
...Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
***
Cika sudah bekerja di kantor Zayden karena itulah impiannya sejak dulu. Tetapi hari-harinya sangat hampa karena tidak ada Zayden di sampingnya, ia akan bekerja dan pulang tepat waktu tanpa bergairah bahkan senyum pun Cika merasa berat.
"Cika!" panggil seseorang yang membuat Cika sedikit terkejut.
Sejak tadi Cika melamun padahal laptopnya menyala. "Zayyen, ada apa? Kamu udah dapat kabar dari papa dan mama tentang Zayden?" tanya Cika dengan penuh harap.
Zayyen tampak iba melihat Cika yang sangat berharap mendapatkan kabar tentang Zayden. Namun, semenjak kecelakaan itu kedua orang tuanya sudah jarang mengabari Cika karena tak ingin gadis itu bertambah kepikiran.
"Sudah. Zayden baik-baik saja! Mama tidak bisa mengabari kamu karena mereka sibuk mengurus Zayden di sana!" sahut Zayyen dengan pelan.
"Zayyen, apakah aku bisa berbicara dengan tante Tiara! Please...aku hanya ingin mendengar kabar Zayden secara langsung. Walau kamu mengatakan Zayden baik-baik saja di sana tetap saja hatiku merasa tak tenang," ujar Cika dengan penuh harap.
Zayyen merasa kasihan tapi ia tidak bisa melakukan itu. Walaupun dirinya mencintai Cika dan bisa saja merebut Cika dari kembarannya tetapi Zayyen tak akan melakukan itu karena ia sadar cinta tak harus memiliki. Bahkan, akhir-akhir ini entah mengapa ia sangat merindukan kecerewetan Delisha yang biasanya mengerecoki hidupanya. Ini sangat aneh sekali bukan? Padahal dirinya tak menyukai Delisha.
"Maaf untuk sekarang aku tidak bisa karena aku harus ke kampus sebentar lagi adalah hari kelulusanku menjadi dokter," ujar Zayyen menolak dengan halus yang membuat wajah Cika menjadi amat sangat sendu.
"Oo gitu ya? Lain kali saja kalau begitu," gumam Cika dengan murung.
"Kamu tenang saja aku akan mengatakan ini kepada mama biar mama yang menghubungi kamu ya! Kali ini aku benar-benar sangat sibuk," gumam Zayyen berusaha tersenyum.
"Iya tidak apa-apa. Oo iya kamu datang ke kantor ngapain?" tanya Cika dengan heran.
"Ada urusan dengan wakil direktur di perusahaan. Apalagi Zayden belum tahu kapan akan kembali, jadi perusahaan ini akan dipegang oleh wakil direktur untuk sementara waktu karena aku juga tidak ingin bekerja di sini. Aku lebih berminat menjadi dokter," ujar Zayyen dengan jujur. Walaupun ia bisa bekerja menggantikan kembarannya tetapi Zayyen tak ingin di pusingkan dengan tugas kantor yang sangat banyak.
"Oo oke..." ujar Cika dengan singkat karena dirinya pun sedikit menjauhi Zayyen. Entah mengapa di saat kepergian Zayden, Cika tak ingin ada yang mendekatinya termasuk Zayyen yang mengaku mencintainya.
"Aku permisi!" ujar Zayyen dengan tersenyum yang hanya diangguki oleh Cika.
Setelah kepergian Zayyen, Cika menelungkupkan wajahnya di sela-sela lengannya, hidupnya amat terasa berat sekarang.
"Apa aku susul saja Zayden ke Jerman ya? Rindu ini sangat menyiksa," ujar Cika dengan frustasi.
__ADS_1
Cika memang akan menjadi sekretaris Zayden. Zayden sendiri yang sudah merekrut kekasihnya tetapi rasanya Cika sangat malas dan tidak ingin menjadi sekretaris sekarang karena Zayden pun tidak ada di dekatnya.
Isak tangis Cika kembali terdengar menyayat hati siapa pun yang mendengarnya. Bahkan sangking sesaknya Cika sampai tidak bisa bernapas.
"Hiks...Kamu kapan pulang, Ay?" gumam Cika dengan terisak.
Zayyen yang memang belum benar-benar pergi merasa iba dan ingin memeluk Cika saat ini tetapi Zayyen tidak bisa melakukannya karena bagaimana pun Cika adalah milik kembarannya. Ia sudah bertekat untuk melupakan Cika mulai dari sekarang. Tangan Zayyen terkepal dengan sangat erat saat melihat tubuh Cika semakin bergetar dengan hebat.
"Aku emang mencintaimu, Cika! Tapi aku sadar kamu adalah milik kembaranku sendiri. Memang aku harus menjauh dari sekarang," gumam Zayyen dengan lirih dan setelah itu langsung pergi dari kantor kembarannya begitu saja tanpa melihat ke arah Cika kembali.
