
...Jangan lupa ramaikan part ini ya...
...Happy reading....
***
Satelah Zayden melamar Cika di sebuah Villa di dekat pantai beberapa hari yang lalu. Kini, Zidan dan Tiara beserta anak-anak mereka datang ke rumah Fathan dan Tri. Acara makan malam kedua belah pihak keluarga dan juga membahas pertunangan Zayden dan Cika secara resmi.
"Loh Zayyen mana?" tanya Fathan yang tak melihat kedatangan Zayyen ke rumahnya.
Tiara memandang ke arah suaminya. Zidan berusaha tersenyum menenangkan sang istri yang terlihat bersedih.
"Zayyen ada di rumah Barra dan Rose," ujar Zidan menghela napasnya.
Zayden seakan tak peduli dengan ketidakhadiran kembarannya diacara makan malam keluarga untuk membahas pertunangan dirinya dan Cika. Bahkan memang Zayden tak mengharapkan kehadiran Zayyen di sini, kembarannya itu pasti akan mengacaukan hari bahagianya malam ini.
Fathan dan Tri seakan maklum karena mereka sudah mengetahui bagaimana Zayyen dan Zayden yang tak pernah akur karena permasalahan dimana Tiara kecelakaan dulu. Dan sampai sekarang mereka tak pernah bertegur sapa, Fathan tak tahu alasan Zayden tak mau memaafkan Zayyen yang jelas Fathan sangat menyangkan sikap Zayden yang seperti itu tetapi Fathan dan Tri tidak mau ikut campur dengan permasalahan mereka.
"Ya sudah kita makan malam saja sekarang," ujar Fathan dengan tegas.
Tri tahu Tiara saat ini sedang bersedih, wanita itu tak tahu bagaimana lagi membuat anak kembarnya akur seperti dulu sebelum kecelakaan itu terjadi.
Akhirnya dalam suasana hangat yang tercipta dan sesekali Fathan dan Zidan membahas pekerjaan mereka. Zevana juga asyik mengobrol dengan Nessa dan juga Nayla, sedangkan Nevan hanya diam menikmati makan malamnya dan yang menjadi bintang malam ini tersenyum bahagia walau Cika sedikit kecewa karena Zayyen tak hadir di rumahnya.
Setelah acara makan malam selesai akhirnya Zidan menyampaikan niat baiknya untuk melamar Cika menjadi calon istri dari Zayden.
"Yang sudah kita ketahui sejak dulu bahkan sejak Zayden dan Cika TK mereka berdua sudah sangat dekat bahkan Zayden sudah mengklaim Cika menjadi miliknya. Aku pikir itu hanyalah ucapan anak TK saja dimana mereka akan melupakan perkataannya ketika sudah dewasa. Dan ternyata pikiranku salah Zayden masih mengklaim Cika sampai sekarang bahkan ingin menikah dengannya," ujar Zidan yang membuat Fathan, Tri dan juga Tiara tertawa bahkan tawa Nayla yang paling keras di sana, gadis itu tak habis pikir bagaimana kisah cinta kakaknya dari TK sudah berlangsung hingga mereka dewasa. Tetapi Nayla, Nessa, dan juga Zevana sangat salut kepada kakak mereka karena masih bertahan tanpa adanya rasa bosan jika mereka yang menjalani mungkin mereka sudah bosan dengan pacar mereka.
"Baik mungkin kalian sudah mengetahui kedatangan kami ke sini tetapi saya sebagai papa dari Zayden akan mempertegas lagi tentang lamaran Zayden yang sudah Zayden lakukan seorang diri. Saya minta pendapat keluarga Fathan dan Tri kapan sebaiknya lamaran resmi antara Zayden dan Cika akan dilaksanakan mengingat Zayden dan Cika sudah sama-sama dewasa dan mereka pun sudah hampir lulus kuliah," ucap Zidan dengan tegas.
"Menurut saya niat baik segera saja dilaksanakan. Kedua anak kita memang masih sangat muda untuk menikah tetapi saya rasa keduanya sudah saling memahami satu sama lain dan sama-sama saling membutuhkan dari pada hubungan mereka tidak ada kepastian lebih baik pertunangan mereka dilakukan satu atau dua bulan lagi," sahut Fathan.
