
...Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
***
Fathan menatap Akbar dan Fiona dengan heran pasalnya kedua pasangan suami istri itu tadinya memakai mobil yang sangat mewah namun sekarang ketika sampai di rumah sakit hanya menggunakan vespa tua berwarna kuning. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa mobil mewah Akbar mogok? Rasanya tidak mungkin karena Akbar selalu memeriksa mesin mobilnya saat akan digunakan. Lalu kemana mobil mewah Akbar?
"Kak keren kan vespa Fio?" tanya Fiona dengan sumringah saat ia sudah turun dari motor.
"Keren? Yang benar saja!" ujar Fathan merasa aneh dengan adiknya. Dengan gerakan mata Fathan menatap Akbar meminta penjelasan.
Akbar yang mengerti langsung melepas helm yang baru saja ia beli dan juga melepaskan helm istrinya membuat suasana menjadi sangat romantis untuk keduanya tetapi tidak untuk Fathan yang menatap keduanya dengan sinis.
"Di jalan tadi Fio tiba-tiba merengek meminta naik vespa tua milik seorang bapak-bapak. Alhasil dari pada saya cuma meminjamkannya lebih baik saya beli," ujar Akbar dengan entengnya. Mobil miliknya sudah di bawa oleh orang kantornya dan membawanya pulang ke rumah.
"Beli?" ulang Fathan yang diangguki oleh Fiona dengan sangat cepat.
"80 juta, kak. Tapi Mas Suami kasih 85 juta! 5 juta untuk bonus bapak si pemilik vespa karena udah buat Fio bahagia bisa punya vespa cantik ini," ujar Fiona dengan menggebu-gebu.
Fathan ternganga. "85 juta hanya untuk vespa tua ini? Astaga Fiona kamu gak kasihan sama suami kamu? Gak takut uang suami kamu habis?" ujar Fathan tak percaya.
__ADS_1
"Bagi saya uang tak ada apa-apanya dibandingkan kebahagiaan Fiona. Jangan memikirkan nilainya menurut saya itu masih sangat kecil," ujar Akbar yang terdengar sombong di telinga Fathan.
Pria tua ini ternyata sangat bucin kepada adiknya, beruntung sekali Fiona sangat dicintai oleh lelaki seperti Akbar. Tenyata Fiona tidak salah memilih suami yang bisa menerima kekurangan adiknya selama ini.
"Mas suami aja gak marah masa Kak Fathan marah sih. Uang segitu kecil bagi mas suami tahu!" ujar Fiona dengan memeluk lengan Akbar dengan erat.
Fathan hanya bisa menghela napasnya. "Kecil gundulmu!" gumam Fathan dengan pelan.
"Ayo ke ruangan Kakak!" ucap Fathan dengan tegas lebih baik ia mengajak keduanya langsung melakukan pemeriksaan dari pada melihat kebucinan keduanya yang sudah di batas wajar menurutnya.
****
Fiona berbaring sesuai intruksi Fathan dengan dibantu suster Pipit.
"ini gel Kak biar memudahkan untuk melakukan USG," ucap suster Pipit dengan sabar.
"Oo begitu ya. Sus, Fio mau tiga bayi kecebong hidup di perut Fio ya. Kak Fathan dua bayi kecebongnya sudah keluar dan sangat menggemaskan. Bisa kan suster buat tiga kecebong hidup di perut Fio? Soalnya Fio gak boleh culik Nevan sama Nessa," tanya Fiona dengan mengerjapkan kedua matanya dengan lucu yang membuat Akbar di sampingnya menjadi sangat gemas.
Bisa tidak sih istrinya jangan menggemaskan seperti ini jika sedang di luar rumah? Kan Akbar jadi pengin ngurung Fiona di kamar.
Suster Pipi hanya bisa menggaruk pipinya yang sama sekali tidak gatal. Bagaimana bisa ia menghadirkan ketiga bayi cebong di dalam perut Fiona. Ia harus menjawab apa pada pasiennya kali ini?
__ADS_1
"Jangan buat suster pipit mati jantungan dalam usia yang masih sangat muda Fio! Kalau masalah mau mempunyai anak kembar itu minta sama suami kamu, bisa tidak dia buat kamu hamil 3 bayi sekaligus," ujar Fathan yang membuat Akbar melotot kesal, mentang-mentang sudah mempunyai anak kembar Fathan ngomong seenaknya saja. Jika program bayi tabung ini berhasil Akbar berharap ada 3 bayi atau lebiih yang ada di perut istrinya agar Fathan tidak bisa sombong lagi kepadanya.
"Kenapa Fio yang diperiksa bukan saya? Di sini saya yang punya masalah kesuburan," ucap Akbar mengalihkan topik agar istrinya tak lagi berbicara yang membuat dia, Fathan, dan suster Pipit serangan jantung mendadak.
"Saya harus memastikan sesuatu terlebih dahulu. Nanti jika dugaan saya salah maka saya langsung memeriksa kamu," ucap Fathan dengan tegas. Sebagai dokter kandungan, Fathan sudah sangat berpengalaman akan hal ini.
"Dugaan? Dugaan apa? Fio tidak mempunyai penyakit yang berbahaya, kan?" tanya Akbar memastikan kesehatan istri tercintanya.
"Penyakit? Fio gak sakit! Fio gak mau di suntik!" ujar Fio dengan wajah yang tiba-tiba saja pucat karena membayangkan jarum suntik akan menusuknya.
"Kamu gak sakit! Sekarang kamu diam biar Kakak periksa dulu!" ucap Fathan dengan kesal.
Fiona menahan napasnya saat Fathan mengarahkan alat USG di perutnya sedangkan Akbar hanya memperhatikan Fathan karena ia sama sekali tak mengerti dengan apa yang Fathan lakukan. Akbar hanya mengerti bagaimana cara merancang bangunan agar terlihat indah dan kokoh seperti yang sedang Akbar bangun saat ini untuk Fiona tanpa sepengetahuan wanita itu.
Fathan membulatkan kedua matanya dengan sempurna. Ia masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat hingga melakukan pemeriksaan berulang-ulang.
"I-ini tidak mungkin!" ucap Fathan dengan terbata yang didengar oleh Akbar dan pastinya membuat lelaki itu cemas.
"A-da apa? A-apa yang terjadi dengan Fio? I-istri saya tidak sakit, kan?" tanya Akbar dengan tercekat, ia tidak sanggup jika harus kehilangan Fiona.
"Fio kenapa sih? Perut Fio ada cacing besarnya ya Kak sampai Kakak melotot gitu?" tanya Fiona merasa tidak nyaman dengan tatapan kakaknya.
__ADS_1
"T-tiga bayi kecebong itu ada di rahim Fio sekarang!"
"A-APA?"