
...📌 Double up nih. Di tunggu bom kommen dan likenya dari kalian....
...Happy reading...
***
Akbar pulang ke rumah mamanya dengan perasaan yang sangat bahagia karena malam ini ia akan bertunangan dengan Delisha.
"Kamu mau tunangan dan tidak bilang ke Papa, Bal? Walau bagaimana pun Papa ini tetap Papa kamu," ujar Tomi dengan dingin.
Ikbal berdecak dengan kesal. Pasti yang mengatakan kepada papanya tentang pertunangannya adalah sang Mama. Seharusnya lelaki yang berada di depannya ini tak harus tahu karena ia tak ingin malam yang indah akan berantakan karena papanya.
"Kenapa saya harus mengatakannya kepada Papa? Papa tidak hadir pun bukan menjadi masalah buat saya!" ujar Ikbal dengan datar.
"Ikbal, kamu?" Tomi hendak menampar Ikbal tetapi tangannya melayang di udara.
"Kenapa gak jadi? Ayo tampar, Pa? Ikbal gak mau di acara pertunangan Ikbal ada pengkhianat seperti Papa!" ujar Ikbal dengan tajam.
Tomi memejamkan matanya, ia menahan kekecewaan kepada anaknya karena hal sepenting ini Tomi tidak tahu jika dirinya tidak datang ke rumah Claudia.
"Ikbal, jangan seperti itu kepada Papa! Bagaimanapun dia adalah Papa kamu. Mama yang sengaja bilang ke Papa kalau malam ini adalah malam pertunangan kamu dengan Delisha. Papa juga harus datang ke pertunangan kamu," ujar Claudia dengan lembut.
"Ma, kenapa Mama mudah banget luluh sama Papa? Mama lupa tentang pengkhianatan Papa sampai punya anak dari wanita lain? Mama tahu gak? Anak simpanan dia itu sahabat Delisha dan Ikbal gak mau Delisha terkena pengaruh buruk gadis itu," ujar Ikbal dengan tajam.
"Ikbal, Naura tidak tahu apa-apa, Nak!" ujar Claudia dengan pelan berusaha menenangkan anak dan ayah yang sama-sama emosi.
"Terserah!" ujar Ikbal dengan tajam. Ia berlalu pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang menghela napas panjang.
"Kamu belum memberitahu yang sebenarnya, Clau?" tanya Tomi dengan memegang dadanya yang terasa sesak.
"Ikbal selalu menghindar saat aku ingin mengatakan yang sebenarnya, Mas!" sahut Claudia dengan lirih.
"Termasuk kita yang sudah rujuk Ikbal belum tahu?" tanya Tomi menatap dalam mata istrinya yang sangat ia cintai.
Claudia menggelengkan kepalanya. "Aku takut Ikbal mengamuk," ujar Claudia dengan sendu.
"Ya sudah tidak apa-apa. Kalau waktunya sudah tepat kita harus segera memberitahu semuanya," ujar Tomi memeluk istrinya.
"Apa Mas akan mengajak Jesica dan Naura di pertunangan Ikbal?" tanya Claudia dengan pelan.
Tomi menghela napasnya dengan perlahan. "Mas tahu kalian tidak nyaman. Mas tidak akan mengajak mereka, Mas tidak mau Ikbal semakin membenci Mas!" ujar Tomi dengan mengecup kening istrinya dengan lembut.
Tomi menatap dalam ke arah Claudia. Claudia tahu arti tatapan suaminya. Belasan tahun mereka bersama Claudia sangat mengerti Tomi luar dalam.
"Boleh ya?" izin Tomi yang di angguki Claudia dengan pelan.
Mereka sama-sama merindukan sebuah sentuhan. Fakta jika Tomi tidak pernah menyentuh Jesica membuat Claudia tenang, wanita itu hanya pasrah saat Tomi menggendongnya ke arah kamarnya. Ini akan menjadi penyatuan mereka setelah dua tahun berpisah. Dan jika Ikbal tahu apakah lelaki itu tidak akan marah kedua orang tuanya menyembunyikan jika mereka sudah rujuk?
Claudia hanya pasrah saat suaminya melucuti pakaiannya dengan perlahan. Tubuhnya sudah panas dingin dengan sentuhan bibir sang suami.
