Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 36 (Diary Part 1)


__ADS_3

...Hey jangan lupa ramaikan part ini ya. Bom like dan komentar dari kalian aku tunggu guys....


...Happy reading...


******


Zidan memasuki kamarnya dengan tubuh yang sangat lelah. Ini sudah jam 12 malam dan dirinya baru bisa pulang karena banyaknya pasien yang sudah ada janji dengannya. Zayden juga pasti sudah tidur sekarang, anaknya itu benar-benar membuatnya pusing. Pintar sekali menangkap ucapannya tanpa Zidan menjelaskan berulang kali. Tapi yang membuat Zidan heran, anaknya itu sudah mengerti apa itu pacaran padahal Zidan sama sekali tidak mengajarinya, ia hanya mengatakan jika dirinya dulu berpacaran dengan Tiara.


Zidan duduk di pinggir kasur dengan memijat pelipisnya. Helaan napas sangat terdengar dari Zidan, mata Zidan menatap laci dengan sorot mata penuh penasaran. Akhirnya dengan keberanian yang ia miliki akhirnya Zidan membuka laci tersebut. Zidan mengambil diary milik Tiara. Apakah ini saatnya ia membuka dan membaca isi hati gadis yang dicintainya?


Sekali lagi Zidan menghembuskan napasnya dengan perlahan. Tangannya mulai bergerak membuka sampul tebal diary milik Tiara. Tulisan tangan Tiara yang sangat cantik dan rapi membuat Zidan tersenyum.


^^^Hari ini tepat di hari ulang tahunku mas Zidan menjadikan aku pacarnya. Tuhan aku sangat bahagia sekali menemukan lelaki sebaik mas Zidan. Lelaki yang akan aku jadikan sandaran di kala aku sedih, di kala aku merasa iri dengan kasih sayang mama dan papa berikan untuk kak Tika. Mas Zidan telah memberikan kebahagiaan yang belum pernah aku dapatkan sebelumnya dari siapa pun. Tuhan jangan ambil mas Zidan dariku!^^^


Zidan tersenyum lirih saat membaca tulisan pertama di buku diary Tiara. Hatinya merasa teriris membaca isi hati Tiara yang sangat tulus untuknya.


"Aku juga bahagia bisa menjadikan kamu gadis yang bertahta di hatiku, Ay!" gumam Zidan dengan tersenyum matanya berkaca-kaca ingin rasanya Zidan menangis saat ini, hatinya sesak.


Zidan kembali membuka lembar berikutnya. Ia kembali membaca tulisan Tiara.


^^^Kenapa hidupku tidak adil Tuhan? Kenapa mama dan papa tidak pernah menyayangiku dengan tulus? Kenapa mama dan papa selalu membandingkan aku dengan kak Tika? Aku iri dengannya yang bisa mendapatkan kasih sayang dari mereka. Di saat ulang tahunku mama dan papa sama sekali tidak hadir mereka sibuk bekerja bahkan hanya sekedar meneleponku dan memberikanku ucapan selamat mereka tak melakukannya tetapi mengapa di saat kak Tika yang berulang tahun mama dan papa hadir bahkan memberikan hadiah yang sangat mewah. Tuhan kapan aku bisa merasakan kasih sayang itu?^^^


Air mata Zidan tidak bisa dibendung lagi, ia menangis tanpa suara hingga air mata Zidan membasahi buku diary Tiara. Dengan tangan gemetar Zidan kembali membaca lembaran berikutnya.


^^^Hidupku sudah bergantung dengan mas Zidan. Semua apa yang aku lakukan mas Zidan akan selalu mengawasi dan memberikanku suport. Selama aku hidup baru kali ini aku sangat merasa bahagia karena perhatian, kasih sayang dan cinta mas Zidan yang diberikan kepadaku. Mas Zidan aku sangat mencintaimu.^^^


"Hiks....Aku juga mencintaimu, Ay!" gumam Zidan dengan bibir gemetar.

__ADS_1


^^^Sabrina adalah sahabat terbaikku. Aku sangat terbuka dengannya selain dengan mas Zidan aku juga sering curhat dengan Sabrina. Tetapi akhir-akhir ini sifat Sabrina berubah, ia menatap kekasihku dengan penuh damba. Aku tidak suka itu! Aku cemburu ketika Sabrina berbicara akrab dengan mas Zidan! Aku takut mas Zidan menyukai Sabrina dan meninggalkan aku begitu saja.^^^


"Ya Tuhan maafkan aku, Ay. Ketakutanmu benar-benar menjadi nyata aku menikah dengan Sabrina sahabatmu yang kamu percaya. Pasti sangat sulit dan sakit saat kamu tahu jika aku menikah dengan Sabrina, kamu pasti semakin membenciku, Ay!" ucap Zidan dengan lirih.