"Bagaimana, Sayang? Kamu sanggup?" tanya Fathan kepada Cika yang terlihat gugup sekarang, bahkan tangan Cika di bawah menggenggam tangan Zayden cukup erat.
"InsyaAllah Cika sanggup, Pa!" jawab Cika tersenyum.
__ADS_1
"Terima kasih, Sayang!" ujar Zayden dengan bahagia.
"Om, Tante, terima kasih sudah merestui hubungan Zayden dan Cika. Sejak dulu Zayden sudah sangat mencintai Cika dan tak ingin kehilangan Cika sampai sekarang. Maka dari itu izinkan Zayden mengambil ahli untuk menjaga Cika seumur hidup Zayden dengan menikah dengan Cika. Memang kesannya ini terlalu cepat tetapi akan lebih baik kami menikah saja," ujar Zayden dengan tegas.
Fathan terkekeh, sepertinya Zayden sama seperti dirinya dan juga Zidan yang tak ingin bertele-tele dalam menjalin hubungan jika sudah cinta yang lanjutkan ke jenjang yang lebih serius.
"Baiklah Om dan Tante merestui hubungan kalian. Tapi ingat sekali saja Om melihat kamu kasar atau membuat anak Om bersedih maka saat itu juga Om akan mengambil Cika kembali," ujar Fathan dengan tegas tetapi mampu membuat Zayden menelan ludahnya dengan kasar.
Bagaimana jika Fathan dan Tri tahu jika selama beberapa tahun ini Cika sudah mendapatkan perlakuan kasar darinya? Tidak! Om dan tantenya tidak boleh mengetahui sikap buruknya terutama kedua orang tuanya karena Zayden tak ingin kehilangan Cika. Zayden harus menyembunyikan penyakitnya secara rapat bahkan Aiden pun sama, kepribadian ganda Zayden itu tidak ingin ada orang yang mengetahui tentangnya.
"Sebisa mungkin aku tidak boleh membuat mereka curiga! Dan kau Zayden jangan sampai kita ceroboh atau kita akan kehilangan Cika!" ujar Aiden dengan tajam.
"Kamu pikir aku ingin kehilangan Cika? Tidak Aiden!" ujar Zayden di dalam hati.
"Zayden kamu kenapa, Nak?" tanya Tiara dengan tegas.
Tiara menatap mata anaknya tetapi Zayden langsung mengarahkan pandangannya ke arah lain agar tak menatap mata mamanya yang bisa saja curiga dengan dirinya. Tiara merasa ada yang aneh dengan Zayden, mata anaknya itu terlihat berbeda.
"Aneh. Aku melihat sesuatu yang berbeda dari mata Zayden. Tapi apa?" gumam Tiara di dalam hati.
Semua orang memandang Zayden yang membuat Zayden mengumpat di dalam hatinya.
"A-aku hanya meresa gugup, Ma!" ujar Zayden dengan tersenyum dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal bermaksud agar Tiara dan yang lainnya tidak merasa curiga dengannya.
"Oo gugup. Kirain Mama kamu kenapa," ujar Tiara dengan perasaan lega.
****
Saat ini Zayyen memang berada di rumah kedua orang tua angkatnya. Saat mengetahui jika Zayden akan bertunangan dengan Cika membuat hati Zayyen terluka, bahkan Zayyen sengaja menginap di rumah orang tua angkatnya demi menghindari ajakan papa dan mamanya untuk ikut serta makan malam membahas pertunangan Zayden dan Cika secara resmi.
"Bang, Mama boleh masuk?" tanya Rose dengan mengetuk pintu kamar Zayyen.
Sejak Zayyen diperbolehkan kembali ke rumahnya dan suaminya bebas dari penjara keadaan Rose sudah membaik bahkan wanita itu sudah bisa berjalan.
"Masuk aja, Ma!" ujar Zayyen dengan memejamkan matanya padahal hatinya merasa gelisah.
__ADS_1
Ceklek...
