Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 109 (Trauma Fiona)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya...


...Happy reading...


****


Mendapatkan kabar jika istrinya menghilang membuat Akbar naik pitam. Ia yang sedang sibuk langsung meninggalkan pekerjaannya begitu saja,bagaimana bisa ia tenang jika Fiona menghilang di taman padahal sudah di jaga oleh dua orang pelayan. Kedua pelayan tersebut benar-benar tidak becus menjaga istrinya.


Akbar sangat terlihat khawatir sekali bahkan dalam langkah cepatnya, ia sudah menghubungi seseorang untuk membantunya mencari keberadaan Fiona.


"Fio, kamu di mana sekarang? Jangan buat Mas khawatir Fio! Jika terjadi sesuatu dengan kamu Mas tidak akan memaafkan mereka!" gumam Akbar dengan dingin.


Akbar masuk ke mobilnya. Ia memegang stir dengan sangat erat. Gelisah, marah, khawatir itulah yang di rasakan Akbar saat ini. Istrinya sedang hamil dengan pikiran yang seperti anak kecil Akbar takut jika Fiona di celakai oleh orang-orang yang tidak bertangungjawab. Akbar mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh tak peduli jika nyawanya dalam bahaya yang terpenting ia bisa menemukan Fiona secepatnya tanpa kekurangan suatu apapun.


Setelah menempuh perjalanan yang sangat cepat Akbar sudah sampai di taman di mana pelayan meneleponnya tadi. Entah bagaimana Akbar membawa mobilnya yang jelas ia lebih cepat sampai ke taman dari pada biasanya.


Dua pelayan itu tampak ketakutan saat akbar berjalan mendekat ke arah mereka bahkan kaki mereka gemetar saat aura menyeramkan terlihat di wajah majikannya tersebut.


"APA YANG KALIAN LAKUKAN SELAMA MENJAGA FIONA, HAH?" teriak Akbar dengan murka yang membuat kedua pelayan tersebut semakin ketakutan.


"JAWAB!" teriak Akbar dengan murka.


"M-maaf, P-pak. S-sewaktu kami membeli bubur dan es krim yang ibu mau kami sudah katakan pada ibu Fiona jangan kemana-mana tapi saat kami kembali ibu sudah tidak ada, Pak. K-kami sudah mencari ke seluruh taman ini tapi ibu Fiona sama sekali tidak terlihat," ucap salah satu pelayan dengan gemetaran.


"M-maafkan kelalaian kami, Pak." Satu pelayan lagi berbicara dengan mata yang berkaca-kaca.


"Brengsek kalian! Saya sudah katakan dengan tegas jaga istri saya dengan baik atau nyawa kalian sebagai taruhannya! ternyata kalian memilih nyawa kalian yang melayang!" umpat Akbar dengan emosi.


"K-kami siap menerima konsekuensinya, Pak!" ujar keduanya dengan takut-takut.


"Argghh..."


Akbar berteriak dengan keras. Pengunjung taman sampai dibuat takut oleh aksi Akbar. Akbar meninggalkan kedua pelayannya begitu saja, ia akan bertemu dengan Orang-orang suruhannya untuk melacak keberadaan Fiona. Ia tidak ingin terlambat menemukan Fiona jika sampai Fiona di culik maka Akbar tidak akan memberikan ampun kepada orang yang telah menculik istrinya.


"Bagaimana ini? Habis ini pasti kita akan dipecat," ucap pelayan kepada rekannya dengan sangat takut.


"Mau bagaimana lagi ini kesalahan kita harus menerimanya walau sebenarnya aku sangat takut bisa saja kita di penggal setelah ini," jawab pelayan tersebut dengan menghela napasnya dengan berat yang membuat temannya semakin pucat.


****

__ADS_1


Fiona membuka matanya dengan perlahan ia merasakan pusing pada kepalanya akibat obat bius yang di hirupnya.


Fiona menelan ludahnya berusaha tenang. "Mas Suami!" teriak Fiona dengan kencang.


"Mas Suami lagi kasih kejutan untuk Fio, ya? Tapi kok mainnya culik-culikan sih? Ulang tahun Fio kan sebulan lagi? Mas Suami mau nyicil kasih hadiah ya?" tanya Fiona menatap sekelilingnya yang sepi dan gelap.


"Mas Suami, ini gak lucu ih! Fio tiba-tiba takut gelap!" teriak Fiona mulai ketakutan.


Krekkk...


Fiona mendengar suara pintu terbuka, ia sedikit lega ketika ada seseorang yang mendekat ke arahnya. Fiona pikir orang tersebut adalah Akbar tetapi dugaannya salah dia adalah lelaki asing dengan wajah yang sangat menyeramkan.


"Om, tahu gak? Muka Om udah serem jangan di serem-seremin! Genderuwo nanti bisa kena mental karena kalah saing sama, Om! Om yang bawa Fio ke sini ya? Dosa loh Om culik anak kecil," ucap Fiona berusaha santai menghadapi orang berbadan kekar yang menatap galak ke arahnya.


