
...📌Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
***
Frengki tersenyum senang saat uang 3 milyar sudah berhasil iia cairkan di bank. "Hahaha... Aku sudah menjadi orang kaya sekarang! Ternyata tidak perlu susah-susah untuk mendapatkannya uang sebanyak ini," ujar Frengki dengan gembira.
Tanpa disadari oleh Frengki ada beberapa orang yang mengikuti dirinya saat Frengki berada di Bank. Terlalu senang dengan uang yang ia dapatkan hingga Frengki tak tahu dirinya dalam bahaya.
Salah satu orang yang mengikutinya langsung mengambil uang yang berada di dalam tas yang Frengki pegang.
Srakk...
"UANGKU!!!"
"KEMBALIKAN UANGKU BRENGSEK!!" teriak Frengki dengan amarah.
Frengki ingin merebut uang tersebut dari tangan pria itu tetapi pria itu dengan gesit melempar tas tersebut ke temannya.
Happ...
Uang 3 milyar itu sudah berada di tangan teman pria yang mengambil uang tersebut dari tangan Frengki yang membuat Frengki geram dan ingin mengambilnya kembali tetapi dirinya di permainkan oleh beberapa orang di depannya.
Pria tersebut menyeringai. " Hahaha... Uang yang sudah berada di tanganku berarti sudah menjadi milikku!" ujar pria tersebut dengan tertawa senang bersama dengan teman-temannya.
"Itu uangku brengsek! Kalian tidak bisa mengambilnya!" ujar Frengki dengan tajam.
"Hahaha.. Bisa saja Tuan Frengki karena tuan kami menginginkannya!" ujar salah satu teman pria yang mengambil uang Frengki.
Frengki sudah mengambil ancang-ancang ingin mengajar pria itu dan teman-temannya tetapi tidak semudah itu karena tangannya sudah dicekal begitupun dengan lehernya.
"Lepaskan! Dan kembalikan uangku brengsek!" umpat Frengki dengan marah dan berusaha melepaskan diri.
"Bius dia!" ujar pria tersebut kepada temannya.
"Siap Bos!"
"Jangan! Lepaskan aku brengsek! Kalian akan menyesal telah memperlakukan diriku seperti ini!" teriak Frengki.
"Hahaha...Tentu bukan kami yang akan menyesal Tuan Frengki tetapi anda sendiri karena berani membuat tuan kami marah!" ujar pria tersebut dengan tertawa mengejek.
"Bius saja orang ini cepat! Aku tidak mau Tuan marah karena kita terlalu lambat membawa pria bajingan ini," ujar pria tersebut dengan datar.
"Haha... Baik Bos!!"
"Emmmpttttt..." Frengki tak bisa menghindar lagi akhirnya ia pingsan yang membuat beberapa orang tersebut tertawa karena sangat mudah membawa Frengki kehadapan tuannya. Dan mereka tak sabaran ingin melihat siksaan untuk Frengki.
Pria berbadan kekar tersebut mengambil ponselnya dan menghubungi sang tuan. "Halo Tuan. Kami sudah berhasil membawa Frengki," ujar pria tersebut dengan tenang.
__ADS_1
"Bawa dia dan pasung lelaki itu. Siksa lelaki itu seperti dia menyiksa anaknya bahkan siksa dia lebih kejam!" ujar Dareel dengan dingin.
"Baik Tuan Muda. Perintah anda akan segera kami laksanakan," ujar pria tersebut dengan menyeringai.
"Haha... Ayo bawa dia ke markas. Tuan Muda menyuruh kita untuk menyiksanya," ujar pria tersebut dengan senang.
"Ahh aku suka permainan ini!" ujar temannya.
"Hahaha...."
