Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 173 (Cueknya Delisha)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


***


Zayyen mulai sibuk lagi dengan kuliahnya karena sebentar lagi lelaki itu akan lulus. Koasnya juga sudah hampir selesai, ia mulai menyibukkan diri dengan tugas kuliahnya lagi untuk menghilangkan rasa yang aneh di dalam dirinya saat tak ada kecerewetan Delisha di setiap harinya.


Ini sudah seminggu kedua orang tuanya dan Zayden berada di Jerman. Ia dan Zevana selalu mendapatkan kabar tentang kesehatan Zayden setelah mendapatkan perawatan di sana, berulang kali Zayden berusaha untuk kabur dari rumah sakit yang ada di Jerman tetapi berulang kali juga kedua orang tuanya mengetahui tentang itu yang membuat Zayden berteriak meminta dilepaskan. Zayyen merasa miris dengan apa yang terjadi dengan kembarannya, ia juga merasa sakit tetapi di sini dirinya hanya bisa berdo'a dan berharap agar Zayden segera sembuh dan pulang ke Indonesia.


Selesai urusannya di kampus. Zayyen segera pulang ke rumahnya karena Zevana sudah meneleponnya, adiknya itu sudah pulang duluan dan itu berarti Zayyen tak perlu menjemputnya lagi. Zayyen mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang karena ia ingin menikmati kesendiriannya saat ini.


Zayyen melihat sekolah Delisha dengan jantung yang tiba-tiba berdetak tak karuan. Kampusnya dan sekolah Delisha memang satu arah. Namun, entah mengapa kali ini reaksi tubuhnya sangat berbeda ketika melihat sekolah Delisha, seperti ada gadis itu di sini.


Tangan Zayyen terkepal dengan kuat memegang stir mobil saat terlintas dirinya yang selalu cuek dengan Delisha.


Deg...


"Delisha!" gumam Zayyen yang melihat Delisha sedang duduk di halte bus seorang diri.


Entah apa yang membuat Zayyen mengarahkan mobilnya mendekat ke arah Delisha, gadis itu sepertinya sedang asyik dengan ponselnya sehingga tidak menyadari kehadirannya. Zayyen menghentikan mobilnya di depan Delisha, gadis itu masih tetap fokus dengan ponselnya sambil tersenyum manis.


Delisha mulai menyadari jika ada mobil yang berhenti di depannya, tetapi bukan mobil Ikbal karena pria itu masih dalam perjalanan menjemput dirinya.


Deg...


Delisha menelan ludahnya dengan kasar saat ia mengenali mobil tersebut. Ya, Delisha sangat kenal mobil yang berada di hadapannya ini bahkan flat mobilnya juga Delisha sangat hapal. Tentang Zayyen dan semua yang menyangkut pria itu masih teringat jelas di otak dan hati Delisha karena memang melupakan orang yang kita cintai butuh waktu yang sangat lama, walau orang tersebut yang juga memberikan kekecewaan kepada kita.


Delisha mengepalkan kedua tangannya saat melihat Zayyen keluar dari mobil. Kenapa pria itu ada di sini? Zayyen gak lupa ingatan kan jika mereka sudah putus?


"Kenapa belum pulang? Ayo Kakak antar!" ujar Zayyen berusaha berdamai. Menjadi teman untuk Delisha tak masalah bukan? Tapi Delisha tak ingin! Menurutnya sama saja menyakitkan untuk hatinya yang mulai ingin melupakan Zayyen.


Delisha menatap Zayyen dengan datar, tanpa menjawab pertanyaan Zayyen, gadis itu mulai mengetik sesuatu di ponselnya karena kehadiran Zayyen benar-benar membuat hatinya tak nyaman.


"Delisha! Kakak bertanya sama kamu! Delisha yang Kakak kenal tidak seperti ini!" ujar Zayyen dengan kesal.


Delisha mencibik kesal. "Datang dan bertanya seperti tidak ada kesalahan! Mending pergi dari sini!" ujar Delisha dengan datar.


"Delisha..."


"Apaan sih, Kak?! Ganggu banget! Kita gak ada hubungan apa-apa lagi! Kakak sendiri yang tidak memperbolehkan Delisha untuk mencintai Kakak lagi, kan? Dan Delisha meminta juga jangan muncul di hadapan Delisha karena sekarang Delisha sedang dalam fase melupakan Kakak!" ujar Delisha dengan kesal, ia akan terus berusaha cuek kepada Zayyen karena ia ingat ada hati Ikbal yang harus ia jaga sekarang.


