
...Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
*****
"KATAKAN SELAMAT TINGGAL PADA DUNIA SABRINA!"
"JANGAN!!"
"ARGHHH..."
Tiara tersenyum puas setelah berhasil menyayat wajah wajah cantik Tiara hingga darah segar keluar dari sana.
Papa Ezra dan mama Erlin menelan ludahnya dengan kasar saat melihat bagaimana sadisnya seorang Tiara yang terkenal lemah lembut dan tak pernah marah kini meledak bagaikan iblis yang akan menyabut nyawa mangsanya.
Sabrina histeris saat merasakan bagaimana sakitnya pisau tajam Tiara menusuk wajah mulusnya apalagi darah segar yang sudah mengalir hingga ke bibirnya.
"Ini belum seberapa sakit dibandingkan dengan perbuatan lo terhadap gue!" bisik Tiara dengan sinis.
"Lepasin gue! Gue mohon Tiara!" ujar Sabrina dengan histeris, ia tidak mau mati konyol karena Tiara.
"Lepasin? Tunggu nyawa lo tercabut dari raga lo baru gue lepasin Sabrina!" ucap Tiara dengan santai.
Tiara berjalan mendekat ke arah mamanya. "Bagaimana kalau Mama juga merasakan sayatan pisau ini. Aku ingin mama mengetahui betapa sakitnya hatiku selama ini," ucap Tiara dengan suara yang amat rendah.
Tiara membiarkan Sabrina begitu saja dengan darah yang terus mengalir dari pipinya.
"J-jangan Tiara! Ini Mama kamu! Kamu tega melakukan itu terhadap Mama?" ucap Mama Erlin dengan takut.
"Tega? Mama saja Tega menyakitiku, aku pun akan jauh lebih tega Ma walau Mama adalah mama kandungku sendiri tapi aku merasa sejak dulu aku hidup sendiri tanpa kasih sayang kalian!" ujar Tiara dengan sinis.
"Aku pinjam tangannya, Ma!" ujar Tiara menarik tangan mamanya.
"J-jangan Tiara. Argghhh...."
"Ya tangan Mama berdarah! Gimana ini, Ma? Pasti sangat sakit ya? Tapi aku ingin sekali melukis di tangan Mama, tangan yang tak pernah membelai aku dengan kasih sayang," gumam Tiara dengan pelan dan tersenyum ke arah mamanya.
"T-tiara kamu jangan seperti ini ke Mama!" ucap Mama Erlin dengan terbata.
"Ini cuma lukisan kecil, Ma! Jangan nangis dong! Kan ini belum seberapa dibandingkan dengan sakit hati anak Mama ini!" ujar Tiara dengan tersenyum.
"Tunggu lukanya kering ya Ma nanti aku akan melukis lagi di sana!"
__ADS_1
Tiara mendekat ke arah papanya. "Kok bibir Papa pucat sih? Kan aku belum melukis dengan pisau ini," ucap Tiara dengan terkekeh.
"Kalian berdua urus kedua wanita ini! Siksa mereka tapi jangan sampai mati!" ujar Tiara dengan tegas.
"Baik, Nona!" ujar kedua orang berbadan kekar itu dengan bahagia mendapatkan perintah yang akan menyenangkan keduanya.
"Arghhh...lepaskan!" teriak Mama Erlin dan Sabrina dengan keras saat kedua orang suruhan Tiara menyiksa mereka.
"Papa mohon lepaskan kami, Tiara! Papa akan memberikan apa saja yang kamu mau," ucap Papa Ezra memohon kepada anaknya.
"Tiara gak mau apapun, Pa! Tiara cuma mau kasih sayang Papa dan mama," ujar Tiara dengan sendu.
"P-papa akan berikan, Nak! Tolong lepaskan ya!" ujar Papa Ezra dengan tersenyum menyakinkan Tiara saat ini.
"Hahaha...Tapi semuanya sudah terlambat, Pa! Penantian dan kesabaran Tiara sudah tidak ada!" ujar Tiara tertawa yang membuat papa Ezra memucat kembali.
"TIARA INGIN PAPA MERASAKAN SAKIT YANG TIARA RASAKAN!" teriak Tiara.
Srek...
"Argghh....ampun Tiara!"
Papa Ezra bertiak kesakitan saat perutnya di sayat oleh Tiara. Sungguh ia tak mengenal Tiara yang saat ini begitu terlihat sangat sadis. Ia menyesal telah membandingkan kasih sayangnya untuk kedua anaknya yang bisa mengubah Tiara bak iblis tanpa belas kasih.
