Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 272 (Kelahiran Baby Triplets)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...📌 Dukung terus cerita baru author "Suami Bayaran Nona Rania"...



...*...


...*...


...Happy reading...


***


Delisha memegang tangan suaminya dengan erat, saat operasinya sudah dilakukan. Ikbal mencium kening Delisha dengan lembut, ia tak menyangka jika kelahiran ketiga anaknya akan secepat ini.


"Kamu pasti bisa, Sayang!" ujar Ikbal dengan lembut.


"Aku takut, Mas!" gumam Delisha dengan lirih.


"Papi..." Delisha tersenyum saat melihat papinya ada di samping Ikbal.


Ikbal melihat ke arah sampingnya seperti tatapan Delisha yang tersenyum ke arah sana.


"Sayang gak ada Papi di sini," ucap Ikbal dengan lembut.


"Ada Papi, Mas!" ujar Delisha dengan tersenyum yang membuat Delisha semakin bersemangat rasa takutnya seakan entah pergi kemana. Delisha sangat optimis jika papinya akan sehat kembali.


Ikbal tak banyak berbicara ia lebih menguatkan Delisha dengan pelukan hangatnya, ia tak tahu apa yang Delisha lihat. Mungkin benar Delisha melihat papinya ada di dekat mereka dan menguatkan Delisha.


"Pi, Ikbal mohon bertahan lama demi Delisha. Ikbal takut Delisha akan terpuruk ketika nanti papi pergi!" gumam Ikbal di dalam hati.


Tak lama suara tangisan bayi menggema di ruang operasi yang membuat Ikbal refleks menangis bahagia memeluk Delisha.


Fathan memegang cucunya dengan tersenyum. "Tampan sekali," ujar Fathan dengan bahagia.


"Hiks...hiksss..." Delisha menangis menatap anaknya yang terlihat kecil sekali, ia merasa bersalah karena telah membuat anaknya lahir lebih dulu dari perkiraan bulan kelahirannya.


"Dia tampan Delisha!! Jangan menangis dia baik-baik saja," ujar Fathan dengan tersenyum.


Delisha tersenyum lega tetapi ia tahu anaknya harus di letakkan di inkubator terlebih dahulu setelah dibersihkan. Tak lama tangisan anak kedua dan ketiganya terdengar membuat Delisha dan Ikbal tentu saja sangat bahagia, mereka menangis karena rasa terharu yang keduanya rasakan saat ini.

__ADS_1


"Yang ketiga Delisha versi mini. Akbar pasti sangat menyayanginya," ujar Fathan yang membuat Delisha sangat ingin melihat ketiga anaknya.


Ikbal mengelus pipi ketiga anaknya secara bergantian dengan sangat lembut, ia tersenyum bahagia saat melihat ketiga anaknya membuka mata secara perlahan.


"Selamat datang anak-anak, Papi!" gumam Ikbal dengan lembut.


"Jadi anak yang soleh dan soleha ya. Terima kasih sudah mau hadir di dunia ini untuk pelengkap hidup bagi Papi dan mami," gumam Ikbal dengan pelan.


"Boleh Delisha peluk sebentar?" tanya Delisha pada Fathan dan dokter-dokter lainnya.


"Boleh!" Fathan membawa anak pertama dan kedua Delisha yang berjenis kelamin lelaki itu di dekapan Delisha.


Delisha tentu saja sangat takut anaknya kenapa-napa karena mereka terlihat sangat kecil sekali tetapi Delisha sangat bahagia hari ini karena kedua anaknya lahir tanpa kekurangan apapun.


"Satu mirip papi satu mirip kamu, Mas!" ujar Delisha dengan bahagia.


Ikbal terkekeh, benar kata Delisha untuk saat ini muka keduanya mirip dirinya dan juga mirip papi mertuanya. Tak lama suster kembali mengambil kedua anaknya dan ingin dibersihkan sekaligus mau letakkan di inkubator bayi. Kini, giliran anak bungsu Delisha dan Ikbal yang berjenis kelamin perempuan diletakkan di dada Delisha, rasa bahagia keduanya tidak bisa ditandingi oleh apapun saat melihat wajah ketiga anak mereka.


"Ini mirip kamu waktu kecil, Sayang! Princess Papi Ikbal," ujar Ikbal dengan lembut.


"Iya benar, Mas!"


Rasa syukur keduanya sangat terlihat jelas. Apalagi Ikbal karena operasi istrinya untuk melahirkan anak-anaknya berjalan dengan lancar. Untuk saat ini ketika anaknya sudah diletakkan di inkubator dan Delisha sudah berada di ruang perawatan setelah operasi sudah selesai dilakukan tetapi untuk saat ini asi Delisha belum keluar sama sekali bahkan setelah operasi tersebut Delisha tertidur.


****


"Gimana keadaan Papi, Mi?" tanya Ikbal dengan was-was.


"Alhamdulillah keadaan papi sudah membaik setelah mendapatkan donor darah. Mami lega sekali," ujar Fiona dengan terharu.


"Alhamdulillah...." Ikbal sangat bersyukur jika keadaan mertuanya sudah membaik.


