
...Jangan lupa ramaikan part ini ya...
...Happy reading...
*****
Fiona sudah di pindahkan di ruang perawatan. Ketiga anaknya juga sudah di gendong para saudara Akbar dan juga Fiona, wanita yang baru saja menjadi ibu itu tampak menangis kala anak keduanya kembali menyusu dengan menghisap put*ngnya dengan kuat setelah menangis saat di gendong oleh Ulan.
"Hiks...Mas Suami put*ng Fio mau putus," rengek Fiona dengan menahan perihnya.
Akbar kelimpungan, ia cemas melihat istrinya menangis. "Kak gimana ini? Apa anakku menarik tempat keluar asinya terlalu kuat?" tanya Akbar dengan cemas.
"Ini udah biasa terjadi pada ibu yang baru melahirkan. Nanti minta obat sama Fathan untuk menghilangkan rasa perihnya," ujar Ulan dengan tenang.
Akbar mendekati istrinya, ia mengelus kepala Fiona dengan sayang. "Daniel, pelan-pelan minumnya ya! Lihat tuh mami kesakitan, kasihan mami," ucap Akbar menyentuh pipi anak keduanya dengan lembut.
Mata Daniel terbuka seakan paham yang papinya ucapkan Daniel menghentikan menghisap sumber kehidupannya, bayi yang baru lahir beberapa jam itu terlihat mengeliat di dalam pangkuan Fiona hingga Fiona merasakan sesuatu yang hangat di bawahnya.
"Mas Suami, Daniel pipis!" ujar Fiona dengan terkekeh.
"Wah habis minum langsung pipis ya, sini Papi gantiin popok Daniel dulu," ujar Akbar dengan lembut.
Akbar mengambil alih Daniel dari gendongan istrinya. "Maaf ya Mami, Daniel udah buat Mami sakit dan sekarang Mami kena air pipis Daniel," ujar Akbar dengan suara seperti anak kecil yang membuat Fiona tertawa sedangkan para wanita yang lainnya tersenyum. Para lelaki memilih keluar dari ruangan Fiona saat Fiona mulai menyusui Daniel untuk memberi ruang agar Fiona tidak malu untuk menyusui Daniel.
Akbar dengan cekatan menggantikan popok Daniel, sedikit banyaknya ia belajar dari kakak-kakak iparnya saat keponakannya masih bayi. Dan sekarang ia bisa menggantikan popok anaknya sendiri, bahagia sekali rasanya saat ini. Bahkan rasanya Akbar ingin selalu dekat dengan ketiga anaknya serta Fiona sekarang, ia tak ingin meninggalkan istri dan ketiga anaknya, rasanya ingin setiap hari melihat perkembangan ketiganya.
Fathan datang ke ruangan adiknya dengan senyum yang sangat merekah. "Halo para keponakan tampan om Fathan," ujar Fathan dengan sumringah.
"Masa Om sih? Seharusnya kan Pakde!" protes Fiona yang membuat Fathan meringis.
"Ke tua-an, Dek!" keluh Fathan.
"Pokoknya Pakde! Fio dan mas suami udah di panggil Om sama Cika, Nevan, dan Nessa! Masa kak Fathan mau di panggil Om juga dari anak Fio dan mas suami," ujar Fiona.
"Iya deh terserah kamu," ujar Fathan dengan pasrah.
"Gimana jahitannya? Nyeri gak?" tanya Fathan.
Fiona menggeleng. "Bayaran persalinan Fio mahal masa nyeri sih. Yang nyeri itu put*ng Fio," ujar Fiona yang terdengar sangat sombong di telinga Fathan.
"Mentang-mentang suami banyak duit sekarang sombong sama kakak ya," ujar Fathan dengan gemas.
Fathan ingin memeluk adiknya tetapi tubuhnya tertahan saat tangan Akbar menarik jas dokternya dengan kuat. "Gak ada peluk-peluk! Fiona hanya boleh di peluk saya!" ujar Akbar dengan tajam. Lelaki tua itu terlihat sedang cemburu dengan Fathan sekarang.
"Fiona juga adik kandung saya! K-a-n-d-u-n-g! Dengar gak sih?!" sahut Fathan dengan kesal.
"Fiona istri saya kalau kamu lupa! Dan saya yang berhak atas Fiona" ucap Akbar tak mau kalah.
