Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 202 ( Menjemput Kebahagiaan)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya bestie....


...Happy reading...


****


Dareel menatap gemas ke arah istrinya. Pipi Mikaela sudah tampak sangat cabi dan tubuhnya juga sudah berisi.


"Moci!" panggil Dareel dengan panggilan baru untuk Mikaela karena pipi Mikaela sudah seperti moci yang sangat kenyal.


"Iya, Mas. Ini Mika baru selesai nyetrika baju Mas," ujar Mikaela dengan pelan.


"Kan sudah Mas bilang biar pelayan saja yang nyetrika, Moci. Kamu hanya tinggal duduk dan melayani suami kamu," ujar Dareel yang membuat Mikaela menatap Dareel dengan mata teduhnya yang menghayutkan hati Dareel.


"Gak apa-apa, Mas. Mika sudah terbiasa," ujar Mikaela dengan tersenyum.


Dareel menghela napasnya dengan pelan. Ia memeluk Mikaela hingga tubuh mereka tak ada jarak lagi, Dareel menyelipkan rambut Mikaela ke telinga istrinya tersebut yang membuat gadis itu gugup.


"Cantik!" gumam Dareel yang membuat Mikaela tersipu.


"M-mas jangan gitu," ujar Mikaela dengan gugup.


Dareel terkekeh. "Kamu benar tidak mau sekolah seperti Delisha? Mas sangat ingin melihat kamu nanti menjadi wanita yang berpendidikan tinggi," ujar Dareel yang membuat Mikaela menunduk.


"Mika gak mau!" ujar Mikaela dengan gemetar.


"Mika takut!" gumam Mikaela yang membuat Dareel memeluk istrinya.


Dareel sudah tahu penyebab istrinya tak mau melanjutkan sekolah umum seperti Delisha karena istrinya itu selalu di bully di sekolahnya dan karena Frengki juga Mikaela tak bisa mendapatkan pendidikan selayaknya teman sebaya Mikaela.


"Ya sudah home schooling saja. Kamu harus buktikan ke orang-orang kalau kamu bisa menjadi wanita yang sukses nantinya. Istri dari Dareel Mahendra tidak boleh di pandang rendah," ujar Dareel yang membuat mata Mikaela berkaca-kaca karena Dareel selalu mengerti bagaimana perasaannya dan lelaki itu tak pernah memaksa dirinya.


"Makasih, Mas!" gumam Mikaela dengan lirih.


"Sebagai imbalannya Mas meminta sesuatu dari kamu," ujar Dareel yang membuat Mikaela menatap Dareel dengan serius.


"A-apa, Mas?" tanya Mikaela dengan terbata karena Mikaela masih terus gugup ketika menatap Dareel yang begitu membuatnya terpesona. Tuhan memang baik kepadanya, ia dipertemukan dengan lelaki yang tepat yang bisa membuat Mikaela menjemput kebahagiaannya.


"Sebelum kita naik pesawat. Malamnya Mas ingin kamu menjadi milik Mas seutuhnya," ujar Dareel yang membuat Mikaela menelan ludahnya dengan kasar.


"M-maksud Mas Dareel kita..."

__ADS_1


"Ya kita menyatu! Nanti Mas akan beli pakaian dinas malam buat kamu. Sekarang Mas pergi ke sekolah Mas dulu, do'akan Mas lulus dengan nilai terbaik dan bisa mendapatkan surat izin terbang supaya bisa ajak kamu jalan-jalan keliling dunia dengan Mas yang menjadi kapten pilotnya," ujar Dareel dengan terkekeh.


Cup...


Cup.....


Tubuh Mikaela mematung saat Dareel menciumnya dengan tulus tepat di keningnya dan juga bibirnya.


Senyum Mikaela mengembang setelah itu Mikaela membantu memakaikan pakaian Dareel. Mereka terlihat seperti sepasang pengantin baru yang saling mencintai tetapi keduanya belum sama sekali mengungkapkan rasa satu sama lain.


"Jangan kangen ya nanti Mas takut gak fokus!" bisik Dareel yang membuat Mikaela tersenyum malu.


Setelah kepergian Dareel tubuh Mikaela langsung lemas dan duduk di pinggir kasur. "Perhatiannya membuatku lupa akan sakit yang pernah aku rasakan tapi aku bimbang apa mas Dareel juga mencintaiku?" gumam Mikaela yang menyentuh bibirnya sendiri, ciuman Dareel masih terasa nyata sampai saat ini.


"A-apa aku harus menyerahkan diriku secepat itu?" monolog Mikaela dengan perasaan yang campur aduk.


****


Zayden menatap datar ke arah gadis yang selalu menempelinya semenjak dirinya sadar Cika selalu datang menjenguknya yang membuat Zayden jengkel dengan Cika.


