
...📌 Jangan lupa Bom like dan komentarnya ya biar author semangat up-nya....
...Happy reading...
***
Nessa dan Andra kian semakin dekat karena keduanya kerap kali bertemu. Ayuna yang meminta ayahnya untuk sering bertemu dengan Nessa bahkan ketika di kampus pun Ayuna ingin bertemu dengan Nessa, saat ayahnya membawanya ke kampus.
Saat ini Nessa sedang berada di rumah Andra. Padahal gadis itu sudah menolak dengan halus saat Ayuna mengajaknya ke sini, ia masih kesal dengan Andra karena setiap kali mereka bertemu pasti akan adu mulut. Ya, keduanya akan berantem walau karena hal yang sangat sepele.
Seperti saat ini Nessa dan Andra sedang merebutkan gelas. Hal yang sangat sepele bukan?
"Ini punya saya, Pak! Saya duluan yang ambil!" ujar Nessa dengan kesal.
"Ini rumah saya, Nessa! Jadi, semua yang ada di rumah ini milik saya!" ujar Andra.
"Tapi saya mau minum dengan gelas ini, Pak!" ucap Nessa dengan kesal.
"Punya saya!"
"Punya saya ih!"
Andra dan Nessa salling berebut gelas hingga gelas itu terjatuh dari tangan mereka.
Pyar....
Andra dan Nessa saling melotot dengan tajam. "Lihat gara-gara kamu gelas saya jadi pecah," ujar Andra dengan kesal menatap Nessa dan gelas yang sudah hancur di lantai.
"Ini salah Bapak yang gak mau mengalah sama saya! Kalau Bapak gak merebutnya pasti gelas itu gak akan pecah," ujar Nessa dengan mencibikkan bibirnya.
"Ayah, Bunda. Ayuna capek lihat kalian terus berantem setiap bertemu," keluh Ayuna dengan memanyunkan bibirnya menatap Nessa dan ayahnya dengan kesal.
"Salah Bunda kamu!"
"Salah Ayah kamu!"
Andra dan Nessa berucap bersamaan yang membuat keduanya saling menatap kesal kembali.
"Ngapain kamu ikut ucapan saya?" tanya Andra dengan datar.
"Bapak yang sejak tadi ikut-ikut saya! Dasar duda menyebalkan," ujar Nessa dengan kesal.
"Kamu tuh perawan menyebalkan! Pantas yang gak ada mau pacaran sama kamu," ujar Andra bersidekap dada menatap tajam ke arah Nessa.
Nessa yang tak mau kalah juga bersidekap dada. "Saya banyak cowok yang mendekati ya, Pak! Nah, Bapak mana? Gak ada cewek yang mendekati Bapak, kan?" tanya Nessa dengan mengejek.
Ayuna menonton Nessa dan Andra yang masih bersitegang. Selalu begini kalau mereka berdua bertemu dan tentu saja membuat anak kecil itu tertekan.
"Kenapa sih Bunda dan Ayah selalu berantem kalau bertemu seperti kartun Tom and Jarry?" ujar Ayuna bergumam dengan dirinya sendiri.
"BUNDA, AYAH!" teriak Ayuna yang sudah sangat kesal.
"Kenapa?" tanya keduanya menatap ke arah Ayuna.
"Nanti kalau berantem terus bisa jatuh cinta loh!" ujar Ayuna yang membuat Nessa dan Andra melotot mendengar ucapan Ayuna yang entah belajar dari mana kosa kata seperti itu. Andra kecolongan kosa kata anaknya.
"Ayuna bilang apa?" tanya Andra dengan syok.
"Bunda sama Ayah bisa saling jatuh cinta dan menikah terus Ayuna punya dedek bayi," ujar Ayuna dengan polosnya lalu anak kecil itu menutup mulutnya tahu jika dirinya telah salah bicara.
"Ayuna kamu belajar kata-kata itu dari mana hmm?" tanya Andra menahan kekesalannya.
Andra menatap Nessa. "Pasti kamu yang mengajarkan anak saya untuk ngomong seperti itu, kan? Ngaku kamu?" tuduh Andra yang membuat Nessa jengah dan memutar bola matanya dengan malas.
"Menuduh tanpa bukti itu jatuhnya fitnah ya, Pak!" ujar Nessa dengan jengah.
__ADS_1
"Saya bukan menuduh tapi ini fakta ya!" ujar Andra yang membuat Nessa geram.
"Dasar Duda menyebalkan! Awas ya, Pak!" ujar Nessa mencubit perut Andra.