"Baik, Nona! Kami akan melaksanakan perintah Nona!" ujar kedua dengan tertawa.
Tiara tersenyum sinis menatap ketiganya. "Ini baru awal. Siapkan tubuh kalian untuk siksaan yang aku berikan selanjutnya!" ujar Tiara dengan dingin lalu berlalu pergi meninggalkan ketiganya bersama dengan dua orang suruhannya.
Mama Erlin dan Sabrina sudah tampak lemas sekali, keduanya sudah tidak berdaya merasakan sakit pada tubuhnya yang penuh dengan luka. Begitu pun dengan papa Ezra, lelaki paruh baya itu berusaha melepaskan ikatan pada tangannya tetapi ikatannya begitu kuat hingga luka yang Tiara berikan sebelum pergi kembali mengeluarkan darah segar yang cukup banyak.
"Argghh....ampunnn!!!"
"Hahaha kalian tidak akan bisa lepas dari kami!" ujar salah satu lelaki berwajah seram.
Ketiganya kembali di siksa. Suara kesakitan mereka sama sekali tidak di gubris hingga ketiganya pingsan kembali. Sungguh alter ego Tiara sangat kejam sekali!
*****
"Dari mana?" tanya Zidan saat Tiara memasuki apartemennya.
"Beli makanan," jawab Tiara dengan tersenyum dan menunjukkan kantong kresek yang ia bawa cukup banyak.
"Kamu terlihat bahagia sekali hari ini, Ay. Kenapa?" tanya Zidan dengan heran tak seperti biasanya Tiara begini.
__ADS_1
"Karena aku sudah berkumpul dengan anak-anakku. Emang aku gak boleh bahagia?" tanya Tiara menatap Zidan dengan memicingkan matanya.
"Bukan begitu! Mas bahagia kalau kamu bahagia tapi kali ini kamu beda," yhar Zidan yang merasakan ada sesuatu yang aneh dalam diri Tiara.
"Kamu yang aneh, Mas! Aku bahagia malah curiga," ujar Tiara duduk di sofa.
Zidan ikut duduk di samping Tiara dan menatap Tiara dari samping.
"Dimana Zayyen dan Zayden?" tanya Tiara dengan memejamkan matanya.
Zidan membawa kepala Tiara agar tertidur di pahanya. "Ada di kamar," ucap Zidan menatap wajah Tiara tanpa berkedip.
Zidan memicingkan matanya saat melihat darah kering ada di pipi Tiara. "Pipi kamu luka, Ay!" ujar Zidan dengan panik.
Tiara terdiam. "E-enggak, mungkin ini darah pasien, Mas!" ujar Tiara dengan gugup.
"Darah pasien?" ulang Zidan. Tangannya menyentuh darah kering tersebut dan benar saja tidak ada bekas luka di pipi Tiara.
Zidan bernapas dengan lega. Ia mencium bibir Tiara sekilas. "Ay!" panggil Zidan dengan pelan.
"Hmmm..." gumam Tiara yang merasakan ketenangan saat mendapatkan perhatian dari Zidan.
"Zayyen sudah bersama kita. Bagaimana kalau pernikahan kita dipercepat, Mas gak mau kehilangan kamu lagi, Ay!" ujar Zidan.
Tiara membuka matanya dengan perlahan dan menatap mata Zidan dengan dalam.
"Kamu mau, kan?" tanya Zidan mengelus pipi Tiara.
Tiara mengangguk dengan perlahan yang membuat Zidan senang.
"Mas akan bilang ke ayah dan ibu tentang pernikahan kita!" ujar Zidan dengan bahagia.
"Mas jangan senang dulu aku mau menikah dengan Mas karena Zayyen dan Zayden!" ujar Tiara dengan datar berbeda dengan hatinya yang saat ini juga merasa bahagia.
Zidan tersenyum. "Apapun alasannya Mas yakin di hati kamu masih ada cinta untuk Mas!" gumam Zidan dengan lembut.
Tiara bangun, ia menatap Zidan dengan dalam. Apakah ini waktu yang tepat untuk kembali membuka hatinya pada Zidan? Apakah ini waktu yang tepat untuk kembali bersama dengan lelaki yang melukai hatinya?
Keduanya terhanyut dalam ciuman yang sangat mesra menuangkan rasa yang selama ini terhalang.
"Makasih, Ay!" ujar Zidan memeluk Tiara dengan erat.
Tiara tersenyum, ia mencari kenyamanan di dada bidang Zidan saat ini.
__ADS_1
"Aku akan mencoba kembali bersamamu, Mas!" gumam Tiara di dalam hati.