Tiara dengan menatap wajah anaknya yang semakin tampan ketika sudah beranjak dewasa.
Zayyen terkekeh. "Nanti malam lanjut lagi, Ma. Ini waktunya Zayyen istirahat dan kebetulan Zayyen ingin pulang," sahut Zayyen.
"Ingin pulang? Jadi kalau tidak ingin kamu tidak pulang begitu?" tanya Tiara dengan ekspresi yang seperti ingin marah tetapi bukannya takut Zayyen malah tersenyum.
"Biasanya kalau capek banget Zayyen kan pulang ke apartemen, Ma!" ujar Zayyen dengan tenang.
Zayyen mengecup kening mamanya dengan sayang. "Mama kenapa? Zayyen ada buat salah? Atau Mama lagi berantem sama Papa ya?" tebak Zayyen dengan menatap mamanya dengan dalam.
"Mana berani papa ngajak Mama berantem. Mama mikirin kamu," ujar Tiara dengan menghela napasnya dengan kasar.
"Mikirin Zayyen? Zayyen gak kenapa-napa, Ma. Kenapa dipikirkan?" ujar Zayyen dengan terkekeh.
"Zayyen, adik-adik kamu sudah menikah. Usia kamu juga sudah hampir kepala 3, kamu gak ada niatan memperkenalkan perempuan ke rumah, Nak? Mama ingin kamu juga bahagia," ujar Tiara dengan hati-hati agar anaknya tidak tersinggung.
Zayyen menghela napasnya dengan pelan. "Kalau Zayyen gak menikah Mama kecewa gak?" tanya Zayyen yang membuat Tiara mematung dengan hebat dengan hati yang langsung berdenyut sakit.
"J-jelas Mama kecewa, Nak. S-sayang, Mama tidak ingin kamu nanti kesepian. Kalau Mama dan papa sudah tidak ada bagaimana? Siapa yang akan mengurus kamu nantinya? Semua beda kalau sudah ada istri dan anak. Kamu punya tempat tujuan untuk pulang, Nak. Mama tahu kamu menyesal karena telah menyakiti Delisha tapi kamu juga berhak bahagia, Nak!" ujar Tiara dengan sendu bahkan sekali kedip saja air matanya akan jatuh membasahi kedua pipinya.
__ADS_1
Zayyen menghapus air mata mamanya. "Maaf, Ma! Jangan nangis lagi ya!" ujar Zayyen dengan lembut.
"Hiks..hiks... Mama tidak mau kamu hidup sendiri ketika tua nanti, Sayang. Mama takut," ujar Tiara yang membuat Zayyen bertambah bersalah.
"Kalau Zayyen menikah apa Mama akan bahagia?" tanya Zayyen dengan pelan.
"T-tentu saja Mama adalah orang yang pertama merasakan kebahagiaan itu Zayyen. Mama ingin hidup anak Mama semua bahagia, sudah cukup penderitaan Mama!" ujar Tiara dengan tersenyum.
Drttt...drtttt...
Zayyen dan Tiara melihat ponsel Zayyen yang berbunyi.
"Anggun? Bukannya itu adik angkat kamu, kan? Kamu suka sama dia? Kalau kamu suka langsung bawa ke rumah saja dan ajak dia menikah," ujar Tiara dengan penuh harap.
"Kenapa tidak diangkat?" tanya Tiara.
"Nanti saja, Ma. Dia ada di rumah papa Barra sekarang. Zayyen gak suka sama Anggun, Ma. Gak ada yang bisa menggantikan posisi Delisha di hati Zayyen. Tapi nanti Zayyen kenalkan Mama sama Anggun ya," ujar Zayyen dengan tersenyum.
"Kamu benar tidak ingin menikah?" tanya Tiara dengan sendu.
"Kapan? Mama tidak lagi muda Zayyen! Sewaktu-waktu kalau Mama tidak ada dan kamu belum menikah Mama sedih," ujar Tiara dengan sendu.
"Ma, Mama akan sehat ya! Gak akan sakit-sakit lagi," ujar Zayyen dengan lembut.
"Permintaan Mama cuma satu Zayyen kamu menikah dan hidup bahagia. Itu harapan terbesar Mama sekarang," ujar Tiara dengan sesak.
"Ya sudah kamu istirahat saja Mama mau ke kamar sebentar lagi papa pulang," ujar Tiara dengan tersenyum.
"Iya, Ma!"
