
...Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
***
Zayyen yang merasa bosan di rumah sakit karena dirinya baru di perbolehkan pulang esok harinya mulai memainkan ponselnya. Ia membuka whatsapp miliknya hingga matanya tertuju pada story yang Delisha buat.
"Setelah hujan mungkin pelangi akan datang. Terima kasih telah mengembalikan senyuman yang aku sendiri saja tidak tahu caranya."
Zayyen membaca caption yang di tulis oleh Delisha di bawah foto Delisha dengan seseorang lelaki yang dikenali oleh Zayyen.
"Ikbal!!" gumam Zayyen dengan menggenggam ponselnya dengan emosi.
Delisha bisa dekat dengan siapa saja asal jangan bersama dengan Ikbal dan juga Haidar!
Sial!!
"Kenapa sama gue, hah? Gue sendiri yang meminta Delisha pergi dari gue tapi kenapa melihat dia dekat dengan lelaki lain gue gak suka?" ujar Zayyen dengan frustasi.
Zayyen mengacak rambutnya dengan frustasi. "Secepat itu lo ngelupain gue, hah?" tanya Zayyen entah pada siapa karena Delisha pun tak ada di sini. Gadis itu berada di Bali sedang liburan bersama keluarga dan juga Ikbal. Tampak Delisha tersenyum bahagia di foto itu.
Tiara datang bersama dengan Zevana, keduanya bingung melihat kelakuan Zayyen yang terlihat kesal.
"Kamu kenapa, Nak?" tanya Tiara menatap Zayyen dengan bingung.
Tiara meletakkan makanan yang ia beli. Sedangkan Zevana duduk di sofa dengan menatap kakaknya kesal. Sepertinya ia tahu apa penyebab kakaknya seperti ini.
"Kenapa Kakak marah? Kakak lihat story Delisha ya? Biarkan aja Delisha bahagia toh bersama kakak juga Delisha di sia-siakan!" ujar Zevana dengan memutar kedua bola matanya.
Tiara menatap anaknya. "Benar apa yang dikatakan adik kamu, Nak?" tanya Tiara dengan serius.
"E-enggak, Ma!" jawab Zayyen dengan terbata.
Tiara menghela napasnya, ia mengelus punggung Zayyen dengan pelan. "Kamu sudah melepaskan Delisha walaupun Mama sangat menyayangkan tindakan kamu. Tapi cinta memang tidak bisa dipaksakan. Lebih baik Delisha sakit sekarang dari pada terus bersama dengan kamu yang tidak mencintainya. Mama mohon juga lupakan Cika, walau itu berat untuk kamu tapi sejak awal Cika milik adik kembar kamu, Nak!" ujar Tiara dengan pelan.
"Ya, aku akan melakukannya Ma! Mama tenang saja!" ujar Zayyen berusaha tersenyum.
"Syukurlah, setidaknya Delisha tidak akan merasakan sakit lagi dan Zayden gak membenci kamu," ujar Tiara dengan tersenyum.
"Aku keluar sebentar ya, Ma!" ucap Zevana.
"Mau kemana, Sayang?" tanya Tiara dengan lembut.
"Ketemu kak Zayden, Ma!" ucap Zevana dengan sendu. "Boleh, kan?" tanya Zevana.
"Boleh. Tapi harus didampingi Papa ya! Di sana Papa lagi temani Kakak kamu terapi," ucap Tiara dengan sendu.
"Iya, Ma!"
Zayyen menatap kepergian Zevana dengan pandangan kosongnya.
__ADS_1
"Ma..."
"Iya!"
"Keputusan Mama dan papa sudah tidak bisa di ganggu gugat lagi?" tanya Zayyen dengan pelan.
Tiara menghela napasnya. "Semua ini demi keutuhan keluarga kita lagi, Sayang! Papa dan Mama akan bawa Zayden ke luar negeri untuk mendapatkan pengobatan yang lebih baik. Kamu jaga Zevana dengan baik ya! Jangan cuek sama adek kamu selama papa dan mama pergi," ujar Tiara dengan sendu.
Zayyen memeluk mamanya. "Setelah ini kita bersama lagi kan, Ma?" tanya Zayyen dengan sendu.
Tiara berkaca-kaca, ia mengelus rambut Zayyen dengan sayang. "Iya pasti kita akan segera bersama kembali!" ujar Tiara dengan pelan.
"Kapan kalian pergi?" tanya Zayyen dengan pelan.
Dua atau tiga hari lagi, Sayang. Jika dokumen rumah sakit sudah siap! Mama, papa akan segera bawa Zayden pergi," gumam Tiara dengan sedih karena harus berpisah dengan kedua anaknya demi mengobati anaknya.
"Zayyen akan jaga Zevana, Ma!" ucap Zayyen dengan tegas.
"Ya kamu harus menjaganya dengan baik, Sayang!"
****
Setelah bertemu dengan kakaknya, Zevana tidak bisa berlama-lama di sana karena dadanya sesak saat melihat kakaknya terkadang melamun dan berteriak ingin minta di lepaskan. Zevana buru-buru berpamitan dengan sang papa, ia tak mau air matanya jatuh di hadapan papanya.
