
...Jangan lupa ramaikan part ini ya...
...Happy reading...
****
Delisha bangun dari tidurnya dengan tubuh yang sangat pegal. Ia menatap infus yang berada di tangannya dengan datar. Sejak kapan benda jelek ini ada di tangannya? Seakan sudah terbiasa dengan infus tersebut Delisha melepaskan infus di tangannya dengan tenang tanpa ada ringisan kesakitan yang ia keluarkan dari bibirnya.
"Berdarah!" gumam Delisha dengan tenang. Lalu ia mengambil tisu di atas nakas dan mengelap darahnya dengan tenang, setelah tidak keluar lagi Delisha turun dari ranjang kedua orang tuanya dan kembali ke kamar. Ia meninggalkan infus yang masih berisi setengah lagi. Padahal Delisha tidak tahu jika ia sudah menghabiskan 2 botol infus semalam akibat tubuhnya yang panas tiba-tiba.
Fiona masuk ke kamarnya membawa sarapan untuk Delisha.
Prank...
Fiona melepaskan tampan tersebut dari tangannya dengan syok hingga mangkuk berisi bubur dan gelas berisi air hangat untuk anaknya pecah di lantai saat melihat Delisha tak ada lagi di kamarnya. Tentu saja suara benda pecah tersebut menghebohkan se-isi rumah bahkan pelayan tergopoh-gopoh berlari ke arah kamar untuk melihat keadaan nyonya mereka.
"Sayang!" panggil Akbar dengan panik. Akbar tidak bisa berlari sekencang dulu tetapi ia berhasil memegang tubuh Fiona saat tubuh istrinya hampir terhuyung jatuh.
"D-delisha mana?" tanya Fiona dengan tercekat. Degup jantungnya sangat berpacu dengan cepat saat melihat anaknya tak ada di kamarnya lagi.
"Daniel cari Delisha di kamarnya cepat!" ucap Akbar kepada anaknya.
Ketiga kakak Delisha langsung berlari ke arah kamar adiknya. Mereka juga sangat takut terjadi apa-apa dengan Delisha bahkan sejak semalam mereka tak tidur menunggu Delisha hingga panas gadis itu turun, ketiganya baru keluar kamar orang tuanya subuh tadi. Dan pagi ini semua isi rumah dihebohkan dengan tak adanya Delisha di kamar orang tuanya.
"P-papi..." gumam Fiona menatap Akbar dengan mata berkaca-kaca, sekali berkedip saja air mata Fiona langsung membasahi pipi Fiona.
"Kita ke kamar Delisha ya! Papi yakin anak kita ada di kamarnya," ujar Akbar dengan tegas.
"Pelayan bereskan pecahan beling itu jangan sampai ada yang tersisa dan sampai melukai kaki istri saya!" perintah Akbar dengan tegas kepada pelayan yang ada di dekatnya.
Wajah para pelayan tersebut terlihat panik. Bahkan wajah mereka pucat, Delisha adalah berlian di rumah ini yang tidak boleh lecet sedikit pun. Bahkan air matanya saja sangat berharga. Jadi, ketika melihat Delisha tak ada di kamar kedua orang tuanya para pelayan sangat khawatir dengan keadaan nona muda mereka.
"B-baik, Tuan!"
Sedangkan gadis yang membuat se-isi rumah khawatir sedang menikmati mandinya. Setelah selesai mandi Delisha keluar dengan memakai kimono bajunya yang berwarna pink. Gadis pecinta boneka kucing itu tampak bingung melihat wajah ketiga kakaknya yang memancarkan aura yang sangat dingin sekaligus khawatir.
"Kakak kenapa? Kok wajahnya aneh?" tanya Delisha kepada ketiga kakaknya.
Danish, Daniel, dan Dareel langsung memeluk adiknya dengan erat.
"Kamu membuat kami semua hampir mati mendadak, Dek!" gumam Daniel dengan menghela napasnya. Bahkan air matanya hampir jatuh karena sangking khawatirnya dengan keadaan Delisha.
__ADS_1
Delisha masih sangat bingung dengan semua yang terjadi bahkan ia yang cemas melihat maminya menangis memasuki kamarnya bersama dengan papinya.
"Mami kok nangis? Delisha ada buat salah ya?" tanya Delisha dengan bingung.
"Astaga anak nakal!" gumam Fiona memeluk Delisha dengan erat bahkan ketiga anak lelakinya sampai mundur ke belakang untuk memberikan ruang kepada maminya.
Delisha cemberut mendengar perkataan maminya. "Delisha gerah. Jadi, Delisha keluar dari kamar Mami untuk mandi," ujar Delisha yang mulai paham kesalahannya apa.
"Badan kamu masih demam Dek seharusnya jangan mandi dulu," ujar Dareel dengan tegas.
"Badan Adek biasa aja kok. Bentar deh Delisha ganti baju dulu," ucap Delisha yang mulai risih.
