
📌Jangan lupa ramaikan part ini ya.
📌 Berikan dukungan juga untuk novel terbaru author 'Suami Bayaran Nona Rania'
...*...
...*...
...Happy reading...
***
Claudia menatap Naura dengan iba, walaupun Naura bukan anaknya tapi entah mengapa ia ikut merasakan sakit jika Naura seperti ini. Claudia tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan Naura tanpa sosok ibu yang menemaninya, benar-benar sendiri dan luntang-lantung tidak jelas karena mama kandungnya lebih memilih keluarga barunya. Padahal dulu Claudia sangat tahu jika Jesica sangat menyayangi Naura tetapi karena seorang lelaki dan kekayaan membuat Jesica benar-benar berubah dan Claudia tidak habis pikir dengan Jesica.
"Mama, ini kakak Aldo ya?" tanya Aldo menatap Naura yang masih tertidur dengan pandangan lembutnya.
Claudia mengelus rambut Aldo dengan sayang. "Iya, Sayang. Namanya kak Naura. Aldo harus sayang ke kak Naura seperti Aldo sayang ke kak Delisha ya!" ujar Claudia dengan lembut, ia mencoba menerima Naura walau dulu hatinya pernah terluka karena mama Naura.
"Iya, Mama!" jawab Aldo dengan tersenyum.
"Sekarang Aldo pulang ya sama kak Ikbal dan kak Delisha. Mama mau menjaga kak Naura dulu," ujar Claudia dengan lembut karena rumah sakit tak baik untuk anak-anak.
"Aldo ayo. Tapi kamu jangan buat kak Delisha capek ya karena kamu ajak bermain terus," ujar Ikbal dengan tegas.
"Iya Kak Ikbal yang bawel!" ujar Aldo dengan kesal.
"Ma, Mama gak apa-apa jaga Naura sendiri? Soalnya papa dan kak Daniel lagi di luar menyelidiki siapa suami tante Jesica," ujar Delisha yang merasa enggan untuk pulang tetapi karena Delisha mengingat kehamilannya, ia akan patuh dengan suaminya.
"Gak apa-apa, Sayang. Kamu pulang saja ya, kamu juga perlu istirahat," ucap Claudia dengan tersenyum.
"Aldo jangan nakal ya. Kasihan kak Delisha, dia sedang hamil," ujar Claudia memberikan petuah untuk anaknya agar jangan membuat keributan yang akan membuat Delisha pusing.
"Iya, Mama!" ujar Aldo dengan tersenyum dengan menampakkan deretan gigi kecilnya yang rapih.
"Ikbal bawa Delisha sama Aldo pulang ya, Ma!" ujar Ikbal berpamitan.
"Iya, Sayang. Hati-hati jangan ngebut ya!!" ujat Claudia dengan perhatian.
"Iya, Ma!"
"Ayo, Sayang!" ujar Ikbal menggenggam tangan istrinya dengan lembut di sampingnya ada Aldo yang juga memegang tangannya.
Ketiganya keluar dari ruangan Naura setelah berpamitan dengan Claudia tentunya. Kini, hanya tinggal Claudia sendiri menjaga Naura yang memang masih tertidur, sepertinya selama ini Naura jarang sekali bisa tertidur dengan nyenyak hingga dokter memberikan obat tidur agar Naura bisa tertidur dengan nyenyak dan agar membuat batin Naura merasa rileks. Naura sudah tidak memberontak seperti kemarin hanya saja Naura menjadi pendiam tak banyak bicara.
"Kasihan sekali kamu, Naura! Kenapa mama kamu sangat tega menelantarkan kamu? Saya yang bukan siapa-siapa kamu tapi kenapa sangat sakit melihat kamu seperti ini? Tapi kamu tenang saja Daniel dan suami saya sedang mencari tahu siapa suami Jesica agar dia tidak berani macam-macam dengan kamu," gumam Claudia dengan sendu.
"Eughh..." Naura mengerang dengan pelan, ia membuka matanya dan lalu menatap Claudia yang sedang menatap dirinya juga.
__ADS_1
"T-tante!" gumam Naura dengan terbata, ia mencoba bangun dari tidurnya karena merasa canggung dengan Claudia yang berada di sampingnya, ada rasa malu ketika menatap Claudia karena masa lalu dirinya dan mamanya yang menghancurkan rumah tangga Claudia dan Tomi.
