
...Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
****
"KIMMY!"
"Mami rindu, Nak!"
Dan saat itu juga Ikbal tersenyum melihat bagaimana Delisha sangat bahagia sekali saat bertemu Kimmy. Bagaimana tidak kucing itu adalah kucing kesayangan mereka dan tentu saja dengan harga yang mahal tapi dijamin membuat mereka gemas.
Delisha menggendong Kimmy dan memutar-mutar tubuh Kimmy dengan gemas.
Meong...
Meong...
Kimmy tampak senang bahkan kucing imut itu menjilati pipi Delisha yang membuat gadis itu tertawa geli.
"Anak Mami udah mandi? Udah makan?" tanya Delisha seperti berbicara kepada anaknya sendiri, lembut sekali.
Meong...
"Wah pantesan wangi udah mandi ternyata dan tambah gembul! Ih gemes!" ujar Delisha seakan mengerti jika Kimmy mengeong seakan Kimmy bicara jika dirinya sudah mandi dan sudah makan.
"Siapa yang mandiin?"
Seakan mengerti Kimmy menoleh ke arah Ikbal dengan mengeong.
"Aaa lucu...Kak Ikbal kita harus mencari menantu yang baik. Aku gak mau Kimmy tersakiti oleh kucing hidung belang," ujar Delisha yang membuat Danish, Daniel, Dareel, Sandy, dan Angga melongo tetapi tidak dengan Ikbal lelaki itu tersenyum tipis dengan celetukan Delisha.
"Dek kucingnya masih kecil belum minta kawin juga! Jangan ajarin Kimmy jadi centil dong," ujar Daniel kepada Delisha.
Delisha menatap Daniel dengan tampang polosnya. "Emang kalau masih kecil kucing gak bisa kawin?" tanya Delisha dengan wajah yang membuat Sandy dan Angga terbahak.
"B-bisa mungkin tapi belum waktunya lah!" sahut Daniel dengan terbata.
"Kimmy harus mengenal suaminya, Kak. Jangan asal dikasih suami aja ih. Nanti kalau suaminya duda punya banyak mantan istri dan banyak anak gimana kan kasihan Kimmy. Jadi, harus dari sekarang Kimmy punya suami," ujar Delisha dengan polosnya.
"Itu udah wajar kalau kucing mau sana sini, Dek! Astaga semenjak punya kucing adek gue makin aneh," ujar Dareel dengan pasrah.
"Bilang aja Kakak pelit gak mau belikan Delisha kucing!" ujar Delisha mendengkus kesal.
"Eh Cil...Dimana-mana kucing jantan itu wajar punya banyak kucing betina buat kawin bahkan anaknya banyak banget," ujar Angga yang masih tertawa tidak habis pikir dengan pikiran Delisha yang sangat amat polos tapi mampu membuat perutnya terus bergoyang karena tertawa.
__ADS_1
"Kucing Delisha sama kak Ikbal harus beda. Satu pasangan sudah cukup! Harus setia satu sama lain! Kimmy pasti sedih kalau dia di madu atau menjadi yang kedua, ketiga, ke-empat," ujar Delisha dengan sendu.
"Besok kita beli," ujar Ikbal. sekalinya berbicara membuat para sahabatnya langsung terdiam.
"Bal, lo mau menuruti kemauan adek gue gitu aja?" ujar Danish dengan tak percaya.
"Selagi uang gue ada kenapa gak?" ujar Ikbal yang membuat para sahabatnya kicep dan hanya bisa menggelengkan kepalanya heran dengan kelakuan Ikbal yang tampak sangat berbeda jika sudah berurusan dengan para perempuan lain.
Semuanya tahu jika pacar Ikbal meninggal karena penyakit jantung mungkin itu penyebabnya Ikbal sampai begitu menyayangi Delisha yang mempunyai penyakit sama dengan almarhumah kekasih Ikbal.
Delisha memeletkan lidahnya ke arah ketiga kakaknya dan juga Sandy dan Angga. Bisa saja ketiga kakaknya memberikan kucing yang Delisha mau hanya saja melihat Ikbal yang seperti ini membuat ketiganya hanya bisa diam dan menyaksikan bagaimana Ikbal memanjakan adiknya.
Ikbal berdiri dan menghampiri Delisha. "Kamu bisa pilih kucing jantan yang kamu mau. Mereka juga masih kecil belum pernah kawin dengan kucing betina lainnya. Nanti kalau sudah tiba waktunya kucing ini kita akan kawinkan dengan Kimmy," ujar Ikbal yang memberikan ponselnya kepada Delisha.
Delisha mengangguk dengan senang, ia terus memilih kucing yang cocok menjadi suami Kimmy nantinya.
"Ini aja Kak!" ucap Delisha menunjukkan kucing putih dengan kalung berwarna biru kepada Ikbal.
Ikbal melihat pilihan Delisha, ia tersenyum tipis setelahnya. Kucing ini adalah kucing termahal dari pada kucing yang lainnya. Tetapi Ikbal tak masalah jika Delisha senang.
"Oke... Besok kucing ini sudah ada di rumah kamu," ucap Ikbal yang membuat Delisha senang.
"Kimmy besok Jimmy datang ya. Jimmy itu suami Kimmy jangan galak-galak sama suami Kimmy ya!" ujar Delisha kepada Kimmy.
