
...Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
*****
"Selamat Malam!" ujar Akbar saat memasuki rumah kakak tertuanya. Seharusnya Akbar dan Fiona sudah berangkat ke rumah kakaknya sejak pagi namun karena ada pekerjaan mendadak akhirnya diundur sampai malam. Fiona selalu ikut kemana pun ia pergi, gadis itu merengek dan terus mengikuti dirinya jika tak diperbolehkan untuk ikut hingga Akbar mengajak Fiona untuk meninjau proyek pembangunan hotel miliknya, untung saja gadis itu tidak rewel asal sudah ada telur gulung dan sosis di tangannya.
Semua orang menatap ke arah Akbar yang menggandeng gadis belia yang begitu terlihat sangat cantik.
"Siapa, Bar? Sugar baby?" tanya Adrian pada adiknya dengan terkekeh karena tak biasanya sang adik membawa pulang gadis ke rumah kakaknya seperti ini dan tak pernah juga Akbar mengumpulkan semua orang di rumah Alan untuk mengenalkan seorang wanita sejak bercerai dengan mantan istrinya.
"Halo, Om! Aku Fiona," ujar Fiona dengan tersenyum manis yang membuat semua orang terperangah dengan keramahan dan kecantikan Fiona saat tersenyum ke sekua orang.
"Halo Fiona. Cantik sekali kamu," ujar Adrian yang mengundang kecemburuan di hati Akbar.
"Jangan tatap Fio seperti itu, Mas!" ujar Akbar dengan dingin.
"Baru tatap 5 menit," ujar Adrian.
"Fiona duduk di sebelah sini," ujar Ulan dengan ramah.
Fiona menatap ke arah Akbar meminta persetujuan dan lelaki itu mengangguk setuju. Fiona berjalan mendekat ke arah Ulan, ia tersenyum ke arah semua keluarga besar Akbar.
"Fiona siapanya Akbar?" tanya Ulan dengan ramah.
"Iya Fiona siapa Akbar sih? Tumben banget dia bawa gadis cantik seperti kamu ke rumah ini," tanya istri dari Adrian dengan ramah.
Akbar duduk di sebelah Adrian dan Alan, ia menunggu Fiona menjawab pertanyaan kakaknya, ia penasaran dengan jawaban polos dari gadisnya tersebut.
"Kata Om Akbar karena Fio udah di beli 500 milyar jadi sekarang Fio adalah calon istri om Akbar, Tante. Awalnya Fio mau dijadikan pemulung tapi Fio gak mau akhirnya jadi calon istri deh," jawab Fiona dengan polosnya yang membuat semua orang mendengarnya langsung cengo, rahang mereka hampir terjatuh jika mereka tidak sadar dengan apa yang mereka lakukan.
__ADS_1
"Dibeli 500 milyar?" tanya Alan memastikan.
Fiona mengangguk polos yang membuat Alan menatap tajam ke arah Akbar.
"Jelaskan sekarang Akbar! Mas akan menghukummu jika kamu mempermainkan hati seorang wanita. Apalagi Fio terlihat sangat muda dan sangat polos sekali," ujar Alan dengan dingin karena semenjak kedua orang tua mereka tiada tanggungjawab Akbar ada padanya.
"Aku memang membelinya, Mas! Tapi bukan untuk aku permainkan karena Fio adalah anak dari Handoko dan Yesha. Yesha mau menjual Fio dengan Banu, lelaki hidung belang itu," jelas Akbar yang membuat Alan dan Adrian saling menatap satu sama lain.
"Kamu membeli Fio dengan uang 500 milyar. Gak salah? Itu uang banyak sekali," ucap Adrian dengan tak percaya.
"Itu sedikit dibandingkan dengan Fiona, Mas! Karena Fiona sangat berharga daripada uang segitu, uang 500 milyar bisa aku cari dalam beberapa jam saja," jawab Akbar dengan tegas.
"Sombong sekali pria tua ini!" sinis Adrian.
Akbar acuh dengan mengedikkan kedua bahunya, memang benar apa yang ia katakan uang segitu bisa ia cari dalam hitungan jam saja atau bahkan menit tetapi gadis seperti Fiona tidak akan ia dapatkan di manapun.
