
...Jangan lupa ramaikan part ini ya!!...
...Happy reading...
***
Ikbal membuka matanya dengan perlahan, ia tersenyum ketika melihat gadis yang ia cintai tertidur dengan nyaman di pelukannya bahkan sepanjang malam Ikbal enggan untuk melepaskan pelukannya di perut Delisha. Bahkan, Ikbal rela tertidur sebentar saja hanya untuk memandang wajah Delisha yang amat sangat cantik baginya.
"Kamu tahu gak, Lisha? Kamu adalah semangat hidup Kakak sampai saat ini setelah kehilangan Erina dan sosok orang tua. Orang tua kakak masih ada tapi kebahagiaannya yang tak pernah datang lagi," gumam Ikbal mengelus pipi Delisha dengan pelan.
Cup....
"Rasanya Kakak tidak ingin berbagi dengan siapa pun terutama Zayyen! Mungkin diawal dialah pemenangnya tapi diakhir nanti Kakak pastikan Kakak lah pemenangnya. Ini hanya soal waktu dan perasaan yang kapan saja bisa berubah!" ujar Ikbal dengan pelan.
Setelah puas menciumi seluruh wajah Delisha, Ikbal turun dari ranjang. "Rasanya kayak malam pertama, bedanya belum gol aja!" kekeh Ikbal yang merasa lucu dengan ucapannya sendiri. Beruang kutub itu terlihat mencair bahkan sangat cair sekarang.
Dengan senang Ikbal keluar dari kamar Delisha, sebelum keluar Ikbal sudah memastikan jika tidur Delisha masih nyenyak. Saat membuka pintu Ikbal dikejutkan dengan kehadiran Danish yang tiba-tiba aja ada di depannya.
"Ngapain lo?" tanya Ikbal dengan datar.
"Seharusnya gue yang tanya sama lo! Ngapain lo di kamar adek gue? Gak macam-macam, kan? Bisa di sunat dua kali lo sama bokap gue!" ujar Danish dengan datar.
"Ya enggaklah! Ya kali cewek yang gue sayang gue rusak!" ungkap Ikbal yang mulai bisa jujur dengan Danish.
Danish menyeringai menatap Ikbal dengan senyuman mengejek. "Yakin banget lo Delisha bakal suka lo balik?" tanya Danish dengan terkekeh.
"Yakin!" ujar Ikbal dengan tegas.
"Yakin banget?"
"Hmmm... Lo mau bukti? Gue bisa kasih keponakan kalau lo mau!" ujar Ikbal dengan menyeringai.
Bukk..
"Brengsek lo!" ujar Danish dengan kesal san memukul lengan Ikbal dengan kuat.
Ikbal kembali mengejek ke arah Danish yang membuat kakak pertama Delisha itu mendengkus kesal. Niat hati ingin membuat Ikbal kesal malah sekarang dirinya yang kesal.
"Ngapain sih Kak Danish sama Kak Ikbal di depan kamar Delisha? Delisha kan jadi gak bisa tidur lagi!" ujar Delisha dengan membawa boneka kucing kesayangannya dengan baju tidur bermotit kucing dan rambut yang berantakan menemui dua pangeran tampan yang terbengong melihat penampilan Delisha.
"Dek habis kena hujan badai dimana?" tanya Danish menatap penampilan adiknya yang sangat acak-acakan.
"Hujan badai?" tanya Delisha dengan bingung. Lalu ia menatap dirinya sendiri, kancing piyama yang terbuka, rambut yang sangat berantakan, sungguh sangat memalukan. Apa Ikbal melihat dadanya ya semalam? Kalau iya mau ditaruh dimana mukanya?
"Ihhh jangan lihat dada Delisha!" ujar Delisha menutupi dadanya dan cepat-cepat mengancingkan kembali piyamanya.
"Gak n*fsu!" ujar Danish dengan tegas tetapi berbeda dengan Ikbal yang sudah memerah wajahnya.