"Kak, kenapa Kakak jadi seperti ini sih? Hikss..." Zevana terus bergumam dengan tubuh yang gemetar karena menangis.
"Hapus air mata lo!" ujar seseorang yang membuat Zevana mendongak menatap seseorang yang berbicara dengannya.
"Kak Haidar!" ujar Zevana menyeka air matanya dengan kasar.
Haidar tidak tahu jika selama ini Zevana menyukainya. Perlakuan baiknya sudah di salah artikan oleh Zevana selama ini.
"Kenapa?" tanya Haidar dengan memeluk Zevana dari samping.
Zevana tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk memeluk Haidar merasakan dada Haidar yang sangat nyaman baginya.
"Hiks...Kak Zayden mau di bawa pergi ke Jerman!" ucap Zevana dengan menangis.
"Itu yang terbaik buat Zayden biar gak melukai orang lain. Yakinlah setelah ini Zayden bakal sembuh dan kembali lagi ke sini," ujar Haidar dengan pelan.
"Zayyen gimana? Hubungan dia sama Delisha?" tanya Haidar yang sangat tertarik dengan hubungan keduanya berharap keduanya putus.
Tanpa diketahui oleh Haidar tangan Zevana terkepal dengan sangat erat. "Mereka sudah putus tapi Delisha sudah punya kak Ikbal. Kakak jangan mendekati Delisha lagi!" ujar Zevana dengan cemburu.
Haidar melepaskan pelukannya, ia menatap Zevana dengan tajam. "Apa maksud kamu, Zeva? Kamu gak berhak atur-atur Kakak! Kesempatan ini gak akan Kakak sia-siakan! Delisha harus Kakak dapatkan!" ujar Haidar dengan tajam.
"Kak..."
"Kakak mencintai Delisha! Dan kamu gak berhak mengatur Kakak!" ujar Haidar dengan tajam dan meninggalkan Zevana begitu saja.
"Tapi Zeva juga cinta sama Kakak!" gumam Zevana dengan pelan saat Haidar sudah pergi dari hadapannya.
__ADS_1
"Aku yakin Kakak menginginkan Delisha karena obsesi bukan cinta! Zevana harus bisa memiliki Kakak bagaimana pun caranya!" ujar Zevana dengan penuh tekad.
"Kak Haidar harus menjadi milik Zeva!" gumam Zevana dengan menyeringai.
***
Malam harinya...
Ikbal memeluk Delisha dari belakang mereka menikmati hembusan angin yang berasa di pantai. Villa kedua orang tua Delisha memang sangat dekat dengan pantai yang membuat keduanya sangat betah berada di Bali.
Ikbal meletakkan dagunya di bahu Delisha, memandang gadisnya dari samping. Wajah Delisha benar-benar baby face yang membuat Ikbal sangat gemas.
"Suka pantai?" tanya Ikbal yang diangguki oleh Delisha.
"Coba Kimmy sama Jimmy boleh di bawa ke sini pasti mereka senang juga kan, Kak?" tanya Delisha dengan cemberut.
"Mereka gak suka air pantai, Sayang! Anak kita memang bagusnya ada di rumah," sahut Ikbal yang semakin membuat Delisha cemberut.
Delisha melihat ke samping dan hampir saja hidung mereka bersentuhan. Tetapi dengan posisi yang seperti ini selalu bisa membuat kinerja jantung Delisha tidak seperti biasanya.
"Ini pacar Delisha ya sekarang?" gumam Delisha membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Ikbal dan mengelus pipi Ikbal dengan lembut.
Ikbal mengangguk menikmati sentuhan tangan Delisha yang berada di pipinya. "Iya pacar kamu. Ganteng, kan?" tanya Ikbal dengan terkekeh.
"Ganteng! Tapi..." Delisha menatap Ikbal dengan dalam.
"Tapi..."
"Bantu Delisha buat lupain Kak Zayyen! D-delisha akan berusaha mencintai kak Ikbal!" gumam Delisha dengan pelan.
"Tidak perlu meminta pun itu yang akan Kakak lakukan ke kamu, Delisha! Kakak akan buat kamu lupa sama Zayyen!" ujar Ikbal dengan tegas.
"Gimana caranya?" tanya Delisha dengan polosnya.
"Caranya..." Ikbal tersenyum menyeringai dan menarik tubuh Delisha hingga merapat kepadanya tak ada jarak.
Cup...
"Caranya begini!" bisik Ikbal di telinga Delisha setelah berhasil mencium bibir Delisha dan membuat Delisha mematung.
"Ihhh Kak Ikbal nakal! Nyosor terus kayak soang!" ujar Delisha dengan gemas.
"Hahaha... I love you, cantik!"
Deg...
"Kak Ikbal bisa romantis? Kak Ikbal belajar dari mana? Jangan bilang belajar dari Google ya?"
Pertanyaan iru langsung membuat mood Ikbal memburuk. Gadis yang berada di hadapannya ini tetap saja membuat dirinya kesal.
"Ngeselin! Gigit juga nih!"
__ADS_1
"Aummmm!!!"
"Aaa hahaha... Kak Ikbal!" teriak Delisha saat Ikbal menggendongnya dan memutar tubuhnya.