"Tidur saja Mama gak apa-apa di sini," ujar Claudia dengan tersenyum.
"M-mama?" ujar Naura dengan bingung.
"Iya, mulai sekarang panggil Tante dengan sebutan Mama! Bisa, kan?" ujar Claudia dengan tersenyum hangat, senyum yang mampu membuat hati Naura merasa hangat juga.
"T-tapi..."
"Ssstt... Kalau kamu bisa memanggil suami saya dengan sebutan papa kamu juga harus bisa memanggil saya dengan sebutan mama. Sesederhana itu, Naura! Tidak susah, kan?" ujar Claudia dengan lembut.
Mata Naura berkaca-kaca. "T-tapi Naura gak pantas, Tante! Naura sudah buat Tante sedih! Naura banyak kesalahan sama Tante dan kak Ikbal!" ujar Naura dengan terisak.
"Semua orang punya masa lalu tetapi yang terpenting bagaimana seseorang itu belajar dari masa lalu agar di masa depan menjadi seseorang yang lebih baik. Begitu pun dengan Tante dan kamu, kamu tidak salah, kamu hanya korban begitu pun dengan Tante. Jadi, kita perbaiki semuanya. Tante gak punya anak cewek hanya Delisha sekarang, jadi Tante mau kamu menganggap Tante sebagai mama kamu juga," ujar Claudia dengan bijak yang membuat Naura menangis.
"T-tante, emmm maksudnya Mama. B-boleh Naura peluk?" tanya Naura dengan tersenyum sambil terisak saat Claudia memeluknya dengan erat.
"Sudah jangan nangis! Mama gak suka kamu menyerah seperti kemarin! Mulai sekarang kamu punya Mama, papa, Ikbal, dan Aldo. Tentu saja ada Delisha dan juga Daniel," ujar Claudia yang membuat Naura semakin terisak, ternyata masih ada orang-orang yang menyayanginya, Naura terlalu takut sendirian.
Tak jauh dari mereka, di depan pintu ada Tomi dan Daniel yang mendengar semuanya. Mereka berdua baru saja pulang dari menyelidiki siapa suami baru dari Jesica dan tentu saja mudah bagi keduanya untuk mendapatkan informasi tersebut.
"Kamu masih cinta sama Naura?" tanya Tomi pada Daniel yang membuat Daniel tersenyum canggung dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Niel, saat ini Naura benar-benar rapuh. Jika kamu benar-benar masih mencintai anak Om, dekap tubuh dia, jangan biarkan dia sendirian karena Naura sangat takut akan sendirian," ujar Tomi menepuk pundak Daniel dengan pelan.
"Iya, Om. Daniel gak akan melepaskan Naura sekalipun dia yang memintanya seperti dulu," ujar Daniel dengan tersenyum karena bagaimanapun Daniel tidak bisa membohongi hatinya yang masih sangat mencintai Naura.
"Ayo kita masuk!"
"Iya, Om!"
"Ekhemm... Kok gak ajak Papa pelukan nih!" ujar Tomi mencairkan suasana.
"P-papa," gumam Naura menghapus air matanya dengan cepat dan tersenyum ke arah Tomi.
"Naura mulai sekarang kamu adalah anak papa dan mama jangan pernah takut sendirian ya! Kalau Papa tahu keadaan kamu jadi seperti ini saat bersama dengan Jesica, Papa akan berjuang untuk mendapatkan hak asuh kamu walau Papa sendiri bukanlah papa kandung kamu," ujar Tomi dengan tulus yang membuat air mata Naura kembali mengalir memeluk Tomi.
"Maafkan Naura, Pa!" gum Naura dengan sendu.
"Maafkan Papa juga ya!" ujar Tomi dengan tersenyum.
Tomi melirik ke arah Daniel.
"Sayang, ayo kita keluar sebentar Mas belum makan. Biarkan Naura di jaga oleh Daniel ya," ujar Tomi pada Claudia memberikan kode kepada istrinya agar mau ikut bersama dengan dirinya membiarkan keduanya mempunyai waktu berbicara berdua.
Claudia yang mengerti langsung menganggukkan kepalanya. "Iya, Mas!" ujar Claudia dengan tersenyum.
