
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
***
Setelah acara resepsi pernikahan Zayden dan Cika selesai, keduanya langsung pergi ke hotel dan setelah sampai Zayden mengajak Cika untuk masuk ke dalam kamar hotel yang sudah Zayden sewa.
"Tara... Gimana, Ay? Suka gak kamarnya?" tanya Zayden dengan sumringah saat memperlihatkan kamar hotel mereka kepada Cika.
"Wah cantik banget, Ay. Sayang banget ditidurin!" ujar Cika dengan mata yang menatap takjub ke kamar mereka padahal saat di bawa ke hotel dengan Zayden, Cika sudah sangat mengantuk.
"Eh tapi kamu janji kita langsung tidur!" ujar Cika menatap Zayden dengan waspada.
"Sayang banget kalau kita gak buat adonan dulu, Sayang!" sahut Zayden dengan senyum yang sangat aneh menatap Cika yang sudah waspada.
Zayden dan Cika sudah mandi di rumah kedua orang tua Cika. Dan mereka sudah berpamitan pada keluarga besar keduanya untuk langsung menginap di hotel.
Brukk..
Cika terjatuh di atas kasur yang membuat Cika menelan ludahnya dengan kasar saat suaminya mendekat ke arahnya dengan senyum yang sangat aneh baginya.
"Eh mau ngapain?" tanya Cika dengan gugup.
"Mau buat adonan yang mirip sama Nadine bersama kamu, Ay!" ujar Zayden dengan terkekeh saat melihat sang istri ternyata gugup padahal keduanya sudah sering menyentuh satu sama lain 5 tahun yang lalu tapi tak membuat Cika terbiasa karena ini pertama kalinya Cika menyerahkan dirinya seutuhnya kepada Zayden setelah apa yang terjadi pada mereka.
"Ay mah ingkar janji ih!" rengek Cika saat Zayden menindih tubuhnya.
"Janji deh cuma satu ronde terus kita langsung tidur dan dilanjutkan besok pagi saja," ujar Zayden yang membuat Cika memicingkan matanya.
"Aku gak yakin sama kamu! Tadi saja bilangnya langsung tidur sampai sini langsung ngajakin buat adonan. Terus main satu ronde paling kalau sudah masuk ketagihan minta ronde kedua dan ketiga," ujar Cika yang membuat Zayden terkekeh lucu.
"Haha... Kali ini aku beneran, Ay! Kita langsung tidur saja setelah satu ronde, aku tahu kamu lelah. Aku janji, Ay! Suwer deh!" ujar Zayden mengangkat dua jarinnya.
"Benar? Kamu gak bohong, Ay?" tanya Cika dengan memicingkan matanya menatap wajah m*sum suaminya.
"Iya Sayang janji!" ujar Zayden dengan mengecup bibir Cika dengan singkat.
__ADS_1
Cup...
Cup...
Cup...
Zayden mengecup bibir Cika berulang kali dengan gemas hingga ciuman itu berubah menjadi lum*tan yang akhirnya dibalas dengan Cika. Cika mengalungkan kedua tangannya di leher Zayden ketika suaminya itu mencumbu dirinya dengan sangat mesra.
"Eughh..."
Cika melenguh dengan pelan saat ciuman Zayden berpindah ke lehernya dan meninggalkan jejak kepemilikan di sana. Ciuman Zayden terus berpindah-pindah bahkan tangannya sudah sangat aktif menyentuh bagian sensitif milik istrinya.
Zayden melepaskan pakaian Cika dan membuangnya ke sembarangan arah.
"Ahhh.. Ayyy!" lenguh Cika saat Zayden bak bayi yang kehausan menyusu kepada dirinya.
"Ini tetap menjadi benda favorit aku, Ay!" ujar Zayden dengan gemas pada dua gundukan gunung favoritnya.
"Eughh.. "
Cika membusungkan dadanya merasa nikmat dengan apa yang Zayden lakukan terhadap kedua dadanya.
"Aaayyyy...please!" rengek Cika blingsatan yang membuat Zayden tersenyum menang karena akhirnya Cika memohon kepada dirinya.
"Bantu aku lepasin pakaian, Ay!" ujar Zayden dengan mata yang sudah dipenuhi gairah.
Cika menatap Zayden dengan sayup dan akhirnya Cika bangun dari tidurnya membantu Zayden untuk melepaskan pakaiannya, suaminya ini memang sangat manja, melepaskan pakaian saja harus dibantu dirinya.
Setelah selesai. Zayden dan Cika saling menatap satu sama lain dengan penuh damba. Milik Zayden sudah menegang dengan sempurna saat Cika pegang.
"Ouuhhh..."
