Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 47 (Tuan Putri)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini gengs....


...Happy reading...


*****


Zidan menggendong Tiara keluar dari dalam mobil miliknya dengan perlahan agar tidak mengganggu tidur Tiara yang sangat pulas. Ia tersenyum menatap wajah Tiara yang sangat damai.


"Zidan, itu Tiar..." ucapan ibu Zidan tertahan saat Zidan mengkode ibunya agar tidak bersuara terlalu keras.


Ibu Zidan mengangguk mengerti, ia sudah sangat merindukan Tiara. Jadi, ketika Zidan membawa Tiara ke rumahnya kembali ibu Zidan terlihat bahagia. Sudah lama ia ingin bertemu dengan Tiara, ia ingin meminta maaf kepada gadis itu karena telah menyetujui pernikahan Zidan dengan Sabrina.


"Tiara gak apa-apa kan, Zidan?" tanya Ibu Zidan mengikuti langkah anaknya yang membawa Tiara ke kamar Zidan.


"Gak, Bu. Tiara cuma tidur karena tadi Tiara habis marah sama Zidan," ucap Zidan dengan pelan.


"Bu, tolong buka pintunya," ucap Zidan meminta tolong kepada ibunya.


Ibu Zidan bernama Mala itu mengangguk dan membuka pintu kamar anaknya dengan perlahan. Zidan masuk dengan perlahan dan membaringkan Tiara di kasurnya. Tiara hanya menggeliat sebentar, wanita itu kembali tidur dengan nyenyak tanpa terganggu dengan suara Zidan dan ibunya.


"Kenapa kalian bisa bersama? Bukannya Tiara sekarang membencimu?" tanya Ibu Mala dengan penasaran.


"Aku yang memaksanya, Bu. Aku ingin dia jujur tentang semuanya dan benar Bu kalau Zayden anak kami berdua, aku hanya tinggal bersabar Tiara bercerita tentang masa lalunya yang tidak aku ketahui. Aku benar-benar jahat, Bu!" ujar Zidan dengan lirih. "Aku akan menemukan cucu ibu. Kakak Zayden yang sekarang entah di mana," lanjut Zidan dengan mata berkaca-kaca.


Ibu Mila membekap mulutnya untuk menahan isakan tangisnya. Ia langsung memeluk Zidan dengan erat. "Maafkan Ibu ya! Ibu dan ayah telah memisahkan kalian," ujar Ibu Mila dengan terisak lirih.


Keduanya menangis bersama karena kesalahan yang mereka lakukan. Walau mereka tidak ingin melakukan itu, desakan dari kedua orang tua Tiara lah yang membuat mereka harus meninggalkan Tiara.


"Sabrina dan kedua orang tua Tiara benar-benar jahat!" gumam Ibu Mila.


"Kita harus membuat Tiara seperti dulu, Bu. Bantu aku ya Bu jangan sampai alter ego Tiara yang menguasai pikiran Tiara karena sangat berbahaya!" ujar Zidan dengan tegas.


"Iya, Nak. Ibu dan ayah akan membantu Tiara. Kehadiran Tiara di rumah ini seperti dulu membuat rumah ini lebih berwarna. Kalau begitu ibu ke dapur dulu ya, Ibu mau masak semua makanan kesukaan Tiara!" ucap Ibu Mila dengan bahagia, ia menghapus air matanya dengan cepat lalu keluar dari kamar Zidan dengan mengecup kening Tiara terlebih dahulu.


Maklum Ibu dan ayah Zidan tidak mempunyai anak perempuan kedua anaknya lelaki semua. Dan ketika dulu Zidan memperkenalkan Tiara kepada mereka, Tiara sudah dianggap seperti anak sendiri di rumah ini bahkan Tiara seperti ratu yang diperlakukan dengan istimewa sehingga ketika Tiara kehilangan kehangatan keluarga Zidan hidup Tiara semakin hancur.


Zidan duduk di pinggir kasur dengan menatap wajah Tiara. Zidan mengambil tangan Tiara dan mengucupnya dengan lembut.

__ADS_1


"Selamat datang di rumah ini kembali Nyonya Alfahri. Wanita yang memiliki dudukan tertinggi setelah Ibu," gumam Zidan dengan tulus.


****


Tiara mengerjapkan matanya dengan perlahan, ia menatap sekeliling kamar yang sekarang ia tempati karena Tiara sadar ini bukan kamarnya. Setelah sadar ini kamar siapa Tiara langsung terbangun dari tidurnya, kenapa ia bisa tidur di kamar Zidan? Tiara harus cepat pergi dari sini!


Tiara mengambil tasnya dan sepatunya, lalu ia berjalan membuka pintu kamar. Tiara mulai panik saat mendengar suara gelak tawa dari lantai atas, ada gurat kesedihan di hatinya karena jujur saja Tiara merindukan kehangatan keluarga ini.


"Sudah bangun Tuan Putri?" tanya Zidan melihat ke arah Tiara yang berada di ujung tangga.


Tiara menatap Zidan dengan tatapan tanpa ekspresi. Lalu ia menatap kedua orang tua Zidan serta Zayden yang sekarang sedang di pangkuan Zidan.


"A-aku mau pulang!" ujar Tiara pada akhirnya.


Tidak ingin Tiara keluar dari rumahnya. Ayah Zidan langsung berdiri dan menghampiri Tiara. Ia merentangkan tangannya di hadapan Tiara. "Enggak kangen ayah? Kenapa Ayahnya enggak di peluk? Ayah sudah menunggu lama kamu terbangun dari tidur nyenyakmu princess," ujar Ayah Felix dengan lembut.


