
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...📌 Besok sudah mulai part baru dan tentunya lebih segar karena semua tokoh sudah dewasa 🤭😝...
...Happy reading...
***
Ikbal dan Delisha sudah berada di kamar hotel mereka yang sudah di hias dengan begitu cantiknya, banyak kelopak bunga mawar yang bertaburan dan berbentuk hati di sana. Delisha sangat menyayangkan jika mereka harus tidur di kasur cantik ini.
"Mandi yuk!" ajak Ikbal dengan lembut.
"M-mandi bareng?" tanya Delisha dengan gugup. Entah mengapa jantungnya berdetak lebih cepat dengan menelan ludahnya dengan kasar saat tatapan Ikbal begitu berbeda kepada dirinya.
"Iya istriku yang paling cantik! Kenapa sih kok kayak kaget banget? Biasanya juga mandi bareng kamu biasa-biasa saja," ujar Ikbal dengan terkekeh karena ia tahu istrinya itu gugup dengan dirinya.
"K-kali ini beda. Tatapan Mas suami kayak mau makan Delisha hidup-hidup," ujar Delisha dengan jujur yang membuat Ikbal tertawa dengan mengacak rambut istrinya dengan gemas.
"Iya kan emang mau makan kamu malam ini, Cantikku! Mas sudah menunggu itu terlalu lama," ujar Ikbal dengan terkekeh dan setelah itu menggendong Delisha menuju ke kamar mandi.
"KYAAA MAS SUAMI!" teriak Delisha dengan keras saat ia di gendong menuju kamar mandi.
Akhirnya Ikbal berhasil membawa Delisha mandi bersama dengan dirinya. Keduanya berendam air hangat untuk menghilangkan rasa lelah akibat terlalu berlama berdiri di pelaminan.
Ikbal menggosok tubuh Delisha dengan lembut. Ia menelan air ludahnya dengan kasar dengan jakun yang naik turun ketika melihat tubuh mulus istrinya apalagi dada Delisha yang sudah tidak memakai apa-apa, keduanya Sama-sama bertelanjang.
"J-jangan macem-macem, Mas!" ujar Delisha memperingati suaminya ketika tangan suaminya semakin turun ke bawah.
"Sedikit, Sayang!" ujar Ikbal dengan serak.
"Uhhh..." Delisha merasa geli ketika tangan Ikbal memegang dadanya.
"Kita tuntaskan di kamar, Sayang. Malam pertama jangan di kamar mandi dulu," ujar Ikbal dengan serak.
__ADS_1
Ikbal langsung menggendong Delisha menuju shower untuk membilas tubuh mereka. Setelah selesai Ikbal langsung kembali menggendong Delisha keluar dari kamar mandi, dengan tatapan penuh puja Ikbal menatap Delisha dengan dalam begitu pun dengan Delisha, ia sangat mengagumi tubuh suaminya, apalagi selesai mandi seperti ini. Ketampanan Ikbal seperti bertambah dua kali lipat dari biasanya.
Ikbal menindih tubuh istrinya dengan perlahan dan mencium bibir Delisha dengan mesra. Delisha membalas ciuman suaminya dengan mengalungkan kedua tangannya di leher Ikbal.
Napas keduanya sudah sama-sama menderu dan terasa panas. Ciuman Ikbal berpindah ke leher Delisha dan meninggalkan jejak kepemilikan di sana.
"Aahhh..." Delisha tak lagi bisa menahan suaranya kala sang suami memang sangat pandai mencari titik kelemahannya. Bahkan keduanya hampir khilaf sebulan lalu karena Ikbal yang menyentuh Delisha seperti ini dan sekarang Ikbal bisa langsung tancap gas tanpa takut kebablasan lagi.
Bak menjelma sebagai bayi besar Ikbal menyusu pada Delisha bagaikan bayi yang sangat kehausan. Kebiasaan Ikbal yang tidak bisa Delisha tolak, itulah yang membuat kedua dada Delisha lebih berisi selama menikah dengan Ikbal.
Tubuh Delisha semakin blingsatan kala sentuhan Ikbal semakin membuat gairahnya naik.
"M-mas aku mau pipis!" ujar Delisha dengan lirih.
"Keluarin saja, Sayang!" ujar Ikbal dengan serak hingga tak lama tubuh Delisha bergetar dengan hebat saat tangan suaminya mengobrak-abrik miliknya di bawah sana.
Delisha menelan ludahnya dengan kasar saat milik suaminya sudah menegang dengan sempurna. "M-mas yakin mau masukin junior kamu ke dalam sana? Kok aku gak yakin ya," ujar Delisha dengan tegang, sangking tegangnya Delisha sampai memegang lengan suaminya dengan kuat.
