
...Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
****
Zayden terdiam saat saudara kembarnya datang menghampiri dirinya. Keduanya sama-sama terdiam karena tak tahu harus mengatakan apa, sebab selama ini mereka tidak saling menyapa sama sekali.
"Ngapain lo ke sini? Bahagia kan kalau gue seperti ini? Lo bisa memiliki Cika kalau lo mau," ujar Zayden akhirnya membuka suara.
"Ini kan yang lo mau selama ini?" tanya Zayden dengan tajam.
Zayyen terdiam. Ia menatap manik mata kembarannya dengan dalam. "Gak ada satu niat pun yang membuat gue senang kalau lo seperti ini!" sahut Zayyen dengan tegas.
Zayden menyeringai. "Oo iya?" ujar Zayden dengan terkekeh sinis.
Zayyen menghela napasnya. "Gue tahu gue salah karena gue diam-diam bertemu dengan Cika di belakang lo! Tapi pertemuan kami pun kebanyakan membahas tentang lo! Tentang sikap kasar lo yang terkadang membuat Cika bersedih. Jujur gue emang suka sama Cika, bahkan cinta sama dia tapi gue gak ada niatan sedikit pun untuk mengambil Cika dari lo walau hati gue juga sakit! Tapi cinta tak harus memiliki, gue sadar itu!" ucap Zayyen dengan tegas dan tangan yang terkepal karena menahan emosinya di dalam dirinya.
"Tetap aja lo cinta sama cewek gue, brengsek!" ujar Zayden dengan tajam.
"Kendalikan diri lo! Lo harus melawan Aiden! Atau gak gue akan benar-benar merebut Cika dari lo! Cika gak akan tahan sama sikap kasar lo kalau gini! Siap-siap untuk kehilangan Cika selamanya!" ujar Zayyen dengan tajam. Ia tidak bermaksud berbicara serius karena Zayyen berbicara seperti itu agar Zayden mampu mengendalikan dirinya sendiri agar tidak dikuasai oleh Aiden.
Zayden menutup matanya dengan kedua tangan yang terkepal dengan sangat erat. Tatapan Zayden benar-benar sangat dingin kepada Zayyen tetapi Zayyen sama sekali tidak takut.
"Jangan jadi cowok lemah! Pengecut! Mengendalikan diri sendiri aja gak mampu! Lo gak akan bisa jaga Cika kalau gini! Lebih baik gue aja yang jaga Cika!" ujar Zayyen semakin memanas-manasi Zayden.
"Kedatangan lo ke sini cuma buat gue emosi!" ujar Zayden dengan tajam.
"Kalau iya kenapa? Lo mau marah? Mau pukul gue lagi? Silahkan! Tapi gue pastikan lo gak akan bisa ketemu Cika setelah ini!" ujar Zayyen dengan dingin.
Zayden menarik kerah baju Zayyen dengan kuat. Di dalam diri Zayden, ia sedang berusaha agar Aiden tidak mengusai tubuhnya karena sudah terpancing emosi Zayyen. Benar kata saudara kembarnya, ia tak boleh menjadi lelaki lemah yang mau dikendalikan oleh kepribadian gandanya.
Buuukkk...
"Arrgghhh...Pergi lo dari sini sebelum gue habisi lo sekarang juga!" teriak Zayden dengan meninju tembok yang ada di depannya.
Zayyen pikir Zayden akan memukulnya kembali tetapi pikirannya itu salah karena Zayden memukul tembok hingga mengeluarkan darah segar.
"Tangan lo berdarah!" ujar Zayyen dengan cemas. Bagaimanapun ia dan Zayden adalah saudara kembar yang memiliki ikatan batin. Walau mereka tak saling menyapa selama beberapa tahun lamanya tetap saja ikatan batin itu tidak akan pernah hilang.
__ADS_1
"Brengsek! Keluar lo sekarang!" ujar Zayden dengan tajam.
"SUSTER SURUH LELAKI INI PERGI DARI SINI! CEPAT!" teriak Zayden dengan kencang.
Ia mendorong Zayyen dengan kuat agar keluar dari ruangannya. Kali ini ia tak mau Zayyen jadi korban amarah Aiden, entahlah Zayden tak ingin Zayyen babak belur lagi karena dirinya.
Zayden menjambak rambutnya dengan kasar, saat rasa sakit mulai ia rasakan kembali dengan bertubi-tubi. Lelaki itu terjatuh di lantai dan Zayyen ingin menolong kembarannya tetapi dokter dan suster mencegahnya.
"Mas, tolong keluar dulu! Pasien dalam keadaan yang tidak stabil bisa-bisa anda dihajar oleh pasien!" ujar dokter dengan cepat.
"Tolong kembaran saya, Dok! D-dia harus bisa sembuh!" ujar Zayyen dengan cemas saat melihat Zayden meringkuk di lantai dengan kesakitan sebelum dokter menyuntikkan sesuatu yang membuat kembarannya kembali tenang.
"Kami akan berusaha, Mas! Tolong keluar dan berikan kami ruang untuk melakukan terapi kepadanya sesuai permintaan pasien," ujar Dokter yang membuat Zayyen tersenyum akhirnya kembaran mau berusaha untuk sembuh.
Zayyen perlahan keluar dari ruangan kembarannya dengan perasaan yang sedikit lega hingga dirinya berpapasan dengan Cika. Dapat Zayyen lihat jika mata Cika amatlah sembab.
"Bisa kita bicara?" tanya Cika dengan canggung.
