Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 242 (Izin Menikah)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya....


...Happy reading...


***


3 hari kemudian...


"Gue izin nikah duluan!" ujar Zayden kepada Zayyen yang sedang asyik dengan dunianya sendiri. Sejak Delisha menikah dengan Ikbal, Zayyen menutup hatinya untuk wanita manapun bahkan banyak yang mendekati dirinya saat di Inggris tetapi Zayyen tidak mengubrisnya sama sekali. Zayyen lebih fokus dengan kuliah kedokterannya untuk mengambil spesialis jantung yang seperti Delisha inginkan dulu.


Zayyen melihat ke arah adiknya sekaligus kembarannya. "Kalau mau nikah ya nikah saja, Zayden! Gue turut bahagia kalau akhirnya lo nikah sama Cika," ujar Zayyen dengan santai.


"Lo gimana?" tanya Zayden, entah mengapa ia mengkhawatirkan Zayyen yang lebih dingin dari dulu bahkan Zayden belum pernah melihat Zayyen dekat dengan wanita lain setelah putus dari Delisha.


"Tumben lo tanya gue? Gak usah pikirkan gue!" ujar Zayyen dengan pandangan lurus ke depan membayangkan Delisha yang dulu ia sakiti. Tapi Zayyen bahagia karena sekarang Delisha lebih bahagia bersama dengan Ikbal. Mungkin jika menikah dengan dirinya Delisha tidak akan sebahagia ini.


"Lo gak jadi belok, kan? Lo gak ada mengenalkan perempuan ke rumah," ujar Zayden dengan harap-harap cemas.


"Bangsat lo! Gue normal lah! Waktunya gue nikah ya nikah tapi gue gak yakin bisa mencintai istri gue nanti. Karena cinta gue sudah sepenuhnya buat Delisha," ujar Zayyen dengan jujur.


"Gila lo!" ujar Zayden menggelengkan kepalanya mendengar jawaban kembarannya yang terlewat santai.


Zayyen terkekeh. "Kapan lo nikah? Kita gak usah bahas kapan gue nikah," ujar Zayyen dengan santai.


"Sebulan lagi! Semalam gue, papa dan mama sudah ke rumah Cika. Lo sih sibuk mulu," ujar Zayden yang mencoba mengakrabkan diri dengan kembarannya.


"Dunia gue sekarang kerja, kerja, dan kerja. Nanti kalau mama tanya lo, gue kapan nikah. Bilang saja secepatnya," ujar Zayyen dengan pelan.


"Terserah lo deh. Nikah itu enak! Lo malah gak mau nikah. Iya sih ini emang kesalahan lo tapi lo gak harus menghukum diri lo sendiri dengan tidak menikah! Delisha sudah bahagia dengan Ikbal dan kini giliran lo buat bahagia," ujar Zayden dengan bijak meninggalkan kembarannya yang terdiam merenung.


"Ya ini emang kesalahan gue. Tapi cinta gue untuk Delisha bukan suatu kesalahan! Gue mencintai Delisha dan hati gue sepenuhnya untuk dia. Jikapun gue menikah mungkin 30% hati gue untuk istri gue nantinya, sisanya untuk Delisha. Dan gue harap siapapun yang menjadi istri gue nanti dia harus mengerti," gumam Zayyen seorang diri.


****


"Ayang!" panggil Zayden dengan tersenyum saat melihat Cika berada di hadapannya.


"Ngapain ke sini?" tanya Cika sok jual mahal.


"Nyamperin calon istri aku. Kita beli cincin yuk!" sahut Zayden dengan tersenyum.


"Halo gemoy! Sudah cantik lagi nih," ujar Zayden saat Nadine keluar dari rumah.


"Halo Kak Zayden. Terima kasih bonekanya, dia cantik sekali," ujar Nadine dengan tersenyum.


"Sama-sama gemoy! Mau ikut Kakak gak?" tanya Zayden dengan gemas melihat Nadine.


"Sayang, nanti kita buat yang kayak Nadine satu ya! Harus belajar sama suhunya ini," ujar Zayden dengan senyum bahagianya.

__ADS_1


Pletak...


"Beda adonan!" ujar Cika dengan menyentil kening Zayden tetapi berhasil membuat Zayden tertawa.


"Adonan apa, Kak? Kita mau beli adonan kue ya? Nad ikut!" ujar Nadine yang sudah seceria biasanya.


"Yuk ikut. Bilang sama Mama dulu sana!" ujat Zayden dengan gemas.


"Sebentar Nad jangan di tinggal!" ujar Nadine.


"Mama! Nad ikut kak Zayden sama kak Cika beli adonan kue ya," ujar Nadine dengan gembira.


"Beli adonan kue? Siapa yang mau buat kue?" tanya Tri menghampiri anaknya.


"Kak Zayden sama kak Cika mau buat kue!" ujar Nadine dengan polosnya.


Tri menatap Cika dan Zayden secara bergantian. "Kalian benar mau buat kue? Atau ngomong yang enggak-enggak di depan Nad? Ngaku!" ujar Tru dengan tegas.


Zayden meringis. "Sedikit, Ma! Zayden bawa Cika sebentar ya mau beli cincin pernikahan," ujar Zayden dengan sopan.


