Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 252 (Bertemu Kembali)


__ADS_3

...📌Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


****


Brakk....


"Apa-apaan ini? Kenapa bisa kalian membuat laporan seperti ini? Saya tidak mau tahu semua harus selesai hari ini juga kalian harus lembur!" ujar Danish dengan amat dingin.


5 tahun berjalan membuat banyak perubahan pada Danish Mahendra. Anak sulung dari Akbar dan Fiona tersebut tidak mau menerima kesalahan sedikitpun, semua yang di lakukan karyawannya harus seperti apa yang ia katakan hingga membuat perusahaan Mahendra berkembang dengan sangat pesat saat Danish yang memegangnya.


"Maaf, Tuan. Kami akan memperbaiki semuanya!" ujar karyawan Danish penanggungjawab proyek yang mereka jalanankan.


"Hmmm.. Saya tidak menerima kesalahan lagi. Jika sudah selesai langsung letakkan di meja saya," ujar Danish dengan tegas.


"Baik, Tuan. Sekali lagi maafkan saya dan tim! Kalau begitu saya permisi," ujar karyawan Danish dengan menunduk setelah itu keluar dari ruangan CEO dengan perasaan yang sangat tegang. Bekerja di perusahaan arsitektur membuat mereka harus memutar otak dengan keras apalagi pemegang perusahaan seperti Danish dan Daniel, kedua anak Akbar itu sama seperti papinya sewaktu muda.


Tok..tok...


"Masuk!!" ujar Danish dengan tegas.


Sekretaris Danish masuk dengan langkah tegasnya.


"Maaf Tuan menganggu waktunya. CEO Perusahaan Thompson Corp ingin bertemu dengan anda, beliau ingin anda mendesainkan vila untuk anak semata wayangnya yang sedang berulang tahun. Apakah anda menerimanya? Beliau rela membayar dua kali lipat agar anda yang mendesain vila untuk putri kesayangannya," ujar sekretaris Danish dengan tegas.


"Thompson corp? Bukankah itu perusahaan tambang terbesar?" tanya Danish dengan serius.


"Iya Tuan. Ceo Thompson Corp ingin anda mendesainkan vila untuk anaknya yang berada di dekat pantai Bali karena di sana anaknya di besarkan," ujar sekretaris Danish dengan sopan.


"Bali?" Danish merasa tertarik setelah sekretaris dirinya menyebut nama Bali.


"Benar, Tuan. Jika anda setuju setelah makan siang nanti beliau akan datang ke perusahaan kita bersama dengan anaknya, Tuan," ujar sekretaris Danish dengan tegas.


"Baiklah. Katakan padanya saya ingin menemuinya terlebih dahulu baru bisa memutuskan proyek ini," ujar Danish dengan menyeringai.


"Baik Tuan. Jika begitu saya permisi," ujar sekretaris Danish dengan sopan.


Danish menyandarkan dirinya di kursi kebesarannya. "Bali? Nama itu sangat menarik sampai sekarang," gumam Danish dengan menyeringai.


Bali? Nama provinsi yang menyimpan banyak kerinduan untuk Danish hingga sekarang, berharap ia dan Keisya masih bisa bertemu kembali.

__ADS_1


***


Felix Thompson menggandeng tangan anaknya dengan erat, anak yang ia banggakan sudah dewasa sekarang. Dan Felix ingin anaknya mendapatkan sesuatu yang mewah di ulang tahun anak perempuannya yang ke 22 tahun.


Felix ingin vila yang cukup mewah untuk anak semata wayangnya yang akan mewarisi semua kekayaannya.


"Pa, ngapain kita ke sini?" tanya anak gadis Felix dengan tidak nyaman karena ia kurang suka keramaian.


"Kamu akan tahu sendiri nanti, Sayang!" ujar Felix pada anaknya.


"Aku gak nyaman. Kenapa Papa tidak mengajak mama saja?" tanya anak Felix dengan wajah tak nyamannya.


"Karena Papa maunya sama kamu sekarang. Sudah jangan membantah Papa," ujar Felix dengan tegas yang membuat anaknya pasrah.


Setelah menunjukkan kartu Identitas dirinya pada resepsionis akhirnya Felix dan anaknya masuk ke perusahaan Danish dengan langkah tegasnya.


"Selamat datang Tuan Thompson dan Nona Thompson di perusahaan Mahendra," sapa sekretaris Danish dengan ramah.


"Terima kasih. Dimana saya bisa menemui CEO kalian?" tanya Felix dengan ramah.


"Beliau ada di ruangannya, Tuan Thompson. Mari saya antar!" ujar sekretaris Danish dengan ramah.


Felix mengangguk dengan tegas, ia mengikuti langkah sekretaris Danish menuju ruangan Danish.


"Tuan. Tuan Thompson sudah datang bersama dengan anaknya."


"Bawa mereka masuk!" ujar Danish dengan tegas.


"Baik Tuan."


"Silahkan masuk Tuan dan Nona. Tuan Danish sudah menunggu kedatangan Tuan dan Nona," ujar sekretaris Danish dengan tersenyum.


