Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 172 (Akal Jahat Zevana)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


****


Setelah liburan di Bali hubungan antara Ikbal dan Delisha semakin manis. Bahkan Sandy dan Angga tak menyangka jika sahabatnya akan jadian secepat ini dengan Delisha, kali ini keduanya selalu gigit jari melihat keromantisan Ikbal dengan Delisha.


"Minum obatnya!" ujar Ikbal dengan lembut. Bahkan Ikbal yang mengeluarkan obat Delisha dari botolnya.


"Kenapa obatnya masih banyak aja sih? Kak Ikbal tahu gak?" tanya Delisha dengan bosan.


Ikbal menatap Delisha dengan dalam setelah selesai mengeluarkan obat-obat Delisha. Ia menangkup wajah Delisha dengan kedua tangannya.


"Tahu!" ujar Ikbal dengan tersenyum.


"Apa jawabannya?" tanya Delisha seperti sangat ingin tahu.


"Karena Delisha sebentar lagi sembuh," ujar Ikbal dengan memainkan hidung Delisha.


"Beneran? Jangan buat Delisha berharap, Kak! Setiap hari papi, mami, dan kakak-kakak Delisha ngomong seperti itu tapi nyatanya Delisha...."


"Kamu gak percaya sama Kakak? Delisha pasti sembuh! Kakak gak akan biarkan orang yang kakak cintai menderita selama itu," ucap Ikbal dengan tegas.


Matanya menatap mata Delisha dengan dalam. "Mau minum sendiri atau Kakak yang kasih obat ini langsung dengan mulut Kakak?" tanya Ikbal dengan pelan tetapi terkesan serius.


"M-minum sendiri!" sahut Delisha dengan terbata.


Dengan gugup Delisha melepaskan tangan Ikbal yang berada di wajahnya, ia dengan gemetar mengambil obatnya satu persatu dan ia masukkan ke dalam mulut.


"Kak Ikbal jadi mesum!" gumam Delisha dengan pelan.

__ADS_1


Ikbal yang mendengarnya hanya bisa tersenyum dan mengawasi Delisha minum obat sampai habis.


"Siapa yang mesum, Sayang?" bisik Ikbal di telinga Delisha yang membuat gadis itu merinding.


"J-jauh sedikit dari Delisha, Kak! Ini gak aman buat Delisha!" ujar Delisha dengan polosnya.


Ikbal terkekeh. "Kamu tahu gak? Setiap lihat pipi kamu bawaannya gemes banget pengin gigit!" ujar Ikbal dengan gemas.


Benar saja Ikbal langsung mendekat ke arah pipi Delisha dan menggigitnya dengan perlahan. Delisha hanya pasrah saat Ikbal menggigit pipinya dan menciuminya dengan gemas seperti ini.


"ASTAGA IKBAL! ADEK GUE BUKAN BONEKA WOY! PIPINYA YANG TEMBEM JADI MERAH KAN!" teriak Danish dengan kesal. Padahal ia sedang cemburu dengan kedekatan Ikbal dan juga adiknya.


"Apaan sih! Berisik!" ujar Ikbal dengan santai.


Delisha hanya bisa meringis saat kakaknya menatap kesal ke arah Ikbal. "Kak Ikbal udah! Muka kak Danish udah serem!" gumam Delisha dengan pelan.


"Biarin aja! Dia iri!" gumam Ikbal dengan pelan sambil melirik ke arah sahabatnya yang tampak kesal.


"Ck...Dek lo gak ngerasa bau jigong gitu?" tanya Danish berkacak pinggang.


"Ganggu lo!" ucap Ikbal.


"Dih songong banget baru jadian beberapa hari juga! Ingat ya Delisha adek gue tanpa restu gue lo gak bisa miliki adek gue!" ujar Danish mendengus kesal.


"Ya-ya gue tahu!" ujar Ikbal dengan malas.


Delisha hanya bertopang dagu melihat kakak dan pacarnya berdebat. Pacarnya? Eh Delisha mulai mengakui jika Ikbal adalah pacarnya yang sangat pengertian.


Delisha menatap wajah Ikbal. Kenapa ada lelaki yang sangat sesempurna ini sih? Kenapa tidak dari dulu ia mencintai Ikbal? Pasti tidak akan se-menyakitkan mencintai Zayyen, kan? Beruntung banget Erina yang menjadi cinta pertama Ikbal karena lelaki itu benar-benar tulus mencintai Erina begitu pun mencintainya. Delisha merasa, ia adalah gadis yang paling beruntung karena setelah sakit hati dengan Zayyen perlahan tapi pasti lukanya disembuhkan oleh Ikbal.


"Kakak tahu Kakak tampan! Tapi jangan lupa berkedip Sayang!" ujar Ikbal dengan terkekeh.