"Jangan lama-lama kalau ajak Nadine ya karena dia baru sembuh," ujar Tri dengan tegas.


"Siap, Ma! Janji gak akan lama!" ujar Zayden.


"Yeee jalan-jalan. Dadah Mama..."


"Dahhh, Sayang. Ingat jangan makan es krim dulu ya," ujar Tri kepada anak bungsunya.


"Cika pergi dulu ya, Ma!"


"Iya, Sayang!"


***


Cika memangku adiknya yang sejak di mobil memainkan ponsel Zayden. "Kak Zayden kenapa ada dua?" tanya Nadine yang membuat Cika dan Zayden terkekeh.


"Kak Zayden itu kembar, Nad. Ini kak Zayyen kembaran kak Zayden! Sama seperti kak Nevan dan kak Nessa," ujar Cika menjelaskan.


"Kembar? Kak Zayyen ganteng," ujar Nadine dengan polosnya yang membuat Zayden cemburu.


"Kak Zayden gak ganteng gitu?" tanya Zayden pura-pura ngambek.


"Hihihi... Kak Zayden kalau ngambek kayak Nad, bibirnya di majuin!" ujar Nadine dengan geli yang membuat Cika tertawa.


"Ikut-ikut kamu itu, Nad!"


"Eh gak ada ya! Dasar kakak adik kompak banget buli kak Zayden," ujar Zayden mengacak rambut Cika dan Nadine bergantian karena gemas.

__ADS_1


"Hahaha kak Zayden lucu! Nad, Sayang Kak Zayden!" ujar Nadine dengan tulus.


Nadine tidak tahu saja dulu bagaimana galaknya seorang Zayden ketika masih memiliki alter ego. Dan untung saja semua itu sudah menghilang, yang tertinggal hanya sifat manja dan merengek seperti anak kecil kepada Cika yang membuat Cika terkadang heran dengan kekasihnya. Bagaimana nanti ketika mereka mempunyai anak? Apakah anak mereka yang harus mengalah dengan Zayden?


***


Cika, Nadine dan Zayden sudah berada di toko perhiasan.


"Mbak cincin nikah yang model terbaru mana ya?" tanya Zayden.


"Sebentar, Mas. Ada banyak model pengeluaran terbaru di Toko kami Mas, Mbak. Silahkan pilih saja," ujar penjaga toko perhiasan dengan ramah.


"Pilih yang mana kamu suka, Ay!" ujar Zayden.


Cika menatap beberapa cincin yang di keluarkan, hatinya jatuh pada cincin sederhana dengan memiliki beberapa mutiara yang menghiasi cincin tersebut.


"Ini aku suka!" ujar Cika yang membuat Zayden tersenyum.


"Di coba dulu," ujar Zayden memasangkan cincin tersebut.


"Cantik! Gimana Nad cantik, kan?" tanya Zayden pada Nadine yang dari tadi sibuk memperhatikan mereka.


"Cantik!" jawab Nadine dengan berbinar.


Cika juga memasangkan cincin kepada Zayden yang membuat hati Zayden menghangat karena tak lama lagi mereka akan menikah, hanya sebulan lagi. Selang pernikahan mereka sebulan maka Nessa dan Andra juga ikut menyusul. Bagaimana tidak bahagia keluarga Fathan saat ini? Dua putri kesayangannya akan menikah dengan lelaki yang mereka cintai.


"Bungkus yang ini saja Mbak!" ujar Zayden dengan tegas tanpa melihat harga yang tentu saja sangat mahal.


"Ay, harganya! Ini mahal sekali," ujar Cika dengan menelan ludah.


Zayden melihat ke arah Cika dengan tatapan penuh cinta. "Membeli cincin ini tidak membuat calon suami kamu bangkrut, Ay. Kamu tenang saja ya!" ujar Zayden dengan entengnya.


Zayden menyodorkan black card miliknya setelah cincin mereka sudah ditemukan dengan ukuran yang pas juga. Jika tidak mungkin mereka akan menunggu seminggu lagi untuk mendapatkan ukuran yang sesuai.


"Ini, Mas. Di dalamnya sudah ada kartu garansinya juga," ujar penjaga toko dengan ramah karena menemukan pelanggan yang sama sekali tidak menawar tentang harga.


"Oke Terima kasih. Do'akan pernikahan kami lancar."


"Baik, Mas. Terima kasih kembali!"


Zayden mengajak Cika dan Nadine keluar dari toko perhiasan.


"Nad mau beli apa?" tanya Zayden menggendong adik ipar kesayangannya.


"Boneka yang banyak. Boleh?" tanya Nadine dengan mengerjapkan kedua matanya lucu.


"Boleh. Kalau perlu kita beli se-tokonya nanti," ujar Zayden dengan terkekeh.

__ADS_1


"Jangan menyebarkan virus kesombongan ke Nadine, Ay!" peringat Cika yang membuat Zayden terkekeh.


Ah bahagianya hari ini. Tinggal fitting baju pengantin dan besok akan mereka lakukan bersama keluarga besar. Zayden ingin secepatnya bulan berganti, ia sudah tak sabaran ingin menjadi suami dari Cika. Sesuatu yang sudah sangat mereka tunggu dari lama.


__ADS_2