Setelah kepergian Tiara dari kamarnya. Zayyen menghela napasnya dengan kasar. Menikah? Haruskah?
*****
Besok harinya di kediaman Barra...
Zayyen sudah berada di rumah kedua orang tua angkatnya untuk melihat Anggun yang mulai menetap di Indonesia setelah menyelesaikan studinya.
__ADS_1
"Dia selalu cantik, kan?" tanya Zayyen memperlihatkan foto Delisha kepada Anggun.
"Iya Bang. Delisha cantik sekali apalagi dalam keadaan hamil seperti itu, aura ibu hamilnya kelihatan," ujar Anggun memaksakan senyumannya.
Selalu seperti ini. Selama 5 tahun Zayyen selalu menceritakan sosok Delisha di hadapan Anggun. Mengagumi sosok Delisha, mencintai Delisha dengan begitu dalam hingga tak menyadari jika Anggun menyukai dirinya.
"Ya dia sudah hamil sekarang anaknya kembar. Abang ikut merasa bahagia dengan kebahagiaannya kali ini," ujar Zayyen dengan tersenyum pedih.
"Bang!" panggil Anggun menatap Zayyen dengan dalam.
"Hmmm..." Zayyen hanya berdehem, ia masih melihat foto Delisha dengan dalam di sosmed wanita itu. Diam-diam Zayyen selalu memantau perkembangan Delisha lewat instagram wanita itu, walau hatinya merasa sakit saat Delisha mengupload foto mesranya dengan Ikbal.
"Bang ayo kita menikah!" ujar Anggun dengan tersenyum yang membuat Zayyen melotot menatap ke arah adik angkatnya yang selalu ceria di hadapannya. Sungguh Zayyen sangat terkejut dengan permintaan Anggun sekarang.
"Anggun, kamu tahu sendiri Abang hanya mencintai Delisha! Abang gak mungkin menikah dengan adik angkat Abang sendiri," ujar Zayyen dengan tegas.
"Anggun tahu kok Bang. Gak ada salahnya kita mencoba, kan?" tanya Anggun menatap Zayyen.
Entah kapan rasa itu datang yang jelas Anggun menyukai Zayyen karena Zayyen selalu baik kepada dirinya. Pria itu selalu menjaganya sejak di Inggris, membuat dirinya yang kesepian mulai merasakan kehangatan keluarga lagi.
"Anggun terima menjadi yang kedua di hati Abang! Anggun terima segala konsekuensi kalau Abang tidak bisa mencintai Anggun sepenuhnya tapi Anggun tahu Abang gak akan pernah menyakiti Anggun," ujar Anggun dengan tegas.
"Kamu yakin? Abang mungkin hanya akan memberikan hati Abang 30 persen ke kamu selebihnya milik Delisha. Dan ketika kita mempunyai anak apakah kamu sanggup yang 30 persen itu terbagi ke anak kita mungkin sepenuhnya akan Abang kasih ke anak kita? Apakah kamu terima ketika kamu melahirkan anak perempuan nanti akan Abang beri nama Delisha juga? Abang rasa kamu tidak akan sanggup! Cari saja lelaki lain yang bisa mencintai kamu sepenuhnya," ujar Zayyen dengan tegas dan ingin meninggalkan Anggun yang terdiam.
Tetapi Anggun memegang tangannya. "Anggun sanggup, Bang!"
"Apa yang mendasari kamu ingin menikah dengan Abang?" tanya Zayyen dengan dingin.
"K-karena Anggun mencintai Abang!"
"Tapi Abang gak mencintai kamu, Gun! Semua hati Abang untuk Delisha! Abang gak mau menyakiti kamu dengan cinta yang tidak pernah akan Abang beri," ujar Zayyen dengan tegas.
"Kita tidak perlu saling mencintai dalam pernikahan, Bang. Yang terpenting kamu bertanggungjawab dalam keluarga!"
"Kalau itu yang kamu mau! Ayo kita bicarakan ini dengan papa, mama. Tapi setelah menikah kamu jangan menuntut Abang untuk mencintai kamu karena kamu tahu sendiri hati Abang untuk siapa! Seperti yang Abang katakan tadi nama anak perempuan kita Abang akan tetap beri nama Delisha!"
Anggun terdiam saat Zayyen meninggalkan dirinya begitu saja. "Salahkah setelah menikah aku berharap Abang akan mencintai aku? Tapi aku sudah ikhlas jika pernikahan kita terjadi karena aku yang menginginkannya bukan Abang."
__ADS_1