Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 211 (Putus)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya!!...


...Happy reading...


***


Daniel menemui Naura di taman malam ini. Entah apa alasan kekasihnya agar mereka bertemu di sini, tentu saja Daniel senang akan bertemu dengan Naura.


"Sayang!" panggil Daniel dengan tersenyum dan langsung memeluk Naura dengan erat menyampaikan rasa rindunya dengan kekasih yang sangat ia cintai ini.


Naura tersenyum tipis. Namun, setelah itu Naura melepaskan pelukan Daniel kepadanya yang membuat Daniel tidak terima dan ingin kembali memeluk Naura tetapi gadis itu menghindar dengan menggeser duduknya.


"Ck... Kenapa hmm? Tumben banget pelukannya cuma sebentar biasanya lama!" ujar Daniel protes.


"Naura gak bakal lama-lama di sini, Kak! Naura mau mengatakan sesuatu," ujar Naura yang membuat Daniel terdiam dan menatap Naura dengan dalam.


Entah mengapa Daniel menjadi gusar menunggu sesuatu yang akan dikatakan oleh kekasihnya. Ada apa? Kenapa Naura sangat terlihat berbeda malam ini?


"A-apa?" tanya Daniel dengan tercekat.


Naura menghela napasnya dengan berat sebelum mengatakan sesuatu kepada Daniel. Ini memang berat untuknya tetapi Naura harus melakukannya.


"Aku mau kita putus!" ujar Naura dengan tegas.


Daniel terkekeh. "Kamu bercanda, kan?" ujar Daniel yang menganggap ucapan Naura adalah sebuah candaan untuknya.


Naura menggelengkan kepalanya. "Aku serius, Kak! Aku mau kita putus! Aku sudah gak cinta lagi sama kamu," ujar Naura tanpa menatap ke arah Daniel.


"Bohong! Apa alasan kamu yang membuat kamu ingin mengakhiri semuanya?" tanya Daniel dengan tangan mengepal dengan erat.


Sungguh Daniel tidak menyangka Naura akan mengatakan sesuatu yang membuat hatinya sakit malam ini.


"Kamu gak dengar tadi, Kak? Aku sudah tidak mencintai kamu jadi aku mau malam ini kita putus!" ujar Naura dengan tajam menyembunyikan rasa sakitnya karena harus berpisah dengan lelaki yang ia cintai sampai saat ini. Naura hanya berbohong saja mengatakan kepada Daniel jika dirinya tak mencintai lelaki itu lagi.


"Kasih satu alasan yang membuat aku harus melepaskan kamu sekarang!" ujar Daniel dengan tajam.


Naura menatap Daniel dengan tenang. "Pertama aku sudah gak mencintai kamu lagi dan yang kedua aku tidak ingin berhubungan dengan seseorang yang berhubungan dengan dengan keluarga Al-Ghifari," ucap Naura dengan tenang.


Daniel terkekeh sinis. "Aku gak nyangka pikiran kamu sepicik ini, Naura! Hanya karena Delisha akan menikah dengan Ikbal kamu memutuskan aku?" ujar Daniel dengan sinis.


"Aku tidak bisa berhubungan lagi dengan mereka! Dan tentu saja alasan pertama karena aku tidak mencintai kamu lagi, Kak!" ujar Naura dengan hati yang sesak.

__ADS_1


"Oke! Silahkan kamu pergi! Aku lebih memilih adikku bahagia daripada aku harus bersama dengan orang yang berpikir picik seperti kamu. Padahal keluarga Ikbal sudah menganggap kamu sebagai anaknya walaupun om Tomi salah! Mulai malam ini kita putus, dan aku harap kamu tidak akan menyesal dengan ucapan kamu ini. Karena bagiku pantang menerima masa lalu yang telah memutuskan untuk pergi dari hidupku. Ingat ini keputusanmu dan bukan keputusannku jadi aku tidak akan pernah menyesal telah berpisah darimu," ujar Daniel dengan tajam dan langsung pergi berdiri ingin meninggalkan Naura.


"Tunggu!"


"Apa lagi?"


Naura melepaskan cincin pemberian Daniel. "Aku kembalikan ini!" ujar Naura memberikan cincin cantik itu kembali kepada Daniel.


Daniel terkekeh dengan sinis. Dengan sigap dan marah Daniel langsung melemparkan cincin itu ke sembarangan arah yang membuat Naura terkejut.


"Cincin itu sudah tidak dibutuhkan!" ujar Daniel dengan tajam dan langsung meninggalkan Naura dengan perasaan kecewa, sedih, marah kepada Naura yang ia anggap akan menjadi jodohnya. Namun, siapa sangka jika hubungan mereka akan berakhir seperti ini. Kurang baik apa Daniel dengan Naura? Kenapa Naura bisa setega itu kepadanya? Jika mencintai ternyata sesakit ini maka Daniel tidak akan pernah ingin mencintai.


"Kenapa di buang, Kak?!" gumam Naura dengan lirih.


Setelah memastikan Daniel benar-benar pergi Naura mencoba mencari cincin tersebut. Dengan menangis dan hujan yang mulai datang rintik-rintik Naura terus mencari cincin pemberian Daniel. Sungguh Naura terpaksa melepaskan Daniel karena ia ingin sendiri dulu, Naura belum siap menerima keluarga Al-Ghifari bukan karena Naura tak mencintai Daniel lagi.