Sejujurnya Ikbal sangat takut jika sewaktu-waktu papi mertuanya pergi dengan Delisha dalam keadaan yang seperti ini. Betapa terpukul jiwa istrinya.


"Terima kasih sudah mau bertahan, Pi!" gumam Ikbal di dalam hati.


****


Keesokan harinya....


Keadaan Akbar sudah berangsur-angsur membaik bahkan subuh tadi Akbar sudah siuman walaupun keadaannya masih terbilang sangat lemas. Untuk menggerakkan kakinya sendiri saja sangat sulit, tetapi semuanya merasa lega kala Akbar membuka matanya.

__ADS_1


"Papi mau apa?" tanya Fiona dengan lembut.


"D-delisha!" jawab Akbar dengan susah payah.


"Delisha ada di ruangannya, Pi. Papi tahu kemarin Delisha baru saja melahirkan ketiga anaknya. Dua berjenis kelamin lelaki dan yang bungsu berjenis kelamin perempuan," ujar Fiona yang membuat Akbar tersenyum sekaligus menangis.


"Jangan nangis, Pi!" ucap Fiona menyeka air mata suaminya dengan pelan.


"P-papi mau lihat cucu-cucu Papi!" ujar Akbar dengan pelan.


"Nanti ya, Pi. Tunggu dokter datang dulu," ujar Danis dengan lembut.


"S-sekarang!" ujar Akbar yang membuat istri dan anak-anaknya akhirnya mengangguk.


"Ruangan papi sama Delisha sebaiknya di satukan saya ya, Mi. Biar enak!" ujar Daniel.


"Iya benar. Coba minta izin sama pakde Fathan pasti di kasih. Terus panggil dokter untuk memeriksa papi sebentar sebelum bertemu dengan anak-anak Delisha," ujar Fiona yang di angguki oleh Daniel dan Danish.


Tak lama dokter datang dan akhirnya mengizinkan Akbar untuk melihat cucu-cucunya yang sekarang masih berada di inkubator. Mungkin selama seminggu anak-anak Delisha dan juga Akbar akan dirawat di inkubator. Bahkan Ikbal ingin dokter yang terbaik yang menangani anaknya, sekaligus melakukan chek apakah anaknya punya riwayat penyakit yang sama dengan Delisha ataupun tidak tetapi mereka berharap semua anak-anaknya baik-baik saja tanpa penyakit.


Akbar sudah berada di kursi roda dengan Fiona yang mendorong kursi roda tersebut padahal semua anaknya bisa saja menggantikan posisi Fiona sekarang tetapi Fiona sama sekali tidak mau, bisa saja ini adalah Kenang-kenangan terakhirnya dengan sang suami. Ketakutan itu masih saja menghantui Fiona.


Akbar tersenyum saat melihat wajah ketiga cucunya. Ada rasa sesal di hati Akbar karena tak bisa menggendong ketiga cucunya tetapi walaupun begitu Akbar sudah sangat bahagia karena bisa melihat wajah ketiga cucunya yang sangat ia nanti kelahirannya.


"Tampan-tampan dan juga cantik," ujar Akbar dengan pelan.


"Iya, Pi. Papi harus sembuh ya biar bisa gendong cucu-cucu kita. Sekarang cucu kita sudah 4 ya, Pi. Mungkin akan menyusul Mikaela karena dia juga sedang hamil kemudian Keisya dan Naura. Papi gak mau melihat semua cucu kita lahir?" gumam Fiona dengan pelan.


"Sini duduk di depan Papi, Sayang!" ujar Akbar dengan pelan.


Fiona mengangguk dan ia berjongkok di hadapan Akbar. Dengan perlahan Akbar mengelus pipi istrinya.


"Perpisahan pasti akan ada, Sayang. Mas minta setelah Mas tiada kamu tata hidup kamu dengan baik bersama dengan ke-empat anak kita, menantu kita dan cucu-cucu kita. Kamu memang bukan cinta pertama, Mas. Tapi kamu adalah cinta terakhir Mas yang akan Mas bawa sampai mati," ucap Akbar dengan pelan


"Fiona sayang kamu mau berjanji satu hal kan sama, Mas?" tanya Akbar dengan pelan.


"A-apa Mas?" tanya Fiona dengan lirih.


"Kapanpun Mas pergi kamu harus tetap bahagia ya. Mas gak larang kamu untuk menangis tapi jangan berlarut-larut ya, Sayang. Mas akan selalu ada di hati kamu, suatu saat jika kita di pertemukan kembali kita akan bersama kembali. Ingat jangan lupa bahagia istriku," ujar Akbar dengan lembut yang membuat Fiona menangis tanpa suara apalagi saat Akbar mengecup keningnya dengan perlahan.


"Sampai akhir hayat Mas cinta Mas hanya untuk kamu dan anak-anak tak lupa untuk cucu-cucu, Mas. I love you Fiona, Sayang. Mas katakan sekarang karena Mas takut seperti kemarin tak bisa mengatakan ini kepadamu."

__ADS_1


"Hiks.... I love you too, Mas!"


__ADS_2