
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
****
Haidar memasuki apartemennya bersama dengan Zevana setelah wanita itu memintanya untuk di temani jalan-jalan sebentar untuk membeli apa yang Zevana butuhkan di saat ulang tahunnya besok malam. Ya ini sudah hari ke enam Haidar memperlakukan Zevana selayaknya istri yang seperti Zevana inginkan.
Haidar merebahkan tubuhnya di sofa membiarkan Zevana menata dan mengecek semua barang yang akan di dekor di apartemen milik Haidar.
Selama 6 hari seperti selayaknya suami istri sungguhan bersama dengan Zevana entah mengapa membuat Haidar merasakan ada yang aneh di dalam hatinya, bahkan selama 6 hari ini Zevana menginginkan tidur bersama dengan dirinya dan ingin selalu di peluk. Bukankah itu berlebihan? Tapi entah mengapa Haidar membiarkan saja.
"Buat apa itu semua? Lo tahu kan itu semua gak berguna?" ujar Haidar dengan sarkas tetapi Zevana tidak sakit hati melainkan tersenyum menatap Haidar.
"Biar Kak Haidar ingat kalau kita pernah rayain ulang tahun Zeva bersama-sama," jawab Zevana dengan tenang.
Haidar berdecak kesal. "Lo tahu gak gue capek harus berpura-pura menjadi suami yang sangat sayang dan begitu mencintai istrinya. Padahal kenyataannya gue menikahi seorang wanita murahan yang rela melakukan berbagai cara agar gue bisa nikah sama dia termasuk menjadi jal*ng untuk gue," ujar Haidar dengan sarkas yang membuat Zevana tersenyum pedih.
Memang benar yang dikatakan Haidar dirinya adalah jal*ng yang rela merendahkan dirinya di hadapan Haidar demi lelaki itu menikahinya. "Sabar ya Kak! Sebentar lagi Kakak gak akan menderita lagi karena Zeva. Zeva tahu Kakak sudah muak dengan kehadiran Zeva, kan?" gumam Zevana dengan bibir gemetar menahan tangis.
"Itu lo tahu!" ujar Haidar dengan dingin.
"Iya, Kak!" ujar Zevana mencoba tersenyum walau di dalam hatinya menjerit sakit karena ucapan Haidar yang sangat menusuk hatinya.
"Zeva mau ke kamar ya, Kak!" ujar Zevana dengan lirih.
"Hmmm..."
__ADS_1
Haidar hanya berdehem saat Zevana pamit untuk masuk ke kamarnya. Ia memijat pelipisnya yang terasa pusing, Haidar merasa 7 hari bersama dengan Zevana menciptakan kebahagiaan membuat Haidar merasa menjadi manusia yang paling jahat di dunia ini karena telah menyiksa Zevana. Gadis yang sangat di manja dalam keluarganya. Tapi itu semua salah Zevana! Andai saja Zevana tidak melakukan cara murahan untuk mendapatkannya mungkin hubungan mereka tidak akan serumit ini.
"Argghh... Gak seharusnya gue lemah seperti ini!" ujar Haidar dengan kesal kepada dirinya sendiri.
Zevana memasuki kamar kecilnya dengan air mata yang terus menetes membasahi pipinya. Tubuhnya luruh di lantai saat sesak menghimpit dadanya tanpa bisa ia cegah.
"Hiks...hiks... Apa tubuh Zeva sangat menjijikkan bagi kak Haidar? Bahkan kak Haidar tidak terlihat sedih saat kita kehilangan calon anak kita, kak. Apakah kehadiran seorang anak juga akan dibenci oleh kak Haidar karena terlahir dari rahim wanita murahan seperti Zeva?" gumam Zevana dengan terisak.
Memikirkan itu membuat dada Zevana semakin sesak hingga ia terisak pelan. Tak ada yang bisa menggambarkan bagaimana sakitnya menjadi seorang Zevana sekarang. Zevana merangkak mengambil buku hariannya, ia menuliskan sesuatu di sana dengan tangan gemetar dan menahan isakannya agar Haidar tidak mendengar tangisannya.
"Tinggal sehari lagi, Kak! Maafkan Zeva ya, Kak! Zeva tahu Zeva salah gak seharusnya Zeva memaksakan cinta seperti ini. Tapi kalau boleh jujur Zeva sangat-sangat mencintai kak Haidar! Zeva gak bisa benci kak Haidar walaupun kak Haidar jahat ke Zeva. Andai ada kehidupan kedua Zeva ingin kita saling mencintai dan hidup berdua dengan bahagia," gumam Zevana setelah menulis sesuatu di dalam buku diary miliknya.