__ADS_1
"Mas sudah sangat merindukan tubuh ini, Sayang!" ujar Tomi dengan serak.
Claudia pun sama, ia menahan napasnya saat miliknya dan Tomi menyatu. Claudia melenguh dengan pelan saat Tomi bergerak di atasnya.
"Apa Ikbal tidak akan marah kalau kita memberikan dia adik?" tanya Tomi di sela-sela kegiatan yang membuat keringatnya bercucuran.
Claudia tidak bisa menjawab, wanita itu terlalu menikmati apa yang sedang di lakukan suaminya. Claudia sangat bersyukur jika saat ini Tomi kembali kepada dirinya. Rasa kecewa yang dulu pernah ada kini mulai tertutup dengan rasa rindunya setelah Tomi dan Jesica menjelaskan semuanya kepada dirinya.
****
Ikbal merasa ada yang aneh dengan kedua orang tuanya. Papa dan mamanya sangat terasa dekat seperti dulu, bahkan mamanya tidak marah saat sang papa menggenggam tangan wanita yang telah melahirkan dirinya tersebut. Tak mau ambil pusing dan mengacaukan acaranya, Ikbal diam saja saat papanya ikut di acara pertunangannya malam ini.
"Kamu serius mau menikah muda, Bal?" tanya Tomi berusaha mengakrabkan diri dengan anaknya.
"Hmmm..." Ikbal hanya berdehem untuk menjawab pertanyaan papanya, ia terlalu malas untuk menjelaskan dengan detail kepada lelaki yang sudah membuat luka di hatinya. Keduanya sudah sangat terasa asing bagi Ikbal.
"Kamu tahu Papa dan mama adalah anak tunggal di keluarga papa dan mama. Dan kamu juga anak tunggal, Papa harap setelah kamu menikah maka kamu yang akan memegang perusahaan papa dan mama sepenuhnya," ujar Tomi yang membuat Ikbal berdecak kesal.
"Saya hanya akan memegang perusahaan kakek dari mama! Berikan aja perusahaan papa kepada Naura!" ujar Ikbal dengan dingin.
"Bal, kamu pewaris yang sah. Jadi, Papa akan tetap berikan semuanya ke kamu," ujar Tomi dengan penuh harap.
"Cih, terus anak dan istri anda mau ditelantarkan begitu?" tanya Ikbal dengan sinis.
"Bukan begitu, Bal. Kamu akan mengerti setelah papa dan mama menjelaskan semuanya. Setelah kalian menikah tolong jangan menghindar lagi jika papa maupun mama menjelaskan semuanya. Intinya selama ini kamu salah paham," ujar Tomi berusaha sabar karena ia sudah berjanji dengan Claudia saat mereka kembali bersama agar tak terpancing emosi Ikbal yang masih sangat menggebu kepada dirinya.
Ikbal hanya diam, ia tidak mempedulikan kehadiran papanya. Di dalam hatinya ia sudah tidak sabar ingin sampai di rumah kedua orang tua Delisha dan melihat Delisha memakai gaun pemberiannya tadi. Ikbal memainkan cincin pertunangan yang ia beli dengan senyum manisnya, rasanya sangat membahagiakan ketika bisa menjadikan Delisha miliknya.
Sambutan dari keluarga Ikbal terjadi cukup hangat, apalagi melihat semua keluarga Mahendra berkumpul dan keluarga dari Fiona juga hadir walau hanya Fathan, Tri dan ke empat anaknya karena memang mereka tak banyak mempunyai saudara berbeda dengan Akbar yang memang dari keluarga besar.
"Selamat datang calon besan!" ujar Fiona dengan ramah.
"Terima kasih, Mbak!" ujar Claudia dengan tersenyum lalu mereka saling berpelukan dengan singkat.
"Pak Akbar!" ujar Tomi dengan kaget saat melihat Akbar lah yang ternyata akan menjadi besannya.
"Pak Tomi. Ternyata dunia ini sempit sekali. Silahkan masuk," ujar Akbar dengan ramah menyambut anak dari rekan kerjanya dulu.
Tomi mengangguk dengan tersenyum. Ia masih tak menyangka jika anaknya akan menikah dengan anak Akbar. Semua orang sudah berkumpul di ruang yang memang sudah di hias untuk acara pertunangan Delisha dengan Ikbal malam ini. Ikbal mencari keberadaan Delisha yang tak kunjung datang.