Zayyen terkekeh sinis. "Katanya kamu mencintai Kakak tapi begitu mudah melupakan Kakak!" ujar Zayyen dengan sinis.


"Untuk apa mengingat seseorang yang tidak pernah menghargai perasaan Delisha? Delisha emang bodoh tapi itu dulu untuk sekarang Delisha gak akan biarkan hati Delisha terus tersakiti dengan orang yang seperti Kak Zayyen! Seharusnya Delisha yang paling sakit di sini tapi kenapa terlihat begitu sebaliknya?" ujar Delisha dengan kesal, entah keberanian dari mana Delisha berbicara seperti itu mungkin akibat sakit hatinya membuat Delisha seberani ini.

__ADS_1


"Delisha, Sayang!" panggil Ikbal dengan keras.


Ikbal datang sejak 5 menit yang lalu tetapi ia sengaja tak menghampiri Delisha dan Zayyen terlebih dahulu karena ingin melihat reaksi Delisha saat bersama dengan Zayyen. Ikbal hampir ketar-ketir saat memikirkan jika Delisha akan kembali luluh dengan Zayyen seperti sebelum-sebelumnya tetapi dugaannya kali ini salah, ucapan Delisha patut diacungi jempol. Dan hati Ikbal sangat lega mendengar ucapan Delisha yang hampir melupakan Zayyen.


Zayyen dan Delisha melihat ke arah Ikbal. Delisha tersenyum saat Ikbal mendekat ke arahnya.


"L-lo panggil Delisha apa?" tanya Zayyen tak percaya sepertinya ia salah dengar.


"Sayang! Kenapa? Ada yang salah? Delisha pacar gue sekarang!" ujar Ikbal dengan tegas bahkan memeluk Delisha dengan erat.


Zayyen terkekeh sinis, ia melihat ke arah Delisha yang sepertinya tampak nyaman di pelukan Ikbal. "Ini yang dinamakan mencintai gue dengan dalam? Lo sama aja seperti perempuan di luaran sana yang mudah melupakan seseorang yang katanya lo cintai!" ujar Zayyen dengan tajam.


"Jangan samakan Delisha dengan perempuan lain yang lo kenal! Lo seharusnya sadar Delisha jadi seperti ini karena lo! Lo gak pernah menghargai Delisha sebagai pacar lo! Jangan salahkan gue kalau gue merebut Delisha bahkan hatinya akan gue rebut secara perlahan hingga tak ada lagi nama lo di hatinya!" ujar Ikbal dengan tajam.


"Ayo pergi! Lain kali gak usah ladeni orang gila seperti dia! Kakak gak suka!" ujar Ikbal memperlihatkan kecemburuannya yang membuat Delisha tersenyum.


Delisha melihat ke arah Zayyen dengan datar. "Saat Kakak meminta Delisha untuk menjauh saat itu juga Delisha tidak akan melihat ke masa lalu. Karena sebuah rasa kecewa menyadarkan Delisha jika pergi dan tak akan kembali dengan masa lalu adalah hal yang sangat tepat! Lain kali jangan temui Delisha lagi!" ujar Delisha dengan dingin.


Zayyen mengepalkan kedua tangannya saat melihat kepergian Delisha bersama dengan Ikbal. Semudah itu kah Delisha melupakan dirinya hingga dengan cepat Delisha menerima Ikbal? Bukankah Delisha sama saja seperti perempuan lain di luar sana?


"Brengsek!! Kenapa gue gak suka dengan kedekatan Delisha bersama Ikbal?" gumam Zayyen dengan dingin.


Zayyen melihat Delisha memasuki mobil Ikbal dengan tenang bahkan gadis itu tak melihat ke arahnya kembali. Benarkah Delisha sudah hampir melupakannya? Tapi, rasanya tidak mungkin!


Ikbal melajukan mobilnya dengan tenang. Ia melihat Delisha yang sejak masuk ke dalam mobilnya menjadi pendiam.


"Delisha gak lapar!" ujar Delisha dengan pelan.


"Yakin gak lapar? Gak kangen sama telur gulung?" tanya Ikbal memastikan.


"K-kalau itu Delisha mau!" ujar Delisha dengan cepat.