"Kalian ini apa-apaan sih? Ingat umur! Sudah tua masih berantem mulu!" ucap Ulan dengan kesal.
__ADS_1
Saat keduanya ingin mengucapkan sesuatu tiba-tiba saja ponsel Fathan berbunyi. Ia mengeryitkan dahinya saat melihat nomor telepon rumahnya lah yang tertera.
Dengan cepat Fathan mengangkat telepon tersebut. Fathan pikir istrinya yang menelepon tetapi suara bi Sumi yang terdengar.
"Ada apa, Bi? Dimana istri saya? Tumben sekali Bibi yang menelpon," ucap Fathan.
"Pak, cepatan pulang. Ibu, Pak!"
Suara bi Sumi terlihat sangat panik. "Hanum kenapa, Bi? Katakan dengan jelas!" ucap Fathan dengan panik.
"I-ibu tiba-tiba aja pingsan, Pak. Bibi sudah berusaha membangunkan ibu tapi ibu gak sadar-sadar. Non Nesa sama tuan Nevan juga gak berhenti menangis, Bibi gak tahu harus apa, Pak!" ucap Bi Sumi dengan panik.
"Saya pulang sekarang!" ujar Fathan dengan panik saat mendengar penjelasan bi Sumi.
"Kak kenapa?" tanya Fiona.
"Mbak kamu pingsan. Kakak harus pulang sekarang," ujar Fathan dengan sangat cemas.
"Buruan pulang, Kak! Fiona takut mbak Tri kenapa-napa!" ujar Fiona tak kalah paniknya.
Fathan mengangguk, ia berlari keluar ruangan Fiona dengan cepat. Perasaannya campur aduk, ia sangat cemas dengan istrinya sekarang.
"Tunggu Mas di rumah, Sayang!" gumam Fathan dengan panik.
****
Terdengar suara tangisan Nessa dan Nevan saat Fathan baru saja sampai di rumahnya, ia langsung berlari masuk untuk melihat kedua anaknya dan istrinya.
Keduanya langsung meminta gendong Fathan saat sedang bersama dengan bi Sumi. "Di mana Hanum, Bi?" tanya Fathan dengan panik tetapi berusaha menenangkan kedua anaknya.
"Ada di kamar bersama non Cika, Pak. Ibu belum sadar juga sampai sekarang. Wajahnya sangat pucat sekali. Bibi bingung dan panik karena non Cika, non Nessa, dan tuan Nevan menangis sejak ibu pingsan. Maaf sebelumnya, Pak. Tadi Bibi meminta bantuan satpam untuk membopong ibu ke kamar karena saya gak kuat," ujar Bi Sumi dengan cemas.
"Iya, Bi. Saya paham!" ujar Fathan dengan pelan.
Kedua anaknya masih nangis, biasanya Nessa dan Nevan akan langsung diam saat ia gendong tetapi sekarang kedua anaknya tetap menangis kencang dengan tangan yang selalu mengarah ke kamarnya. Fathan paham jika kedua anaknya juga sangat mengkhawatirkan keadaan mamanya.
"Iya, Sayang. Kita ke tempat mamanya! Jangan nangis lagi, mama gak kenapa-napa kok," ucap Fathan berusaha menenangkan kedua anaknya padahal hatinya juga sangat cemas dengan kondisi istrinya.
Bi Sumi mengikuti langkah Fathan menuju kamar karena ia tahu Fathan akan repot jika kedua anaknya masih bersamanya saat ingin memeriksa Tri.
"Cika!" panggil Fathan dengan pelan.
"Hiks Papa..." teriak Cika dengan berderai air mata.
"Mama gak bangun-bangun hiks... Mama gak akan ninggalin Cika, kan?" tanya Cika dengan sesegukan.
Fathan menggeleng dengan kuat. Gak mungkin istrinya meninggal! " Bi, tolong gendong Nevan dan Nessa sebentar. Bujuk mereka akan berhenti menangis, saya akan memeriksa Hanum," ujar Fathan.
"Iya, Pak!"
__ADS_1
Nessa dan Nevan memberontak namun bi Sumi tetap memaksa keduanya untuk ikut. Fathan sebenarnya tidak tega tetapi ia harus memastikan kesehatan istrinya sekarang juga.
"Dekatkan keduanya di samping Hanum, Bi!" ujar Fathan yang di angguki oleh bi Sumi.