__ADS_1


Delisha yang tersadar langsung membuang mukanya ke sembarangan arah agar tidak melihat le wajah Ikbal kembali. Sungguh ia sangat malu karena ketahuan mengagumi wajah ganteng Ikbal. Ya Delisha akui Ikbal lebih tampan daripada Zayyen dan ia akan terus berusaha untuk jatuh cinta dengan Ikbal. Delisha berpikir jika mencintai Ikbal tak akan sesulit itu.


****


Zevana tersenyum menatap Haidar yang sedang mengobrol dengan kakaknya. Ia harus dipaksa mandiri oleh keadaan walau kakaknya memanjakannya, tetapi Zevana juga butuh kasih sayang yang beda yaitu hadir dari seorang lelaki yang ia cintai. Ya, Haidar adalah lelaki yang amat sangat ia cintai, katakan dia egois ingin memiliki Haidar seorang diri tak peduli dengan Haidar yang mencintai gadis lain karena Zevana yakin jika Haidar akan menjadi miliknya.


"Kak, Zeva mencintai Kakak!" gumam Zevana dengan pelan.


"Apapun akan Zeva lakukan agar Kakak bisa menjadi milik Zeva!" gumam Zevana dengan tersenyum.


Zayyen melihat adiknya yang tersenyum sambil memandang Haidar. Haidar sama sekali tidak peka jika Zevana menyukai dirinya.


"Dek, sini!" ujar Zayyen dengan pelan.


Zevana sedikit tersentak, tetapi ia mengangguk dan berdiri mulai menghampiri Zayyen dan Haidar yang entah sedang mengobrol tentang apa.


Haidar menatap Zevana. Ia masih kesal dengan gadis yang ada di hadapannya ini karena melarangnya untuk mendapatkan Delisha. Apa maksud Zevana coba?


"Ingat, Zayyen! Gue yang akan gantikan posisi lo di hati Delisha setelah ini! Lo udah lepasin Delisha itu artinya Delisha akan jadi milik gue! Gue permisi!" ujar Haidar yang langsung berdiri dari duduknya dan meninggalkan rumah kedua orang tua Zayyen maupun Zevana begitu saja.


Tangan Zevana terkepal saat Haidar melewatinya begitu saja. Zevana menghentakkan kakinya dengan kesal. "Kenapa sih kak Haidar gak pernah lihat ke arah Zeva?" ujar Zevana dengan kesal.


Zevana menatap kakaknya. "Kenapa Kakak kasih kak Haidar peluang untuk mendekati Delisha? Kakak sebenarnya kenapa sih? Melepaskan Delisha dengan sangat mudah? Dia itu baik, cantik! Mungkin seperti ini yang dirasakan Delisha saat Kakak menolaknya!" ujar Zevana dengan lirih.


Zayyen menghembuskan napasnya dengan berat. Semua orang menyalahkan tindakannya yang melepaskan Delisha begitu saja. Kenapa semua orang tak ada yang mengerti perasaannya jika dirinya belum bisa melupakan Cika? Sungguh sangat tidak adik baginya sekarang.


"Terkadang kita butuh melepaskan seseorang bukan karena kita tak peduli tetapi karena kita peduli! Kakak gak mau Delisha semakin sakit karena terus bertahan dengan Kakak yang tak mencintainya!" ujar Zayyen dengan tegas.


"Lalu kenapa Kakak terlihat tidak suka saat melihat Delisha bahagia dengan kak Ikbal? Kakak gak takut kalau Delisha akan berpaling? Mencintai seseorang yang sangat baik terhadap kita sepertinya itu sangat kudah sekali, apalagi lelaki yang mencintai begitu besar!" ujar Zevana yang membuat Zayyen terdiam.


Zayyen berdiri, ia mengacak rambut adiknya dengan lembut. "Suatu saat kamu akan mengerti apa yang Kakak lakukan ini! Sekarang kamu tidur! Besok sekolah!" ujar Zayyen dengan lembut kepada adiknya.

__ADS_1


Zevana hanya bisa mencibik dengan kesal, ia berbalik dan berjalan memasuki kamarnya. Bibirnya tersenyum sinis saat niat jahat untuk mendapatkan Haidar terlintas di otaknya.


"Aku tak ingin bodoh seperti Delisha yang melepaskan kak Zayyen dengan mudah! Aku harus bisa memiliki kak Haidar walau caraku ini memang salah! Pa, Ma maafkan Zevana ya! Tapi, ini jalan satu-satunya agar Zeva bisa memiliki kak Haidar sepenuhnya!" ujar Zevana di dalam hati tanpa memikirkan resiko yang akan ia tanggung kedepannya jika rencana jahat itu ia jalankan demi mendapatkan Haidar.


__ADS_2