"Aduh-aduh sakit, Nessa!"
"Rasakan ini! Seenaknya saja menuduh saya!" ujar Nessa dengan kesal dan terus mencubit tubuh Andra yang bisa ia jangkau.
Andra mencoba menghindar dari cubitan Nessa dengan berlari.
"Jangan kabur kamu, Pak! Sini kamu duda menyebalkan!" ujar Nessa mengejar Andra.
Ayuna terkikik geli melihat calon bunda dan ayahnya saling berlarian. "Hihihi lucunya," ujar Ayuna tertawa geli.
"SINI KAMU PAK ANDRA DUDA MENYEBALKAN!" teriak Nessa dengan kesal.
"Hahaha kamu tidak akan bisa mengejar saya, Nessa!" ujar Andra dengan tertawa mengejek yang membuat Nessa semakin kesal.
Nessa berlari dan tersandung kakinya sendiri yang membuat jantung Nessa berdetak dua kali lebih cepat. Gadis itu memejamkan matanya karena pasrah ketika akan jatuh di lantai, ia sudah membayangkan rasa sakitnya.
Tapi...
Brukkk..
Nessa langsung membuka matanya saat ia merasa bibirnya menempel di sesuatu yang tak asing baginya.
Nessa dan Andra melotot saat kedua bibir mereka saling menempel dengan Nessa yang berada di atas tubuh Andra.
"Sial! Kenapa bibir Nessa terasa manis?" gumam Andra di dalam hati.
"Ciuman pertamaku!" gumam Nessa di dalam hati.
"Cie-cie Ayah sama Bunda ciuman!" ujar Ayuna yang membuat Nessa dan Andra tersadar.
"Bangun kamu! Kecil-kecil tapi berat juga. Makanya jangan kebanyakan dosa!" ujar Andra dengan ketus padahal sangat berbeda dengan hatinya dan tubuhnya yang sangat merespon sentuhan Nessa yang tidak sengaja.
"Sial! Sama dada rata aja burung saya mau bangun!" umpat Andra menahan hasratnya.
"B-bapak Tuh yang banyak dosa! S-sudah ahh... Ayuna ayo kita ke kamar aja! Ayah kamu nyebelin!" ujar Nessa menahan rasa gugupnya akibat ciuman tidak sengaja mereka.
"Kamu tuh yang nyebelin. Ya udah sana bawa Ayuna ke kamarnya! Kepala saya bisa pecah karena kamu," ujar Andra dengan ketus.
"Termasuk kepala bawah saya!" lanjut Andra di dalam hati.
"Ayo, Sayang!" ujar Nessa kepada Ayuna meninggalkan Andra yang sedang frustasi.
"Haruskah memakai sabun lagi?" tanya Andra dengan frustasi.
****
Zayyen diam-diam tanpa sepengetahuan keluarga Delisha masuk ke dalam ruang ICU dimana Delisha dirawat di sana.
Zayyen menatap Delisha yang terbaring dengan lemah di brankar dengan alat medis yang masih banyak terpasang di tubuh Delisha.
Dengan perlahan Zayyen menghampiri Delisha setelah lumayan lama ia berdiri dan hanya menatap Delisha dengan tatapan sendu dan rasa bersalahnya.
Zayyen mengambil tangan Delisha dengan perlahan, seandainya bisa diulang Zayyen akan mempertahankan Delisha dan bukan melepaskan gadis ini hanya karena egonya dan sekarang Zayyen telah kehilangan Delisha. Ada seseorang yang terus membuat Delisha tersenyum dan itu bukan dirinya, mengingat itu hati Zayyen berdenyut sakit.
"Andai di dunia ini ada kehidupan kedua. Kakak ingin kita bersama dan saling mencintai Delisha," gumam Zayyen dengan lirih.
Ingin sekali Zayyen merebut Delisha dari Ikbal tetapi Zayyen tahu ia sudah tidak berhak, yang ada Delisha semakin membencinya. Bahkan rasa cinta yang dirasakan Zayyen untuk Cika secepat itu menghilangkan. Dan Zayyen baru sadar jika Delisha lah gadis yang ia cintai selama ini.
Zayyen perlahan mendekat ke arah kening Delisha dan mengecupnya dengan perlahan. "Kakak akan menjadi dokter spesialis jantung sesuai yang kamu inginkan, Delisha! Mungkin dengan begini Kakak merasa dekat dengan kamu. Kakak sedang berada di fase mengikhlaskan kamu dengan Ikbal walau rasanya sangat sulit. Dan Kakak berharap kita bisa berjodoh," ujar Zayyen dengan terkekeh.