****
Mikaela menatap dirinya yang memakai baju pengantin. Apakah ia bahagia? Mikaela saja tidak tahu apa dirinya bahagia atau tidak dengan pernikahan ini sebab setelah pernikahan ini terjadi ibunya akan pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Mikaela tidak bisa bertemu dengan ibunya lagi, tidak bisa memeluk wanita yang melahirkan dirinya dengan erat lagi, Mikaela tidak bisa bercerita dengan leluasa tentang apa yang ia rasakan. Mikaela tidak mempunyai tempat untuk pulang lagi, Mikaela tidak mempunyai alasan untuk bertahan di dunia yang kejam ini ketika Dareel telah membuangnya karena bosan. Entahlah pikiran Mikaela sangat takut jika setelah ini Dareel akan membuangnya, membuangnya selayaknya sampah yang tidak berguna padahal tidak ada terbesit di pikiran atau hati Dareel untuk menyia-nyiakan Mikaela. Mikaela saja yang terlalu takut dengan pikiran bodohnya.
"Cantiknya!" gumam Delisha saat menatap calon kakak iparnya yang sudah datang.
Mikaela hanya tersenyum tipis menanggapi pujian Delisha karena dirinya sedang kalut sekarang. Hatinya gusar karena sebentar lagi ia akan kehilangan sosok ibunya.
Delisha menggenggam tangan Mikaela yang membuat gadis itu melihat ke arah Delisha.
"Kakak tahu gak? Kak Dareel itu adalah sosok pria yang sangat Delisha kagumi. Dia gak pernah bentak Delisha, dia sangat memanjakan Delisha, dia sangat perhatian sama Delisha. Bahkan kak Dareel rela gak memiliki pacar untuk melihat Delisha bahagia terlebih dahulu. Begitupun dengan kedua kakak Delisha yang lainnya, mereka sangat hebat. Delisha tahu Kak Mikaela saat ini sedang bimbang dengan kak Dareel, tapi percayalah sama Delisha setelah ini Kakak akan bahagia! Kak Dareel gak akan biarkan Kakak terluka. Tapi maaf karena Delisha Kakak harus kehilangan ibu Kakak!" ujar Delisha dengan tulus dan sendu setelah mengucapkan kalimat akhir.
Mikaela langsung terharu mendengar perkataan Delisha. Apakah benar setelah ini Dareel akan membuatnya bahagia? Apakah benar setelah ini hidupnya akan kembali normal?
"Makasih, Delisha! T-tapi aku takut Mas Dareel akan membuangku. A-aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi selain suamiku nanti," gumam Mikaela.
"Saya tidak akan membuangmu jika kamu nurut kepada saya. Apapun yang saya katakan kamu harus menyetujuinya," ujar Dareel yang datang bersama dengan yang lainnya.
Dareel berjongkok di hadapan Mikaela yang duduk di atas kursi roda karena gadis itu belum bisa berjalan dengan normal kembali. "Kamu harus tetap berada di samping saya apapun yang terjadi nanti," ujar Dareel dengan dalam yang membuat Mikaela terpaku.
Entah apa yang membuat Mikaela langsung mengangguk setelah Dareel berkata seperti itu kepada dirinya. Mikaela sangat mengagumimu pria yang akan menjadi suaminya beberapa menit lagi, entah kapan perasaan itu datang yang jelas perhatian dan tatapan Dareel membuat dirinya menyukai pria itu.
"Nak, berbahagialah bersama dengan Dareel. Jangan pernah membantah suamimu ya," ujar Lena dengan lembut.
"I-iya, Bu!" ucap Mikaela dengan mata berkaca-kaca.
"Ayo kedua calon pengantin silahkan bersiap-siap!" ujar penghulu yang akan menikahkan keduanya.
Akbar dan Fiona saling menatap satu sama lain. Keduanya tersenyum dengan lega. Fathan dan juga Tri ada di sana, semua keluarga besar Mahendra dan keluarga Fathan juga datang menyaksikan hari pernikahan Dareel dan juga Mikaela sekaligus menunggu operasi Delisha yang akan segera di laksanakan.
Dareel menjabat tangan penghulu dengan tegas. Ijab kabul sudah dimulai, dengan satu tarikan napas Dareel berhasil menjadikan Mikaela menjadi istrinya. Suara sah menggema di ruangan Delisha, bahkan gadis itu bahagia dengan berada di pelukan Danish. Ikbal juga hadir di sana tak lupa Sandy dan Angga, kedua pria itu tak menyangka jika Dareel lah yang akan menikah duluan.