"Sabar, Bal. Adek gue masih dandan!" bisik Danish di telinga Ikbal yang membuat Ikbal mengangguk.
Semua keluarga berbincang dengan santai sampai waktunya tiba Delisha datang dengan di temani Naura. Ikbal ingin sekali melarang Naura di dekat calon istrinya tetapi ia tidak ingin mengacaukan acara bahagianya. Sedangkan Tomi dan Claudia terkejut saat melihat ada Naura yang berada di samping Delisha.
Malam ini Delisha sangat terlihat cantik sekali bahkan Ikbal sampai tak berkedip melihat kekasihnya. Ikbal menghampiri Delisha dengan langkah perlahan.
"Cantik sekali!" gumam Ikbal yang membuat Delisha tersipu.
"Delisha harus terlihat cantik karena hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan untuk kita," ujar Delisha yang membuat Ikbal tersenyum.
__ADS_1
Ikbal mengulurkan tangannya agar disambut oleh Delisha. Delisha menerima uluran dengan senang hati, Ikbal mengecup tangan Delisha dengan lembut yang membuat Delisha salah tingkah sendiri.
Acara pertunangan Delisha dan Ikbal sudah di mulai. Kata sambutan Akbar berikan di hadapan keluarganya dan keluarga Ikbal. Semua ucapan Akbar sangat menyentuh hati semua orang bahkan para wanita sampai meneteskan air matanya. Begitu pun dengan Ikbal dan juga Akbar kedua pria yang sangat berarti di dalam hidup Delisha itu sama-sama meneteskan air matanya saat Akbar meminta doa ke seluruh tamu yang hadir untuk kesembuhan sang anak.
"Sekarang waktu yang di tunggu-tunggu. Ikbal dan Delisha akkan saling bertukar cincin," ujar Akbar dengan tersenyum yang membuat suasana kembali bahagia dan meriah.
prokk....prok..
Ikbal mulai memasangkan cincin di jari Delisha setelah selesai Delisha juga memasangkan cincin di jari Ikbal. Keduanya tersenyum bahagia dan tepuk tangan meriah kembali terdengar.
Cup...
"Terima kasih telah memilihku, Sayang!" gumam Ikbal setelah mengecup kening Delisha dii hadapan semua orang.
"Seharusnya Delisha yang berterima kasih kepada Mas pacar karena mau menerima Delisha yang penyakitan," gumam Delisha dengan pelan.
"Kamu sempurna! Jangan pernah ngomong gitu lagi!" ujar Ikbal dengan tersenyum.
"Sekarang mari kita berdansa bersama!" ujar Danish dengan bahagia.
"Baiklah!" ujar semua orang menyambut ucapan Danish dengan suka cita.
Ikbal berdansa dengan Delisha setelah musik dansa berbunyi. Semua orang dengan pasangannya masing-masing walau di antara yang lainnya belum memiliki pasangan tetapi mereka memilih berdansa dengan para sepupu mereka.
Delisha menyandarkan kepalanya di dada Ikbal dengan perlahan. "Uhukk..uhukk..."
"Kenapa, Sayang?" tanya Ikbal dengan cemas.
"Pusing!" gumam Delisha yang membuat semua orang khawatir.
"kita istirahat ya!" ujar Ikbal dengan cemas. "Batuk kamu sakit banget pasti ya!" ujar Ikbal dengan cemas.
"Ambil obat Delisha cepat!!" ujar Akbar dengan cemas melihat wajah anaknya yang mulai pucat.
Daniel berlari ke arah kamar Delisha tetapi sebelum lelaki itu sampai Delisha sudah sesak napas duluan.
Delisha memegang dadanya yang terasa sesak. "M-mas pacar! D-delisha gak kuat!" bisik Delisha dengan lirih.
Brukkk....
"DELISHA!!"
Semua orang panik saat melihat Delisha tiba-tiba tak sadarkan diri.
"SAYANG BANGUN!!"teriak Ikbal dengan takut bahkan sangking takutnya tangan Ikbal sampai gemetar. Bagaimana dirinya kehilangan Erina dulu kini kembali berputar di kepalanya.
Tidak!!
Ikbal tidak akan kehilangan Delisha!
__ADS_1
Tidak akan!!