
📌Jangan lupa ramaikan part ini ya.
📌Ramaikan juga novel 'Suami Bayaran Nona Rania' karena sudah up juga. Beri dukungan di novel terbaru author ya! Jangan lupa mampir!
Happy reading
****
Naura merebahkan tubuhnya di kasur sempit miliknya yang sudah tidak lagi empuk. Tetapi Naura bersyukur karena masih mempunyai tempat tinggal setelah rumah yang dulu di jual oleh mamanya.
Naura bahkan berjuang sendiri untuk lulus dari kuliah, untung saja kampus di mana tempat ia kuliah banyak beasiswa yang bisa Naura ikuti. Dan Naura lulus beasiswa sehingga ia terbebas dari SPP.
"Lapar!" gumam Naura memegang perutnya.
Naura bangun dari tidurnya dan keluar dari kamar menuju dapur untuk mencari makanan yang bisa untuk ia makan. Sesampainya dii dapur Naura harus menelan kekecewaannya karena tak ada satupun makanan yang bisa ia masak, Naura lupa jika tadi pagi adalah mie terakhirnya. Naura berjalan ke arah kamarnya kembali untuk mencari uang yang mungkin tersisa di tasnya, ia membuka tas miliknya.
"10 ribu!" gumam Naura dengan miris."Beli mie instan lagi saja apa ya biar besok uangnya bisa untuk naik bus," ujar Naura dengan penuh pertimbangan.
"Apa aku telepon mama saja ya?! Siapa tahu mama mau mengirimkan uang walau gak banyak," monolog Naura.
Akhirnya Naura mengambil ponselnya dan mencari kontak mamanya yang sudah lama takk ia hubungi karena selain sibuk Naura tahu mamanya jarang mengangkat teleponnya, mungkin mamanya sudah bahagia dengan keluarga barunya.
Telepon tersambung tetapi Naura lumayan lama menunggu hingga telepon itu diangkat oleh Jesica, mama dari Naura.
[Halo, Ma!] sapa Naura dengan mata berkaca-kaca karena ia merasa bahagia ketika mamanya mengangkat teleponnya.
[Ada apa Naura? Mama sibuk!]
[Boleh gak Naura minta uang 200 ribu saja, Ma. Naura gak ada uang]
[Mama gak ada pegang uang Naura]
__ADS_1
[Tapi kan, Ma. Papa orang kaya Mama pasti ada dikasih uang dengan Papa. Kalau gak boleh minta Naura pinjam ya, Ma! Naura janji setelah gajian uangnya Naura kembalikan. ***...]
[Maaf Naura. Mama sibuk! Jangan telepon Mama lagi, kamu pinjam saja uang dengan teman kamu]
[Ma...]
Tut...
Naura meneteskan air matanya saat teleponnya di matikan sepihak oleh mamanya. Bahkan untuk memberikan uang sebesar 200 ribu saja mamanya tak bisa, mungkin bukan tidak bisa tetapi memang tidak mau memberikan uang kepada Naura. Naura meringkuk di kasurnya dengan perasaan hampa.
"Ma, Naura takut! Kenapa Mama lebih sayang dengan anak tiri mama dibandingkan Naura yang anak kandung mama? Apa karena mereka orang kaya mama tega menelantarkan Naura? Atau ini karma dari perbuatan mama dan papa Tomi dulu karena membuat kak Ikbal menderita? Tapi kenapa harus Naura yang menanggungnya? Naura takut, Ma! Naura gak punya siapa-siapa lagi. Apa Naura pantas memperjuangkan kak Daniel sekarang?" monolog Naura dengan perasaan sendunya.
Air mata Naura terus menetes membasahi seprei miliknya. Rasa laparnya hilang begitu saja karena rasa sakit yang mamanya berikan kepada dirinya.
Naura terus menangis hingga ia lupa jika ada pekerjaan di kantor tadi belum ia selesaikan. Saat ingin memejamkan mata Naura tersentak karena ia teringat pekerjaan yang Daniel berikan kepadanya.
Tak mau membuat Daniel marah kepadanya Naura bangun dan mulai mengerjakan pekerjaannya walaupun pikirannya kalut Naura harus menyelesaikannya malam ini.
"Duh!" Naura mengadu karena perutnya terasa sakit.