"Aku suapin kamu ya, Ay!" ucap Cika mengambil mangkuk berisi bubur untuk Zayden.


"Kamu ini sebenarnya siapa sih? Saya risih lama-lama kamu menempel seperti ini," ujar Zayden dengan kesal.


"Aku gak akan nyerah buat kamu mengingat kita, Ay!" ujar Cika dengan tegas.


"Ayo makan biar kamu cepat sehat dan kita cepat pulang ke Indonesia," ujar Cika dengan tersenyum. Senyum yang mampu membuat jantung Zayden berdebar sangat kuat. Ada apa sebenarnya dengan dirinya sendiri? Batin Zayden bertanya.


Dengan perasaan bingung akhirnya Zayden pasrah saat Cika menyuapi dirinya. Cika tersenyum dengan manis kala Zayden tak lagi menolak keberadaannya. Rasanya dunia hancur saat Zayden tak menginginkan keberadaannya, lebih baik Zayden yang kasar dari pada Zayden yang melupakan dirinya.


"Apa benar kita sudah tunangan?" tanya Zayden penasaran.


"Kalau tidak percaya lihat tangan kamu. Cincin kita sama, kan? Bahkan kamu sudah mengklaim aku menjadi milikmu dari kita TK," ujar Cika dengan memperlihatkan cincin pertunangan mereka.


Zayden melihat ke arah jemarinya dan benar di sana ada cincin yang sama dengan Cika. "Dari TK? Masa saya seperti itu?" tanya Zayden tidak percaya.


"Ya sudah kalau tidak percaya!" ujar Cika mengedikkan bahunya.


"Terus kenapa saya bisa kecelakaan dan ada di Jerman?" tanya Zayden dengan serius.


Cika terdiam, ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya jika Zayden di rawat di rumah sakit jiwa untuk melakukan terapi agar alter egonya menghilang. "Karena kamu cemburu saat aku bicara dengan lelaki lain. Terus kamu marah dan akhirnya kecelakaan," ujar Cika dengan asal.

__ADS_1


"Ck... Mana mungkin saya seperti itu! Mengarang cerita!" ujar Zayden dengan kesal.


"Seharusnya aku yang kesal sama kamu karena melupakan aku. Kamu tahu aku sampai sakit saat harus berpisah denganmu? Dan balasanmu begitu kejam kepadaku, Ay!" ujar Cika dengan berkaca-kaca.


Zayden merasa sesak melihat Cika menangis karena dirinya. "Jangan nangis! Saya juga gak mau seperti ini!" ujar Zayden yang membuat Cika langsung memeluk Zayden.


"Jangan karena saya melunak kamu bisa seenaknya memeluk saya, Cika! Saya masih belum mengingat kamu," ujar Zayden dengan datar.


Cika menghapus air matanya dengan kasar. "Hiks...Kamu jahat! Aku benci kamu!" ujar Cika dengan kesal.


"Benci tapi terus mendekati saya!" ujar Zayden dengan datar.


Drtt..drrtt..


Ponsel Cika berdering yang membuat Cika sedikit menjauh dari Zayden.


"Halo, Van!"


"Kak kapan Kakak pulang?" tanya Nevan.


"Belum tahu. Kenapa? Kamu kangen ya?" tanya Cika sengaja mengeraskan suaranya agar Zayden mendengarnya.


"Iya! Kakak cepat pulang ya!" ujar Nevan yay membuat Cika tersenyum.


"Lihat nanti kapan aku pulang ya!" ujar Cika yang membuat Nevan bingung karena kakaknya tidak pernah memakai kata 'aku' saat bicara dengannya.


"Kakak aneh deh!"


"Nanti aku jelaskan di Chat, Van! Aku tutup dulu," ujar Cika yang melihat wajah kesal Zayden.


"Siapa?" tanya Zayden dengan penasaran sekaligus kesal di dalam dirinya. Aneh bukan?


"Kenapa tanya? Kepo ya?" tanya Cika sengaja memancing kekesalan Zayden.


"Ck... Tidak usah dijawab!" ujar Zayden dengan sebal.


"Cemburunya? Tuh kan sifat aslinya keluar," ujar Cika dengan terkekeh.


"Saya tidak cemburu! Saya hanya bertanya sama kamu! Kalau tidak mau jawab ya sudah!" ujar Zayden dengan dingin.


"Ya sudah!" jawab Cika yang membuat Zayden berdecak kesal padahal lelaki itu sangat ingin Cika mengatakan siapa yang menelepon gadis itu tadi.

__ADS_1


Dan sekarang Cika malah sibuk berbalas pesan kepada adiknya menghiraukan Zayden yang menatapnya dengan tajam seperti ingin memangsanya hidup-hidup.


Dalam hati Cika meresa senang melihat wajah Zayden yang seperti ini. Cika akan berusaha membuat Zayden kembali mengingat kenangan mereka.


__ADS_2