"Aku membawa Fiona ke sini karena aku ingin menikahi Fiona segera," ujar Akbar menatap seluruh keluarga besarnya.
"Fio!" ucap Akbar dengan gregetan.
"Upsss..Fio lupa kalau gak boleh ngomong rahasia itu ke keluarga, Om!" ujar Fiona menutup mulutnya.
Semua mendelik menatap ke arah Akbar karena ucapan Fiona sangat mereka mengerti sekali karena semuanya sudah dewasa dan memiliki pasangan masing-masing.
"Lebih baik kita makan malam dulu ya baru bahas hubungan kalian!" ujar Ulan dengan bijak.
"Ada telur gulung gak Tante?" tanya Fiona si gadis pecinta telur gulung dimana pun ia berada.
"Telur gulung?" tanya Ulan memastikan.
"He'em...om Akbar selalu belikan Fio itu kalau Fio minta," ujar Fiona yang membuat keluarga Mahendra terkekeh merasa tergelirik dengan kepolosan Fiona. Mungkinkah Akbar mencintai gadis sepolos Fiona sedang dulu sahabat sekaligus istri Akbar adalah wanita yang sangat dewasa dalam berpikir.
__ADS_1
"Ada Tante, aku baru beli!" ujar anak Adrian yang baru saja datang dengan membawa beberapa bungkus telur gulung karena gadis itu juga menyukai telur gulung sama seperti Fiona.
"Wahh...asyik mukbang telur gulung," ujar Fiona dengan berbinar.
"Ayo kita mukbang Tante!"
"Ayo!"
Akbar hanya tersenyum geli melihat antusias Fiona memakan telur gulung.
"Jadi ini yang membuat kamu menyukai Fiona? Polos dan sangat menurut juga menyukai telur gulung seperti Aprilia?" tanya Ulan memastikan.
Akbar mengangguk dengan mantap. "Iya, Kak!" jawab Akbar dengan tegas.
Mereka akhirnya mengangguk dan makan malam berjalan dengan lancar walau memiliki keponakan yang polos seperti Fiona tetap saja mereka masih syok dengan ucapan Fiona.
****
Alan menepuk pundak Akbar dengan pelan. "Kamu yakin ingin menikah dengan Fiona?" tanya Alan kepada adiknya.
"Iya Mas. Secepatnya aku akan mengatakan ini kepada Fathan. Aku ingin melindungi gadis polos seperti Fiona agar tidak dimanfaatkan oleh orang terdekatnya," jawab Akbar dengan mantap.
"Jika kamu serius dengan Fiona. Maka mulai sekarang jauhi Aurel. Memang baik kalian masih berteman akrab sampai sekarang karena sebelum menikah Aurel adalah sahabat kamu. Tapi prioritas kamu sekarang Fiona jangan sampai gadis itu salah paham dan akhirnya terluka karena kedekatan kalian," ujar Alan dengan tegas.
"Aku yakin Fiona akan mengerti, Mas. Aurel baik mereka bisa berteman nanti," ujar Akbar.
"Mas tahu Aurel baik. Tapi dia tega menceraikan kamu karena tak kunjung mempunyai anak, mulai sekarang tolong menjauh dari Aurel kalau kamu tidak ingin menyesal dan kehilangan Fiona. Gadis itu begitu polos dan terlihat begitu mencintai kamu. Kedekatan kamu dengan Aurel bisa saja menjadi bumerang untuk hubungan kamu dengan Fiona bahkan gadis itu dengan lapang dada menerima kamu dalam keadaan divonis dokter tidak mempunyai anak," ucap Alan.
Akbar tercenung. Benar apa yang kakaknya katakan mulai saat ini ia harus menjauh dari Aurel.
"Akan aku lakukan, Mas!" ucap Akbar dengan tegas.
__ADS_1
Akbar menatap Fiona yang sedang bermain dengan keponakannya. Gadis itu begitu polos dan sangat ceria, Akbar tidak akan tega menghilangkan kecerian gadis itu.