Fathan mulai memeriksa istrinya dengan di temeni ketiga anaknya yang mulai berhenti menangis.
Fathan mengoleskan minyak kayu putih di hidung Tri dengan lembut. "Sayang, bangun!" ujar Fathan dengan cemas.
"Ya Allah... darah Hanum sangat rendah sekali," gumam Fathan dengan lirih. Lalu ia merasa ada sesuatu yang ganjal dengan pingsannya sang istri, Fathan melihat kalender kecil di atas nakas. Selama beberapa bulan ini Tri sama sekali tidak haid, Fathan pikir karena KB yang Tri konsumsi tetapi rasanya itu tidak mungkin. Beberapa bulan ini juga Fathan dan Tri sering berhubungan badan. Apa jangan-jangan...
"Eughh..."
Lenguhan Tri membuat Fathan tersadar dari lamunannya.
"Pusing!" gumam Tri yang membuat Fathan langsung memijat kepala istrinya.
"Berbaring aja, Sayang!" ujar Fathan dengan lembut.
"Mama, jangan sakit!" ucap Cika memeluk Tri dengan erat.
Tri tersenyum tipis dengan bibir yang masih terlihat sangat pucat. "Mama gak sakit, Kak!" Sahut Tri dengan lirih.
"Selama Mas kerja tadi kamu ngapain aja hmm?" tanya Fathan dengan tegas.
"Aku cuma buat puding untuk anak-anak kita aja, Mas. Terus tiba-tiba kepala aku berputar, perut aku mual, terus aku gak ingat apa-apa lagi," ujar Tri dengan lirih.
Fathan menghela napasnya dengan kasar. "Masa kebobolan sih!" gumam Fathan dengan pelan. Fathan adalah dokter kandungan, dan istrinya masih juga bisa kebobolan.
"A-apa, Mas?" tanya Tri memastikan.
"Mas rasa kamu Hamil, Sayang!" ujar Fathan yang membuat Tri terkejut dengan melototkan kedua matanya tak percaya.
"B-bagaimana bisa? A-aku udah KB, sesuai KB anjuran kamu, Mas. K-kedua anak kita masih umur 6 bulan juga," ujar Tri tidak percaya.
Bi Sumi juga tidak percaya dengan apa yang Fathan katakan karena ia merasa kasihan dengan Nevan dan Nessa yang masih sangat kecil harus mempunyai adik bahkan mereka saja masih menyusu.
"Kamu istirahat dulu. Untuk memastikan kita cek nanti kalau kondisi kamu udah pulih, Ma," ujar Fathan dengan tegas.
Fathan juga masih tak percaya karena ia merasa ketiga anaknya masih membutuhkan kasih sayang mereka. Tetapi apa mau di kata. Rezeki tidak boleh di tolak mumpung keduanya masih diberikan kesehatan, karena banyak anak banyak rezeki juga, kan?
"Jangan terlalu di pikirkan!"
"Gimana gak aku pikirin sih Mas? Cika, Nevan, Nessa itu masih kecil. Bahkan Nevan sama Nessa masih minum asi aku. Mas dokter loh, masa istri dokter kebobolan juga sih," ujar Tri dengan memijat pelipisnya yang terasa pusing.
"Dokter juga manusia, Sayang. Kita harus syukuri kehadiran dia. Karena di luar sana masih banyak yang belum di kasih kepercayaan untuk mendapatkan momongan," ucap Fathan dengan bijak.
"Aku tahu, Mas. Tapi Nevan dan Nessa masih butuh aku," ujar Tri dengan berkaca-kaca.
"Mereka pasti paham. Jangan nangis!" ujar Fathan menghapus air mata Tri yang berada di sudut mata wanita itu.
__ADS_1
Tri menangis antara bahagia dan juga sedih. Bahagia karena ia hamil lagi dan sedih karena Nevan dan Nessa baru berusia 6 bulan dan sudah mau mempunyai adik lagi. Tri tak menyangka jika harus secepat ini hamil kembali karena Tri sudah merancang saat usia si kembar menginjak 4 tahun barulah dirinya melepas KB tapi ternyata takdir membawanya cepat hamil kembali, rasanya baru kemarin sakit melahirkan kedua anaknya dan sekarang Tri akan merasakannya kembali dalam beberapa bulan mendatang.