"Baiklah terima kasih."


"Sama-sama Tuan!"


"Selamat datang Tuan Thompson dan Nona...."


Tubuh Danish mematung menatap gadis yang bersama dengan Felix.


"Halo Tuan Danish Mahendra perkenalkan saya Felix Thompson dan ini anak saya keisya Thompson. Seperti yang pesan e-mail sekretaris saya sudah kirim, saya sangat ingin anda mendesainkan vila untuk anak kesayangan saya," ujar Felix dengan ramah.

__ADS_1


"Silahkan duduk dulu Tuan!" ujar Danish dengan mata yang tak pernah lepas dari keisya.


"Terima kasih!" ujar Felix.


"Keisya ayo sapa Tuan Danish!" ujar Felix kepada anaknya.


"Selamat siang Tuan Danish. Sepertinya wajah anda sangat familiar sekali. Sepertinya kita pernah bertemu? Atau saya yang salah mengingat?" ujar Keisya berusaha mengingat Danish.


Danish menyeringai, ternyata Keisya masih mengingat dirinya walaupun tak sepenuhnya tetapi membuat Danish sangat senang tentunya.


"Oo iya? Benarkah begitu Tuan Danish?" tanya Felix dengan tersenyum.


"Hmmm sepertinya begitu, Tuan. Nona Keisya Thompson gadis yang tinggal di panti asuhan kasih ibu, tiba-tiba menghilang tanpa jejak," ujar Danish dengan menyeringai yang membuat Felix dan Keisya saling memandang.


"Maaf Tuan. Anda mengenal anak saya?"


Danish hanya menyeringai dan tidak menjawab yang membuat Felix dan Keisya penasaran. Danish sengaja tidak mengatakan mereka bertemu di mana, ia ingin Keisya mengingat dirinya dengan ingatan gadis itu sendiri.


"Maaf jika anda tidak suka dengan pertanyaan saya. Tapi saya ingin memberitahu sesuatu agar orang-orang tidak salah paham dengan saya ataupun istri saya. 22 tahun lalu kami kehilangan putri kecil kami karena suatu kejadian dimana musuh saya ingin mencelakai keluarga saya hingga anak saya hilang saat berada di Bali. Saya sudah mengerahkan orang-orang suruhan saya untuk mencarinya tetapi tidak ketemu hingga suatu ketika saya tidak sengaja melihat Keisya yang sangat mirip dengan istri saya, dari situlah saya penasaran dan yakin jika Keisya adalah anak kami yang hilang. Jadi, saya tidak membuang Keisya seperti orang-orang pikirkan. Setelah tes DNA dan benar Keisya adalah anak saya maka saya langsung membawanya pergi ke luar negeri," ujar Felix tidak ada yang di tutup-tutupi karena ia percaya dengan Danish.


"Kenapa anda menceritakan semuanya pada saya? Saya tidak ada urusan dengan semua itu," ujar Danish dengan tegas.


"Saya ingin anda mengetahuinya saja. Baiklah kembali pada intinya, apakah anda mau mendesainkan vila untuk anak saya? Dari dulu perusahaan Mahendra sudah terkenal dengan keahlian dalam mendesain tempat hingga mendapatkan penghargaan yang sangat luar biasa. Awalnya saya ingin bertemu dengan anak kedua dari Tuan Akbar tetapi sekretarisnya bilang jika tuan Daniel tidak bisa diganggu karena ada rapat penting," ujar Felix dengan tegas.


Keisya tetap diam di samping ayahnya sambil memikirkan dimana ia bertemu dengan Danish karena ia merasa tidak asing dengan lelaki yang berada di hadapannya sekarang.


"Keuntungan apa yang saya dapatkan jika saya mengerjakan proyek ini?" tanya Danish dengan pandangan yang tak pernah lepas dari Keisya, rasanya Danish ingin membawa Keisya ke pelukannya sekarang tetapi itu tidak mungkin ia lakukan karena ia menjaga wibawanya di hadapan Felix dan Keisya.


Bukan tidak mengetahui jika Danish menatap anaknya sejak tadi. Felix sangat sadar akan hal itu, dan ia meyakini jika Danish menyukai anaknya. Bolehkah ia besar kepala sekarang?


"Saya akan membayarnya dua kali lipat kalau anda mau mendesainkan vila untuk anak saya."


"Pa, untuk apa vila?" tanya Keisya dengan terkejut karena ia mengetahui jika perusahaan papanya tidak bergerak dalam hal itu.


"Untuk kamu, Sayang. Terserah kamu mau bagaimana vila yang kamu inginkan, bicarakan saja dengan Tuan Danish jika dia sudah menyetujuinya,"" ujar Felix dengan lembut.


"Jika saya meminta bayaran lebih apakah anda akan menyetujuinya?" tanya Danish dengan menyeringai.


"Berapa pun uang yang anda minta akan saya berikan Tuan Danish," ujar Felix tak kala tegas.


"Saya tidak butuh uang. Bagaimana jika anak anda?"

__ADS_1


"A-APA?"


__ADS_2