"A-ayah..." Tiara memanggil ayah Felix dengan terbata. Matanya berkaca-kaca karena merindukan sosok lelaki paruh baya di depannya. Karena ayah Felix lah Tiara merasakan kasih sayang seorang ayah.


Ayah Felix mengangguk. "Tangan Ayah sudah pegal ini Princess. Tetap gak mau peluk ayah nih? Ayah ngambek!" ujar Ayah Felix di selingi candaan.


Grep....


Zidan mengusap air matanya dengan kasar, tetapi ia tersenyum bahagia karena Tiara menerima ayah dan ibunya dan tidak marah seperti apa yang dilakukan Tiara kepadanya.


"Lihatlah apa yang dilakukan princess kita. Dia hanya memeluk ayahnya tetapi tidak memeluk ibunya," ujar Ibu Mila yang merasa iri.


"I-ibu hiks...." Tiara berhambur kepelukan Ibu Mila.


"Kalian jahat hiks...jahat!" racau Tiara.


"Mama!" panggil Zayden dengan lirih.


Tiara menatap Zayden dengan pandangan yang sulit diartikan. "Zayden gak mau nangis. Zayden sudah punya pacar jangan buat Zayden ikut nangis, Ma!" rengek Zayden.


Suasana yang tadinya haru terganti dengan gelak tawa karena ulah Zayden. "Hey Bung... Kamu memang bocil perusak suasana!" ucap Zidan dengan kesal.


"Pria dewasa diam saja!" ucap Zayden menatap ayahnya dengan kesal.

__ADS_1


"Zayden tahu ini ulah Papa yang membuat Mama menangis. Papa seharusnya contoh Zayden. Zayden gak pernah buat Cika nangis," ujar Zayden bersidekap dada menatap tajam ke arah Zidan.


Zidan angkat tangan. Anaknya ini benar-benar berbeda. "Bentar lagi pasti Cika gak suka sama Zayden. Zayden itu jelek minum susu masih di dot!" ejek Zayden yang membuat anaknya kesal.


"Cika milik Zayden! Titik!"


Zayden turun dari pangkuan Zidan. Ia meminta Tiara menggendongnya, walaupun terasa canggung Tiara tetap menggendong anaknya. "Ma, gak usah temenan sama Papa! Papa itu nakal!" ujar Zayden dengan marah.


Tiara terkekeh, ia memeluk Zayden dengan erat. "Zayden sudah besar. Anak Mama sudah besar!" gumam Tiara dengan lirih.


"Iya, Dong. Mama harus kenalan sama pacar Zayden ya," ujar Zayden mengecup pipi Tiara.


"Pacar?" gumam Tiara yang merasa dirinya salah dengar.


Zayden mengangguk. "Pacar Zayden cantik, Ma. Gak ada yang boleh dekati pacar Zayden! Kalau ada Zayden akan pukul mereka!" ujar Zayden yang membuat kedua kakek, nenek serta papanya menghela napas dengan kasar.


"B-bukan ajaran Mas, Ay!" ujar Zidan dengan terbata saat Tiara menatapnya dengan tajam.


****


Tidak pernah diperlukan dengan sehangat ini oleh kedua orang tuanya membuat Tiara tidak ingin waktu cepat berlalu. Biarlah sejenak saja ia merasakan kebahagiaan dari keluarga Alfahri kembali, walau hanya sesaat tetapi Tiara bahagia.


Zidan menatap ayahnya dengan cemburu pasalnya Tiara lebih memilih ayahnya dari pada dirinya bahkan dengan manjanya wanita itu di suapi oleh ayahnya. Dari dulu ayah Felix memang selalu memanjakan Tiara, Tiara seperti putri kecilnya yang setiap makan harus ia suapi dengan begitu sabar.


"Makan yang banyak. Kamu sudah terlalu kurus princess!" ujar ayah Felix dengan sendu.


Tiara mengangguk, entahlah Tiara tidak merasa kenyang saat tangan itu selalu menyuapinya dengan begitu sabar. Sudah berapa lama Tiara tidak merasakan makan dengan nikmat? Bahkan ketika lapar pun Tiara hanya akan merebus mie instan ketika di apartemen, Tiara sudah kehilangan selera makannya sejak lama dan selera makan itu kembali saat ayah Felix menyuapinya dengan begitu sabar.


Dengan gembira ibu Mila mengambilkan lauk untuk Tiara.


"Ayah minum!" ujar Tiara dengan manja. Ia seperti ratu di rumah ini tanpa melihat raut kekesalan di wajah Zidan.


Ayah Felix dan Zidan mengambilkan minum untuk Tiara. Tetapi hanya minum dari ayah Felix yang Tiara terima yang membuat Zidan semakin terbakar api cemburu.


"Ayah sudah punya ibu kenapa mau ambil istri Zidan juga?" ucap Zidan dengan kesal


"Sejak kapan Tiara menjadi istrimu, Zidan? Tiara saja tidak mau denganmu!" ujar ayah Felix dengan entengnya.

__ADS_1


"Aishh.... Menyebalkan! Seharusnya aku membawa Tiara ke apartemen saja!" gumam Zidan yang tanpa sadar membuat Tiara tersenyum tipis.


Tiara adalah wanita yang dihancurkan oleh keluarganya sendiri tetapi diperlakukan bak tuan putri di rumah ayah Felix dan itu sudah berlaku sejak dulu.


__ADS_2