
...📌Bom like dan komentar ya supaya author semangat update-nya....
...Happy reading...
****
"SAYANG BANGUN!!"teriak Ikbal dengan takut bahkan sangking takutnya tangan Ikbal sampai gemetar. Bagaimana dirinya kehilangan Erina dulu kini kembali berputar di kepalanya.
Tidak!!
Ikbal tidak akan kehilangan Delisha!
Tidak akan!!
Ikbal langsung membopong Delisha dengan cepat. Pikirannya sudah sangat kalut bahkan ia meninggalkan semua orang yang juga panik dengan keadaan Delisha.
"Danish bawa mobil Ikbal. Papi takut dia kalut dan malah terjadi sesuatu dengan Delisha dan Ikbal," ujar Akbar dengan cemas.
"Iya, Pi!" jawab Danish dengan cepat.
Akbar berusaha untuk tenang agar istrinya tidak drop padahal di dalam hati ia sangat takut kehilangan Delisha. Semua orang berlari ke dalam mobil masing-masing untuk ke rumah sakit.
Naura yang tak pernah tahu jika sahabatnya memiliki riwayat penyakit hanya diam saja saat masuk ke dalam mobil Daniel. Di dalamnya juga ada kedua orang tua Daniel dan juga Dareel. Mobil mewah berderet mengikuti mobil Ikbal yang berada di depan.
Ulan juga ikut ingin melihat keadaan keponakannya yang memiliki penyakit yang sama dengan almarhum suaminya. Tentu saja Ulan sangat terguncang saat melihat Delisha dengan keadaan yang seperti tadi.
"Ma tenang ya. Delisha gak akan kenapa-napa!" ujar Elang kepada namanya yang terlihat terguncang.
"Delisha tidak boleh meninggal! Tidak boleh, Lang!" ujar Ulan dengan menangis.
"Tidak akan, Ma! Pasti Delisha akan mendapatkan donor jantung dengan cepat!" ujar Elang meyakinkan mamanya padahal di dalam hati ia juga takut terjadi sesuatu dengan adik sepupunya tersebut. Delisha sangat di kenal ceria bahkan gadis itu mampu menyembunyikan penyakitnya di depan semua orang.
Di dalam mobil Ikbal. Danish membawa mobilnya dengan sangat cepat.
"Nish, cepat! Gue gak mau kehilangan untuk kedua kalinya please..." ujar Ikbal dengan bergetar bahkan Ikbal sampai meneteskan air matanya dengan memeluk tubuh Delisha yang membiru dan terasa dingin.
__ADS_1
"Gue gak akan biarkan adek gue pergi, Bal! Gak akan!" ujar Danish dengan mengeratkan pegangan tangannya pada stir.
Danish melihat dari kaca bagaimana keadaan sang adik. "Dek, please bertahan ya! Semua orang sayang sama kamu, Dek!" ujar Danish dengan mata berkaca-kaca. Dadanya terasa sesak saat melihat Delisha pucat seperti mayat.
"Sayang bangun! Please jangan buat aku takut ya! Kita akan menikah secepatnya dan kamu tidak akan meninggalkan aku, papi, mami, dan ketiga kakak kamu, Sayang! Hiks...bangun Delisha!" gumam Ikbal memeluk Delisha dengan pelan seakan takut jika tubuh Delisha akan remuk jika ia memeluk tunangannya dengan sangat erat.
"Aku akan mati jika kamu pergi," gumam Ikbal dengan mata yang sangat merah karena menangis.
"Kamu gak akan membuat aku kehilangan untuk kedua kalinya kan, Sayang? Jawab Delisha! Kamu gak pergi seperti Erina, kan?" racau Ikbal dengan suara yang sangat menyayat hati.
"Bal, tenangin diri lo! Adek gue bukan perempuan lemah! Dia pasti bertahan demi kita semua!" ujar Danish menahan tangisnya.
Ikbal terkekeh dengan miris bahkan air matanya kembali menjatuhi pipinya. "Ya, lo benar Delisha adalah perempuan yang kuat! Dia, sudah bertahan sejauh ini dan dia gak akan pergi meninggalkan gue," gumam Ikbal dengan senyum yang amat sangat pedih.
****
"DOKTER TOLONG KEKASIH SAYA!" teriak Ikbal bak orang yang kesetanan karena keadaan Delisha yang tak sadarkan diri dengan wajah yang amat sangat pucat. Bagian tubuh Delisha bahkan sudah membiru yang membuat Ikbal sangat takut, bayang-bayang Erina meninggalkan dirinya kembali membuat Ikbal sangat kalut sekarang.
Tim medis yang memang menangani penyakit Delisha langsung sigap. Dokter Ridwan langsung siap siaga untuk menangani Delisha. Delisha sudah diletakkan di brankar, para suster mendorong brankar Delisha dengan cepat.
"Maaf, Mas. Anda tidak boleh masuk. Biarkan kami menangani pasien terlebih dahulu," ujar Suster yang membuat Ikbal hampir berteriak dan memukul tembok.