****
Daniel masih memandang rumah Naura. Sudah sejam lamanya Daniel berada di dalam mobil dengan memandang rumah Naura. Berulang kali Daniel menghela napasnya, rasanya ia ingin masuk ke rumah Naura dan memastikan jika gadis itu baik-baik saja. Tetapi itu tidak mungkin ia lakukan karena hubungan mereka sudah berakhir 5 tahun lalu karena Naura lah yang memutuskan hubungan mereka.
Setelah berperang dengan hatinya akhirnya Daniel memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Tetapi entah mengapa Daniel merasa gelisah karena meninggalkan Naura di rumah itu. Apakah Naura baik-baik saja? Apakah di dalam rumah itu Naura merasa nyaman? Apakah Naura tidak sendirian? Banyak sekali pertanyaan yang berada di benak Daniel hanya karena Naura dan itu membuat Daniel semakin tidak tenang.
Setelah menempuh perjalanan yang sedikit memakan waktu akhirnya Daniel sampai di rumah kedua orang tuanya. Daniel menghela napasnya dengan pelan saat melihat Danish sedang membucin kepada Keisya.
"Gak tahu tempat lo!" ujar Daniel dengan kesal.
Mentang-mentang kembarannya itu sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah mereka selalu menebarkan keromantisan di rumah ini.
"Iri bilang bos!" ujar Danish yang masih tidur dengan berbantalan paha Keisya. Dan tantu saja Keisya merasa malu karena kepergok dengan Daniel kembaran calon suaminya.
__ADS_1
"Mas bangun malu sama kak Daniel!" gumam Keisya dengan pelan.
"Biarin saja, Sayang. Dia iri!" ujar Danish yang membuat Daniel mendangkus kesal.
"Mami sama Papi mana?" tanya Daniel dengan mencari keberadaan kedua orang tuanya yang tidak kelihatan.
"Di rumah Delisha," ucap Danish dengan cuek karena ia sibuk dengan Keisya.
"Pantas saja! Jangan buat keponakan buat gue dulu!" ujar Daniel melempar bantal sofa ke arah kembarannya lalu ia berlari ke arah kamar.
"Yak jomblo iri!" teriak Danish dengan kesal.
"Gue gak iri!" teriak Daniel dengan mengejek kembarannya.
"Mas!!" tegur Keisya yang membuat Danish akhirnya diam.
Keisya tak menyangka jika Danish yang awalnya sangat dingin berubah manja seperti ini kepadanya, ada kesempatan untuk berdua maka Danish berubah bak seperti bayi. Dan dengan sabar Keisya memahami sifat Danish yang berubah, tetapi Keisya bahagia karena Danish menjadi hangat kepada dirinya.
Daniel merebahkan dirinya di kasur dengan menghela napasnya berat. "Naura, apa benar itu rumah kamu? Tapi rasanya tidak mungkin," gumam Daniel dengan lirih.
"Dari wajah kamu tadi seperti banyak yang ingin kamu ceritakan. Tapi kamu mencoba menahannya. Apa benar begitu Naura?" gumam Daniel dengan lirih.
"Aahhh...Kenapa rasanya aku tidak tega dengan Naura? Padahal dia sudah menyakiti hatiku dengan sangat dalam," ujar Daniel dengan kesal.
"Ayo Daniel jangan menjadi lemah karena Naura! Ingat dia adalah gadis yang telah menyakiti hati kamu! Kamu harus memberikan pelajaran kepada Naura! Kamu bisa memanfaatkan dia dalam pekerjaan," ujar Daniel dengan tegas.
"Argghh... Naura kenapa kamu selalu membuat aku tidak tenang seperti ini. Kamu yang menyakiti aku seharusnya aku benci sama kamu tapi kenapa setiap melihat wajah kamu aku tidak tega?" teriak Daniel dengan kesal.
"Arggh... Naura!" teriak Daniel dengan kesal.
Untuk menjernihkan pikirannya Daniel masuk ke dalam kamar mandi dan mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin.
Daniel mengusap wajahnya yang terkena air dingin dengan perlahan. Bayangan wajah Naura saat di kantor tadi membuat jantung Daniel berdetak dengan sangat kencang. Ya, Naura selalu cantik tetapi Naura terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Ada apa dengan Naura? Apa yang sebenarnya terjadi?
__ADS_1
Setelah selesai mandi Daniel memakai handuknya. "Kenapa bayangan kamu tidak pergi-pergi sih? Aku mau istirahat Naura! Jangan buat aku marah!" ujar Daniel dengan kesal.