Ikbal menggelengkan kepalanya menghalau pikiran kotornya agar segera pergi dari otaknya. "Shittt...Sabar Ikbal!" ujar Ikbal di dalam hati dengan menghela napasnya dengan perlahan.
__ADS_1
"Dek masuk kamar dan mandi ya! Kita akan menjenguk kak Cika!" ujar Danish yang membuat Delisha terdiam karena ia mengingat kembali tentang Zayyen yang memainkan hatinya.
"Iya Kak!" ujar Delisha dengan lesu.
Delisha masuk ke dalam kamarnya kembali. Kini, giliran Ikbal dan Danish yang masih berada di sana.
"Gie pinjam baju lo sekalian numpang mandi!" ujar Ikbal saat Danish hendak bersuara.
"Lama-lama lo kayak orang kaya yang baru jatuh miskin!" ujar Danish yang direspon masa bodo oleh Ikbal.
"Menyebalkan!" umpat Danish dengan kesal melihat sahabatnya langsung memasuki kamarnya begitu saja.
Sebenarnya mereka sama saja. Jika Danish dan yang lainnya menginap di rumah Ikbal, mereka akan melakukan hal yang sama dan anggap saja ini adalah pembalasan dendam Ikbal kepada sahabatnya.
****
Zayyen menatap pintu kamar rawatnya dengan pandangan kosong. Rasanya ia selalu gagal membuat kedua orang tuanya bahagia, bahkan akibat kesalahannya, hubungan saudara antar dirinya dan Zayden menjadi sangat renggang. Zayyen juga merasa bersalah saat mengetahui jika Zayden dirawat di rumah sakit jiwa, ia tahu jika Zayden harus mendapatkan pengobatan tetapi sakit rasanya melihat kembarannya jadi seperti ini.
"Kak makan dulu ya?!" ujar Zevana yang sejak tadi merayu agar kakaknya mau makan.
Tak ada respon dari Zayyen yang membuat Zevana menghela napasnya dengan pelan. Entah apa yang sedang kakaknya pikirkan dan itu sangat membuat Zevana khawatir.
"Keadaan Cika gimana?" tanya Zayyen dengan pelan.
"Kak..."
"Maaf!!!"
"H-hai..." ujar Delisha dengan canggung.
"Hai... Delisha! Ayo ke sini!" ujar Zevana dengan ramah tetapi tidak dengan Zayyen yang hanya diam saja.
Delisha menganggukkan kepalanya, ia mulai mendekat ke arah Zayyen. Ada rasa sesak di hatinya ketika melihat keadaan Zayyen sekarang yang sudah di penuhi lebam akibat pukulan Zayden semalam.
"Kenapa lo ke sini?" tanya Zayyen dengan datar.
Delisha menatap Zayyen dengan dalam. "Ini ada buah untuk Kakak, di makan ya!!" ujar Delisha tanpa membalas pertanyaan Zayyen.
"Jawab pertanyaan gue!" ujar Zayyen dengan tajam.
Delisha menutup matanya. "D-delisha sebenarnya mencoba tidak percaya dengan kejadian semalam. Delisha ingin mendengarnya langsung dari Kakak!" ujar Delisha dengan menghembuskan napasnya dengan perlahan.
"Lo mau dengar yang mana?" tanya Zayyen dengan tajam.
"Yang kakak hanya jadiin Delisha pelam.."
"Iya semua itu benar! Sejak awal gue nerima lo karena gue mau lupain rasa gue buat Cika! Tapi sampai sekarang gue gak bisa!!" ujar Zayyen dengan dingin.
"Lo mau apa sekarang?" tanya Zayyen dengan datar saat melihat senyuman Delisha yang mengandung kepedihan di matanya.
__ADS_1
"Gak ada harapan buat Delisha merebut cinta Kakak ya?" tanya Delisha menahan sesak di dadanya.
