
...Jangan lupa ramaikan partai ini ya. ...
...Happy reading...
***
Haidar begitu tampak panik saat melihat wajah Delisha yang sangat pucat. Bahkan sampai rumah sakit pun Delisha belum sadarkan diri, pria itu sangat takut terjadi sesuatu dengan Delisha karena kecerobohannya sendiri. Haidar tidak becus menjaga Delisha agar merasa nyaman dengannya, ia merasa gagal menjaga Delisha. Niat hati ingin bercanda dengan Delisha agar gadis itu memeluknya Haidar mendapatkan sebuah fakta yang mengejutkan dari Delisha, gadis itu seperti memiliki tanda-tanda penyakit jantung. Haidar paham karena ia adalah calon seorang dokter. Apakah Zayyen mengetahui soal ini?
"Dokter Raihan tolong teman saya!" ujar Haidar dengan panik.
Dokter Raihan adalah dokter ahli jantung yang memang menangani Delisha setiap kali gadis itu sakit. Dokter Raihan langsung terkejut saat melihat Delisha lah yang berada di tangan anak koasnya.
"Ya Allah, Delisha! Suster cepat bawa brankar ke sini Delisha kembali sakit!" ujar dokter Raihan dengan tegas.
Suster tersebut langsung sigap mendorong brankar. Haidar langsung merebahkan Delisha dengan perlahan di sana, lelaki itu tampak pucat karena khawatir.
"Delisha!" ujar Fathan dengan panik saat melihat keponakannya kembali sakit.
"Cepat bawa ke ruang UGD! Berikan yang terbaik untuk keponakan saya!" ujar Fathan dengan tegas.
"Baik, Dok! Kami akan segera menangani Delisha!" ujar dokter Raihan dengan tegas.
Fathan mengangguk dengan cemas sebelum dibawa ke ruang UGD Fathan mengelus kepala Delisha dengan sayang.
Fathan awalnya ingin pulang tetapi mendengar suara dokter Raihan menyebut nama Delisha membuat Fathan mengurungkan niatnya dan menghampiri dokter Raihan dan benar saja keponakannya sudah dalam tak sadarkan diri dibawa oleh Haidar dokter koas yang berada di rumah sakitnya.
"Haidar!" panggil Fathan dengan dingin.
Fathan merasak curiga dengan Haidar yang tampak pucat bahkan saat Delisha dibawa pergi pun pria itu masih diam dengan tangan gemetar.
"I-iya, Dokter!" sahut Haidar dengan terbata.
"Kamu yang terakhir kali bersama dengan keponakan saya?" tanya Fathan dengan tegas.
__ADS_1
Haidar menelan ludahnya dengan kasar lalu pria itu mengangguk dengan pelan. "I-iya, Dok! S-saya yang bersama dengan Delisha, Dok. Waktu saya ingin pulang, saya melihat Delisha di halte bus seorang diri. Jadi, saya berniat menumpangi Delisha. Awalnya Delisha menolak tapi akhirnya dia mau pulang bersama dengan saya, tapi di saat perjalanan saya berniat bercanda dengan Delisha, saya membawa motor dengan kecepatan tinggi. D-dok, saya minta maaf karena saya tidak tahu jika Delisha mempunyai penyakit jantung. Delisha ketakutan karena saya yang mengakibatkan jantungnya sakit," ujar Haidar dengan gemetar karena lelaki itu memang merasa bersalah dengan Delisha.
Fathan menatap Haidar dengan tajam. "Apa yang kamu lakukan itu membahayakan keselamatan orang lain. Mengebut di jalan raya itu sangat berbahaya! Orang yang tidak mempunyai penyakit jantung pun pasti akan takut jika mengalami hal seperti itu! Kamu tahu tidak? Selama 16 tahun Delisha hidup keponakan saya tidak pernah naik motor gede! Orang tua, kakak-kakak Delisha bahkan sangat menjaganya! Tapi kamu yang bukan siapa-siapa Delisha berani melakukan itu? Bercanda boleh tapi tidak bercanda dengan nyawa!" ujar Fathan dengan dingin.
"Saya sebenarnya ingin marah dan menghajar kamu! Tapi ada yang lebih berhak dari saya! Bersiaplah dengan kemarahan si kembar karena kamu telah membuat adik kesayangan mereka dalam keadaan berbahaya!" ujar Fathan yang membuat Haidar terkejut. Jantung berdetak dengan sangat cepat saat Fathan selesai berbicara, hatinya semakin tak karuan kala Fathan mengambil ponselnya untuk menghubungi adik serta keponakan kembarnya.
"Mati gue!" gumam Haidar dengan menelan ludahnya susah payah saat Fathan sudah pergi dari hadapannya dengan wajah yang sangat menyeramkan sekali. Apakah nanti nilai koasnya akan buruk setelah kejadian ini? Bodoamat dengan nilai koasnya yang terpenting sekarang keselamatan Delisha. Andai saja dirinya tak ceroboh mungkin Delisha masih sehat dan ceria bersama dengan dirinya.
