Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 219 (Menghilangnya Zevana)


__ADS_3

...📌Jangan lupa ramaikan part ini ya. Sehari sudah ngetik tiga ribu kata lebih buat kalian 😚🤭...


...Happy reading...


***


Haidar membuka matanya dengan perlahan saat silau matahari masuk ke dalam kamarnya dan membuat tidurnya ke ganggu. Haidar mengerang pelan, lalu ia menatap jam dinding di kamarnya.


Sia! Haidar kesiangan. Menjadi anak semata wayang dari kedua orang tuanya membuat Haidar harus memiliki dua kepala. Maksudnya dia harus siap menjadi pewaris perusahaan papanya dan juga menjadi dokter seperti papanya juga karena Fahmi memiliki perusahaan dan rumah sakit sendiri. Memiliki profesi yang sama dengan papanya membuat Haidar dituntut harus sempurna walaupun sebenarnya ia lelah.


Dengan rasa malas Haidar bangun dari tidurnya. "Ck...Kemana tuh wanita murahan? Biasanya dia sudah bangunin gue," ujar Haidar dengan kesal.


Haidar keluar dari kamarnya. "Zeva di mana lo? Gue mau mandi siapkan air hangat!" ujar Haidar dengan dingin.


"Zeva, budek lo ya?!" teriak Haidar dengan kesal.


Haidar menatap apartemennya semua sudah bersih dan tidak ada satupun barang Zevana yang mengganggu matanya. Baguslah jika Zevana tahu diri dan membersihkan apartemennya.


"Ck...ZEVANA!" panggil Haidar dengan keras.


Dengan perasaan kesal Haidar berjalan ke arah kamar Zevana. Ruanganyang dulunya gudang sempit kini beralih fungsi menjadi kamar Zevana.


"Zeva, gue panggil lo dari tadi. Lo tu..." Haidar mengeryitkan kedua alisnya saat di kamar itu tidak ada Zevana.


Haidar menutup kamar sempit itu bahkan tidak ada kasur nyaman, bantal dan selimut tebal di sana. Yang ada hanya karpet berbulu tipis dan selimut tipis yang sudah tertata rapih seperti tidak di tempati.


"Zevana jangan buat gue marah ya!" ujar Haidar dengan keras. Namun, sama sekali tidak ada sautan dari wanita itu.


Dengan berdecak kesal Haidar kembali berjalan ke arah dapur mungkin Zevana ada di sana. Tetapi Haidar tidak lagi menemukan Zevana di sana. Sebenarnya Zevana kemana? Apakah Zevana keluar dari apartemennya tanpa pamit? Berani wanita itu melanggar ucapannya! Jika Zevana kembali maka Haidar akan memarahinya habis-habisan karena telah membuat dirinya kesal.


Haidar mengacak rambutnya dengan kesal. Lebih baik ia mandi sekarang, ia yakin selesai mandi Zevana sudah kembali ke apartemennya. Dan kita lihat saja nanti alasan apa yang wanita itu akan ucapkan kepada dirinya nanti.


***


Satu jam sudah Haidar menunggu Zevana pulang dan lelaki itu sudah selesai mandi dan juga berganti pakaian bahkan Haidar mengabaikan telepon sekretaris papanya untuk menuju ke kantor, ia harus memastikan jika Zevana pulang dan Haidar akan memarahinya.


Tak tahan lagi menunggu, Haidar menelepon Zevana tetapi berulang kali Haidar menelepon gadis itu hanya jawaban dari operator lah yang terdengar.


"Lo sudah berani melawan dan melanggar perintah gue ternyata!" ujar Haidar dengan tajam.


"Bahkan lo berani mematikan ponsel lo?! Awas saja lo Zeva! Gue gak segan-segan untuk menyiksa lo jika lo sudah kembali!" ujar Haidar dengan tangan yang terkepal.

__ADS_1


Mendadak hatinya gusar memikirkan Zevana. Entah apa yang membuat Haidar kembali berjalan ke arah kamar Zevana, hatinya sesak kala melihat kamar ini sangat berbeda dengan kamarnya.


