Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 133 (Cinta Yang Egois)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


****


Cika mengerjapkan matanya dengan perlahan. Kepalanya terasa sangat pening dan lehernya terasa sakit, ia menatap sekeliling kamar Zayden lalu Cika menghela napasnya saat ia baru ingat jika Zayden mencekiknya hingga dirinya pingsan.


Cika merasakan perutnya seperti tertimpa sesuatu, dan benar saja Zayden memeluknya dengan sangat erat sekali dengan wajah pria itu yang berada di ketiaknya.


Cika berusaha menyingkirkan tangan Zayden yang berada di perutnya dengan perlahan tetapi bukannya lepas Zayden malah semakin memeluknya dengan erat.


"Zayden lepas!" ucap Cika yang tahu jika Zayden sudah terbangun.


"Gak mau, Ay!" rengek Zayden seperti anak kecil yang akan ditinggalkan ibunya.


"Sesak, Ay! Tolong lepasin dulu!" ujar Cikw dengan memohon.


Mau tidak mau Zayden melepaskan pelukannya dengan bibir yang mengerucut karena ia sangat enggan untuk melepaskan pelukannya karena takut Cika akan pergi darinya.


Cika memegang lehernya yang terasa sakit dan semua itu tak luput dari penglihatan Zayden. Zayden sangat terkejut saat melihat leher Cika berwarna merah dan berbekas tangan seseorang.


"Ay, kamu kenapa? Ini kenapa bisa seperti ini?" tanya Zayden yang melupakan kejadian sebenarnya.


"Kamu bisa melupakan kejadian ini dengan mudahnya ya, Ay?" tanya Cika dengan sedih.


Zayden menatap Cika dengan bingung. "Kejadian apa, Ay? Aku sama sekali tidak ingat!" ujar Zayden dengan jujur.


Cika menghela napasnya dengan kasar. "Lupakan, Ay! Aku lelah!" gumam Cika dengan pelan.


"Ay!" panggil Zayden dengan lirih dengan tangan yang mengusap pipi Cika. Bibir Zayden mengecup bekas tangannya ketika mencekik Cika dengan kuat.


"Ini pasti sakit ya?!" ujar Zayden dengan pelan.


Tanpa aba-aba tiba-tiba mata Cika berkaca-kaca, ditanya seperti itu oleh Zayden membuat Cika ingin sekali menangis, hatinya terasa teriris.


"Kok nangis? Kamu ingat kejadian di kantor ya, Ay? Maaf, Ay! Aku sama sekali tidak ada hubungan dengan Widya!" ujar Zayden dengan lirih.


"Kamu jahat, Ay! K-kamu ada main sama wanita itu hiks..." sahut Cika dengan menangis.


Zayden menggelengkan kepalanya. "Gak ada, Ay! Wanita itu menggodaku, tapi aku sama sekali tidak tergoda dengannya!" ujar Zayden dengan memelas bermaksud supaya Cika mempercayai ucapannya yang memang jujur apa adanya.


"Aku milik kamu selamanya, Ay! Maaf cintaku ini terkesan egois karena aku ingin kamu menjadi milikku selamanya! Aku akan mati jika kamu pergi meninggalkan aku!" ujar Zayden dengan sungguh-sungguh.


Cika menatap Zayden dengan sangat dalam, ia tak habis pikir mengapa bisa Zayden mencintai dirinya sedalam ini? Cinta atau obsesi yang Zayden rasakan untuknya? Terkadang Cika merasa sangat bahagia mengetahui jika Zayden sangat mencintainya, namun terkadang Cika sangat tertekan dan ingin lepas dari Zayden saat lelaki itu sudah kasar kepadanya. Cika tak mengerti dengan dirinya sendiri, padahal ada Zayyen yang mencintainya dengan tulus bahkan memperlakukan dirinya dengan sangat baik, bahkan sewaktu-waktu Cika ingin Zayyen lah yang menjadi kekasihnya tetapi ia sadar jika saat ini Zayyen adalah milik Delisha, ia tak bisa sedekat dulu dengan Zayyen walau harus sembunyi dari Zayden.


"Aku akan pergi kalau kamu mengkhianati aku!" ujar Cika dengan pelan.


"Gak akan terjadi, Sayang! Percaya sama aku!" ujar Zayden dengan serius.


Cup...

__ADS_1


Zayden mencium bibir Cika dengan perlahan, awalnya bibirnya sama sekali tidak bergerak. Namun, Zayden mulai menggerakkan bibirnya dengan lembut. Cika juga mulai terbuai dengan ciuman Zayden, secepat itu ia luluh dengan lelaki arogan yang sayangnya masih sangat ia cintai sampai detik ini walau terkadang pikiran jahat untuk meninggalkan Zayden muncul begitu saja saat Cika merasa lelah dengan hubungan mereka.


****


Delisha mengikuti langkah kekasihnya dengan perasaan bingung. Entah mengapa ia terkadang melihat kecemburuan di mata Zayyen tetapi terkadang ia melihat ketidakpedulian Zayyen kepadanya.


"Kita mau kemana, Kak?" tanya Delisha dengan pelan.


"Kak Delisha capek! Gendong Delisha!" rengek Delisha yang memang mudah merasakan lelah karena penyakit yang ia derita selama ini.


Zayyen yang biasanya menolak kini berjongkok di hadapan Delisha. Gadis itu tersenyum saat Zayyen tidak menolaknya, dengan cepat Delisha naik ke punggung Zayyen dan memeluk leher Zayyen.