Bagaimanapun Cika mencoba untuk tabah tetapi kepergian Zayden adalah hal yang sangat menyakitkan untuknya. Kepergian Zayden membuat dirinya menjadi murung dan pendiam bahkan Cika lebih suka menyendiri sekarang dengan melamun membayangkan kebersamaannya dengan Zayden dulu. Mengenang hal indah bersama dengan Zayden adalah pengobat rindu yang terampuh walau Cika sadar setelah itu rindunya akan semakin berat.
****
Haidar datang ke rumah sahabatnya tetapi di rumah ini hanya ada Zevana yang tampak murung. Bahkan gadis itu masih memakai baju sekolahnya padahal seharusnya gadis itu sudah berganti pakaian sejak tadi karena sudah pulang sekolah sehabis ujian nasional.
"Zeva!" panggil Haidar dengan melambaikan tangannya.
"Zevana!" panggil Haidar sekali lagi karena Zevana sama sekali tak menanggapi panggilannya.
Zevana sedikit tersentak saat Haidar memanggilnya untuk kedua kalinya. "Kak Haidar, kapan datang?" tanya Zevana berusaha tersenyum.
"Ada di kantor kak Zayden!" gumam Zevana dengan pelan.
Haidar menatap Zevana dengan penuh selidik. Walaupun ia masih kesal dengan Zevana tetapi tetap saja ia sudah menganggap Zevana sebagai adik kandungnya sendiri bagaimanapun Haidar adalah anak tunggal yang kesepian.
"Lo pucat, Zeva! Lo sakit?" tanya Haidar dengan pelan.
"Zeva gak apa-apa, Kak!" ujar Zevana dengan tersenyum.
"Kak Haidar kalau mau menunggu kak Zayyen gak apa-apa Zeva masuk ke kamar dulu ya!" ujar Zevana dengan lirih.
Haidar mengernyitkan dahinya, tumben sekali Zevana pendiam seperti ini. Biasanya gadis itu akan ceria ketika dirinya datang. Ada apa dengan Zevana hari ini?
Zevana memegang kepalanya yang mendadak pusing gadis itu hampir terjatuh jika tidak ada Haidar yang menolongnya.
"Zeva, lo kenapa?" tanya Haidar dengan cemas.
__ADS_1
"Zeva gak apa-apa, Kak!" ujar Zevana dengan lirih.
"Gue antar lo ke kamar!" ujar Haidar dengan cepat saat melihat wajah Zevana yang sedikit pucat.
Zevana tersenyum tipis saat Haidar menggendongnya. Zevana tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk meletakkan kepalanya di dada Haidar dan menghirup Dalam-dalam aroma tubuh Haidar.
"Badan lo sedikit panas!" gumam Haidar tetapi Zevana sama sekali tak menjawab gadis itu masih sibuk memuji keindahan tubuh Haidar.
"Zeva, lo masih dengar omongan gue, kan?" tanya Haidar dengan cemas.
"Iya, Kak!" gumam Zevana dengan lirih.
"Lo belum makan? Seharusnya sehabis ujian lo bisa makan dulu sebelum pulang!" ujar Haidar dengan cemas.
"Zeva gak selera makan, Kak! Zeva kangen mama, papa, dan kak Zayden!" sahut Zevana tidak berbohong sepenuhnya.
Haidar menghela napasnya. "Buka pintunya!" ujar Haidar dengan tegas.
Zevana membantu Haidar untuk membuka pintu kamarnya.
"Lo mau buat mereka cemas?!" tanya Haidar dengan sinis.
Zevana menundukkan kepalanya saat Haidar menurunkan dirinya hingga terduduk di pinggir ranjang.
"Hiks..."
Haidar menjadi panik. "Eh jangan nangis!" ujar Haidar merasa bersalah.
Tanpa aba-aba Zevana memeluk Haidar yang membuat lelaki itu mematung dengan hebat.
"Apa Zeva gak boleh merindukan mereka, Kak? Kenapa hidup Zeva harus seperti ini? Hiks... Zeva kesepian!" ujar Zevana dengan menangis.
Haidar dengan ragu mengangkat tangannya untuk mengelus kepala Zevana. "Masih ada Zayyen dan gue!" ujar Haidar pada akhirnya.
"Hiks...Jangan tinggalin Zeva ya, Kak! Zeva kesepian!" gumam Zevana semakin memeluk Haidar dengan erat.
"Shitt...padahal gue mau menemui Delisha. Tapi melihat Zevana yang seperti ini gue gak tega!" gumam Haidar di dalam hati.
__ADS_1
"Sebentar lagi, Kak! Sebentar lagi Kakak akan menjadi milik Zeva!" gumam Zevana di dalam hati dengan senyum menyeringai yang tak diketahui oleh Haidar.