
...Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
****
Barra menatap istrinya dengan sendu, sudah seminggu keadaan Rose kembali memburuk karena Zayyen tak lagi bersama dengan mereka.
"Sayang makan ya?!" ucap Barra menyuapi Rose yang terbaring lemah dengan wajah yang amat pucat.
Rose menggeleng, selera makannya sudah tidak ada semenjak Zayyen pergi. Semangat hidupnya juga tidak ada yang mengakibatkan keadaan Rose kembali memburuk.
Tentu saja Barra merasa sedih dengan keadaan istrinya. "Makan sedikit saja, Sayang! Anak kita pasti gak suka melihat kamu seperti ini. Zayyen selalu marah jika kamu telat makan," ucap Barra dengan lirih.
"Aku gak lapar, Mas! Aku hanya ingin Zayyen pulang ke rumah ini," gumam Rose dengan mata yang berkaca-kaca.
Sungguh ia sangat merindukan Zayyen! Rasanya sangat sesak jika harus berjauhan dengan Zayyen. Rose sangat menyayangi Zayyen karena ia sudah menganggap Zayyen sebagai anak kandungnya sendiri.
Barra mengepalkan tangannya dengan kuat, emosinya kembali datang. Akibat Zidan dan Tiara mengambil Zayyen kembali istrinya harus merasakan sakit karena menahan rindu untuk Zayyen.
"Mas akan membawa Zayyen ke rumah ini lagi, Sayang! Mas janji! Tapi kamu harus makan dulu agar saat Zayyen kembali kamu gak sakit lagi," bujuk Barra dengan lembut.
"Beneran Mas mau membawa Zayyen ke rumah ini lagi? Apa Zidan dan Tiara mengizinkannya?" tanya Rose dengan sendu.
"Mereka pasti mengizinkan, Sayang! Ayo makan dulu! Zayyen gak suka melihat mamanya sedih dan sakit," ujar Barra dengan berusaha tersenyum di hadapan istrinya walau sejak tadi ia menahan emosinya yang tertahan sejak Rose selalu merindukan Zayyen entah mengapa timbul rasa benci di hati Barra untuk Zidan dan Tiara dan berniat ingin mengambil Zayyen tanpa sepengetahuan mereka bagaimanapun caranya.
"Sebentar lagi Zayyen pasti akan bersama kita, Sayang. Aku yakin Zayyen juga tidak mau tinggal bersama Zidan dan Tiara," gumam Barra di dalam hatinya.
Barra sedikit lega saat Rose mau makan walau hanya sedikit setidaknya Barra tidak dirundung kecemasan yang sangat mendalam karena ia takut Rose kembali drop dan akan sangat membahayakan kesehatan istrinya maka sebisa mungkin ia harus membawa Zayyen ke rumah ini dengan segera.
****
Zayyen menatap dingin ke arah sekolah barunya dimana Zayden dan Cika bersekolah di sini. Zayyen tak mudah beradaptasi dengan orang-orang baru karena ia terlalu diam dan dingin, sangat berbeda sekali dengan kembarannya.
"Sekarang kamu sekolah di sini, Sayang!" ujar Tiara dengan lembut kepada anak sulungnya.
"Iya," jawab Zayyen dengan singkat dan terkesan datar.
"Zayyen!" panggil Tiara dengan pelan.
Zayyen menatap mamanya dengan pandangan yang teramat dingin yang membuat Tiara menghela napasnya dengan perlahan berusaha sabar dengan sikap anaknya. Saat ini mereka hanya berdua sedangkan Zidan sudah berangkat ke rumah sakit sejak subuh sedangkan Zayden sudah masuk ke kelasnya untuk mencari keberadaan Cika sang pujaan hati.
"Sampai kapan kamu gak bisa menerima Mama?" tanya Tiara dengan serak menahan tangisnya yang tiba-tiba saja hendak keluar.
__ADS_1
"Gak tahu!" jawab Zayyen cukup singkat dan mampu membuat hatinya Tiara berdenyut sakit.
"Kita gak tahu ke depannya akan seperti apa. Tapi Mama berharap kamu akan menerima Mama. Kamu tahu? Sejak dulu Mama selalu bermimpi hidup bahagia bersama dengan kedua anak kembar Mama. Dan saat semuanya sudah terkabul ternyata mimpi itu tak seindah dengan kenyataannya," ujar Tiara dengan tersenyum mengelus pipi Zayyen dengan lembut.
Tiara memegang tangan Zayyen dengan erat dan mencium kedua anaknya dengan lembut. Zayyen terdiam, mendapatkan perlakuan lembut dari mamanya membuat hati Zayyen menghangat tetapi ia tak mau luluh karena Zayyen belum bisa menerima semuanya.
"Zayyen, Selagi Mama bisa merawat dan melihat kamu saat ini izinkan Mama untuk memberikan kasih sayang Mama untuk kamu. Mama ingin mendengar kamu memanggil mama dengan sangat tulus. Mama takut Mama tidak bisa melihat dan merawat kamu maupun Zayden nantinya, kamu harus tumbuh menjadi lelaki yang bertangungjawab dan melindungi keluarga kamu," ucap Tiara dengan lirih.
Entahlah perkataan Tiara begitu mengenai hati Zayyen, bagi Zayyen ucapan mamanya sedang tidak main-main seakan tersirat sesuatu yang sangat mendalam tetapi Zayyen tak membalas perkataan Tiara, mata elangnya menelisik wajah mamanya yang terlihat sendu, melihat air mata yang mengenang di pelupuk Tiara, Zayyen mengusap air mata Tiara dengan lembut yang membuat Tiara terkekeh bahagia.
