
...Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
****
Hari ini Cika sedang berada di kampus. Sidang skripsi Cika akan diadakan hari ini, gadis itu terlihat gugup karena akhirnya ia bisa mencapai puncak dalam perkuliahannya penentu dirinya lulus atau tidak setelah mendapatkan banyaknya coretan yang menyebabkan ia harus revisi oleh dosen pembimbingnya bernama Andra.
Di luar ruangan sudah ada orang tua, adik-adik Cika dan tentu saja Zayden sebagai kekasihnya juga datang. Sahabat dan teman-teman kampus Cika juga ikut hadir untuk memberikan semangat kepada Cika.
"Ma, do'ain Cika ya!" ujar Cika dengan tangan yang sudah dingin dan jantung yang deg-degan sejak tadi.
"Iya, Sayang! Semangat!" ucap Tri memeluk anaknya.
Cika beralih ke papanya, ia menatap lelaki yang menjadi cinta pertamanya. "Pa minta doanya!" ucap Cika dengan pelan.
"Pasti, Sayang. Papa selalu berdoa untuk keberhasilan kamu," ucap Fathan dengan tegas.
Cika tersenyum. Ia beralih kepada adik-adiknya yang sangat ia sayangi. "Do'ain Kakak ya!" ucap Cika.
"Pasti, Kak!" ucap Nevan, Nessa, dan Nayla secara bersamaan.
Cika mendekat ke arah Zayden. Zayden langsung memeluk gadisnya dengan erat. "Kalau berjalan dengan lancar dan kamu bisa membanggakan mama dan papa, tentunya aku maka aku ada sesuatu untuk kamu," bisik Zayden yang membuat Cika mendongak menatap Zayden dengan mata berbinar.
"Beneran?" tanya Cika dengan bahagia.
"Yaps... Kapan aku bohong sama kamu, Ay! Syaratnya kamu harus bisa melewati hari ini dengan baik!" ucap Zayden dengan lembut.
"Pasti, Ay! Aku tagih janji kamu nanti! Pasti aku bisa buat kalian bangga!" ucap Cika dengan mantap.
"Dev, Fel, doain gue ya. Semuanya doain aku ya!" ucap Cika sebelum masuk ke dalam ruangan.
"Pasti! Semangat, Cik!" ucap Devi dan Feli dengan memberikan semangat untuk sahabatnya.
Akhirnya Cika sudah masuk ke ruangan di mana sidang skripsi akan segera dilakukan.
Mereka menunggu Cika diluar dengan perasaan yang tidak menentu dan terus mendoakan Cika agar diberikan kelancaran untuk sidang skripsinya.
Dari kejauhan dan tidak bergabung dengan yang lainnya Zayyen melihat Cika yang tampak cantik sekali hari ini dan melupakan Delisha yang sekarang akan pulang dari rumah sakit bahkan pesan Delisha juga Zayyen abaikan demi melihat hari bahagia sekaligus hari yang sudah dinantikan untuk Cika.
"Aku selalu do'ain kamu agar kamu sukses, Cik!" gumam Zayyen dengan tersenyum.
****
Cika keluar dari ruang sidang dengan menghembuskan napasnya lega. Wajah Cika yang tadinya tegang mulai rileks kembali, yang membuat semuanya bertanya-tanya.
"Gimana, Sayang?" tanya Tri dengan tak sabaran.
__ADS_1
"Alhamdulillah lancar, Ma! Aku lulus!" ucap Cika dengan bahagia.
"Alhamdulillah!" ujar semuanya dengan bahagia.
"Sudah bisa dipanggil Cantika Anastasya Samudra S.Mb. Kan?" tanya Zayden dengan jahil.
"Apaan sih!" sahut Cika dengan malu.
Zayden dan yang lainnya terbahak. Semua memberikan buket bunga untuk Cika dengan rasa yang bahagia. Tetapi tidak dengan Zayden yang belum memberikan apapun.
"Kamu gak ada niatan kasih sesuatu ke anak Om begitu?" tanya Fathan kepada Zayden.
"Sesuatu yang spesial akan Zayden berikan setelah ini, Om. Maka dari itu izinkan Zayden membawa Cika pergi sebentar ya Om!" ucap Zayden dengan tegas.
Fathan menatap istrinya setelah itu keduanya tersenyum geli. Bagaimana bisa ucapan Zayden yang dulunya ia anggap ucapan yang dilupakan bocah TK tetapi sekarang Zayden membuktikan jika cintanya untuk Cika benar-benar nyata dan tulus.
"Setelah sesi foto bersama!" ujar Tri dan Fathan secara bersamaan.
Masih ada tahapan yang akan dijalani Cika setelah ini yaitu yudisium dan wisuda tetapi semua keluarganya sudah sangat antusias ingin menemani Cika sidang skripsi.
Andra keluar dari ruangan sidang, ia menatap Cika dan semua keluarga Cika yang datang. Jarang sekali ada keluarga mahasiswanya yang sangat antusias seperti ini. Dan Andra semakin kagum dengan Cika.
"Pak, Bu!" sapa Andra dengan ramah.
