
Happy reading
***
Mama Yesha panik saat dikabarkan oleh ART-nya jika di rumahnya ada polisi yang datang. Saat itu juga ia pulang ke rumahnya dan meninggalkan suaminya tang masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit bahkan bibirnya terlihat miring karena serangan jantung yang ia alami hingga terkena stroke.
"A-ada apa ini, Pak?" tanya Mama Yesha dengan panik saat melihat banyaknya polisi di rumahnya dan beberapa polisi sedang menempelkan kertas yang bertuliskan 'rumah ini di sita'.
"Kami akan menyita rumah ini, Bu! Dan tolong jangan halangi pekerjqay kami," ucap komandan polisi tersebut dengan tegas.
"D-disita? G-gak mungkin! J-jangan sita rumah saya, Pak! Ini rumah saya tidak ada yang berhak mengambil rumah ini," ucap Mama Yesha menghalangi polisi.
"Bapak Handoko tidak bisa melunasi hutangnya dan rumah ini di Sita oleh pihak Bank. Mohon kerja samanya Bu, kami hanya menjalankan tugas. Ibu kami beri waktu 15 memit untuk membereskan pakaian ibu yang berada di dalam setelah itu Ibu harus meninggalkan rumah ini secepatnya," ujar polisi tersebut dengan tegas.
Mama Yesha histeris, ia bersujud di kaki polisi. "Saya mohon jangan sita rumah kami, Pak! Hiks...hikss...mau tinggal di mana kami jika rumah ini di sita?" ucap Mama Yesha dengan berlinang air mata. Ia terus memohon kepada polisi agar tidak menyita rumahnya tetapi semua polisi tidak bergeming.
"Waktu anda tidak banyak, Bu! Atau ibu keluar dari rumah ini tanpa membawa pakaian?" ucap polisi tersebut dengan tegas.
"Semua aset yang berada di rumah ini sudah kami Sita. Ibu hanya diperbolehkan membawa pakaian saja, silahkan masuk dan bereskan pakaian Ibu karena waktu ibu sudah tidak banyak," ujar polisi dengan dingin.
Mama Yesha terlihat sangat lemas. Ia memohon dan bersujud di depan polisi pun sudah tidak ada gunanya lagi, dengan perasaan yang sangat hancur mama Yesha berjalan masuk ke rumahnya yang sekarang sudah di sita oleh polisi dengan sempoyongan.
"Nyonya, saya bantu!" ucap pembantu yang bekerja di rumah mama Yesha.
Mama Yesha hanya mengangguk dengan lemas. Ia sama sekali tidak bisa membereskan bajunya karena hatinya benar-benar hancur saat ini. Ia hajya bisa meratapi nasibnya yang sudah jatuh miskin.
"Sudah selesai, Nya!" ucap pembantu mama Yesha dengan pelan, ia juga merasa iba dengan majikannya yang saat ini sudah menjadi mantan majikannya.
__ADS_1
"M-mohon maaf sebelumnya, Nya. S-saya minta pesangon terakhir saya karena saya juga tidak mempunyai uang untuk pulang ke kampung Nya," ucap bibi tersebut dengan tak enak hati.
Mama Yesha menatap mantan pembantunya dengan sedih. Membayar pembantunya saja ia sekarang tidak bisa? Lalu apa yang harus ia lakukan karena semua uangnya sudah pasti dibekukan oleh pihak bank.
Mama Yesha membuka tasnya hanya ada uang satu juga di dompetnya. "B-bi maaf saya hanya bisa membayar bibi 800 ribu. Sekali lagi saya minta maaf Bi! Hiks...hiks... saya sudah jatuh miskin Bi," ucap Mama Yesha kembali menangis.
Bibi tersebut menerima uang yang diberikan mama Yesha. Walaupun gajinya tidak dibayar sepenuhnya tetapi ia sudah bersyukur karena mama Yesha masih mau memberikan uangnya untuk membayar pekerjaan dirinya.