"Naura kamu sama Daniel dulu ya. Sebentar lagi makanan kamu juga akan di antar sama suster, makan yang banyak ya, Sayang!" ujar Claudia yang membuat Naura mengangguk dengan pelan padahal ia tak mau di tinggalkan oleh Claudia tetapi Naura tidak mempunyai keberanian untuk mencegah Claudia.
__ADS_1
***
Naura dan Daniel sama-sama terlihat canggung, Daniel duduk di kursi sebelah brankar Naura. Benar saja tak lama makan siang Naura datang, gadis itu sama sekali belum makan pagi karena Naura masih tertidur hingga siang.
"K-kak..."
"Hmmm..."
"N-naura minta maaf!" gumam Naura dengan menundukkan kepalanya.
"Makan dulu baru bicara!!" ujar Daniel dengan tegas.
"I-iya! Naura bisa makan sendiri," ujar Naura dengan pelan.
Naura mengambil mangkuk yang ada di tangan Daniel dengan tangan gemetar karena Naura masih terasa lemas, mungkin karena efek operasi kemarin juga membuatnya jadi seperti ini. Daniel yang melihatnya menjadi tidak tega dan kembali mengambil alih mangkuk yang di pegang Naura
"Bisa tumpah semua kalau kamu makan sendiri," ujar Daniel dengan pelan.
"Aku suapi!" ujar Daniel dengan tegas.
"T-tapi..."
"Kamu tahu kan Naura jika saya tidak suka dibantah!" ujar Daniel dengan tegas.
"I-iya maaf, Kak!"
Daniel mulai menyuapi Naura dengan perlahan, melihat Naura makan dengan lahab seperti ini entah mengapa hati Daniel menjadi teriris.
"Kapan terakhir kali kamu makan nasi?" tanya Daniel dengan pelan tetapi mampu membuat Naura terdiam.
Daniel melihat ke arah Naura yang membuat gadis itu gugup. "Kapan Naura?"
"Lupa, Kak! Naura sudah jarang makan nasi karena uangnya gak cukup. Uangnya bisa untuk biaya yang lain," jawab Naura dengan pelan.
"Makan mie instan sering?" tanya Daniel dengan tajam yang membuat Naura menelan ludahnya dengan kasar.
"Setiap hari, Kak. Mie instan yang paling murah. Jadi, Naura cuma mampu beli itu kadang tepung terigu di goreng kalau ada sisa minyak di dapur kalau gak ada ya mie instan lagi," jawab Naura dengan takut-takut.
"Kamu sadar gak makanan itu yang kamu konsumsi setiap hari tidak sehat? Boleh makan itu tapi tidak setiap hari juga," ujar Daniel dengan kesal.
"N-naura gak ada uang untuk beli nasi dan lauk, Kak! Semua tabungan Naura habis. Setiap Naura minta ke mama, mama gak kasih bahkan marah ke Naura padahal Naura cuma minta 200 ribu. Jangankan minta pinjam saja Naura gak di kasih. Naura memberanikan diri untuk melamar di perusahaan Kakak selain untuk meneruskan hidup Naura juga mau minta maaf karena dulu Naura buat kakak sakit hati," ujar Naura dengan sendu.
"Maaf, Kak!"
Naura dapat mendengar suara helaan napas Daniel yang sangat berat. Gadis itu menjadi gugup sekarang.
"Mulai sekarang Kakak haramkan kamu memakan mie instan dan segala makanan yang tidak sehat! Kamu pikir nyawa kamu itu banyak!" omel Daniel dengan ketus yang membuat Naura tersenyum tipis.
"Kakak maafkan Naura ya?! Saat dulu Kakak buang cincin itu Naura mencarinya walau harus hujan-hujanan. Maafkan Naura yang sudah berpikir pendek karena saat itu hati Naura berantakan. Mama mengajak Naura pindah tetapi gak lama setelah itu Naura ditinggalkan sendirian," gumam Naura dengan sendu.
__ADS_1
Tak tahan lagi Daniel segera memeluk Naura dengan erat. "Jangan pergi lagi Naura. Stay with me, please!"
Naura tersenyum dengan menangis saat Daniel memintanya untuk tetap bersama pria itu. Apakah itu artinya ia dan Daniel balikan?