Rose membuka pintu kamar Zayyen dengan perlahan, ia tersenyum melihat anaknya yang tertidur di kasurnya. Hati Rose mereka bahagia dan tenang ketika Zayyen kembali tidur dengan nyaman di rumah ini.
"Gimana koasnya, Bang?" tanya Rose mengelus kepala Zayyen dengan sayang.
"Lancar, Ma!" jawab Zayyen dengan tersenyum dan membuka matanya.
"Kenapa?" tanya Rose yang paham jika anaknya sedang tidak baik-baik saja malam ini.
"Tentang Cika atau Delisha?" tanya Rose menebak.
"Cika, Ma. Malam ini papa dan mama ke rumah orang tua Cika untuk membahas pertunangan Cika dengan Zayden," sahut Zayyen dengan tersenyum kecut.
"Ini alasan kamu tidur di sini hmm?" tanya Rose yang diangguki oleh Zayyen.
Rose menghela napasnya dan mengelus rambut anaknya dengan sayang. "Boleh Mama berpendapat?" tanya Rose dengan lembut.
Zayyen mengubah posisinya menjadi tiduran di paha Rose. "Boleh, Ma! Tapi elusan di kepala Abang jangan berhenti," ujar Zayyen dengan tersenyum.
Rose berdecak tetapi ia tetap melakukan apa yang diinginkan anaknya. "Cika dan Zayden kamu tahu mereka sudah berpacaran terlalu lama tapi Mama rasa kamu tidak mencintai Cika dengan begitu dalam. Move on ya, Bang. Masih ada Delisha, dia itu pacar kamu. Delisha baik, Delisha cantik bahkan Delisha lebih cantik dari pada Cika. Bukan Mama bermaksud membandingkan keduanya tentu mereka sama-sama cantik dalam porsi masing-masing. Tapi apa kamu memikirkan jika Delisha tahu jika kamu mencintai Cika begitu pun Zayden yang mengetahui jika kamu mencintai kekasihnya sendiri. Bukan hanya Zayden yang semakin menjauh tapi Delisha juga nantinya," ujar Rose dengan pelan.
"Aku udah coba bersikap baik dengan Delisha, Ma. Maka dari itu Delisha gak boleh tahu jika aku mencintai kakak sepupunya sendiri. Delisha itu sakit aku gak mau sakitnya bertambah para karena aku. Sebisa mungkin aku baik dengan Delisha walau terkadang aku muak dengan kepura-puraanku sendiri," ujar Zayyen dengan lirih.
Rose menggelengkan kepalanya. "Dari hati kamu yang paling dalam Mama tahu kamu mulai ada rasa dengan Delisha. Suatu saat kamu akan paham bagaimana Delisha sangat berarti di kehidupan kamu. Jangan sampai Delisha menyerah karena kamu yang terlalu dingin untuk dia cairkan. sehangat-hangatnya air gak bisa mencairkan dinding es yang sangat besar jika dinding es itu sendiri selalu menjauh dari air hangat," ujar Rose.
Zayyen terdiam mencerna ucapan mamanya. "Aku gak tahu, Ma! Pusing!" jawab Zayyen dengan cuek.
Zayyen kembali merebahkan dirinya di bantal. "Zayyen tidur ya, Ma!" gumam Zayyen dengan pelan.
Rose melihat ponsel Zayyen yang berdering. "Delisha nelpon kamu. Gak kamu angkat?" tanya Rose.
"Biarin aja, Ma! Zayyen ngantuk. Seharian Zayyen udah sama Delisha! Zayyen mau istirahat!" ujar Zayyen yang membuat Rose menghela napasnya.
"Jangan terlalu cuek, Bang! Mama keluar dulu!" ujar Rose yang diangguki oleh Zayyen.
__ADS_1
Sedangkan Delisha disebrang sana hanya menatap ponselnya dengan kesal karena Zayyen tak kunjung mengangkat teleponnya.
"Padahal Delisha mau dengar suara kak Zayyen biar bisa tidur. Dada Delisha sesak! Apa Delisha telepon Kak Ikbal aja ya?"