Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 271 (Keadaan Yang Memburuk)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...📌 Dukung terus cerita terbaru author ya "Suami Bayaran Nona Rania"...



...*...


...*...


...Happy reading...


***


Semua anak Akbar dan Fiona berada di ruangan dokter yang menangani Akbar. Mereka tampak sangat cemas ketika Akbar dalam keadaan tidak sadarkan diri secara mendadak, apalagi Delisha dan Fiona sudah histeris sejak Akbar di nyatakan kritis.


"Bagaimana, Dok? Apa yang terjadi dengan papi saya sebenarnya?" tanya Danish, anak tertua dari Akbar dan Fiona.


"Sebelumnya tuan Akbar punya riwayat penyakit tidak?" tanya dokter dengan serius.


"Enggak, Dok. Suami saya sehat dan tidak punya riwayat penyakit apapun," jawab Fiona dengan sendu.


Tangan Fiona benar-benar dingin dan di genggam oleh Danish dan Daniel dengan erat.


"Dari yang saya lihat ada pembengkakan di jantungnya, tekanan darahnya juga cukup tinggi sebelum tak sadarkan diri. Namun, keadaannya berbalik setelah tak sadarkan diri. Tekanan darah tuan Akbar sangat rendah Hb-nya juga rendah sekali. Kami membutuhkan golongan A sebanyak 4 kantong untuk tuan Akbar," ujar dokter dengan serius.


"Ambil golongan kami saja, Dok. Golongan kami sama dengan Papi," jawab Danish dan Dareel sedangkan Delisha dan Daniel darahnya sama dengan Fiona.


"Baiklah kita lakukan dengan cepat ya. Rumah sakit juga masih tersisa dua kantong. Kalian berdua bisa ikut dengan saya," ujar dokter yang membuat Danish dan Dareel mengangguk dengan mantap.


"Dokter, Papi saya bisa sembuhkan setelah mendapatkan pendonor darah? Dia gak boleh ninggalin Delisha! Anak Delisha belum lahir, Papi katanya mau melihat anak-anak Delisha," ujar Delisha dengan sendu dan mata yang sangat sembab.


"Berdo'a saja ya! Kami akan berusaha semaksimal mungkin," jawab dokter dengan bijak tetapi membuat Delisha sama sekali tidak tenang.


Semua keluar dari ruangan dokter Danish dan Dareel mengikuti dokter untuk di cek darahnya sebelum darah mereka diambil. Ikbal langsung menyambut istrinya dengan sebuah pelukan, kondisi Delisha harus baik-baik saja, ia tidak mau terjadi sesuatu dengan Delisha dan ketiga anak mereka.


"Mami duduk sini dulu ya!" ucap Keisya dengan pelan.


"Mami mau temani, Papi!" ujar Fiona dengan lirih.


"Daniel temani ya, Mi!" ucap Daniel dengan pelan.


"Delisha ikut!" ujar Delisha.


"Dek, kamu duduk dulu ya. Lihat kaki kamu sudah membengkak seperti itu kasihan si kembar," ujar Daniel dengan lembut.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Kamu duduk dulu ya di sini, Mas pujatin sebentar," ujar Ikbal dengan pelan.


"Delisha takut Papi pergi," ucap Delisha dengan jujur membuat semua orang menjadi terdiam sendu.


"Papi gak akan pergi. Kamu duduk dulu ya, Dek. Kami gak mau terjadi sesuatu dengan kamu dan anak-anak kamu," ujar Daniel dengan lembut yang akhirnya membuat Delisha mengalah.


Daniel membawa sang mami masuk ke dalam ruang ICU. Setelah memakai pakaian khusus Daniel menuntun maminya agar tidak histeris atau terjatuh nantinya.


"Mas!" panggil Fiona dengan lirih.


"Bangun, Mas! Aku belum siap jika kamu meninggalkan aku secara mendadak. Aku takut! Keadaan kamu kemarin baik-baik saja, hanya demam biasa tapi kenapa kamu sekarang tak sadarkan diri?" tanya Fiona menatap wajah pucat suaminya.


Daniel mengelus lengan maminya dengan lembut. "Mi, jangan nangis ya. Papi pasti bisa merasakan jika Mami sedih," ujar Daniel dengan pelan.


"Kenapa tidak dari kemarin kita paksa papi untuk ke rumah sakit, Niel? Sekarang papi gak bangun-bangun," ujar Fiona dengan meneteskan air matanya yang membuat mata Daniel juga memerah karena ikut menangis.


Ya, Daniel juga merasakan kesedihan yang sangat mendalam atas dropnya kondisi papinya secara mendadak.


Fiona mendekat ke wajah suaminya yang tampak pucat.


Cup...


"Bangun, Mas!" gumam Fiona dengan lirih.


