Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 74 (Calon Istri Om Tampan)


__ADS_3

...Ramaikan part ini ya...


...Happy reading...


***


Orang yang tepat adalah orang yang selalu memperjuangkan senyumanmu dan menghapus air matamu!


~Fiona~


*****


Fathan menghela napasnya saat Cika ikut tidur bersama dengan mereka. Sekarang Cika sudah menguasai istrinya dengan memeluk perut Tri, sedangkan dirinya kebagian tempat di pinggir dan di tengah-tengah mereka ada Cika yang sudah lelap dalam tidurnya bersama dengan mamanya, mereka saling memeluk satu sama lain yang membuat Fathan merasa iri dan cemburu karena malam ini tidak bisa memeluk istrinya dan bermanja dengan Tri.


Jantung Fathan hampir copot saat menyaksikan bagaimana kaki anaknya hampir menendang perut istrinya, untung saja Fathan dengan sigap menahan kaki Cika agar tidak mengenai perut Tri.


"Hampir saja!" gumam Fathan mengelus dadanya.


Tri menggeliat dalam tidurnya, matanya terbuka dengan perlahan. "Eugh..."


Tri menatap ke arah Fathan. "Mas kok belum tidur? Emang ini sudah jam berapa?" tanya Tri dengan serak khas orang mengantuk tetapi ia selalu bangun karena sudah tak bisa tidur dengan nyenyak lagi.


Bagaimana Fathan mau bisa tidur jika Cika yang tidurnya selalu tidak tenang membuat Fathan harus berhati-hati menjaga istrinya, ia takut kaki Cika menendang perut Tri.


"Gak bisa tidur, Hanum! Mas selalu was-was setiap mau memejamkan mata. Cika terlalu aktif walaupun sedang tertidur, Mas takut kakinya menendang perut kamu," ujar Fathan berkata jujur.


"Biar Mas di tengah ya, setidaknya dengan begitu Mas tidak perlu khawatir," ujar Fathan dengan pelan.


Tri yang mengerti ketakutan suaminya langsung setuju dengan perkataan Fathan.Tri berusaha untuk bangun dan bersandar di kepala ranjang.


"Pelan-pelan Mas takutnya Cika bangun dan nangis," ujar Tri saat Fathan memindahkan Cika di pinggir untung saja Fathan sudah memasang pembatas di pinggir kasur yang membuat Cika tidak akan jatuh walaupun tidurnya sama sekali tidak tenang, kakinya selalu bergerak untuk menguasai tempat tidur mereka.


"Iya, Sayang!" ujar Fathan dengan lembut.


Setelah selesai memindahkan Cika. Fathan berbaring di samping istrinya, kini dirinya ada di tengah-tengah antara Cika dan juga Tri. Posisi seperti ini membuat Fathan tidak khawatir lagi jika Cika akan menendang perut istrinya.


"Sini!" Fathan menepuk lengannya agar Tri berbaring di sampingnya dengan berbantalan lengannya.


Tri tersenyum, ia kembali tidur dan mencari kenyamanan dengan menenggelamkan wajahnya di dada Fathan. Fathan mengelus rambut Tri dengan lembut.


"Kenapa ya ibu hamil itu auranya beda? Cantik banget," gumam Fathan mengecup bibir istrinya gemas.


"Gak tau juga aku, Mas. Kamu kan dokter mungkin pernah meneliti soal itu," jawab Tri dengan terkekeh.


Fathan tertawa lirih. "Gak pernah, Sayang! Kata orang kalau ibu hamil terlihat cantik anak yang di kandung berjenis perempuan. Benar gak ya?" gumam Fathan mengelus perut Tri dengan lembut.

__ADS_1


Dug...


"Eh..."


Fathan dan Tri terkekeh bersama saat anaknya merespon dengan tendangan saat Fathan mengelus perutnya.


"Owahhh...Kenapa Dek? perkataan Papa benar ya? Kalau begitu bertambah lagi dong princess di rumah ini dan Papa pangeran yang paling tampan di sini," ujar Fathan dengan bahagia.


Dug...


Dug...


Tri meringis saat tendangan anaknya semakin kencang. "Tendangannya kencang banget, Mas! Kalau Sudah begini rasanya perutku sakit. Beda banget tendangannya, apa salah satunya cowok ya Mas? Dan dia gak terima kalau Mas bilang Mas yang paling tampan di rumah ini," ucap Tri dengan masih meringis kecil.


"Benarkah? Mas ada saingannya dong," gumam Fathan dengan tertawa lirih.


"Apapun jenis kelaminnya yang penting kalian sehat di dalam sana, Nak! Mama kalian juga sehat, itu juga sudah membuat Papa bahagia," ucap Fathan dengan lembut.


"Iya, Papa!" jawab Tri menirukan suara anak kecil.


"Sayang kangen!" gumam Fathan dengan serak.


"Kan aku sudah di sini, Mas! Gak kemana-mana lagi. Kok kangen sih?" ucap Tri dengan heran.