Ikbal mengusap rambut Delisha dengan lembut. "Jangan dipikirkan ucapan Zayyen!" ujar Ikbal dengan pelan.


"T-tapi kak Zayyen bilang kalau Delisha sama aja seperti perempuan di luar sa..."


"Sstt... Kamu beda, Sayang! Kamu istimewa! Kamu dan mereka ibarat langit dan bumi! Terlalu jauh untuk disamakan! Zayyen gak suka aja kamu bahagia sama Kakak! Lain kali kalau ada Zayyen langsung pergi aja ya! Kakak percaya sama kamu tapi tidak dengan Zayyen," gumam Ikbal dengan lembut.


"Karena Kakak melihat cinta di mata dia untuk kamu! Kakak cemburu! Kamu milik Kakak Delisha bukan lagi milik Zayyen!" gumam Ikbal di dalam hati.


"He'em... Delisha udah punya Kakak dan Delisha janji gak akan melihat ke arah kak Zayyen lagi!" ujar Delisha dengan penuh tekat.


Delisha memberanikan diri untuk bersandar di dada bidang Ikbal, ia merasakan detak jantung Ikbal yang berdetak lebih cepat dari yang seharusnya.


"Kakak gugup ya?!" ujar Delisha dengan terkekeh.

__ADS_1


"E-enggak! Sok tahu kamu!" sahut Ikbal mengelak.


"Hayo Kakak gugup sama Delisha!" ejek Delisha dengan tertawa.


"Nakal!!!" ujar Ikbal dengan gemas. "Gimana gak gugup orang bidadari lagi bersandar di dada Kakak!" ucap Ikbal yang membuat kedua pipi Delisha memerah.


"Stop buat pipi Delisha kayak tomat!" ujar Delisha dengan malu-malu.


"Lucunya pacar Kak Ikbal! Besok ketemu Mama mau?" tanya Ikbal dengan serius.


"Ketemu mama Kak Ikbal?" tanya Delisha dengan syok.


Ikbal mengangguk. "Mama harus tahu kalau kak Ikbal sudah punya bidadari setelah satu bidadari kak Ikbal sudah pergi ke surga!" ujar Ikbal dengan tulus.


"Kak..."


"Diam artinya iya, Sayang! Mama pasti suka dengan calon menantunya yang cantik ini!" ujar Ikbal dengan tersenyum.


Delisha juga ikut tersenyum bahagia. "Kalau misal kita menikah tapi Delisha gak bisa menjadi istri Kakak selamanya gimana? Kalau Delisha juga menyusul bidadari pertama Kakak gimana?" tanya Delisha dengan takut.


Ikbal terdiam. Kehilangan adalah hal yang sangat menyakitkan. "Jangan bahas itu ya! Kita nikmati saja kehidupan ini!" ujar Ikbal dengan serak.


Delisha menggelengkan kepalanya. "Delisha gak ingin Kakak banyak berharap sama Delisha yang akan hidup dengan lama bersama Kak Ikbal! Delisha takut mengecewakan Kak Ikbal nantinya! Saat itu tiba Delisha mohon Kak Ikbal jangan nangis ya!" ujar Delisha dengan pelan.


"S-sha, Kakak benci perpisahan dengan kematian! Tolong jangan tinggalkan Kakak!" ujar Ikbal dengan tercekat.


"Delisha akan selalu ada di hati Kakak!" ujar Delisha memeluk Ikbal.


"Kak Ikbal mau kan menciptakan kebahagiaan bersama dengan Delisha? Walau singkat tapi bermakna!" ujar Delisha dengan mata berkaca-kaca.


"Mau ya?!" pinta Delisha.


Ikbal mengangguk dengan tersenyum kecut.


Cup...


"Kakak gak akan biarkan kamu pergi! Sekali pun itu ke surga! Karena memang kamu belum seharusnya pergi ke sana!" ujar Ikbal dengan serak.


"Janji gak akan nangis kalau Delisha pergi?!"


"Sayang, stop berbicara hal yang seperti itu! Kamu gak akan pergi kemana-mana!" ujar Ikbal dengan tegas.


"T-tapi Delisha takut!!"


Ikbal memeluk Delisha. "Gak perlu takut karena selamanya Kakak akan bersama dengan Delisha!"

__ADS_1


"Ya Tuhan... Jangan ambil seseorang yang aku cintai lagi! Itu sangat menyakitkan sekali!" gumam Ikbal di dalam hati.


__ADS_2