Zevana merebahkan tubuhnya di karpet tipis yang menjadi tempat tidurnya selama ini dan itu membuat tubuhnya seakan remuk karena setiap malam Zevana kedinginan tanpa Haidar tahu gadis itu selalu tidak bisa tidur dengan nyenyak yang membuat tubuh Zevana terlihat kurus seperti ini bahkan selama ini Zevana tidak bern*fsu untuk sekedar menelan makanan. Makanan yang akan masuk ke tenggorokannya seperti batu krikil yang membuat tenggorokannya sakit.
Tokkk...tokk...
"Zeva, gue lapar! Lo buruan masak!" ujar Haidar yang membuat Zevana langsung terbangun dan membuka pintunya.
"Ayam suwir pedas!" ujar Haidar dengan datar.
"Sebentar ya, Kak!" ujar Zevana dengan tersenyum.
Haidar mengikuti Zevana ke arah dapur. Ia duduk di kursi pantry dengan menatap Zevana yang mulai sibuk dengan bahan masakannya.
"Besok lo gak lupa kan harus jujur ke orang tua lo dan orang tua gue?" tanya Haidar dengan datar.
Zevana menghela napasnya. "Enggak, Kak! Kakak gak perlu khawatir ya!" jawab Zevana dengan tenang.
__ADS_1
Haidar mengangguk, ia kembali terdiam menatap Zevana yang sibuk memasak.
"Ahkkk.."
Haidar langsung berdiri saat mendengar jeritan Zevana. Ia langsung menarik jari telunjuk Zevana yang berdarah karena terkena pisau dan ia masukkan ke dalam mulutnya.
Zevana terpaku saat Haidar begitu sigap untuk mengobati lukanya. Mata keduanya saling menatap dan terpaku.
"Gak usah besar kepala! Gue refleks tolong lo!" ujar Haidar dengan datar.
"Iya, Kak!"
"Ceroboh terus! Sekalian jarinya ke potong biar lo tahu rasa!" ujar Haidar dengan tajam tetapi bukannya sedih Zevana malah tersenyum karena ia seperti menemukan Haidar yang dulu saat lelaki itu masih baik kepada dirinya.
"Zeva gak sengaja, Kak! Zeva janji gak akan ceroboh lagi!" ujar Zevana dengan tersenyum.
Haidar mendengkus. Ia kembali ke tempat duduknya semula, entah mengapa ia bisa sekhawatir ini kepada Zevana bahkan sangking khawatirnya membuat dada Haidar berdebar dengan kencang karena cemas.
****
Zevana tidak bisa tidur malam ini, ia ingin terus memandang wajah Haidar dengan puas sebelum Zevana tidak bisa menatap wajah tampan yang sangat ia cintai ini, Zevana merekam baik-baik wajah suaminya. Zevana memiringkan tubuhnya dan membenarkan selimutnya karena sekarang tubuhnya masih polos tidak memakai pakaian apapun karena dirinya dan Haidar baru saja selesai berhubungan badan. Zevana selalu tidak bisa menolak saat Haidar memintanya dan Zevana berhasil membuat Haidar melakukannya dengan lembut walau terpaksa karena permintaannya.
Zevana menyentuh rahang Haidar dengan lembut. Ini hari terakhirnya bisa menatap Haidar dengan selama ini. Jika diberikan kesempatan untuk hidup dua kali maka Zevana ingin memperbaiki apa yang telah ia rusak.
"Zeva sangat mencintai kak Haidar. Semoga dengan kepergian Zeva hidup kakak bahagia ya. Semoga kakak menemukan wanita yang kakak cintai bukan wanita murahan seperti Zeva," ujar Zeva dengan pelan.
"Terima kasih, Kak. Telah memberikan kesempatan untuk Zeva menjadi istri bahagia walau hanya selama 7 hari. Zeva bahagia banget, Kak! Besok hari terakhir Zeva di sini dan mungkin di dunia ini. Jika Tuhan memberikan kesempatan Zeva untuk hidup Zeva ingin bertemu dengan kakak kembali walau bukan menjadi suami istri. Menjadi adik kakak seperti sebelumnya juga tidak masalah asal kak Haidar tidak membenci Zeva," gumam Zevana dengan tersenyum pedih.
__ADS_1
Zevana terkejut saat tangan Haidar menariknya hingga Zevana masuk ke dalam dekapan pria itu. Zevana tersenyum saat meletakkan kepalanya di dada Haidar. Malam ini adalah malam terakhir yang cukup indah sebelum besok dia benar-benar meninggalkan Haidar.
"Jangan sedih Zeva! Yakinlah semua orang akan bahagia setelah kepergian wanita murahan seperti kamu!"