Selama di tempati Zevana, Haidar belum pernah masuk ke sini. Dan ini pertama kalinya Haidar masuk setelah ruangan ini bersih.


Tak ada lemari untuk menyimpan pakaian Zevana yang ada hanya 3 kerdus untuk menyimpan pakaian wanita itu. Entah mengapa Haidar sangat sesak melihat kerdus tersebut. Dengan perlahan Haidar membuka kerdus tersebut, dua kerdus sudah kosong dan satu kerdus masih terisi dengan penuh. Ada beberapa potong pakaian dan beberapa dokumen dan buku di sana serta ada 2 kertas putih yang terlipat.


Haidar penasaran ingin mengambil kertas tersebut karena di depan kertas itu ada tulisan 'untuk kak Haidar' dan ia membukanya dengan perlahan karena surat tersebut ditujukan untuk dirinya.


{Hai, Kak Haidar! Setelah membaca surat ini mungkin kakak sudah tidak menemukan Zeva ada di apartemen kakak lagi. Sesuai janji Zeva waktu itu, setelah 7 hari kita menjadi suami istri sungguhan maka Zeva akan pergi dari kehidupan kakak. Kakak bahagiakan dengan kepergian Zeva? Terima kasih ya Kak sudah mau menuruti kemauan Zeva. Sekali lagi Zeva minta maaf karena membuat hidup Kakak menderita dengan pernikahan kita, seharusnya Zeva gak menjebak Kakak waktu itu, kalau boleh jujur Zeva melakukan itu karena Zeva sangat mencintai Kak Haidar. Zeva pamit pergi ya, Kak! Jaga diri baik-baik ya, Kak. Zeva gak menyalahkan Kak Haidar dengan perlakuan kasar kak Haidar ke Zeva karena bukan kak Haidar yang jahat tapi Zeva. Jika di izinkan kita bertemu lagi Zeva ingin kita bertemu dalam versi saling mencintai namun Zeva rasa itu gak mungkin. Jangan cari Zeva ya Kak karena Zeva sudah pergi ke tempat yang jauh sekali. Oo iya Zeva lupa, Zeva sudah meletakkan surat perceraian kita di dalam kardus ya, Kak. Zeva sudah tanda tangan dan giliran kakak yang tanda tangan agar Kakak terbebas dari Zeva. Sekali lagi Zeva pamit, Kak. I love you Kak Haidar!}


Haidar selesai membaca surat dari Zevana dengan perasaan yang tidak bisa dijabarkan. Ada rasa sesak, marah, kecewa, sakit, yang Haidar rasakan saat ini.


"Bagus kalau lo sadar diri dan pergi dari hidup gue!" ujar Haidar dengan datar.


Haidar mengambil surat cerai yang diletakkan Zevana di kardus. Ia membukanya dan hendak membubuhi tanda tangan di sana namun hatinya seakan menolak hingga Haidar kesal dan meletakkan surat tersebut kembali di kardus.


"Ngapain gue mikirin wanita murahan itu. Seharusnya gue senang dan bahagia dia pergi! Gak ada yang menganggu hidup gue lagi!" ujar Haidar dengan datar.


Haidar melihat surat cerai tersebut dengan perasaan hampa. Haidar juga melihat surat dari Zevana yang ditujukan untuk kedua orang tua wanita itu. Apakah Haidar harus memberikannya sekarang? Rasanya tidak penting lebih baik Haidar ke kantor walaupun sudah telat karena sebentar lagi dirinya akan di sibukkan dengan kuliah kedokterannya kembali. Saat ini mungkin Haidar terlihat cuek setelah beberapa hari kepergian Zevana mungkin lelaki itu akan menyesal karena selama menikah dengan Zevana, wanita itu yang memenuhi kebutuhannya. Ya, tanpa sadar Haidar sudah ketergantungan dengan Zevana. Untuk mandi pun jika Zevana tidak menyiapkan airnya Haidar merasa malas.


