Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 93 (Pernikahan Zidan dan Tiara)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya....


...Happy reading...


***


Papa Ezra terlihat bersemangat hari ini karena ia akan menikahkan Tiara dengan Zidan. Sebagai penebus dosa dirinya kepada Tiara, selama di sekap oleh Tiara, ia baru sadar jika sikap yang ditunjukkan Tiara kepadanya adalah sikap yang terlahir karena keegoisannya sebagai seorang papa yang selalu membeda-bedakan antara Tiara dengan Tika.


Dengan memakai kursi roda papa Ezra dibantu oleh Fathan untuk memasuki ruang ICU di mama Tiara dirawat. Kondisi papa Ezra belum pulih sepenuhnya masih banyak bekas sayatan dan siksaan di tubuhnya, tetapi ia harus bisa menikahkan Tiara dengan Zidan hari ini juga. Sedangkan mama Erlin tidak bisa menyaksikan pernikahan anaknya karena kondisi yang belum memungkinkan. Sedangkan Sabrina wanita itu masih terbaring lemah di ruang ICU juga dan belum sadarkan diri sampai sekarang.


"Apakah Tiara sudah sadar, Fathan?" tanya Papa Ezra dengan pelan karena kondisinya yang memang belum pulih benar. Ia hanya memaksakan kehendaknya agar bisa menikahkan Tiara dan Zidan walau fisiknya masih sangat lemah, penyiksaan yang Tiara lakukan benar-benar sangat sadis. Dan mungkin tubuh Sabrina tidak bisa menerima perlakuan tersebut hingga wanita itu dinyatakan kritis, sama halnya dengan Sabrina, mama Erlin juga baru sadar dari masa kritisnya.


"Belum, Pa!" jawab Fathan dengan singkat.


Ekpresi Papa Ezra kembali sendu. Ia baru mengetahui jika Tiara mengalami kecelakaan yang cukup parah saat dirinya sadar. Napas papa tercekat saat melihat bagaimana kondisi Tiara yang banyak dipasangkan alat-alat medis di tubuh anaknya bahkan Tiara terlihat sangat kurus.


"T-tangan Tiara..." Papa Ezra tidak bisa berkata-kata ketika melihat tangan kanan anaknya sudah tidak ada.


"Sudah diamputasi, Pa! Akibat kecelakaan itu tangan Tiara remuk, tapi masih bisa dipasang tangan palsu jika Tiara mau dan Zidan sudah memesankam tangan palsu yang paling bagus untuk Tiara bahkan hampir sama persis dengan tangan aslinya," ujar Fathan menjawab ketidakberdayaan papa Ezra melihat kondisi Tiara.


Papa Ezra menangis tanpa suara. "Ya Tuhan...A-aku papa yang sangat kejam. S-seharusnya aku menjadi cinta anak perempuanku sendiri, tapi anakku menaruh kebencian kepadaku karena sikapku yang egois. Ampuni aku Ya Tuhan!!" ucap Papa Ezra dengan terisak.


"B-bawa Papa mendekat ke arah Tiara, Fathan!"


"JANGAN!" teriak Zidan saat ia baru saja masuk dengan penghulu yang akan menikahkan dirinya dan Tiara.


"Jangan sentuh Tiara, Om. Biarkan Tiara tidur," ucap Zidan dengan tajam.


"T-tapi..." papa Ezra tak kuasa untuk membantah ucapan Zidan karena ia pun merasa tak pantas untuk memegang tangan kiri Tiara. Dirinya belum mendapatkan maaf dari Tiara, ia takut kondisi anaknya semakin parah jika ia menyentuhnya.


Dengan perlahan papa Ezra mundur menjauh dari Tiara. Kini, giliran Zidan yang mendekat ke arah Tiara.

__ADS_1


"Ay, aku gak suka kamu kurus seperti ini. Badan kamu gak enak di peluk kalau kurus. Aku selalu marah kalau kamu diet sejak dulu, tapi sekarang aku tak kuasa hanya untuk sekedar marah sama kamu. Maaf, Ay. Aku tak mengizinkan om Ezra memegang tubuhmu untuk saat ini, ketakutan akan kehilangan dirimu lebih besar dari apapun," gumam Zidan dengan sendu.


Zidan menyentuh pipi Tiara dengan pelan. "Kamu mimpi apa sih Ay sampai gak bangun-bangun. Enak banget ya di sana tanpa aku dan anak kita?" tanya Zidan dengan pelan dan itu berhasil membuat papa Ezra menangis.


"Sebentar lagi akad nikah kita, Ay? Kamu gak mau menyaksikan bagaimana aku menjadikan kamu istri dan ibu dari anak-anak aku hmm?" tanya Zidan dengan serak.


Zidan menahan tangisnya. Ia mengambil tangan kiri Tiara dengan perlahan, dan mengecupnya penuh kelembutan dan kerinduan yang sangat mendalam. Tanpa di sadari oleh Zidan, air mata Tiara mengalir dari sudut matanya.


"A-ay, kamu respon aku? K-kamu bisa dengan suara aku?" tanya Zidan dengan terbata.


Zidan melihat ke arah Fathan. "Fathan, tolong panggilkan dokter. Tiara merespon ucapan gue! Dia nangis!" ucap Zidan dengan tersenyum dan menangis secara bersamaan.