Hujan mulai mengguyur kota Jakarta dengan deras tetapi tidak membuat Naura pergi dari taman, ia harus mendapatkan sesuatu yang berharga dari Daniel.


"Hiks..hiks... Cincin pemberian kak Daniel gak boleh hilang!" ujar Naura dengan terus mencari cincin tersebut hingga tubuhnya basah kuyup.


Setelah 30 menit Naura mencari cincin tersebut dan akhirnya ketemu. Gadis itu menangis dengan memeluk cincin tersebut. Tubuh Naura terduduk di rumput dengan menangis.


"Hiks... Maafkan aku, Kak!" ucap Naura tanpa memikirkan tubuhnya yang sudah basah kuyup dan dirinya yang sudah menggigil.


***


"Kak Daniel kenapa? Kenapa pulang-pulang wajahnya seperti itu?" tanya Delisha dengan cemas.


"Gak apa-apa, Dek! Ini sudah malam sebaiknya kamu tidur!" ujar Daniel dengan memaksakan senyumannya.


Delisha seakan mengerti bagaimana perasaan kakak keduanya, ia mencoba mendekati Daniel.


"Kakak lagi marah ya?" tanya Delisha dengan lirih.


"Enggak, Dek! Ayo ke kamar! Yang lainnya sudah pada tidur kenapa kamu masih di sini?" ujar Daniel dengan lembut.


"Delisha tungguin Kakak pulang! Delisha gelisah kalau Kakak belum pulang," ucap Delisha dengan jujur yang membuat Daniel terharu dan langsung memeluk adik kesayangannya.


Lebih baik Daniel berpisah dengan Naura daripada tidak melihat senyuman adiknya lagi. Naura terlalu egois, Daniel tahu apa yang di alami mantan kekasihnya itu berat. Tetapi tidak bisa kah menerima takdir? Dan Daniel sangat-sangat kecewa dengan Naura sekarang.


"Mau tidur sama Kakak malam ini. Boleh ya?" pinta Delisha dengan wajah menggemaskan yang membuat Daniel terkekeh walaupun hatinya sedang terluka karena keputusan Naura.

__ADS_1


"Ya sudah ayo!" ujar Daniel dengan lembut.


Daniel menggendong adiknya menuju kamarnya. Delisha terus menatap wajah tampan sang kakak dengan polosnya.


"Kakak kenapa? Mata Kakak merah! Kakak habis nangis ya? Kakak gak bisa bohongin Delisha," ujar Delisha dengan sendu.


Daniel memeluk adiknya setelah keduanya sampai di kamar dan merebahkan diri di kasur king size milik Daniel.


"Kak ayo jawab jangan diam saja! Delisha sedih nih!" ujar Delisha dengan sendu.


Cup...


Daniel mengecup kening sang adik dengan lembut. "Kakak putus sama Naura!" ujar Daniel mengaku pada akhirnya.


Delisha terkejut. Bagaimana bisa kakak dan sahabatnya putus? Delisha tahu mereka saling mencintai. Tapi kenapa?


"Kakak bercanda sama Delisha ya?" tanya Delisha tak percaya.


Daniel menggelengkan kepalanya. "Ini serius, Dek!" gumam Daniel dengan pelan.


"Kenapa? Alasannya apa?" tanya Delisha dengan lirih.


"Kami sudah tidak cocok. Naura juga sudah tidak mencintai Kakak. Jadi, untuk apa hubungan kami dipertahankan. Kakak ingin mempertahankan tapi kalau Naura tidak mau Kakak bisa apa?" gumam Daniel dengan lirih.


Salah satu alasan Naura memutuskannya karena keluarga Ikbal tak akan Daniel katakan kepada Delisha. Daniel tidak mau hati adiknya terluka dan menyalahkan dirinya sendiri, lebih baik dirinya saja yang sakit dari pada Delisha.


"Kakak yakin?' tanya Delisha dengan pelan.


" Hmmm..."


"Kenapa Delisha gak yakin?" ujar Delisha dengan tercekat.


"Sudah jangan nangis. Masih banyak perempuan di luar sana yang akan menjadi Kakak ipar kamu. Kakak gak apa-apa," ujar Daniel menyembunyikan sakit hatinya.


"Tapi..."


"Sstt... Ini sudah malam ayo kita tidur!" ujar Daniel mengelus punggung Delisha.


Daniel mengambil selimut dan menyelimuti tubuh keduanya. Daniel tersenyum saat sang adik memejamkan matanya di pelukan hangatnya.


"Sayang, kamu lebih berharga dari apapun. Jika melepaskan Naura adalah jalan yang terbaik maka Kakak akan melakukannya asal kamu tetap bahagia!" gumam Daniel mengecup puncak kepala Delisha dengan sayang.

__ADS_1


Memikirkan Naura membuat Daniel hampir tidak bisa tertidur. Bahkan ia terjaga sampai tengah malam, yang ia lakukan hanya menatap wajah Delisha yang tertidur dengan damai di pelukannya karena ketika adiknya sudah menikah nanti Daniel tidak bisa seperti ini lagi dengan adik kesayangannya.


__ADS_2