"Shitt... Aku sudah tidak tahan lagi, Ay!" ujar Zayden dengan serak.
Zayden mengarahkan miliknya kepada milik Cika. Nalas keduanya tertahan saat Zayden berusaha menerobos dinding penghalang milik Cika. Percobaan pertama gagal tapi Zayden tak akan menyerah, ia melakukan percobaan kedua hingga ia berhasil merobos masuk yang membuat Cika kesakitan tetapi ia bisa tahan karena Zayden mencium bibirnya kembali dengan mesra untuk menghilangkan rasa sakit yang Cika rasakan.
"Sakit ya?" tanya Zayden tak tega.
__ADS_1
Cika mengangguk. "Tapi lebih sakit kalau kami gak gerak-gerak, Ay!" ujar Cika dengan merengek.
"Wah nantangin suami ini ceritanya. Awas kamu kalau minta ampun setelah ini ya," ujar Zayden dengan menyeringai.
Awalnya Zayden bergerak dengan perlahan agar Cika menyesuaikan diri dengan miliknya yang baru pertama kali masuk dan ketika sudah terbiasa Zayden mulai menggerakkan miliknya dengan cepat.
Suara lenguhan dan desah*n keluar dari bibir keduanya, keringat sudah membasahi keduanya. Sepertinya Zayden ingkar janji dengan ucapan yang menginginkan satu ronde saja sebab lelaki itu seakan sudah ketagihan dengan apa yang mereka lakukan bahkan Cika juga lupa dengan perjanjian mereka. Ini terlalu nikmat untuk mereka tinggalkan, napas keduanya memburu setelah Cika mendapatkan pelepasan beberapa kali dan Zayden mendapatkan pelepasan untuk yang kedua kalinya, ketika keduanya lelah barulah mereka tertidur dengan memeluk satu sama lain berharap di penyatuan mereka yang pertama akan menghadirkan seorang anak di rahim Cika.
****
Pagi harinya...
Zayden sudah bangun duluan dari tidurnya, tetapi lelaki itu belum beranjak dari tidurnya. Zayden masih memandang Cika yang terlelap dalam pelukannya. Ia masih tak percaya jika sekarang Cika sudah menjadi istrinya, miliknya, dan akan selamanya begitu.
Zayden mengusap pipi Cika dengan pelan takut menganggu tidur istrinya karena pasti Cika sangat kelelahan melayani hasratnya apalagi acara mereka baru saja selesai.
"Aku gak menyangka kalau kita sudah menikah, Ay! Aku bahagia banget akhirnya bisa menjadi suami kamu seutuhnya," gumam Zayden dengan tersenyum saat menatap wajah Cika tanpa polesan make up yang terlihat sangat cantik sekali bagi Zayden.
Zayden memeluk istrinya dengan sangat erat yang membuat Cika melenguh karena merasa sesak.
"Ay, lepas!" gumam Cika dengan suara seraknya.
"Jangan ganggu dulu aku masih ngantuk," ujar Cika dengan lirih.
Zayden terkekeh. Tak ingin menganggu tidur istrinya yang masih terlihat sangat mengantuk sekali, sebelum bangun dari tidurnya untuk mandi, Zayden mengecup seluruh wajah Cika dengan gemas.
"Aku mandi dulu, Ay. Duh cantiknya istriku," ujar Zayden dengan gemas.
Cup..
Cup...
"Ayy!!!" rengek Cika yang merasa terganggu dengan ciuman Zayden di seluruh wajahnya.
Zayden terkekeh. "Gak bau iler, Ay! Ya sudah tidur lagi sana!" gemas Zayden mengelus kepala istrinya dengan sayang.
Benar saja Cika langsung terlelap kembali setelah Zayden tidak menganggu tidurnya karena Cika benar-benar lelah, badannya seperti remuk dipukul seseorang padahal dirinya hanya melayani Zayden dan memang banyak berdiri di acara resepsi mereka semalam.
__ADS_1
Zayden menggelengkan kepalanya melihat kelakuan istrinya itu. Tanpa malu Zayden berjalan tanpa mengenakan pakaian satu pun, ia masuk ke dalam kamar mandi dengan bersiul senang karena berhasil membobol gawang Cika, beberapa kali juga ia menembakkan lahar yang nantinya akan menjadi janin yang hidup di rahim istrinya.
"Anak pertama cewek, aamiin! Kembar juga gak apa-apa," ujar Zayden dengan serius tetapi akhirnya ia terkekeh karena ucapannya sendiri yang lucu baginya karena di keluarganya hanya Zevana lah adik perempuan satu-satunya berbeda dengan Cika yang banyak memiliki adik cewek.