
...📌Jangan lupa bom like dan komentarnya ya supaya author semangat updatenya. Btw kurang lebih 2000 kata loh ini. Masa gak diapresiasi sih!...
...Happy reading...
****
Hati orang tua mana yang tidak hancur ketika mendengar kabar jika anak perempuan mereka telah direnggut kesuciannya dengan lelaki yang sudah ia anggap sebagai anak kandungnya sendiri, karena Haidar sangat dekat sekali dengan kedua anak kembarnya.
Tiara hampir limbung jika Zidan tak memegang tubuhnya. Pria itu mengeraskan rahangnya pertanda ia marah. Marah kepada Haidar dan marah kepada dirinya sendiri karena di saat-saat seperti ini Zidan tak ada di samping anaknya.
"M-mas, Zevana Mas! A-anak kita..." Tiara tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Tiara masih sangat syok ketika Zayyen mengabari dirinya dan sang suami tentang kondisi Zevana.
Harus apa ia sekarang? Zayden pun belum sadarkan diri sampai sekarang. Kepala Tiara hampir pecah rasanya memikirkan kondisi keluarganya yang diberi cobaan seperti ini. Kenapa dari dulu sejak dirinya masih kecil dan sampai saat ini penderitaan selalu datang?
"S-sayang apa ini karma karena kita dulu juga seperti itu?" tanya Zidan dengan sorot mata yang penuh luka.
"Hiks... Gimana ini Mas? Zayden juga belum sadar sampai sekarang. A-anak kita sempat sadar tapi dia memilih tidur panjang lagi. Zevana juga butuh kita, Mas. Kita harus bagaimana?" tanya Tiara yang ingin berteriak sekencang-kencangnya karena rasa sesak yang menghimpit dadanya saat ini.
Zidan menangkup wajah Tiara dengan lembut. "Mas yang pulang ya. Mas akan menikahkan Zevana dengan Haidar bagaimanapun mereka harus segera menikah. Kamu tetap di sini menunggu Zayden, kita tidak bisa memilih karena keduanya adalah anak kita. Setelah urusan Mas selesai di Indonesia Mas akan kembali ke sini dan kamu bisa pulang ke Indonesia. Kita bergantian ya, Sayang!" ujar Zidan dengan pelan.
Sebagai orang tua keduanya tidak bisa memilih harus menunggu siapa. Yang jelas keduanya harus bergantian menjaga dan menghibur kedua anaknya. Zayden yang belum sadarkan diri karena akibat kecelakaan itu terjadi pendarahan di bagian otak pria itu yang membuat Zayden seperti ini. Memang Zayden sempat sadar tetapi setelah itu ia berteriak dengan kencang hingga tak sadarkan diri kembali bahkan dokter mengatakan jika Zayden sadarkan pun lelaki itu akan kehilangan ingatannya. Itulah yang membuat Tiara sampai sekarang tidak mengabari Cika, takut gadis itu semakin terluka.
Dengan berderai air mata akhirnya Tiara mengangguk walaupun ia merasa berat tidak menyaksikan pernikahan sang anak secara langsung. Ia ingin bertemu Zevana dan ingin menguatkan anaknya, apalagi ketika mereka video call tadi Zevana tak mau menatapnya. Anak bungsunya itu terus terisak dengan bergumam 'aku kotor, ma' kalimat itu yang membuat Tiara semakin sesak dan ingin pulang segera.
"Kalau ada apa-apa sama Zeva langsung hubungi aku ya Mas!" pinta Tiara dengan sendu.
"Iya, Sayang! Kamu tenang aja ya! Kamu harus jaga kesehatan selama Mas pulang," ujar Zidan dengan sendu.
"Iya, Mas!" ujar Tiara dengan pelan.
"Sebelum Mas pulang ayo kita temui Zayden dulu ya!" ucap Zidan.
Keduanya memakai pakaian steril sebelum menemui Zayden. Dengan perlahan keduanya masuk ke ruangan Zayden, tidak bisa dipastikan Aiden masih berada di tubuh Zayden atau tidak tetapi dokter mengatakan bisa saja akibat kecelakaan itu alter ego Zayden akan menghilang.