Cup....
Tiara mengecup kening Zayyen dengan penuh kasih sayang sama seperti yang ia lakukan pada Zayden tadi sebelum anak itu masuk ke sekolahnya.
"Belajar yang rajin Mama tahu pasti besar nanti kamu akan menjadi lelaki yang sukses lebih dari mama dan papa. Mama kerja dulu Zayyen, jangan lupa makan bekal buatan Mama ya. Nanti sepulang sekolah Mama jemput lagi," ujar Tiara dengan lembut.
"Iya!" jawab Zayyen.
Zayyen masuk ke sekolahnya tetapi entah mengapa ia ingin mencegah kepergian Tiara. Ada apa dengan hatinya? Kemarin-kemarin Zayyen tak ingin melihat Tiara dan menerima Tiara sebagai mamanya dan saat ini kenapa hatinya seakan sulit berpisah dengan Tiara.
Tiara melambaikan tangannya tersenyum ke arah Tiara. "Mama sayang Zayyen. Sampaikan sayang Mama untuk Zayden juga ya!" ucap Tiara sedikit keras sebelum Zayyen hilang dari pandangannya.
Zayyen mengangguk. Ia berlari memasuki kelasnya. Ia tidak ingin merasa kembali di landa rasa bingung saat melihat Tiara, bingung karena saat ini hatinya tak ingin Tiara pergi.
****
"H-haus!!!" ucap Sabrina dengan pelan saat ia duluan sadar. Tenggorokannya begitu kering hingga ia seakan ingin mati sekarang tetapi nyawanya seperti di tarik ulur saat kedua orang suruhan Tiara menyiksanya. Dimana keluarganya? Kenapa tidak ada yang bisa menemuinya di sini? Sabrina sudah tidak tahan dengan siksaan yang ia dapatkan dari Tiara.
Tiara berubah menjadi psikopat yang sangat menyeramkan. Sabrina menatap papa Ezra dan mama Erlin dengan pandangan sayunya, mereka belum sadarkan diri setelah di siksa oleh dua lelaki menyeramkan tersebut hingga bunyi pintu terbuka yang membuat buku kuduk Sabrina kembali berdiri.
"Hai, apa kabar? Masih hidup hmm?" tanya Tiara dengan tersenyum sinis.
Tiara tidak benar-benar berangkat ke rumah sakit, sebelum ia bekerja ia ingin bertemu dengan ketiga orang yang membuatnya menderita selama ini. Apalagi sikap Zayyen tadi yang membuat emosinya kembali tersulut dan akan di lampiaskan kepada mereka.
"BANGUN!" teriak Tiara dengan keras yang membuat papa Ezra dan mama Erlin terkejut dan membuka matanya.
"T-tiara," gumam Mama Erlin dengan lirih.
"Ya ini aku, Ma!" jawab Tiara dengan sinis.
"Kalian Lapar? Haus?" tanya Tiara dengan dingin.
Ketiganya mengangguk dengan cepat. "Bawa makanan dan minuman yang saya bawa tadi ke sini," ujar Tiara dengan dingin.
__ADS_1
"Baik Nona!"
"Ini Nona!"
Tiara menerimanya dan membuka makanan tersebut. "Makan!" ucap Tiara menyuapi mereka satu persatu dengan kasar, rasa benci semakin ia rasakan kepada ketiganya.
Papa Ezra, mama Erlin, dan Sabrina mau tak mau menerima suapan Tiara secara bergantian karena rasa lapar yang ketiganya rasakan.
"Ampun Tiara tolong lepaskan kami!" ucap Mama Erlin dengan pelan.
"Lepaskan kami Tiara! Aku sudah tidak kuat! Tubuhku sakit semua," ujar Sabrina dengan lirih.
"Sadar Nak. Kita bisa memulai semuanya dari awal! Papa dan mama janji akan menyayangi kamu," ujar Papa Erlin dengan lirih.
Tiara terkekeh sinis. "Minum! Kalian tidak mau kan mati dalam keadaan kehausan dan kelaparan?" tanya Tiara dengan sinis.
"Kalian tahu? Akibat perbuatan kalian anakku tidak ingin tinggal bersamaku! Rasanya aku ingin menghabisi kalian sekarang juga tetapi itu terlalu singkat untuk penyiksaan yang kalian lakukan terhadapku selama bertahun-tahun," ujar Tiara dengan pelan.
"Aku ingin melihat kalian tersiksa lebih lama lagi!" ujar Tiara dengan keras yang membuat ketiganya ketakutan.
"Habiskan semua ini sebelum tenaga kalian kembali terkuras!" ujar Tiara dengan tajam.
Dengan menangis Ketiganya memakan makanan yang Tiara berikan bahkan minuman yang membuat tenggorokan mereka lega. Setelah ini mereka harus rela kembali di siksa oleh Tiara.
Cetarrrr...
"Argghhh...."
Tiara mencambuk dengan keras yang membuat tubuh Sabrina bergetar menahan sakit. "Kamu pasti bertanya kenapa keluargamu tidak ada yang mencarimu, kan? Mau tahu jawabannya? Karena aku sudah mengkelabui mereka," ujar Tiara dengan tertawa bak iblis yang sangat kejam.
"A-ampun!!!"
"Tidak ada ampun bagi kalian hahaha!!! Sejak kalian berada di sini nyawa kalian sudah berada di tanganku! Aku pastikan kalian akan mati karena siksaanku!"
Cetarr...
Cetarrrr...
Cetarrrr
"Argghh..."
"A-ampun!!"
__ADS_1