***


Zayden tampak memperhatikan Cika yang sedang menjelaskan sesuatu kepadanya. Zayden lupa bagaimana cara bekerja di perusahaan dan saat ini Cika lah yang membantunya.


"Jadi, begini pak Zayden..."


"Stop, Cika! Kamu sengaja menggoda saya ya? Dasar gadis genit!" ujar Zayden dengan dingin.


"Dih geer banget, Pak! Saya di sini lagi menerangkan sesuatu! Anda saja yang terlalu kotor pikirannya! Sudah tertarik ya sama saya?" ujar Cika dengan mencibik padahal di dalam hati ia merasa menang saat Zayden terlihat uring-uringan.


Cika bangun dari duduknya lalu menghampiri Zayden dan duduk di pangkuan Zayden.


"Bangun!" ujar Zayden dengan dingin.


"Apa yang bangun, Ay? Burung kamu? Mau aku bantuin tidur gak?" tanya Cika dengan terkekeh.


Zayden tampak geram. "Bangun, Cika! Atau saya dorong kamu sampai jatuh!" ujar Zayden dengan dingin.


"Gak mau!" rengek Cika dengan manja yang membuat Zayden geram.


"Ba..."

__ADS_1


Cup...


"Ups...Gak sengaja cium, Pak!" ujar Cika menutup mulutnya. Ia puas telah membuat Zayden kesal dengan tingkahnya.


"Bangun atau saya pecat kamu!" ujar Zayden dengan sarkas.


Dengan kesal Cika bangun dari pangkuan Zayden. "Awas saja sampai kamu ingat semuanya aku gak akan maafin kamu dengan mudah karena kamu sudah buat aku sakit hati," ujar Cika dengan kesal.


"Saya tidak peduli!" ujar Zayden dengan dingin.


Tokk..tokk...


Cika menatap pintu yang di ketuk dengan perasaan dongkol Cika membuka pintu. Mata Cika menatap pria muda yang ada di depannya mungkin se-usia dengannya dan juga Haidar. Lelaki itu bekerja di bagian devisi.


Dengan kasar Zayden bangun dari duduknya dan melepas jas miliknya dengan cepat dan memakaikannya kepada Cika.


"Mata kamu bisa di kondisi tidak? Atau mau saya colok dengan besi panas?" ujar Zayden dengan tajam saat melihat karyawannya menatap Cika dengan penuh pujaan.


"M-maaf, Pak. Saya hanya ingin memberikan dokumen ini!" ujar pria itu dengan terbata.


Zayden mengambilnya dengan kasar. "Kamu bisa ambil sejam lagi," ujar Zayden dengan dingin.


"B-baik, Pak!" Setelah berkata seperti itu lelaki tersebut langsung pergi karena takut dengan tatapan Zayden yang sangat membunuh.


Zayden beralih menatap Cika dengan tajam. "Jangan keluar dari ruangan saya sebelum saya suruh!" ujar Zayden dengan hati yang memanas.


"Uluh-uluh sayangku cemburu. Jadi makin cinta deh," ujar Cika dengan terkekeh. Membuat Zayden cemburu adalah hobinya sekarang.


"Tapi kalau di pikir-pikir Eza tadi ganteng loh. Kalau kamu lupa sama aku Eza bisa jadi cadangan buat bahagiain aku," ujar Cika yang membuat Zayden geram.


Zayden menarik tangan Cika dan menutup pintu serta menguncinya. Ia mendorong Cika hingga gadis itu terjatuh di sofa.


"Ay, sabar dong. Ini masih di kantor biasanya di apartemen," ujar Cika dengan terkekeh.


Sial! Zayden terangsang! Awas saja gadis ini!


"Kamu gak takut saya hamili?" tanya Zayden dengan dingin.


"Enggaklah, Ay! Aku hamil ya kita nikah. Tapi nikah dulu lah baru buat anak," jawab Cika dengan enteng yang membuat Zayden frustasi.


"CIKA!!"

__ADS_1


"Iya sayangku!"


"Argghh...."


__ADS_2