"Sangat yakin! Kamu gak mau tahu rasanya junior Mas masuk?" tanya Ikbal dengan terkekeh.
"Makanya ayo kita coba!" ujar Ikbal mengelus rambut istrinya dengan lembut.
Delisha mengangguk dengan perlahan saat tatapan Ikbal begitu dalam dan sangat menginginkan dirinya malam ini. Mendapatkan angin segar dari istrinya Ikbal mulai mengarahkan miliknya yang sudah menegang sempurna ke milik Delisha yang sudah basah sejak tadi.
Delisha menahan napasnya saat Ikbal menggesekkan miliknya dengan perlahan.
"Aahhh..."
Ikbal menggeram dengan perlahan saat miliknya masih susah untuk menerobos penghalang milik Delisha. Ikbal mencium bibir istrinya dengan perlahan saat ia mulai menyentakkan tubuhnya dengan perlahan.
Delisha memegang lengan Ikbal dengan kuat saat sesuatu menerobos miliknya. Tak terasa air matanya menetes dengan perlahan saat Ikbal berhasil memiliki Delisha seutuhnya. Malam ini adalah malam yang sangat membahagiakan untuk dirinya dan juga Delisha.
"Sakit ya? Maaf ya Cantiknya Mas!" gumam Ikbal dengan lirih.
__ADS_1
"He'em.... Junior Mas tega banget robek milik Delisha yang imut," ujar Delisha dengan air mata yang mengalir di kedua sudut matanya.
Ikbal menyeka air mata istrinya dengan perlahan. Antara lucu dan kasihan dengan Delisha tetapi Ikbal tak mau berhenti malam ini, malam pertama ini sudah ia tunggu sejak lama.
"Maaf ya cantik. Setelah ini pasti enak, Sayang," ujar Ikbal dengan pelan.
"Mas gerak ya!" ucap Ikbal meminta persetujuan istrinya.
Jemari keduanya saling bertautan saat Ikbal mulai menggerakkan tubuhnya di atas Delisha dengan perlahan agar Delisha terbiasa dengan miliknya. Hingga suara desah*n keduanya mulai terdengar tidak terkontrol, malam ini menjadi saksi akan penyatuan dua insan muda yang saling mencintai. Ya, Delisha sudah mencintai Ikbal sejak mereka sudah menikah. Menurutnya untuk apa mengingat masa lalu yang bukan menjadi miliknya. Masa depannya adalah Ikbal sekarang, Delisha tak ingin mengingat masa lalu menyakitkan itu kembali.
Malam panjang mereka di lewati dengan keringat yang bercucuran di tubuh keduanya. Delisha sudah mendapatkan pelepasannya beberapa kali tak Ikbal belum mencapai puncaknya, hingga tiba-tiba ia mengerang dengan keras bersamaan dengan ia menyemburkan sesuatu di rahim Delisha hingga membuat rahim wanita itu hangat.
Ikbal ambruk di tubuh Delisha dengan napas yang menderu.
"Gimana, Sayang? Enak, kan?" tanya Ikbal dengan pelan.
Delisha menganggukkan kepalanya dengan perlahan, ia merasa malu sendiri sekarang karena nyatanya rasanya sangat luar biasa. Ikbal mencabut miliknya dengan perlahan yang membuat Delisha tanpa sadar mendes*h kembali.
"Istirahat dulu, Sayang. Besok mau lagi! Mas gak mau kamu kelelahan," ujar Ikbal memeluk Delisha dengan erat dan menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.
"Belum puas?" tanya Delisha dengan heran.
"Belum, Sayang. Baru satu ronde," ujar Ikbal dengan wajah yang di imut-imutkan yang membuat Delisha terkekeh geli dengan suaminya.
Cup...
"Besok lagi ya Delisha capek. Mas suami gak marah, kan?" Delisha dengan lembut.
"Gak, Sayang. Mas yang akan merasa bersalah jika terjadi sesuatu sama kamu karena malam pertama kita. Tidur ya! Sini peluk Mas!" ujar Ikbal dengan lembut.
Delisha masuk ke dalam pelukan suaminya dengan senyuman yang begitu manis. Baginya ini adalah definisi bahagia di tangan lelaki yang tepat bahkan selama menjadi istri Ikbal semua keinginannya di turuti dengan mudah apalagi dengan kedua mertuanya yang begitu sangat menyayanginya.
Beruntung?
__ADS_1
Tentu saja Delisha sangat beruntung, ia tidak salah memilih Ikbal dan melupakan Zayyen. Adakah yang setuju dengan Delisha?