"Hiks...hiks... saya jatuh miskin, Bi! Saya tidak bisa hidup seperti ini! Saya tidak akan sanggup!" racau Mama Yesha dengan terisak.
Bibi hanya bisa mendengarkan keluh kesah mantan majikannya. Walaupun mama Yesha terlihat kejam tetapi gajinya selalu dibayar tepat waktu, tetapi kali ini bibi memaklumi mantan majikannya yang sedang tertimpa musibah.
"Yang sabar, Nya. Kalau begitu saya pamit pulang ya, Nya!" ucap Bibi dengan pelan meninggalkan Mama Yesha seorang diri yang masih menangis sesegukan.
"Waktu ibu sudah habis silahkan keluar dari rumah ini!" ucap polisi yang membuat mama Yesha bertambah lemas.
"Ya Tuhan... Apakah ini karma untukku?" gumam Mama Yesha dengan pedih.
****
Fathan menatap datar ke arah papanya yang sudah tidak berdaya. Mata papa Handoko bergerak seperti ingin menyampaikan sesuatu namun suaranya sama sekali tidak terdengar karena tertahan di tenggorokan. Bahkan menggerakkan tubuhnya saja ia sangat sulit.
"Fathan, tolong Papa!" mungkin itulah yang akan dikatakan oleh papa Handoko kepada Fathan.
Ceklek...
Pintu ruangan papa Handoko terbuka menampilkan mama Yesha yang terlihat berantakan.
__ADS_1
Fathan juga menatap mamanya dengan datar, ada sedikit rasa iba kepada kedua orang tuanya tetapi itulah karma yang harus didapatkan oleh kedua orang tuanya yang telah memisahkannya dengan Tri.
"F-fathan!" gumam Mama Yesha dengan lirih.
"R-rumah Mama dan papa serta semua aset yang kami punya semua sudah di sita oleh pihak polisi!" ucap Mama Yesha dengan menangis kembali di hadapan Fathan.
Fathan tidak bergeming. "Karena kesalahan kalian juga rumah sakit milik Fathan juga sudah diambil ahli oleh tuan Akbar Mahendra. Kita sudah jatuh miskin!" ucap Fathan dengan dingin.
"R-rumah sakit ini juga di ambil ahli?" tanya Mama Yesha dengan terbata.
"Mama tahu karena apa?" tanya Fathan dengan datar.
Mama Yesha menggelengkan kepalanya karena ia benar-benar tidak tahu apa penyebab keluarga Mahendra dan Brawijaya melakukan semua ini kepada keluarganya.
"Karena Mama dan papa mengusir Tri dari rumah Fathan. Kalian tidak tahu kan jika Tri sudah dianggap keluarga oleh dua keluarga besar itu? Kalian salah membenci orang!" ucap Fathan dengan dingin mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat hingga urat-urat tangannya kelihatan.
Mama Yesha membekap mulutnya dengan tangannya, ia tidak menyangka jika Tri sangat dekat dengan dua keluarga tersebut.
"M-mama tidak tahu j-jika T-tri..."
"Apapun alasannya Fathan tidak bisa memaafkan mama dan papa dengan mudah!" ucap Fathan dengan dingin.
"Tadi dokter datang! Mama harus membayar administrasi biaya perawatan papa! Fathan sama sekali tidak bisa membantu karena Fathan pun tidak ada uang! Fathan masih kecewa dengan mama dan papa!" ucap Fathan dengan dingin dan berlalu pergi begitu saja meninggalkan mamanya yang terjatuh di lantai.
"Arghhh... Kita sudah miskin, Pa!" ucap Mama Yesha memukul lantai. Sedangkan papa Handoko tidak bisa merespon apapun selain air mata penyesalan yang keluar dari sudut matanya.
"M-mama, maafkan p-papa!" gumam Papa Handoko di dalam hati yang tidak bisa melakukan apa pun.
__ADS_1
Hidup mereka sudah hancur karena kesalahan mereka sendiri!