Tiara lagi dan lagi meneteskan air mata setiap melihat kondisi Zayden yang dipenuhi banyaknya alat medis di tubuhnya. Tubuh anaknya yang gagah perlahan hilang, Zayden menjadi kurus semenjak tak sadarkan diri.
Zidan mendekat ke arah telinga Zayden. "Nak, Papa pulang dulu ya. Semoga setelah Papa kembali kamu sudah sadar," gumam Zidan yang membuat Tiara terisak tetapi menahan tangisannya dengan menutup mulutnya.
"Hiks..."
"Ssttt...Sayang jangan nangis! Kamu sudah janji untuk tegar! Kita akan hadapi ini semua sama-sama ya!" ujar Zidan memeluk Tiara yang tubuhnya bergetar.
"M-mas bagaimana aku tidak nangis. H-hatiku hancur saat ini Mas. Apakah kebahagiaan tidak ada untuk ketiga anak kita? Apakah ini akibat kita sangat memanjakan ketiganya Mas? Atau karma kita di masa lalu hiks..." Tiara memeluk suaminya dengan sangat erat yang membuat Zidan juga meneteskan air matanya tetapi cepat-cepat ia hapus agar istrinya tak bertambah sedih.
Zidan memeluk istrinya dengan erat bermaksud menenangkan hati istrinya yang saat ini sedang gundah memikirkan banyak masalah.
"Mas yakin setelah ini akan ada matahari yang membuat kita akan tersenyum kembali, Sayang! Percayalah semua akan berlalu," gumam Zidan dengan lirih.
"Jaga diri baik-baik ya selama Mas ada di Jakarta. Setiap jam harus hubungi Mas untuk memberitahukan perkembangan kondisi Zayden. Kamu juga harus tenang, Zevana akan baik-baik saja anak kita tidak akan berbuat macam-macam yang akan membahayakan dirinya sendiri," ujar Zayden yang ingin menenangkan sang istri yang terus terisak pedih.
Hati suami mana yang tidak sakit melihat istrinya seperti ini dan ayah mana yang tidak sakit karena merasa gagal mendidik anak-anaknya. Itulah yang saat ini Zidan rasakan tetapi ia harus kuat demi istri dan ketiga anaknya.
"Ya Tuhan cobaan apalagi ini? Kenapa harus kembali datang ke keluarga kecilku?" gumam Zidan dengan pedih.
***
Pertemuan antara Akbar dan pendonor anaknya di undur menjadi pagi ini karena Akbar harus memastikan kesehatan Delisha dan Akbar akan tenang meninggalkan Delisha di pagi harinya. Dan untung saja pria tersebut tidak marah.
Akbar datang bersama dengan Fiona dan Dareel karena anak ketiganya ini yang akan menikah dengan anak dari sang pendonor untuk Delisha.
"Di mana orang tersebut, Heri?" tanya Akbar dengan tenang.
"Ada ruang VIP, Tuan!" ujar Heri dengan sopan.
__ADS_1
"Antarkan kami ke sana!" perintah Akbar yang di angguki oleh Heri.
Dareel menghembuskan napasnya dengan pelan saat langkahnya terasa berat untuk menemui gadis yang akan menikah dengannya.
"Sial gak biasanya gue gugup!" umpat Dareel dengan kesal kepada dirinya sendiri.
Akbar, Fiona, dan Dareel semakin dekat dengan ruang VIP yang Heri maksud. Orang kepercayaan Akbar segera membukakan pintu untuk tuannya.
Lelaki dengan kulit berwarna hitam dengan wajah yang sangat mengerikan berdiri di hadapan Akbar dan membungkukkan badan. Ada dua orang wanita yang juga berada di sampingnya mereka juga ikut menunduk tanpa berdiri dengan orang yang terkenal dengan kekayaannya.
"Selamat datang Tuan Mahendra," ujar lelaki tersebut dengan tersebut.
"Terima kasih. Apakah kalian sudah menunggu lama?" tanya Akbar dengan tegas.
"Belum, Tuan!" ujar lelaki tersebut.
Akbar, Fiona, dan Dareel duduk di hadapan ketiganya. Sejak tadi mata Dareel tidak pernah lepas dari wanita muda yang ada di hadapannya. Wanita itu seperti ketakutan dan tak berani mengangkat wajahnya. Dareel jadi tertarik bagaimana kehidupan gadis itu.