Delisha masuk ke walk-in closet miliknya dan membuat kedua orang tua dan ketiga kakaknya menunggu.
"Kakak!" rengek Delisha dengan manja setelah selesai berganti pakaiannya.
"Kenapa, Dek?" sahut Danish, Daniel, dan Dareel secara bersamaan.
"Kuku Delisha jadi jelek! Coba lihat ini, ini juga!" ujar Delisha dengan cemberut memperlihatkan kuku-kukunya yang membiru.
"Pakaikan kutek warna ungu ya Kak! Ini warnanya jelek. Delisha lagi haid jadi gak apa-apa pakai kutek," ujar Delisha dengan memohon.
"Papi sama Mami keluar dulu ya. Nanti kalau udah selesai kalian langsung ke bawah sarapan," ujar Akbar yang sudah tak kuat melihat anaknya yang seperti ini.
Delisha mengangguk. Ia menarik ketiga kakaknya untuk naik ke kasurnya yang penuh boneka kucing.
"Lala jangan di dudukin ih!" teriak Delisha tidak terima ketika boneka kucing kesayangannya tak sengaja di dudukin oleh Danish.
"Lebih sayang kak Denish apa Lala?" tanya Danish dengan kesal. Terkadang Danish cemburu dengan para boneka Delisha.
"Lala!"
"Yang bener?!"
"Jangan suruh milih! Delisha sayang semuanya!" ujar Delisha dengan manja.
"Udah jangan berantem! Sini mana tangan kamu, Dek!" ujar Daniel dengan lembut.
Delisha memberikan tangannya, sebenarnya ia sangat sedih melihat lebam di kukunya. bahkan di pergelangan tangannya juga. Delisha yakin jika di pergelangan tangannya akibat cengkraman Zayyen yang cukup kuat, tubuhnya yang sudah tak kuat membuat bekas keunguan itu muncul.
Delisha melakukan ini supaya jika ketemu Zayyen lelaki itu tak akan curiga. Walau ia yakin Zayyen tak akan pernah memperhatikan dirinya sedetail itu.
__ADS_1
Daniel memakaikan kutek berwarna ungu itu di tangan adiknya. Ia terlihat diam karena sejak tadi Daniel menahan sesak di dadanya. Kenapa harus Delisha? Pertanyaan itu yang selalu berada di pikirannya sampai sekarang.
Delisha memejamkan matanya saat sakit itu kembali datang.
"Dek jangan gerak. kuteknya jadi gak rapi!" ucap Daniel dengan kesal.
"Dek!" panggil Danish, Daniel, dan Dareel dengan panik saat melihat ringisan Delisha memegang dadanya.
Delisha membuka matanya. "Hehe gak apa-apa, Kak! Lanjutin lagi ya! Bagus warnanya Adek suka," ujar Delisha dengan tersenyum.
"Nanti Delisha mau pamer sama ayang Zayyen kalau kuku Delisha udah cantik! Delisha gak mau kak Zayyen lihat Delisha jelek," ucap Delisha yang membuat ketiga kakaknya terdiam.
"Ponsel Delisha mana? Delisha belum ada kirim pesan untuk kak Zayyen," tanya Delisha kepada ketiga kakaknya.
"Sembuh dulu baru bisa main ponsel!" ujar Dareel dengan tegas.
"Gak ada bantahan kali ini!" ujar Danish dengan tajam.
"Gak boleh main ponsel? Bisa mati Delisha!!" teriak Delisha.
"Mati? Siapa yang ngajarin kamu ngomong gitu? Kakak gak suka!" ujar Danish dengan marah.
"Ups..." Delisha menutup mulutnya dengan satu tangannya yang belum diberikan kutek. Delisha sudah salah bicara kali ini.
"Maaf!"
****
Dari pagi hingga sore menjelang Zayyen merasa ada yang kurang. Tak ada pesan atau telepon berisik dari Delisha ternyata membuat dirinya aneh hari ini. Seharusnya Zayyen senang tetapi kenapa ia malah uring-uringan tidak jelas?
Zayyen memainkan ponselnya men-scroll pesan yang Delisha kirim untuknya tetapi jarang ia balas bahkan sekali balas Zayyen sangat singkat.
Pesan masuk dari Cika membuat Zayyen melupakan tentang Delisha hingga lelaki itu larut dalam obrolannya dengan Cika. Gadis itu juga sembunyi-sembunyi mengirimkan pesan untuk Zayyen. Jika ketahuan Zayden maka habislah Cika kena amuk pria yang memiliki kepribadian ganda tersebut.
"Gue rasa sampai kapan pun gue gak akan bisa hilangin perasaan ini, Cik! Lo emang milik Zayden, gue gak bisa memiliki lo tapi ketika lo butuh gue, gue akan siap buat lo kapan aja!" gumam Zayyen mengusap foto Cika dengan jari jempolnya.
***
Bonus Chat Delisha & Zayyen
__ADS_1