Fathan mengangguk. Ia tanggap, walaupun ia pemilik rumah sakit ini, kali ini Fathan mau di suruh-suruh oleh sahabatnya. Kali ini Fathan diam tetapi jika Tiara sudah sadar Fathan akan memberikan tugas yang banyak untuk Zidan.


Dokter datang dengan cepat ketika Fathan memanggilnya. Siapa yang berani berlama-lama jika pemilik rumah sakit ini sudah memerintahkan dirinya dan juga para dokter dan suster lainnya. Dokter yang terkenal sangat bucin kepada istrinya berubah bak menjadi monster jika pekerjaan para karyawannya tidak ada yang becus.


"Gimana keadaan Tiara, dokter Ridwan?" tanya Zidan berharap-harap cemas.


Dokter Ridwan menggeleng. "Belum ada perkembangan apapun pada dokter Tiara," sahut dokter Ridwan dengan pelan.


Dokter Ridwan mencoba memastikan Zidan untuk memeriksa Tiara dua kali tapi hasilnya tetap sama, belum ada perkembangan apapun dari Tiara saat ini. "Keadaannya masih sama seperti sebulan yang lalu dokter Zidan. Mungkin saja dokter Tiara bisa mendengar suara anda, bisa saja ini adalah suatu hal yang sangat bagus untuk perkembangan saraf otaknya. Walaupun keadaannya belum ada perkembangan apapun, sebaiknya ajak dokter Tiara terus mengobrol," jelas dokter Ridwan yang membuat Zidan kembali bersedih, ternyata Tiara-nya belum kembali.


"Y-ya sudah. Laksanakan pernikahan kami sekarang juga!" ucap Zidan dengan pelan saat melihat kedua orang tuanya datang bersama dengan anak kembarnya. Tak lupa Tri dan Cika juga datang bersamaan dengan Akbar dan Fiona, kali ini Akbar menjadi saksi pernikahan antara Zidan dan Tiara.


Pernikahan yang seharusnya terjadi dengan rasa bahagia kini harus terjadi dalam keadaan yang mengharu biru karena keadaan pengantin wanitanya belum sadarkan diri sampai sekarang.


Papa Ezra yang juga berharap Tiara sadar menjadi sedih kembali ternyata anaknya belum mau kembali. Apakah karena dirinya dan sang istri?


****


Zidan menjabat tangan papa Ezra dengan di saksikan kedua anaknya, kedua orang tuanya, Fathan, Tri, Fiona, Akbar serta dokter Ridwan.

__ADS_1


"Saya terima nikah dan kawinnya Tiara Azarine binti Ezra Aditama dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang tunai 100 juta di bayar tunai!" Dengan satu tarikan napas akhirnya Zidan menjadikan Tiara istrinya.


"Sah"


Zidan menangis memeluk kedua anaknya. "Akhirnya kita bisa berkumpul kembali, Sayang!" gumam Zidan memeluk Zayyen dan Zayden dengan erat.


Zayyen dan Zayden bahagia walaupun keduanya tidak mengerti mengapa papanya menikah dengan mamanya baru sekarang. Tetapi wajah bahagia mereka sangat terlihat jelas.


Keduanya saling menatap satu sama lain. Tatapan Zayden kembali tajam untuk kakak kembarnya seakan permusuhan itu belum usai sampai sekarang. Sedangkan Zayyen hanya menatap dingin ke arah Zayden tak terlalu memusingkan sikap Zayden yang memusuhinya. Zayyen tetap tenang dan dingin seperti sifatnya seperti biasa.


Zidan membawa kedua anaknya untuk mendekat ke arah Tiara. "Ay, ini kan yang kamu inginkan sejak dulu. Aku mohon bangun, Ay!" ujar Zidan dengan pelan.


"Ma, bangun! Zayyen sayang mama!" gumam Zayyen dengan pelan.


"Ma, Zayden sayang mama! Zayden mau mama bangun!" gumam Zayden.


Ternyata mamanya masih menjadi putri tidur Walau satu persatu keinginan Tiara sudah terwujud. Sampai kapankah Tiara menjadi putri tidur?


Semua orang yang menjadi saksi pernikahan Zidan dan Tiara tak kuasa menahan tangisnya begitu pun dengan Fiona.


"Mas suami!" panggil Fiona dengan menyeka air matanya.


"Hmm.."


"Kalau Fiona yang seperti itu Mas suami nangis gak?" tanya Fiona yang membuat Akbar menatap tajam ke arah Fiona. Ada-ada saja pikiran istrinya ini, belum tuntas rasa pusingnya karena belum bisa membobol gawang Fiona, sekarang ia sudah dibuat pusing dengan pertanyaan Fiona.


"Gak usah aneh-aneh!" ucap Akbar dengan tajam.


"Fio gak mau yang aneh-aneh. Ternyata nangis buat Fio pengin telur gulung! Beli telur gulung yuk Mas suami nanti dilanjutkan nangisnya, soalnya sedih banget!" cicit Fiona sedikit merengek.


Akbar menarik istrinya keluar dari ICU. Suasana yang tadinya sedih mendadak berubah menjadi kesal karena Fiona.

__ADS_1


"Beli telur yang banyak! Kamu rewel kalau lapar!" ujar Akbar dengan dingin.


Dasar istrinya! Tapi Akbar sayang! Kekurangan Fiona adalah kelebihan Fiona bagi Akbar.


__ADS_2