"Langsung saja Tuan. Perkenalkan saya Frengki, ini istri saya Lena dan ini anak saya Mikaela. Saya telah membaca pengumuman yang tersebar kalau Anda sedang membutuhkan pendonor jantung dan paru-paru untuk anak bungsu Tuan Mahendra," ujar Frengki dengan tenang.
"Iya benar. Jadi, siapa yang akan jadi pendonor di antara kalian?" tanya Akbar menatap dengan menatap ketiganya.
"Istri saya, Tuan!" ujar Frengki dengan tegas. Wajah pria itu sama sekali tidak menunjukkan kesedihan. Ada apa sebenarnya dengan keluarga ini? Batin Akbar bertanya.
Lena, meneteskan air matanya. Wajahnya sangat pucat sekali karena wanita itu mempunyai penyakit kanker lambung stadium akhir.
"A-anda tidak salah, Pak? Mengorbankan istri anda demi uang?" tanya Fiona syok.
Frengki menatap Fiona. "Tidak Nyonya. Sebentar lagi istri saya akan mati, tubuhnya akan berguna karena menjadi pendonor," jawab Frengki dengan tenang.
"Astaghfirullah..." Fiona tak menyangka ada manusia yang sekejam Frengki.
"T-tuan saya ikhlas. Benar kata suami saya hidup saya akan berguna setelah menjadi pendonor setidaknya jantung dan paru-paru saya masih hidup di tubuh anak Tuan dan nyonya," ujar Lena dengan terbata.
"Tidak Tuan! Toh uang saya sudah habis banyak untuk pengobatan istri saya! Sudah saatnya dia membalas budi kepada saya. Dan satu lagi, Tuan! Saya tidak mau menghidupi Mikaela lagi. Pengeluaran hidup semakin besar maka dari itu saya punya syarat agar anak Tuan menikah dengan Mikaela," ujar Frengki dengan santai tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Mikaela hanya bisa diam, ia sangat takut dengan Frengki karena sekecil apapun kesalahannya maka dirinya akan berakhir di kamar yang cukup gelap dengan tangan dan kaki yang terpasung. Ini juga yang membuat Mikaela sangat takut bertemu dengan orang-orang di luar.
"Ibu aku takut!" cicit Mikaela.
Tanpa sepengetahuan siapa pun tangan Dareel mengepal dengan cukup kuat.
"Binatang saja mempunyai rasa kasihan terhadap anak dan pasangannya. Sepertinya hati anda sudah sekeras batu Tuan Frengki," ujar Dareel dengan dingin.
Frengki tersenyum. "Saya memang tidak mempunyai hati Tuan Muda. Toh Mikaela adalah anak tiri saya. Untuk apa saya menghidupinya setelah ibunya sudah mati? Ini adalah syarat yang diajukan istri saya juga sebenarnya!" ujar Frengki dengan santai.
"Katakan mahar yang anda inginkan Tuan Frengki!" ujar Dareel dengan dingin rasanya ia ingin meninju wajah pria yang tak punya belas kasih di hadapannya.
"3 milyar. Itupun sudah dengan harga jantung dan paru-paru istri saya!" jawab Frengki dengan tersenyum bahagia karena sebentar lagi dia akan memiliki uang.
"Baiklah saya akan memberikannya dengan mudah. Tetapi anda harus menandatangani surat ini. Mikaela sudah menjadi milik saya, dan anda tidak bisa mengusik gadis itu lagi. Anda tahu kan bagaimana keluarga Mahendra kalau anda masih tetap ingin hidup?" ujar Dareel dengan dingin auranya sama seperti Akbar yang sangat mengerikan jika sedang marah.
"S-saya tahu, Tuan Muda!" ujar Frengki menelan ludahnya dengan kasar.
Dareel menyeringai. "Jika suatu saat anda memanfaatkan Mikaela untuk menguras harta keluarga saya maka saya tidak segan-segan mematahkan leher anda," ujar Dareel dengan tenang tetapi auranya sangat mematikan.
"B-baik Tuan!"