__ADS_1
Terlalu berharap sekali dirinya bukan?
Zayyen yang mendengar langkah kaki mendekat ke arah ruangan Delisha. mencoba bersembunyi di balik tirai gorden saat ia mendengar suara pintu terbuka.
Ternyata Ikbal lah yang datang. Zayyen ingin melihat seberapa Ikbal sangat mencintai Delisha yang membuat gadis itu sangat cepat berpaling darinya. Rasanya masih ada kata tak rela saat Delisha sudah mencintai lelaki lain selain dirinya.
Ikbal menatap Delisha. Ia mencium pipi Delisha dengan pelan, sampai saat ini Delisha belum sadarkan diri.
"Cantik kangen ih! Kok lama banget sih tidurnya!" ujar Ikbal dengan manja.
"Mas udah cium kamu loh!" ucap Ikbal menatap Delisha dengan dalam.
"Kamu udah janji mau bangun kalau Mas cium!" ujar Ikbal yang didengar oleh Zayyen dan entah mengapa tanpa Zayyen sadari tangannya terkepal dengan sangat erat mendengar ucapan Ikbal.
Cup...
Cup...
Cup...
"Mau sampai kapan jadi putri tidur hmm?" tahya Ikbal dengan memegang tangan Delisha
"Bangun yuk!"
"Sayangku!"
"Cantikku!"
"Istriku di masa depan!"
Ikbal terus memanggil Delisha dengan panggilan kesayangannya. Ikbal merasa ada yang mengawasinya sejak tadi mencoba menajamkan pendengarnya.
Ikbal melihat ke arah belakang, ia menyeringai saat melihat ada seseorang dibalik tirai gorden. Dengan perlahan Ikbal berjalan ke arah gorden tersebut dan membukanya dengan kasar.
Srekkk..
"Zayyen! Ngapain lo di ruangan tunangan gue?" tanya Ikbal dengan tajam.
Zayyen tersenyum santai. "Santai aja tidak perlu sepanik itu, Ikbal. Gue ke sini hanya ingin menjenguk Delisha bukan bermaksud jahat," sahut Zayyen.
"Keluar lo dari sini!" usir Ikbal dengan dingin.
"Oke gue akan keluar!" ujar Zayyen dengan tenang tetapi keduanya menatap tajam satu sama lain seperti musuh.
"Jangan pernah menemui Delisha lagi!" ujar Zayyen sebelum pria itu benar-benar keluar.
Zayyen mengepalkan kedua tangannya mendengar larangan Ikbal. Dengan menahan emosi Zayyen keluar dari ruangan Delisha.
"M-mas!" gumam Delisha yang membuat Ikbal tersentak lalu tersenyum menghampiri Delisha.
"Iya, Sayang! Akhirnya kamu bangun juga," ujar Ikbal menggenggam tangan Delisha
"Harus bangun biar kita bisa menikah terus biar gak ada yang rebut Delisha dari Mas pacar!" ujar Delisha dengan pelan.
Sejak kedatangan Zayyen tadi sebenarnya Delisha sudah sadar, gadis itu mencoba menahan agar tidak membuka mata di hadapan Zayyen. Rasa kecewanya kepada Zayyen masih ada. Dan untuk rasa cinta? Bohong jika Delisha melupakan Zayyen secepat itu karena Delisha sudah mencintai Zayyen dari lama walau masih menyisakan rasa di hatinya tetapi Delisha tidak ingin mengecewakan Ikbal yang sudah baik kepada dirinya. Ia harus bisa melupakan Zayyen sepenuhnya hingga nama Ikbal lah yang ada di hatinya sampai ia menghembuskan napas terakhirnya nanti.
Ikbal terkekeh. "Setelah kamu sehat kita akan menikah menyusul Dareel dan Mikaela!" ujar Ikbal dengan tegas yang membuat Delisha tersenyum.
Bagaimana kondisi kakak iparnya ya? Pasti Mikaela sangat bersedih karena kehilangan ibunya. Delisha jadi bersalah pada Mikaela.
****
📌 Gimana perasaan kalian setelah membaca part ini?
📌 Pesan untuk Andra dan Nessa apa nih biar gak berantem terus?
__ADS_1
📌 Senang gak Delisha sudah sadar? Cie bakal nyusul Dareel Mikaela nih!