Fiona memeluk Akbar. Tubuh ini biasanya selalu menjadi tempat ternyamannya, Akbar biasanya memeluk dirinya dengan erat tapi kali ini Akbar dalam keadaan tidak berdaya.


****


Ikbal memijat kaki istrinya dengan lembut. Sedangkan ketiga iparnya hanya bisa diam dengan doa yang tak henti-hentinya mereka panjatkan untuk kesembuhan papi mertua mereka.


"Sayang wajah kamu pucat, kamu gak apa-apa?" tanya Ikbal dengan cemas.


Naura, Keisya, dan Mikaela langsung melihat ke arah Delisha yang memang benar pucat seperti apa yang Ikbal katakan.


"Ikbal sebaiknya bawa Delisha ke pakde Fathan saja. Aku takut terjadi sesuatu dengan Delisha dan bayinya," ujar Mikaela yang dibenarkan oleh Ikbal.


"Sayang, ayo kita temui pakde Fathan ya. Kita periksa keadaan kamu ya," ujar Ikbal dengan lembut.


Delisha menggelengkan kepalanya. "Aku gak apa-apa, Mas. Kita di sini saja ya! Aku gak mau ninggalin Papi," ujar Delisha dengan pelan.


"Sayang, Tapi..."


"Mas di sini saja, Please!" ujar Delisha dengan sendu yang membuat Ikbal akhirnya mengangguk walaupun sebenarnya ia sangat khawatir dengan keadaan Ikbal.


"Kalau perut kamu sakit bilang ya, Sayang!" ucap Ikbal dengan lembut.

__ADS_1


Delisha mengangguk dengan pelan, ia masuk ke pelukkan Ikbal dengan Ikbal yang mengelus perut istrinya. Ikbal sangat paham bagaimana takutnya Delisha melihat keadaan papi mereka karena Ikbal tahu bagaimana Delisha sangat manja dengan papinya. Bahkan Delisha sangat di manja oleh Akbar sejak dulu bahkan sampai sekarang walaupun Delisha sudah menikah.


Tak berselang lama Danish dan Dareel menghampiri mereka setelah darah mereka di ambil.


"Deon mana, Sayang?" tanya Dareel pada istrinya.


"Di bawa bude Tri pulang, Mas!" ujar Mikaela dengan lembut.


"Kemana mami sama Daniel?" tanya Danish dengan cemas.


"Ada di dalam ruangan Papi, Mas. Keisya sama Naura beli minum untuk Mas dan Dareel sebentar ya," ujar Keisya.


"Enggak usah, Sayang. Sebentar lagi dokter datang untuk transfusi darah," ucap Danish dengan pelan.


Tak lama dokter dan suster masuk ke dalam ruang ICU dimana Akbar dirawat dan Fiona maupun Daniel keluar.


Delisha menahan sakit pada perutnya sampai keringat bercucuran di dahinya.


"Sssttt..."


"Sayang kamu kenapa?" tanya Ikbal yang sigap.


"Ya Allah, ketuban Delisha pecah!" ucap Fiona dengan panik.


"Mi, ini gimana?" tanya Ikbal dengan panik karena usia kandungan Delisha baru 7 bulan.


"Panggil dokter sekarang!" ujar Fiona dengan panik.


Ketiga kakak Delisha langsung berlari memanggil dokter sedangkan Ikbal menenangkan istrinya yang mulai kesakitan.


"Delisha, tarik napas kamu ya!" ujar Naura dengan panik.


Delisha menarik napasnya dan menghembuskan napasnya dengan perlahan. "S-sakit, Mas!" ucap Delisha dengan lirih.


Fiona mendekati Delisha dan menggenggam tangan Delisha dengan erat. "Pikiran kamu harus tenang ya, Sayang. Kamu harus kuat demi papi dan ketiga anak kamu," ujar Fiona dengan lembut.


Tak lama suster datang membawa brankar diikuti oleh Fathan dan dokter kandungan yang lainnya untuk melakukan operasi melahirkan bagi Delisha.


"Bawa Delisha langsung ke ruang bersalin! Pastikan semuanya sudah lengkap. Saya tidak mau ada kendala apapun ketika proses operasi keponakan saya belangsung," ujar Fathan dengan tegas.


"Baik, Dok!" ucap suster dan dokter yang akan mengoperasi Delisha diawasi langsung oleh Fathan.


Delisha menggenggam tangan suaminya kala rasa sakit itu kembali datang. "Mas temani aku! Aku takut!" ujar Delisha dengan lirih.


"Iya, Sayang. Pasti Mas temani ya! Kamu jangan takut ya!"

__ADS_1


Delisha menganggukkan kepalanya dengan pelan. "Nak, kalian mau lebih cepat bertemu grandpa ya? Kita berjuang sama-sama ya, Sayang! Grandpa pasti sembuh dan bisa bermain dengan kalian!"


__ADS_2