Cukup!


Zidan sudah tidak sanggup membaca tulisan yang berisi isi hati Tiara. Ia menutup buku diary itu dengan perlahan, hati dan tubuhnya benar-benar lelah saat ini. Zidan meletakkan buku itu kembali di laci dan mengambil testpack milik Tiara dengan sendu.


"Ay, seperti apa wajah anak kita? Dia lelaki atau perempuan? Pasti dia sangat tampan atau cantik seperti kita, Ay. Maafkan aku yang meninggalkan dirimu di saat kamu mengandung anakku, ini bukan keinginanku, Ay!" ucap Zidan dengan sendu.


"Nak, dimana pun kamu berada tetaplah sehat. Kamu adalah jembatan untuk membuat papa dan mama bersatu, kali ini papa akan berjuang untuk mendapatkan cinta mamamu kembali," gumam Zidan dengan lirih.


Lelah dengan hati dan tubuhnya saat Ini Zidan tertidur dengan memeluk foto Tiara dan dirinya yang Zidan ambil dari atas nakas.


******


"Hari ini Cika diantar Mama sekolah, kan?" tanya Cika dengan gembira.


"Iya, Sayang. Sudah selesai ayo kita sarapan dulu! Papa tadi sudah berangkat duluan karena ada meeting," ujar Tri dengan tersenyum.


"Iya, Ma! Terima kasih, Mama!" ujar Cika dengan bahagia.


Cika turun dari kursi dan langsung berlari keluar kamar. "Kejar Cika, Ma!" ujar Cika dengan bahagia.


"Jangan lari-lari Sayang nanti kamu jatuh!" peringat Tri dengan lembut.


Tri mengejar Cika, ia takut anaknya jatuh karena terus berlari. "Cika berhenti nanti kamu jat..."

__ADS_1


Bruk..


"Awww...Hiks sakit Ma!"


"ADA APA INI? ASTAGA CIKA!" ucap Mama Yesha dengan panik melihat cucunya terjatuh dari tangga.


"Cika kamu gak apa-apa, Nak?" tanya Tri dengan panik.


Mama Yesha menatap tajam ke arah Tri. "Kamu bisa jaga cucu saya gak sih? Kalau Cika jatuh dari atas bagaimana? Kamu mau tanggungjawab, hah?" bentak Mama Yesha dengan kasar.


"M-maaf, Nyonya. Tadi saya sudah peringatkan Cika tapi..."


"Alasan! Lihat sekarang Cika terluka karena keteledoran kamu! Minggir saya mau bawa Cika ke rumah sakit!" ucap Mama Yesha dengan membentak Tri. Bertambah kebencian mama Yesha kepada Tri saat ini padahal jatuhnya Cika bukan kesengajaan Tri.


"Saya akan mengatakan ini kepada Fathan dan saya pastikan Fathan akan marah denganmu! Biar kamu dipecat sekalian. Dengar ya selama saya dan Fathan menjaga Cika, Cika tidak pernah terluka!" ucap Mama Yesha dengan tajam.


"Hiks..hiks...Nenek sakit," ujar Cika dengan menangis.


"Cup...cup Sayang! Kita ke rumah sakit ya," ucap Mama Yesha dengan lembut.


"S-saya ikut Nya!" ujar Tri dengan khawatir.


"Tidak perlu! Kamu di rumah saja! Siap-siap dengan kemarahan anak saya!" ujar Mama Yesha dengan tajam.


Tri menatap Cika dengan sendu. Ia merasa khawatir melihat Cika yang terus menangis, ia ingin ikut ke rumah sakit tetapi ia tidak mau mama Yesha kembali marah kepadanya. Air mata Tri mengalir begitu saja melihat Cika sudah di bawa ke luar oleh mama Yesha.


"Cika maafkan Mama, Nak!" gumam Tri dengan sendu. Tri tidak tahu seperti apa reaksi suaminya nanti, kemarahan yang seperti apa yang akan Tri dapatkan dari Fathan nantinya memikirkan itu membuat Tri dilanda ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2