Setelah dirasa Delisha sudah naik ke punggungnya. Zayyen mulai berdiri dan kembali melangkah, tak sengaja semua itu terlihat oleh Ikbal dan juga Haidar kedua lelaki itu sama-sama mengepalkan tangannya dengan erat melihat pandangan yang menyakiti mata sekaligus hati mereka bedanya Ikbal mampu menutupi perasaannya dengan baik.


"Bos kalau dilihat-lihat Delisha mirip sekali dengan Erin ya!" ujar Sandy yang membuat Angga menyenggol lengan Sandy dengan pelan.


"Apaan sih? Gue masih normal!" ujar Sandy dengan kesal.


"Lo membangkitkan singa yang tertidur, Bro!" gumam Angga yang membuat Sandy menelan ludahnya dengan kasar.


"Gue salah bicara! Gimana ini?" tanya Sandy dengan panik.


Ikbal meninggalkan kedua sahabatnya begitu saja yang membuat Sandy semakin ketakutan.


"Gue gak ikut campur! Habis lo setelah ini jadi dendeng!" ujar Angga menakuti sahabatnya.


Sandy terlihat semakin panik. "Mati gue!" ucap Sandy.


"Kenapa kita ke sini?" tanya Delisha dengan bingung.


"Gue capek!" sahut Zayyen dengan singkat.


Delisha turun dari gendongan Zayyen. Ia melihat Zayyen yang merebahkan tubuhnya di sofa. Delisha mengikuti Zayyen dan ikut merebahkan tubuhnya di samping Zayyen.


"Kak!" panggil Delisha dengan pelan. Mata gadis itu melihat ke arah langit-langit ruangan calon mertuanya.


"Hmmm..."


"Kakak mau jadi dokter spesialis apa?" tanya Delisha dengan serius.


"Menurut lo?" tanya Zayyen balik.


"Delisha gak tahu! Tapi Delisha berharap Kakak jadi dokter spesialis jantung!" ujar Delisha dengan tersenyum.


"Kenapa?" tanya Zayyen dengan serius.


"Kakak cocok aja jadi dokter spesialis jantung. Pasti pasiennya lebih semangat untuk hidup deh!" jawab Delisha dengan penuh makna.


"Oke!"


"Oke? Kakak mau jadi dokter spesialis jantung?" tanya Delisha menatap Zayyen.

__ADS_1


"Gue harus sekolah lagi untuk mengambil spesialis!" ujar Zayyen.


"Kakak keren! Kalau misalnya nanti Delisha sakit berobat sama Kakak aja ah!" ujar Delisha.


"Males!" ujar Zayyen dengan dingin.


"Kenapa begitu?" tanya Cika dengan cemberut.


"Gue gak mau punya pasien kayak lo! Kekanakan, bocah, cengeng," ujar Zayyen dengan datar.


"Enak aja! Delisha gak seperti itu ya!" ujar Delisha dengan kesal.


Delisha menatap kesal ke arah Zayyen. Mata gadis itu memicing, lalu tanpa aba-aba ia mencium bibir Zayyen dengan singkat yang membuat Zayyen mematung.


"Apa yang lo lakukan?" ujar Zayyen dengan tajam.


"Ini hukuman buat Kakak yang udah ninggalin Delisha sendirian di taman, untung ada kak Ikbal yang mengajak Delisha pulang!" ujar Delisha.


"Ikbal? Jadi sekarang lo dekat sama Ikbal? Lo jadi perempuan murah*n banget sana sini mau!" ujar Zayyen dengan tajam.


"K-kak!"


"Keluar!" ujar Zayyen dengan tajam.


Zayyen bangun dan secara tiba-tiba ia menarik Delisha dengan kasar dan mendorong gadis itu hingga hampir terjatuh.


Jika tidak ada Haidar di sana mungkin Delisha sudah jatuh tersungkur.


"Lo apa-apaan sih? Jangan kasar sama cewek bisa, kan?" ujar Haidar dengan tajam.


"Bukan urusan lo!" ujar Zayyen dengan tajam.


"Ini jadi urusan gue kalau Delisha kenapa-napa karena lo!" ujar Haidar dengan tajam.


"Cil, lo gak apa-apakan?" tanya Haidar dengan khawatir.


Delisha menggeleng. "Kak Zayyen gak sengaja dorong Delisha. Mana mungkin kak Zayyen tega kasar sama Delisha. Ia kan, Kak?" ucap Delisha dengan tersenyum.


Zayyen sama sekali tak menjawab, ia pergi meninggalkan keduanya begitu saja. Perasaan kesal menyelimuti hatinya saat ini.


"Kak Zayyen kalau lagi ngambek lucu ya, Kak!"


"Lucu gigi lo ompong!" ujay Haidar dengan kesal.


Bisa-bisanya Delisha mengatakan jika perlakuan Zayyen yang kasar adalah hal yang lucu.


"Gigi Delisha masih ada semua ya! Dasar tiang listrik jelek! Delisha gak mau dekat-dekat Kak Haidar!" ujar Delisha dengan kesal.


Delisha mencibir dan menghentakkan kakinya dengan kesal. "Awas kalau ketemu lagi!" ujar Delisha dengan kesal.


Bukannya kesal Haidar malah mengulum senyumannya. "Gak apa kita selalu berantem kalau ketemu. Lo lucu, Cil! Lo itu bocil kesayangan gue!" gumam Haidar menyentuh dadanya yang selalu berdebar jika didekat Delisha.

__ADS_1


__ADS_2