Dareel dan Mikaela bertukar cincin. Dareel mencium kening Mikaela dengan tulus. Dareel bersumpah akan membuat Mikaela bahagia, mungkin saat ini cinta belum ada di antara mereka tetapi Dareel yakin cinta akan datang di antara mereka apalagi keduanya sudah menjadi suami istri.
****
30 menit sudah berlalu saat pernikahan Dareel dan Mikaela sudah terjadi. Kini, operasi Delisha harus segera dilakukan.
"Mami, Papi," gumam Delisha yang sudah berbaring di atas brankar.
__ADS_1
"Iya, Sayang!" Fiona mengelus tangan anaknya dengan penuh kelembutan dan Akbar mengecup kening anaknya dengan penuh sayang.
"Delisha takut!" ungkap Delisha dengan lirih.
"Jangan takut ya! Princess Papi hebat, Sayang. Ini kan bukan operasi Delisha yang pertama," ujar Akbar dengan pelan.
Delisha mengangguk. "Do'ain Delisha ya Mi, Pi!" ujar Delisha dengan tersenyum.
"Iya, Sayang! Itu pasti!" ujar Fiona dan Akbar berbarengan.
"Kak Danish, Kak Daniel, Kak Dareel. Peluk Delisha!" ujar Delisha kepada ketiga kakaknya.
"Kakak tunggu kamu membuka mata. Semangat ya Dek! Kakak gak akan pergi sebelum operasi kamu selesai," gumam Danish dengan serak.
"Iya Delisha janji!" ujar Delisha dengan tersenyum.
"Mas pacar!" panggil Delisha dengan pelan.
Ikbal mendekat ke arah Delisha. "Iya cantik!" jawab Ikbal menggenggam tangan Delisha.
"Mas pacar ingatkan kata Delisha. Kalau Delisha lama bangunnya Mas pacar harus bangunin Delisha seperti pangeran yang membangun putri tidur," ujar Delisha dengan terkekeh.
Ikbal tersenyum. "Mas akan lakukan setelah operasi kamu selesai supaya kamu cepat sadar, Sayang. Kamu udah janji mau kasih anak ke Mas, kan? Bangun dengan cepat dan gak lama setelah itu kita akan menikah," ujar Ikbal yang diangguki oleh Delisha.
"Semuanya tolong do'ain Delisha ya!" ujar Delisha menatap para keluarga dan teman kakaknya.
"Iya Delisha! Semangat!" ujar semuanya menyemangati Delisha.
Tak jauh dari Delisha. Mikaela menatap ibunya dengan sendu. "Ibu hiks..."
Dareel datang dan langsung memeluk Mikaela. "Nak Dareel tolong jaga Mikaela ya! Apapun kesalahannya nanti jangan pernah menyiksanya," ujar Lena dengan penuh harap.
"Tidak akan, Bu! Saya punya orang tua dan adik gak mungkin saya kasar dengan perempuan apalagi Mikaela adalah istri saya sendiri," ujar Dareel dengan mantap.
"Ibu hiks..."
"Jangan nangis, Mika! Ibu gak akan pergi kemana-mana. Jantung dan paru-paru ibu ada di nona Delisha. Kamu bisa memeluknya jika rindu dengan Ibu," ujar Lena menggenggam tangan anaknya.
"Hikss..hiks..ibu!" Hanya kata itu yang keluar sejak tadi dari bibir Mikaela yang menyayat hati Dareel.
"Jangan nangis!" ujar Dareel yang membuat Mikaela langsung menghentikan tangannya walau masih sesegukan.
Di pelukan Dareel, Mikaela merasa tenang. Tetapi setelah brankar ibunya di dorong masuk ke ruang operasi bersama dengan Delisha, Mikaela kembali berteriak memanggil ibunya.
"IBU!!!"
Setelah berteriak tubuh Mikaela lemas dan akhirnya pingsan di pelukan Dareel. Dareel langsung membawa Mikaela ke ruang pemeriksaan agar segera langsung diperiksa oleh dokter.
**
__ADS_1
🍓Bagaimana perasaan kalian setelah membaca part ini?