Akbar tersenyum. "Heri berikan cek itu kepada Frengki!" ujar Akbar dengan tegas.
"Baik Tuan!" Heri dengan patuh memberikan cek berisi 3 milyar untuk Frengki.
"Terima kasih, Tuan! Kalau begitu saya permisi anda boleh langsung membawa dua wanita tak berguna ini!" ujar Frengki berlalu begitu saja.
__ADS_1
"Dasar tidak sopan!" umpat Dareel dengan kesal.
Mikaela memegang tangan ibunya dengan gemetar. "Ibu apa aku dijual hiks..." gumam Mikaela dengan takut yang membuat Dareel miris.
"Maafkan ibu, Nak. Ini semua demi masa depan kamu," gumam Lena dengan lirih.
"Kapan operasi dilaksanakan, Tuan?"tanya Lena dengan pelan.
" Kapan ibu siap?" tanya Akbar dengan pelan. Jujur saja Akbar kasihan karena Lena hanya dimanfaatkan oleh suaminya tetapi karena Lena pun sudah ikhlas maka Akbar akan tetap melakukannya.
"Hari ini juga saya siap, Tuan! Tapi saya ingin tuan muda berjanji di hadapan saya!" ujar Lena dengan memohon.
"Tuan Muda, tolong bahagiakan anak saya! Semenjak ayahnya meninggal dan saya menikah lagi anak saya menderita karena keegoisan saya. Tuan Muda mau berjanji kepada saya, kan?" ujar Lena dengan lirih.
"Saya tidak bisa berjanji, Bu. Tapi saya akan usahakan semuanya untuk membahagiakan anak ibu," jawab Dareel dengan tegas.
"Sebelum saya pergi apakah saya bisa menyaksikan pernikahan kalian?" tanya Lena dengan penuh harap.
"Bisa tentu saja sangat bisa. Saya akan mengurus secepatnya dan mungkin besok baru bisa selesai," ujar Dareel dengan tegas.
Akbar tidak menyangka jika anaknya akan bisa setegas ini. Dan Akbar bangga dengan Dareel.
"Ibu jangan tinggalkan Mikaela!" cicit Mikaela dengan menangis.
Dareel menghampiri Mikaela. "Ayo ikut!" ujar Dareel dengan tenang tetapi Mikaela malah beringsut menjauh karena takut.
"Ssttt...tenang aku tidak akan menyakitimu!" ujar Dareel dengan pelan.
"Tuan, anak saya susah untuk berjalan karena sudah lama di pasung oleh suami saya karena Mikaela tidak mau di jual oleh pria hidung belang," ujar Lena dengan sendu.
Kalian jangan tanya lagi bagaimana perasaan Dareel sekarang bahkan Fiona yang mempunyai hati lembut sudah menangis sedih memikirkan kondisi Mikaela.
Dengan sigap Dareel menggendong Mikaela. Tubuh gadis ini sangat ringan bahkan terlihat sangat kurus sekali.
"Paman Heri. Bawa calon mertua saya dengan baik ya! Berikan kenyamanan selama di rumah sakit," ujar Dareel dengan tenang.
"Baik Tuan Muda!" ujar Heri dengan tegas.
"Pi, Mi, Dareel pergi duluan ya!" ujar Dareel yang di angguki oleh Akbar dan Fiona.
"Hati-hati, Nak!"
Dareel mengangguk. Mikaela memberanikan diri menatap Dareel, mata mereka bertemu yang membuat Dareel terpaku.
"Tolong jangan sakiti saya, Tuan!" gumam Mikaela dengan sendu yang membuat Dareel tersenyum.
"Jangan membantah saya kalau kamu tidak ingin saya buang!" ujar Dareel yang membuat Mikaela takut.
"Jangan buang saya, Tuan!"
"Tidak akan Mikaela. Karena kamu sekarang adalah milikku!" gumam Dareel yang membuat Mikaela terpaku.
***
📌Setelah baca cerita ini kalian kesel gak sih sama Frengki?
📌Apa yang akan kalian katakan sama Mikaela?
📌Rindu Zayden gak nih?
Jangan lupa komen di setiap pin ya.
Spam komen emot ini 😍 ya biar besok up lagi
__ADS_1