"Oo Pak Andra dosen pembimbing Cika!" sapa Fathan dengan tersenyum.
"Terima kasih sudah membimbing anak saya selama kuliah di sini, Pak!" ujar Fathan dengan tegas.
"Tentu, Pak. Karena Cika termasuk mahasiswi yang berprestasi. Saya cukup salut dengan perjuangannya untuk lulus tepat waktu," ujar Andra dengan tersenyum.
Cika mendengkus, ia masih kesal dengan dosennya tersebut karena skripsinya pun selalu mendapatkan coretan yang menurut dosennya itu indah.
"Selamat ya!" ujar Andra kepada Cika.
"Terima kasih, Pak!" ucap Cika dengan tersenyum masam.
Zayden ambil sikap. "Sepertinya kita harus pergi sekarang, Ay!" ujar Zayden dengan menggandeng tangan Cika.
Andra menatap tangan Cika yang digenggam oleh Zayden. Ia menghela napasnya dengan pelan saat cemburu tidak tepat pada waktunya.
"Pa, Ma, Cika pergi ya!" ujar Cika dengan bahagia.
"Hati-hati, Sayang. Jangan terlalu malam pulangnya ya!" ujar Tri dengan lembut.
Tri adalah ibu yang selalu membuat Cika nyaman dan bahagia. Walau Tri bukan ibu kandungnya tetapi wanita itu berhasil menjadi ibu kandung bagi Cika. Tri selalu bersikap adil, itulah mengapa ia tidak pernah merasa iri kepada ketiga adiknya yang notabennya adalah anak kandung mamanya.
Andra tersenyum kecut saat Cika sudah pergi bersama dengan Zayden. "Ingat Andra dia mahasiswimu yang sudah mempunyai kekasih!" ujar Andra di dalam hati.
__ADS_1
***
"Kita mau ke mana, Ay?" tanya Cika setelah memasuki mobil kekasihnya.
"Rahasia! Tetapi sebelum pergi kamu harus ganti pakaian dulu, Ay!" ujar Zayden dengan tersenyum.
"Tapi aku gak bawa baju ganti, Ay!" ucap Cika.
"Sudah aku siapkan, Sayang. Ada dibelakang ya, kamu bisa ganti baju sekarang," ujar Zayden dengan mengelus rambut Cika lembut.
"Di sini? Aku malu, Ay! A-aku turun aja ganti pakaian di toilet aja ya!" ujar Cika dengan gugup.
"No! Aku sudah pernah lihat semuanya, Ay. Ya walaupun kita belum melakukannya tapi aku sudah hapal lekuk tubuhmu seperti apa. Kalau kamu malu aku akan tutup mata, sebentar lagi juga kita akan menikah," ujar Zayden yang membuat pipi Cika memerah.
"Ih!! Itu emang mau kamu, kan? Sengaja banget nyuruh aku ganti baju di sini," ujar Cika dengan sebal.
Zayden terkekeh. "Cepat, Sayang!" ucap Zayden.
"Iya-iya!"
"Kalau ke toilet bisa lama lagi!" ucap Zayden yang membuat Cika akhirnya pasrah.
"Tutup mata kamu, Ay!" ujar Cika dengan ketus.
Zayden mengangguk. Pria itu menutup matanya tetapi tidak semuanya, ia masih bisa melihat ketika Cika melepaskan pakaiannya. Zayden menelan ludahnya dengan kasar saat Cika sudah melepaskan pakaiannya.
"Ay!!!" pekik Cika saat Zayden memeluknya dari belakang.
"Sebentar, Sayang. Aku rindu!" ujar Zayden dengan serak.
Zayden menurun kursi Cika. Hingga ia leluasa melahap bukit kembar Cika.
"Rindu banget ya?" tanya Cika dengan jail.
Zayden mengangguk, ia terus menghis*p put*ng Cika dengan rakus.
Cika membelai rambut Zayden seperti anak bayi bahkan ketika tangan Zayden masuk ke dalam celananya ia membiarkan saja. Karena sibuk dengan tugas akhirnya Cika juga merindukan belaian Zayden.
Untung saja parkiran terlihat sangat sepi. Cika juga menahan suara erangannya saat tangan Zayden dengan jail terus membelai miliknya hingga tubuhnya membusung ke depan dan mendapatkan pelepasannya.
"Ay, sudah! Di apartemen lagi ya?!" ujar Cika dengan mata sayupnya karena org*sme pertamanya.
"****...Kalau aku tidak lupa memberikan kejutan untuk kamu. Aku sudah membawa kamu ke apartemenku sekarang, Ay!" ujar Zayden dengan serak.
"Pakai pakaiannya kamu. Kita akan pernah ke suatu tempat yang akan membuat kamu bahagia, Sayang!" ujar Zayden dengan tersenyum.
Cika mengangguk dengan tersenyum. Entah mengapa ia tidak bisa berkutik jika Zayden bersikap seperti ini, tetapi ketika Zayden sedang kasar kepadanya rasanya ia ingin menghilang saja.
__ADS_1