Pintu UGD ditutup. Tubuh Ikbal langsung luruh di lantai yang membuat Claudia menghampiri sang anak. Kedua orang tua Ikbal ikut mobil Angga karena tak mungkin mereka ikut dengan Ikbal yang sangat kalut sekarang.
"Bal!" panggil Claudia dengan pelan.
Hati Claudia ikut hancur saat melihat anaknya kembali seperti ini. Bahkan Ikbal terlihat begitu sangat hancur dari pada sebelumnya.
"Delisha gak akan pergi kan, Ma?" tanya Ikbal dengan menatap mamanya dalam berharap jawaban sang mama akan menenangkan hatinya saat ini. Sungguh Ikbal sangat takut sekarang bahkan sangking takutnya lelaki itu sampai tak bisa bernapas dengan tenang.
"D-dia, d-dia gak akan meninggalkan Ikbal seperti Erina kan, Ma?" tanya Ikbal meracau di hadapan mamanya dan semua orang.
Tomi yang melihat keadaan putra sulungnya seperti itu memejamkan matanya dengan tangan yang terkepal dengan erat. Naura mencoba mendekati papanya.
"Pa!" panggil Naura dengan pelan karena beberapa hari ini mereka tak ada bertegur sapa sama sekali.
__ADS_1
"Jangan ganggu Papa dulu, Ra!" ujar Tomi dengan datar yang membuat hati Naura mencolos. Selama ini Naura merasa papanya tidak menyayangi dirinya dengan tulus kasih sayang Tomi seakan terpaksa untuknya yang membuat Naura berpikir jika dirinya bukanlah anak kandung Tomi.
Naura tak berani berbicara lagi. Gadis itu mundur dari samping papanya, dadanya juga ikut terasa sesak karena tak diharapkan oleh papanya. Naura melihat ke arah Daniel, ia tak mungkin menambah beban pikiran pria itu karena selama ini Daniel sudah sangat baik kepada dirinya. Hingga Naura memilih diam menunggu Delisha selesai diperiksa oleh dokter. Sebenarnya Naura masih belum paham sahabatnya sakit apa, di dalam mobil tadi pun Naura tidak berani bertanya karena Fiona menangis sedangkan yang lainnya diam saja dengan wajah yang amat sedih.
Akbar dan Fiona sama-sama saling menguatkan. "Kita berdoa ya agar Delisha bisa sembuh dan mendapatkan pendonor yang cocok untuk anak kita," gumam Akbar menenangkan sang istri.
"K-kalau anak kita tidak selamat bagaimana Mas? A-aku gak sanggup!" ujar Fiona dengan terisak.
Akbar menangkup wajah istrinya, ia menyeka air mata Fiona dengan lembut. "Kita tahu bagaimana Delisha, Sayang. Sejak dilahirkan dia adalah gadis yang kuat. Lahir prematur dan setelah itu terkena penyakit jantung tidak akan membuat Delisha pergi begitu saja meninggalkan kita, Sayang! Delisha akan tetap bersama kita," ujar Akbar dengan pelan.
Fiona mengangguk. Benar anaknya adalah gadis yang sangat kuat, Delisha tidak akan pergi meninggalkan mereka.
Tanpa diketahui oleh semua orang Zayyen yang masih berada di rumah sakit melihat semuanya, melihat bagaimana Delisha tak sadarkan diri.
"Sha, Kakak akan menuruti kemauan kamu. Kakak akan menjadi dokter spesialis jantung seperti yang kamu inginkan. Tapi, rasanya itu tidak sesuai untuk mengobati rasa sakit kamu karena Kakak. Apakah Kakak harus..." Zayyen tak lagi melanjutkan ucapannya. Namun, lelaki itu tersenyum.
"Kakak akan menebus kesakitan kamu karena Kakak, Delisha!" gumam Zayyen dengan penuh tekat.
***
Hampir satu jam lamanya dokter menangani Delisha. Kini, dokter Ridwan sudah keluar dengan wajah yang tak bisa ditebak.
"Dok, gimana keadaan kekasih saya?" tanya Ikbal dengan cepat.
"Delisha sudah melewati masa kritisnya. Keadaannya sudah membaik dan Delisha bisa dipindahkan di ruang perawatan," ujar Dokter Ridwan dengan tersenyum.
"Alhamdulillah!" ujar semua orang dengan lega.
Dokter Ridwan menatap Akbar dan Fiona. "Pak, Bu, bisa ke ruangan saya. Ada sesuatu yang harus saya sampaikan," ujar Dokter Ridwan yang diangguki oleh Akbar dan Fiona.
Keduanya mengikuti dokter Ridwan meninggalkan semuanya yang terpaku diam. dengan banyak pertanyaan di benak mereka.
Sedangkan Ikbal langsung berlari memasuki ruang UGD. Lelaki itu mengucap syukur saat melihat Delisha masih bernapas. Gadis itu masih berada di dekatnya.
"Aku tahu kamu gadis kuat! Kisah kita tidak akan berakhir menyedihkan, Sayang! Setelah ini hanya ada tawa yang akan Mas lihat dari bibir kamu. Izinkan Mas hidup di hati kamu selamanya," gumam Ikbal penuh makna mengelus pipi Delisha dengan lembut.
__ADS_1