Meong...
"Dek tidur ya! Besok lagi bahas kucingnya," ujar Daniel yang sudah merasa setres.
"Adek belum ngantuk tadi udah tidur lama di apartemen kak Zayyen," sahut Delisha dengan polosnya.
"K-kamu gak diapa-apain kan sama kak Zayyen?" tanya Danish dengan tajam.
Delisha menggeleng dengan polos. "Cuma dipeluk!" ujar Delisha dengan polosnya.
"Astaga..Dipeluk kamu bilang cuma, Dek? Kakak gak terima adek Kakak dipeluk cowok lain!" ujar Dareel posesif.
"Dimana bekas pelukannya?" tanya Dareel menghampiri Delisha.
"Pinggang!" sahut Delisha.
Dareel langsung memegang pinggang adeknya dan langsung mengusap dengan tangan bermaksud pelukan Zayyen akan hilang begitu saja.
"Ihh kak Dareel jangan dihilangkan bekas pelukan kak Zayyen! Padahal Adek mau gak mandi seminggu," ujar Delisha mundur ke belakang dan bersembunyi di punggung Ikbal hingga tubuhnya tenggelam di sana menghindari aksi kakaknya yang sangat posesif tersebut.
__ADS_1
Ikbal hanya menatap Dareel dengan datar. Mungkin jika ia jadi Dareel atau ia berhak memperlihatkan rasa cemburunya Ikbal akan sama seperti Dareel.
"Au ah gelap! Adek mau ke kamar aja!" ujar Delisha dengan kesal.
Delisha membawa Kimmy ikut serta dengannya. Setelah kepergian Delisha Dareel hanya bisa menghela napasnya dengan perlahan masih tak rela jika ada lelaki lain yang memeluk adik kesayangannya itu.
"Main pergi aja padahal jejak tangan kak Zayyen belum hilang!" keluh Dareel dengan kesal.
****
Setelah mengantarkan Delisha pulang Zayyen kembali menuju ke apartemennya tapi sebelum kembali ke apartemen, Zayyen berniat untuk membeli buket bunga yang baru untuk Cika.
Zayyen menatap ke arah kursi di sampingnya. Delisha membawa buket bunga mawarnya tetapi lupa membawa tas sekolahnya.
Zayyen berdecak kesal, bisa-bisanya gadis itu melupakan benda penting seperti ini. Dan ia harus kembali lagi ke rumah Delisha untuk mengembalikan tas sekolah Delisha yang ketinggalan di mobilnya.
Zayyen merasa penasaran dengan tulisan Delisha. Ia juga penasaran apa saja yang dibawa Delisha ke sekolahnya. Apakah sama saja seperti gadis yang lainnya yang tak bisa ketinggalan dengan skincare dan kaca?
Zayyen menepikan mobilnya di pinggir jalan sebentar sebelum kembali ke rumah Delisha yang memang sudah agak jauh. Zayyen mulai membuka tas sekolah Delisha, ia mengambil buku tulis Delisha. Ia tersenyum saat melihat tulisan Delisha yang sangat rapih bahkan ada buku khusus menggambar yang Delisha bawa untuk mengusir kebosanannya saat di sekolah.
Zayyen berdecak kagum saat melihat hasil gambar Delisha yang memang tidak diragukan lagi. Darah arsitek mengalir di diri Delisha bahkan semua tampak nyata baginya.
Zayyen terpaku pada gambar dirinya dan Delisha di sana. Sangat mirip sekali dengan wajah keduanya, mereka menggunakan pakaian pengantin dengan dirinya dan Delisha yang tersenyum lebar di sana.
'Impian Delisha yang terakhir yaitu menikah dengan kak Zayyen. Jika Tuhan memberikan umur panjang untuk Delisha, Delisha ingin menjadi istri kak Zayyen selamanya'
Zayyen termangu membaca tulisan Delisha yang berada di bawah gambar yang gadis itu buat. Kata-katanya terlihat biasanya saja tetapi setiap kata menyimpan harapan yang sangat besar bagi Delisha.
Pluk...
Tak sengaja benda terjatuh dari buku gambar Delisha. Zayyen mengambilnya dengan perlahan karena ia penasaran kali ini benda apa yang di simpan Delisha di sana.
Setelah Zayyen berhasil mengambil plastik tersebut betapa terkejutnya Zayyen melihat benda yang berada di tangannya.
"Obat," gumam Zayyen dengan pelan.
Zayyen kembali mencari obat di tas Delisha mungkin masih ada. Dan Zayyen menemukan beberapa botol obat di tas Delisha.
Napas Zayyen tercekat, sebagai calon dokter Zayyen sudah mengerti apa obat yang berada di tas Delisha. Apakah kecurigaannya tadi obat ini adalah jawabannya?
"Ya Tuhan..." Zayyen tak bisa berbicara, tenggorokannya tercekat. Untuk memastikan lagi Zayyen mengetik nama obat itu di google.
Tubuh Zayyen lemas. "Obat jantung dan paru-paru. Ya Tuhan, Delisha..."
Bergegas Zayyen menghidupkan mesin mobilnya dan dengan cepat ia menjalankan mobilnya menuju rumah Delisha. Zayyen harus bertemu dengan Delisha sekarang juga.
__ADS_1