Zevana yang melihat itu ingin menampar wajah kakaknya. Zevana melihat jika kakaknya mulai menyukai Delisha tetapi mengapa kakaknya belum sadar juga? Zevana gak mau kakaknya menyesal di kemudian hari.
"Gak ada! Lo udah tahu semuanya sekarang, kan?" tanya Zayyen dengan tajam.
Delisha mengangguk dengan tersenyum dan mata yang berkaca-kaca. "Delisha akan pergi! Ayo kita putus! Ini terakhir kalinya Delisha memohon cinta Kakak! Delisha gak akan pernah melihat ke belakang lagi! Delisha tidak akan melihat tempat yang sama di mana kakak berada! Ini titik terakhir perjuangan Delisha! Delisha gak akan menyesal pernah menjadi pacar kakak! Terima kasih untuk beberapa bulannya! Selamat tinggal!!!" ujar Delisha tersenyum dibarengi dengan air mata yang jatuh membasahi pipinya.
"Delisha, jangan putus! Kalian bisa bicarakan semua ini dengan baik-baik! Jangan putus ya!" ujar Zevana dengan memohon.
Delisha menggelengkan kepalanya. "Untuk apa Delisha menggenggam pasir dengan erat, Kak? Kalau pasir itu saja akan hilang dari genggaman Delisha! Permisi!" ujar Delisha dengan pelan.
Zayyen hanya diam enggan menatap Delisha. Delisha tak bersalah! Dia yang bersalah di sini dan Zayyen tak ingin Delisha semakin terluka karena dirinya. Lebih baik putus, kan?
"Akhhhhh..."
"Delisha!!" panik Zevana saat Delisha memegang dada dan meringis kesakitan.
Zayyen ingin turun dari brankar melihat wajah Delisha yang pucat tapi Delisha menahan dengan tangannya.
"Aku gak apa-apa! Stop perhatian! A-aku permisi!!" ujar Delisha dengan menahan sakit di dadanya.
Zevana sangat cemas dengan keadaan Delisha tetapi gadis itu menolak untuk ia temani.
"Kakak jahat banget sih!!! Gadis sebaik dia Kakak lepaskan?" ujar Zevana dengan kecewa.
"Kakak gak pantas buat gadis sebaik Delisha!" sahut Zayyen dengan pelan.
"Iya Kakak memang tidak pantas untuk Delisha! Semoga Kakak tidak menyesal jika ada lelaki lain yang mampu membahagiakan dia!" ujar Zevana dengan kesal yang mampu membungkam mulut Zayyen.
***
Delisha berjalan dengan tertatih keluar dari ruangan Zayyen. Sesak napasnya membuat Delisha kesulitan bernapas, tetapi gadis itu berusaha untuk kuat walau tubuhnya tak kuat untuk berjalan lagi. Delisha jatuh tersungkur di lantai yang membuat semua orang terkejut karena tiba-tiba Delisha menangis dengan kencang.
Kisahnya dengan Zayyen telah usai tetapi kenapa sangat menyesakkan sekali?
"Arrgghhhh....."
"DELISHA!" teriak Daniel dengan cemas saat melihat keadaan adiknya yang sudah berantakan.
Daniel berlari dengan cepat menghampiri adiknya dan memeluk Delisha dengan sangat erat.
"Hiksss...hiksss..."
"Dek, tenang ya!" ujar Daniel dengan cemas.
"Delisha gak mau ketemu kak Zayyen lagi! Delisha akan hapus rasa ini! Delisha benci kak Zayyen!" racau Delisha di pelukan kakaknya sebelum Delisha pingsan di dekapan Daniel.
"Delisha! Dek! Hei, jangan buat khawatir!" ujar Daniel menepuk pipi Delisha dengan perlahan. Tubuh Delisha mulai membiru yang membuat Daniel bertambah panik.
__ADS_1
"Brengsek lo Zayyen!!! Gue pastiin lo gak akan bisa bertemu lagi dengan Delisha sekali pun lo memohon!!!"