Zayyen mengangguk dan akhirnya keduanya duduk di kursi tunggu walau banyak pasien gila yang beralu lalang di hadapan mereka.
"Mau ngomong apa?" tanya Zayyen dengan pelan.
Zayyen tersenyum. "Ya aku tahu itu! Maaf aku udah lancang mencintai kamu! Tapi lambat laun pasti rasa ini akan hilang," ujar Zayyen dengan tersenyum walau hatinya berdenyut sakit.
Cika juga membalas senyuman Zayyen. "Gimana hubungan kamu dengan Delisha?" tanya Cika yang membuat Zayyen terdiam.
"Kami sudah berakhir!" ujar Zayyen yang membuat Cika terkejut.
"K-kenapa?" tanya Cika dengan tercekat.
"Aku bukan lelaki baik untuk Delisha!" sahut Zayyen.
"Alasan klasik! Aku baru tahu dari papa kalau sumber semangat hidup Delisha itu kamu sejak dulu. Coba buka hati kamu buat adik sepupu aku, gampang banget kok mencintai dia! Dia cantik, dia baik, dia gak banyak menuntut apapun dari kamu selama ini, kan?" ujar Cika yang membuat Zayyen diam.
"Tidak semudah itu..."
"Bukan tidak mudah tapi kamu yang terlalu egois menurut aku! Kamu tidak mau berusaha membuka hati kamu buat dia! Tanyakan sama hati kamu seberapa penting Delisha di hati kamu! Sebelum semuanya terlambat! Titik kecewa seorang wanita itu diam, Zayyen! Pergi tanpa melihat masa lalu dan jangan sampai itu terjadi sama kamu. Kita harus bisa bahagia dengan pasangan masing-masing. Aku dengan Zayden dan kamu dengan Delisha!" ujar Cika dengan tegas. Walaupun dia juga melakukan kesalahan tetapi Cika sadar jika hanya ada Zayden yang ada di hatinya dan menunggu lelaki itu sampai sembuh.
****
__ADS_1
Ikbal pulang ke rumah mamanya dengan perasaan bahagia tetapi kebahagiaan itu hilang ketika melihat mobil papanya terpakir di teras rumah mamanya.
Ikbal berdecak kesal, ia memukul stir mobil dengan keras. Rumah ternyamannya sekarang adalah rumah Delisha, karena di sana tidak ada pengkhianat yang merusak kebahagiaannya.
Dengan langkah yang sangat malas Ikbal keluar dari mobil dan memasuki rumah mamanya. Tatapannya begitu dingin saat papanya dengan wanita selingkuhannya membawa anak haram itu ke rumah mamanya. Rumah mamanya tidak pantas diinjak oleh mereka.
"Ikbal!" panggil Claudia dengan lembut saat anaknya sama sekali tidak menyapa dirinya dan tamunya saat ini.
"Kenapa, Ma? Ikbal capek mau istirahat!" ujar Ikbal dengan malas.
"Lagian kenapa Mama menerima tamu pengkhianat ke rumah ini? Rumah ini jadi sumpek!" ujar Ikbal dengan tajam.
"Bal, dengarin Papa!" ujar Tomi dengan tegas.
"Gak ada yang perlu di dengarkan! Pengkhianat tetap saja pengkhianat!" ujar Ikbal dengan tajam.
"Dan lo!" tunjuk Ikbal kepada anak papanya dari selingkuhannya.
"Gue baru ingat kalau lo Naura sahabat Delisha! Dengar ya, jangan dekati Delisha lagi! Bisa-bisa Delisha dapat pengaruh buruk dari lo!" ujar Ikbal dengan tajam.
"IKBAL!"
"Mas sudah!" ujar Jesica, ibu tiri Ikbal dengan pelan.
"KENAPA, PA? MAU BENTAK IKBAL? MAU PUKUL IKBAL KARENA MEMBELA ANAK SELINGKUHAN PAPA?" teriak Ikbal dengan keras.
Naura hanya menundukkan kepalanya takut kepada Ikbal. Benar kata Delisha jika Ikbal sangat menyeramkan ketika marah. Bahkan Naura tak berani menatap mata Ikbal yang sangat gelap.
"Stop!!! Sebaiknya kalian pergi dari rumah ini! Ikbal butuh waktu! Biar saya yang menjelaskan nanti," ujar Claudia dengan tegas karena mental anaknya lebih penting dari apapun sekarang.
"Ikbal yang keluar!" ujar Ikbal dengan dingin dan tak menatap mama, papa, serta dua perempuan yang sudah merusak kebahagiaannya.
Tomi mengusap wajahnya dengan gusar. "Claudia, Mas..."
"Sepertinya kalian butuh waktu untuk berdua kami permisi!" ujar Jesica dengan pelan.
Jesica meninggalkan rumah Claudia dengan menggandeng tangan anaknya. Sedangkan Tomi menatap Claudia dengan perasaan rindu.
Tomi memeluk Claudia dengan erat. "Maat atas ketidakjujuran Mas yang membuat rumah tangga kita berantakan! Mas akan menyelesaikan ini dengan cepat! Ikbal harus tahu semuanya! Yang terpenting kamu sekarang percaya sama Mas, Claudia! Itu lebih penting untuk sekarang," ujar Tomi.
__ADS_1
Bagaimana pun kecewanya Claudia dengan suaminya tetap saja rasa cintanya untuk Tomi masih tersisa bahkan tak pernah hilang sedikit pun. Entahlah Claudia harus apa sekarang! Mendengar penjelasan mantan suaminya dengan Jesica tadi membuat hati Claudia sedikit berdamai dengan masa lalunya.