***
Danish, Daniel, dan Dareel tampak terlihat khawatir dengan keselamatan adiknya. Bahkan Danish dan Daniel rela meninggalkan jam pelajaran yang masih berlangsung, keduanya tak mempedulikan dosen yang akan memberikan nilai C kepada keduanya.
Sedangkan Dareel langsung ke kampus kedua kembarannya setelah mendapatkan izin dari sekolah pilotnya karena dirinya adalah keponakan Adrian yang memiliki sekolah penerbangan tersebut.
"Habis kamu Haidar!" umpat Danish dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Gue gak akan memaafkan Haidar jika Delisha kenapa-kenapa!" ujar Daniel dengan tajam.
"Gue langsung ingin memukul wajahnya setelah ini" ujar Dareel dengan sinis.
Daniel dan Dareel menasuki mobil Danish. Keduanya meninggalkan mobil di parkiran kampus dan nanti akan diambil oleh orang suruhan mereka. Ketiganya lebih ingin menghemat waktu jika berangkat bersama dalam satu mobil, tak ada yang membawa motor kali ini. Ketiganya juga jarang menggunakan motor karena menjaga perasaan Delisha yang ingin selalu ikut bersama mereka. Alhasil Danish, Daniel, dan Dareel lebih sering menggunakan mobil.
"Cepat, Kak! Gue gak sabar untuk nonjok muka Haidar! Bisa-bisanya dia bawa adek kesayangan kita naik motor," ujar Dareel dengan tajam.
"Dan Zayyen benar-benar gak bertanggungjawab. Dia sudah diamanahi oleh papi untuk menjaga Delisha hari ini tapi kenapa Delisha bisa bersama dengan Haidar bukan Zayyen? Tahu gitu gue tadi yang jemput! Brengsek!" ujar Daniel dengan tajam.
Danish hanya diam. Lelaki itu sedang fokus dengan mengemudinya padahal otak dan hatinya sekarang sedang mengumpati Haidar dan juga Zayyen.
"Dua sahabat gak berguna!" umpat Danish di dalam hati.
Danish menekan pedal gas mobilnya lagi. Ia ingin segera sampai ke rumah sakit, mendapatkan kabar jika adiknya kembali kambuh dari Fathan membuat hati Danish merasa teriris.
***
__ADS_1
Bukk..
Bukk..
"Mati aja lo! Gak berguna!" umpat Dareel yang langsung meninju wajah Haidar dengan kencang hingga lelaki itu tersungkur di lantai.
Haidar tak melawan karena memang ia bersalah dengan Delisha. Ia pantas mendapatkan amukan dari ketiga kakak Delisha saat ini setelah ia di marahi habis-habisan oleh papi Delisha bahkan mendapatkan tendangan maut di perutnya. Walau Akbar sudah tua jangan lupakan sabuk hitam yang melekat pada dirinya semasa muda.
Bukk...
Bukk..
Kali ini Daniel yang melakukannya hingga Haidar terbatuk dak mengeluarkan darah segar. Daniel tersenyum sinis. "Lo tahu gak senyum Delisha lebih berharga dari nyawa lo!" ujar Daniel berjongkok di hadapan Haidar yang memang tak ingin melawan.
"Akhh..." Haidar berteriak kesakitan saat Danish menginjak tangannya dengan kencang bahkan menggerakkan sepatunya semakin menekan tangannya.
"Tangan ini yang membuat adek gue celaka! Gue akan buat lo gak bisa naik motor lagi!" ujar Danish dengan dingin.
Krak...
"Arghh... "
Haidar terur menjerit kesakitan. "G-gue emang salah! Gue yang udah buat Delisha seperti ini! Tapi gue gak tahu kalau Delisha punya penyakit jantung. Niat gue cuma ingin bercanda," ujar Haidar dengan terbata.
"Masih bisa membela diri, hah?" umpat Danish dengan dingin.
"CUKUP! DANISH, DANIEL, DAREEL CUKUP!" teriak Fiona dengan menangis.
"Haidar memang salah tapi tidak sepenuhnya dia salah karena dia gak tahu Delisha sakit! Jangan berantem lagi, Delisha butuh kita sekarang! Keadaannya kritis!" uhar Fiona membuat ketiganya mematung.
"K-kritis?" ulang ketiganya dengan terbata.
Fiona mengangguk. "Kita berdoa buat adek ya! Sekarang dokter mau melakukan operasi pada jantung adek untuk mengatasi gangguan aliran darahnya. Kita doakan adek bisa sehat lagi, ini operasi terakhir. Dan jika adek masih kambuh juga nanti adek harus mendapatkan donor jantung dan paru-paru secepatnya," ujar Fiona dengan sendu.
__ADS_1
Akbar hanya diam saja sejak tadi pikirannya benar-benar kalut. Kakaknya juga sedang berjuang antara hidup dan mati dan kini anaknya juga. Akbar menyesal telah menitipkan Delisha kepada Zayyen hari ini bahkan pria itu tidak terlihat sampai sekarang.
Danish, Daniel, dan Dareel kembali diam bahkan saat Haidar dibawa oleh suster untuk diobati ketiganya masih terdiam mematung.