Bak berkamuflase seperti bayi Fathan terlihat manja sekali dengan Tri.


Tri menggelengkan kepalanya. "Ada cika di kamar ini kamu lupa, Mas? Nanti dia bangun!" ucap Tri dengan pelan.


"Sebentar aja, Sayang! Main lembut biar Cika gak terganggu," ucap Fathan dengan memelas.


"Janji sebentar dan lembut? Gak buat keributan di kamar?" ujar Tri memastikan. Pasalnya jika mereka sudah Bercint* mereka lupa segalanya karena kenikmatan yang mereka rasakan.


"Iya, Sayang!" ujar Fathan dengan gemas.


"Dari belakang aja ya?!" ucap Tri dengan pelan, sial ia sudah terpancing dengan tatapan Fathan yang seperti ingin melahapnya.


Fathan menganggukkan kepalanya. Tri perlahan memunggungi suaminya, dengan perlahan juga Fathan menyikapkan piyama daster istrinya dan memasukkan miliknya dengan perlahan dari belakang. Sungguh sekarang mereka seperti pencuri yang takut ketahuan, karena diam-diam bercint* saat anaknya tidur bersama dengan mereka. Adakah yang seperti Fathan dan Tri saat ini?


*****


Akbar sedang menyelesaikan desain rumah di ruang kerjanya di temani oleh Fiona yang tak mau ditinggalkan sama sekali.


Sejak perkataan Akbar yang mengajak Fiona menikah, gadis itu terlihat posesif sekali dengannya. Bahkan Fiona bersikap waspada ketika ada wanita yang mendekatinya. Bukannya risih Akbar malah gemas dengan sikap Fiona yang seperti ini kepadanya.


"Wah ini rumahnya cantik banget!" ucap Fiona dengan mata berbinar saat melihat desain rumah yang Akbar buat dalam komputer.

__ADS_1


"Kamu suka?" tanya Akbar menatap wajah Fiona dari samping karena posisi mereka saat ini Fiona sedang duduk di pangkuannya.


Entahlah gadis itu sengaja atau tidak tetapi posisi ini sangat menguji keimanannya, bahkan miliknya sudah menegang di bawah sana. Tetapi Fiona sama sekali tidak terganggu dan malah terlihat santai sedangkan dirinya tak lagi bisa fokus bahkan keringat dingin sudah muncul di dahinya dengan dada yang bergemuruh hebat pertanda ia ingin segera menuntaskan sesuatu di dalam kamar mandi akibat ulah gadis polos ini.


"Suka, Om. Ini rumah impian Fio banget. Om hebat bisa merancang rumah sekeren ini! Fio mau lihat desain interior dalamnya dong!" ujar Fiona yang diangguki oleh Akbar.


"Kamu turun dulu, saya gak bisa gerak! panas banget Fio!" ujar Akbar dengan keringat yang sudah bercucuran di dahinya.


"Gak mau! Fio ini calon istri Om jadi Fio harus membasmi para pelakor yang ada muka bumi ini. Tadi Fio habis lihat sinetron di televisi ikan terbang, pelakornya nyebelin banget, Om. Fio jadi kesal sekarang!" ujar Fiona dengan bibir yang bersungut sebal dan mata yang tajam.


"Gak usah aneh-aneh nonton yang seperti itu! Kamu cocoknya lihat film kartun!" ujar Akbar menasehati.


"Fio penasaran. Jadi, kalau Fio ketemu pelakor yang seperti itu Fio sudah punya jurus untuk membuang mereka di planet mars," ujar Fiona dengan penuh tekad yang membuat Akbar terkekeh lucu.


"Gak usah bahas yang gak penting. Katanya mau melihat desain interior rumah buatan saya," ucap Akbar yang diangguki oleh Fiona.


Fiona tampak asyik menatap layar komputer. Matanya penuh takjub dengan desain rumah yang Akbar rancang sekarang.


"Mau rumah yang seperti ini?" tanya Akbar pada Fiona.


"Mau! Tapi Fio gak punya uang," ucap Fiona dengan sendu.


"Saya buatkan asal kamu tetap berada di samping saya, menjadi semangat untuk saya! Menjadi wanita yang selalu berada di samping saya dalam keadaan apapun. Sanggup? Sekali pun saya gak punya uang?" tantang Akbar.


"Sanggup asal ada telur gulung!" ujar Fiona dengan terkekeh.


"Suka banget sama telur gulung?" tanya Akbar dengan pelan.


"Suka!"


"Kalau sama saya? Suka?"


"Suka banget!"


"Ehhh...FIO MALU!"


Akbar terkekeh, ia seperti menjadi muda kembali saat bersama dengan Fiona.


"OM TUTUP MATA JANGAN LIHAT FIO! FIO MALU!"


"Mata saya gak bisa ditutup, gimana?" goda Akbar.


"OM AKBAR!!" rengek Fiona yang membuat Akbar gemas.


"FIO BURUNG SAYA JANGAN KAMU DUDUKIN. ARGGHH..."

__ADS_1


__ADS_2