"Tangan sama kaki Fio pegel, Om! Bisa bukain gak talinya? Duh kaki Fio gatel gimana garuknya," rengek Fiona yang membuat orang tersebut semakin kesal karena mendengar Fiona yang sangat cerewet sekali.


Wanita di depannya ini benar-benar menguji kesabarannya karena secara tidak langsung Fiona mengatainya genderuwo.


"Sialan! Bisa Diam tidak!" teriak lelaki tersebut dengan tajam.


Lelaki tersebut mendekat ke arah Fiona dan menarik dagu Fiona dengan kencang. Lelaki itu langsung menyeringai licik.


"Cantik juga. Kita bisa bersenang-senang di sini, Nona!" ujarnya dengan licik.


"Brengsek! Saya sedang tidak bercanda, Nona! Saya bisa menikmati tubuhmu sepuasnya!" ucapnya dengan tertawa.


"Jangan serakah kawan! Kita bisa menikmati tubuhnya bersama-sama. Bos sudah memberikan wewenang untuk kita sebelum menyiksanya kita bisa menikmati tubuh indahnya," ucap lelaki yang baru saja datang dengan teman-temannya.


Ada 5 orang lelaki datang menatap Fiona dengan begitu lapar. Fiona menelan ludahnya dengan kasar, kepalanya mendadak sakit dengan kilasan bayangan yang terus datang bertubi-tubi. Keringat dingin muncul di dahi Fiona saat salah satu dari mereka memegang wajah Fiona.


"Jangan sentuh Fio!" teriak Fiona dengan histeris ketakutan.


"Hahaha...Kami hanya ingin bersenang-senang dengan tubuh mulusmu, Nona. Tenang saja suamimu itu tidak akan menganggu kesenangan kita," ucapnya dengan tertawa yang membuat semua lelaki yang ada di dekat Fiona tertawa bahagia.


Satu lelaki mendekat ke arah wajah Fiona dan hendak mencium Fiona tetapi Fiona langsung membuang muka. Fiona takut! Ia berusaha melepas ikatan yang berada di tangan dan kakinya tetapi sama sekali tak bisa terlepas.


"Ayolah Nona jangan jual mahal begitu! Dijamin kami bisa memuaskanmu."


"Jangan sentuh Fio!" ucap Fiona saat tangan nakal pria tersebut mulai menyentuh tubuhnya.

__ADS_1


Cuih...


Fiona meludahi wajah salah satu dari mereka agar menjauh darinya tapi apa yang dia lakukan semakin membuat para lelaki itu geram.


"Brengsek! Paksa saja wanita ini untuk melayani kita!" ucap lelaki yang diludahi oleh Fiona dengan marah.


Lelaki tersebut merobek baju Fiona. Hal tersebut membuat Fiona histeris dengan kencang. Kejadian di mana ia hampir di perkosa secara bergilir sangat terlihat jelas di ingatannya, trauma Fiona kembali datang.


"JANGAN MENDEKAT ARGGHHH!" teriak Fiona dengan kuat tetapi ke-enam pria tersebut tidak peduli. Mereka tetap memaksa Fiona untuk melayani mereka bahkan baju Fiona sudah robek memperlihatkan kedua aset indah milik Fiona yang masih terbungkus dengan rapih.


"Haha sangat indah. Tidak sia-sia bos menyuruh kita menculiknya!" ujar salah satu dari mereka dengan tatapan penuh n*fsu ke arah Fiona.


Fiona meringkuk ketakutan. Trauma yang dirasakannya kembali menghantam jiwanya yang membuat Fiona terguncang. Tubuh Fiona bergetar dengan hebat karena ketakutan yang ia rasakan.


"Jangan sentuh Fio!" ucap Fiona dengan sekuat tenaga yang masih ia miliki.


"Haha kita akan bersenang-senang Nona!"


Tubuh Fiona bergetar dengan hebat bahkan perutnya terasa sangat sakit. Tetapi rasa sakit itu ia hiraukan saat traumanya datang bertubi-tubi yang membuat wajah Fiona pucat pasih seperti tidak ada di aliri darah sama sekali.


Srekk...


Bunyi baju di robek membuat Fiona kembali histeris bahkan tangannya sudah sangat dingin.


"Lepas!"


"Tolong! Fio takut hiks.."


"Tidak ada yang bisa menolongmu Nona,"


Saat salah satu lelaki melepas ikatan di kaki Fiona mereka mendorong Fiona agar berbaring di lantai dengan kondisi tangan yang masih terikat.


Salah satu dari mereka sudah menanggalkan pakaian mereka dan menindih tubuh Fiona.


"JANGAN! MENJAUH DARI FIO!" teriak Fiona tetapi mereka sama sekali tidak peduli dan semakin menikmati wajah tersiksa Fiona yang semakin membangkitkan gairah mereka.


Fiona merasakan kepalanya berputar, perutnya sangat sakit.


"AARGHHH...SAKITTT!" darah segar mengalir dari paha Fiona. Mata Fiona berkunang-kunang wanita itu sudah pasrah.

__ADS_1


BRAKK...


"FIONA!!!"


__ADS_2